Senin, 10 Desember 2012

Catatan dari JAFF: Film-Film yang Tidak Bisa Dipercaya


Kepada siapakah akan saya bagikan kisah ini. Sementara orang itu sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Sekian banyak cerita dihadirkan kembali lewat ilusi-ilusi layar. Seberapa banyak kenyataan yang dihilangkan, ditolak lalu diolah lewat teknik sinematografis, penciptaan citra estetika, katanya. Dunia baru ini benar-benar membuat saya gagap. Demikian juga dengan orang-orang itu.

Tak banyak film yang saya tonton dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2012 kali ini, atau terlalu banyak untuk ukuran mereka yang sibuk. Memang terlalu banyak saya punya waktu luang.

Sisa film dalam folder sudah menipis. Beberapa diantaranya justru membuat saya mengantuk, murung, melankolis secara berlebihan, dan banyak efek negatif lainnya, semacam mengurangi daya hidup. Menonton drama korea seperti biasa juga sudah tidak menggairahkan lagi. Mereka seperti terus mengulang narasi yang sama, rebutan harta, rebutan cinta, meski tentu harus saya katakan bahwa itu pun masih lebih baik daripada sinetron kita.

Melarikan diri dengan menonton JAFF menjadi pilihan saya. Minggu itu saya pindahkan kampus ke Taman Budaya. Dasar memang sudah tidak ada kuliah, proposal yang tak kunjung beres. Kacau pokoknya. Kehadiran JAFF seperti memberi harapan, barangkali ada film yang menggairahkan.

Pengalaman visual saya selama ini jelas belum cukup untuk bisa menilai sesuatu secara obyektif. Dan memang tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk menilai. Saya hanya ingin mencatat kesan dan pengalaman saja. Sekali-sekali boleh lah saya sok-sokan membahas film meskipun ya cuma sok-sokan yang pantas ditertawakan.

Film-film ini tidak bisa dipercaya. Tidak bisa dipercaya betapa orang bisa membuat yang demikian itu, tidak bisa dipercaya karena saya bisa menyaksikankanya, dan sekian banyak karena yang bisa mengikuti sebuah frase ‘tidak bisa dipercaya’.

Dokumenter yang Tidak Bisa Dipercaya

Dalam festival ini terdapat beberapa pemutaran film dokumenter. Tentu saja tidak semuanya saya lihat. Menonton Philippine New Wave: This is Not A Film Movement (Kavn De La Cruz, 75 menit, 2012) membuat saya bosan setengah mati. Dokumenter ini memuat pernyataan-pernyataan para sutradara Filipina yang katanya semakin mudah membuat film di era digital. Mereka bisa berekspresi dengan bebas, mengenalkan identitas ke-Filipina-an, merekam orang-orang terpinggirkan, dan serangkaian retorika yang biasa dikatakan orang-orang di luar mainstream. Halah, ngemeng epeh to yo. Saya tidak tahu apakah ini disengaja, tapi visualisasi dari film ini memang menggangu. Kadang tidak jelas apa yang dikatakan, kadang kamera terlalu dekat dengan subjek, kadang juga terganggu dengan masuknya suara-suara dari luar.

Sepertinya di luar hujan. Apakah setelah ini akan ada sesuatu yang menggairahkan? Kalau tidak, biar saya pulang saja sambil menari di bawah hujan.

Tapi Hujan pula yang memberhentikan langkah dan tetap membuat saya duduk menatap layar. Film kedua yang saya tonton berjudul Negeri di Bawah Kabut (Shalahuddin Siregar, 105 menit, 2011). Dokumenter ini bercerita tentang kehidupan orang-orang di lereng Merbabu. Gambar pertama memperlihatkan seorang ibu yang berusaha memotong kuku anaknya ketika tidur. Memotret dengan cerita yang terkesan lambat membuat saya ikut hanyut dalam kehidupan mereka. Para ibu bangun jam tiga pagi di tengah cuaca dingin, menanak nasi, pergi ke ladang menanam kentang, dan serangkaian gambar lain yang menghadirkan kehidupan mereka.

Film ini tentu dibuat dalam jangka waktu lama. Dari dialog-dialog natural,  penonton bisa merasakan kehidupan serba pas-pasan tetapi para petani itu tetap menikmatinya. Musim mulai mengacaukan perhitungan mereka selama masa tanam. Hujan terlalu banyak membuat kentang-kentang membusuk, kemarau yang demikian panjang membuat sayuran di ladang kering. Dan seorang anak dengan nilai paling tinggi dalam ujian harus rela untuk tidak melanjutkan ke sekolah negeri karena tak ada uang untuk membeli seragam. Sang ayah pun terpaksa berhutang.

Saya menyukai keintiman kamera dengan subjek dalam film ini meski terkesan lambat. Kehidupan mereka memang berada dalam ritme yang lambat, tetapi tak berarti juga menyia-nyiakan waktu. Wis, pokoke apik lah menurutku. Sekali lagi hanya menurut saya. Di akhir film pun, sang sutradara manawarkan harapan lewat ocehan seorang anak kecil. Suka juga bahwa film ini memotret momentum Pilpres 2009 lalu. Ketika penghitungan suara, tampak bahwa sebagian besar orang di sana memilih Megawati sebagai presiden. Hehe... tawa ini tidak bermaksud apa-apa, abaikan saja.

Film dokumenter lain yang saya tonton adalah Bachelor Mountain (Yu Guangyi, 95 menit, 2011). Ini film juga sangat menggairahkan, merekam kisah cinta yang sangat personal dengan latar belakang perubahan sosial dan kapitalisasi. Bayangkan ketika jumlah laki-laki di daerah China bagian utara semakin meningkat karena para wanitanya tak tahan hidup susah mengandalkan pekerjaan hutan dan berpindah mencari penghidupan di kota. Mengandalkan hasil hutan juga semakin sulit karena peraturan perlindungan hutan dan pelestarian lingkungan.

Seorang duda yang telah ditinggal istrinya dikisahkan mencintai seroang gadis di kota itu secara diam-diam. Ia sering membantu pekerjaan rumah sang gadis yang juga memiliki penginapan. Laki-laki itu mencintai perempuannya selama dua belas tahun dan tak pernah berubah cintanya, bahkan tak pernah mencoba berpindah ke lain hati hanya karena ingin menjaga track record-nya sebagai laki-laki yang baik. Sayangnya, sang gadis tak pernah ingin menikah. Ia hanya ingin terus berkonsentrasi dengan bisnis penginapan yang memang terus berkembang. Orang tuanya tak berhenti mendorongnya untuk menikah. Potongan filsafat terekam dari pernyataan mereka, bahwa kebahagiaan tidak hanya bisa dicapai dengan uang melainkan ketika kita punya seseorang untuk berbagai. So sweet...

Mencintai selama dua belas tahun. Luar biasa. Adegan paling saya suka di film ini adalah ketika sang gadis sedang ke luar kota dan sang duda berkunjung ke rumahnya. Ia memandangi kamar sang gadis. Melihat seperangkat komputernya dan berjanji dengan dirinya sendiri bahwa kelak dia juga akan punya yang seperti itu. Fiuh, setelah beberapa tahun berselang, sang duda mulai memiliki kebiasan berbicara sendiri. Kesepian dan cinta tak berbalas memang mengerikan. Haha..

Dari pemutaran beberapa film dokumenter yang saya tonton. Setiap sutradara memang memiliki caranya sendiri dalam merekam realitas. Tiga film ini pun menyajikan kesan visual yang sangat berbeda. Pemilihan adegan dalam film jelas telah menyebabkan abstraksi tersendiri terhadap apa yang ingin dihadirkan. Seperti halnya sebuah retina yang peka, se-realis apapun sinema, bahkan dokumenter sekalipun tentu tidak bisa menangkap keseluruhan realitas. Cerita-cerita dalam film tersebut juga bagian dari pilihan-pilihan atas realitas yang ingin ditampilkan.

Sebagai sebuah karya estetika, visualisasi dalam film dokumenter menghadirkan wilayah-wilayah visual yang berkelindan dengan wilayah dramatis. Hidup manusia memang penuh dengan drama. Dari bagian demi bagian yang ditampilkan di layar, rasanya memang menjadi tugas penonton untuk mendeteksi spektrum dramatis yang saling berkesinambungan dan paralel dengan realitas itu sendiri. Hehe..ngemeng epeh.

Teknik pengisahan sepertinya juga menjadi hal yang penting. Seperti dalam tulisan, dalam film kita menemukan gaya dimana potongan-potongan kisah dapat disajikan dalam setiap fragmen gambar. Dokumenter-dokumenter yang tidak bisa dipercaya ini juga memuat sekian bentuk gaya khas. Sinema memang tidak bisa dikatakan lebih dekat dengan realitas daripada seni klasik, tapi lewat film-film ini, kita tak hanya diajak untuk menikmati tetapi juga menghanyutkan diri di dalamnya.

Film Negara Tetangga yang Tidak Bisa Dipercaya

Akhir-akhir ini saya memang banyak menonton film. Sebagian besar film Indonesia, Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, Iran, Korea, Jepang, China, sedikit Thailand, dan juga India yang sering diputar dulu sewaktu saya masih es de dan sampai sekarang sering diulang-ulang. Dalam festival ini, diputar juga film-film negara tetangga. Kebetulan yang sempat saya tonton adalah film dari Sri Lanka dan Filipina. Film Filipina menempati tempat khusus dalam festival ini dengan mengenalkan Guiterrez (Teng) Mangansakan II lewat film-filmnya.

Sebelumnya, saya akan sedikit bercerita tentang August Drizzled (Aruna Jayawardana, 108 menit, 2011). Film dari Sri Lanka ini mengisahkan seorang wanita pengurus krematorium. Saya tidak tahu jelasnya, film ini terasa membosankan dan membuat saya terbata-bata menangkap apa yang dimaksudkan. Apakah ini tentang tradisi orang sana yang menganggap seorang wanita pengurus makam itu mengerikan dan membawa sial, atau ada sebab lain yang membuat masyarakat sekitar memandang sebelah mata terhadap perempuan itu. Kisah tentang perempuan yang tidak bahagia ini mampu membuat orang murung seharian. Bisa jadi karena duka lara nestapa, atau bisa jadi karena kebosanan.

Seperti judulnya, gerimis bulan Agustus, gerimis dalam kemarau yang menguap begitu saja tak sampai membasahi hati penontonnya. Kalau pun ditinggal tidur dan lima belas menit kemudian kembali menonton, saya yakin tetap akan bisa mengikuti narasi besarnya, tentu dengan kehilangan-kehilangan kecil. Menonton film negara tetangga yang satu ini juga mengesankan gap. Meskipun ceritanya mungkin menyedihkan, tidak sepenuhnya saya bisa merasakan kesedihan kecuali karena subjektivitas sesama perempuan yang merindukan cinta, spesifiknya seorang laki-laki yang mencintai. Hehe... Mungkin karena pengaruh bahasa yang dipakai atau hal lain. Soal bahasa ini juga terasa ketika menonton Negeri di Bawah Kabut. Membaca translasi bahasa Jawa dalam bahasa Inggris ternyata cukup menggelikan. Gak penting sih, intinya film ini membosankan.  

Film berikutnya berjudul Nono (Milo Tolentino, 115 Menit, 2011). Menonton film ini membuat trenyuh sekaligus menghibur. Berkisah tentang seorang anak bernama Toto yang karena bibir sumbingnya hanya bisa mengucapkan namanya menjadi Nono. Dibesarkan dalam masyarakat menengah ke bawah, Toto berjuang keras untuk membahagiakan ibunya sejak sang ayah pergi tanpa pamit. Toto tidak diizinkan mengikuti paduan suara sekolah karena suaranya dianggap merusak harmonisasi. Ia pun sering diejek oleh teman sekelas dan seorang bocah gendut yang suka menggagunya. Toto bersahabat dengan Ogoy yang tuli. Pada akhirnya, Toto pun mendapat penghargaan khusus dengan menampilkan sebuah deklamasi tentang Si Ogoy yang ditinggalkan ibunya begitu saja.

Film tentang anak-anak atau dengan peran anak-anak memang selalu menarik. Peran mereka menampilkan kepolosan. Kadang mereka bisa lebih dewasa dari orang dewasa. Saya lebih suka cerita seperti ini dibandingkan narasi yang menampilkan perlakukan terhadap anak yang dilebih-lebihkan. Saya tidak tahu konteks di sana sehingga tak bisa cerita banyak. Mungkin menarik apabila bisa dikupas dari sisi itu. Cerita rekaan seperti ini sekalipun masih meninggalkan jejak-jejak yang bisa ditelusuri darimana datangnya. Kita tetap tahu bahwa masih ada batu bata dalam tembok yang dibalut semen. Lha, malah jadi kemana-mana.

JAFF tahun ini mengadirkan Guitierrez (Teng) Mangansakan II lewat film-filmnya. Kebetulan sekali dua film yang saya tonton itu terasa kurang menarik. Film pertama berjudul Cartas de la Soledad (Teng Mangansakan II, 105 menit, 2012). Karena terlalu banyak kesalahan teknis. Film ini sama sekali tidak nyaman untuk ditonton. Terlalu banyak kegelapan dan unsur-unsur suara yang hilang, bahkan dialog aktornya. Bercerita tentang seorang laki-laki yang mengasingkan diri dan hidup bersama seorang pembantu perempuan. Setiap malam ia mendengar berita radi dengan penerangan lampu minyak dan menulis pengalaman serta pendapat pribadinya. Laki-laki itu setiap hari menulis surat untuk dirinya.

Sayang sekali tidak ada keterangan tentang apa yang diperdengarkan lewat radio-radio itu. Penonton yang tidak mengetahui sejarah panjang perang di Filipina tidak akan mengerti apa yang dituliskan oleh laki-laki itu. Barangkali semacam kekecewaannya terhadap dunia lalu ia memilih menjauh atau ada hal-hal lain yang memuat pesan-pesan tertentu lewat tulisannya. Ketidaknyamanan saya menonton membuat saya mundur sebelum film berakhir. Sayang sekali memang.

Film kedua berjudul Qiyamah (Teng Mangansakan II, 95 menit, 2012) berkisah tentang penduduk suatu desa yang pada suatu hari melihat matahari terbit dari barat. Seperti banyak film-film bertema serupa, film ini juga merekam kegelisahan dan kehidupan orang-orang menunggu hari akhir tiba. Teng memilih menampilkan film ini dalam warna hitam putih. Barangkali ini memang pilihan estetis tetapi apa lagi yang bisa saya katakan selain bahwa film ini membosankan. Rasanya tidak hanya saya, melihat wajah-wajah penonton lain keluar ruangan dengan lesu begitu cukup bisa mengatakan bagaimana film ini di mata penontonnya.

Alur cerita diputar dengan lambat. Seperti halnya sebuah film detektif di mana penonton pasti mengharap benar-benar ada pembunuhan, selama film ini diputar saya hanya menunggu akhir ketika kiamat tiba. Gambaran yang bisa ditangkap tentang masyarakat Filipina Selatan cukup jelas. Mereka Islam, miskin dan menghidupi diri dengan bertani. Orang-orang tinggal di rumah-rumah sederhana.

Selain teror tentang hari akhir, masyarakat di desa itu disibukkan dengan teror lain. Pembunuhan terjadi dan ternyata dilakukan oleh seorang gila yang berkeliaran menjual mainan di kampung itu. Meskipun menggunakan bentuk-bentuk teror yang seharusnya mencekam, kelambatan alur, pilihan gambar, dan barangkali efek warna film tidak memberinya kesan mencekam. Kiamat memang benar-benar datang. Angin kencang dan cahaya terang menutup film ini yang juga berarti mengakhiri penderitaan penonton menunggu film selesai.  

Sayang sekali saya tak melihat film Teng yang lain. Fokus dengan kehidupan masyarakat Filipina selatan mungkin memang menjadi tema menarik. Masyarakat yang hidup dalam perang tak berkesudahan dan serangkaian sejarah panjang mereka sudah seharusnya dikemas lewat film dan ditonton banyak orang.

Film Pendek yang Tidak Bisa Dipercaya

Ada dua kompilasi film pendek yang diputar di JAFF tetapi saya hanya menyaksikan kompilasi kedua. Kalau melihat film panjang terasa seperti membaca novel atau roman, film pendek memberi kesan seperti membaca cerpen atau bahkan puisi. Film pendek hadir dengan kekhasan narasinya dan gambar yang ditata sedemikian rupa dan ditempatkan dalam rentang waktu yang sangat terbatas.

Film Ritual menempatkan kisah di depan sebuah cermin cembung dan meja rias. Tentang seorang yang selalu memesan tenderloin steak dan orange juice sehabis senggama di siang hari. Hunger Pangs, film dari Filipina ini bercerita tentang seorang ibu yang meninggalkan anaknya di pintu gerbang rumah calon walikota. Anak itu mati dimakan anjing kelaparan di akhir film. How to Make a Perfect Xmas Eve menawarkan panduan cara membuat malam natal sempurna dengan membuat hidangan dari hati dan daging para laki-laki yang telah menyakiti perempuan-perempuan ini. Sebuah ide yang bagus untuk dicoba di rumah anda. Please Me Love adalah cerita tentang pasangan yang menonton film bersama. Cerita dalam film yang ditonton mengantarkan mereka pada pertanyaan-pertanyaan terhadap diri sendiri, tentang cinta dan berakhir dengan tusukan gelas pecah di leher kekasih.   

Dokumenter tentang sejarah film Iran di masa revolusi Islam tahun 1978 dikemas dalam film pendek berjudul Blames and Flames. Pembakaran bioskop-bioskop terjadi, orang-orang yang tidak bisa lagi menyaksikan film kemudian membuat film atas diri mereka sendiri, menemukan para pahlawan di jalanan, dalam hiruk pikuk revolusi. Lalu ada Overseas, menceritakan seorang buruh imigran yang melaporkan kasus pemerkosaan atas dirinya sendiri dan berusaha memperoleh izin untuk melakukan aborsi legal. Film terakhir dalam kompilasi film pendek ini berjudul Bunglon, dengan apik memotret seorang istri muda yang mendatangi rumah suami dan istri tuanya. Cerita sederhana ini dikemas cukup baik, menggambarkan kegagapan seorang suami yang tak ingin rahasia perselingkuhannya terbongkar. Dasar!

Hal yang lebih menarik diceritakan di sini sebenarnya bukan tentang filmnya melainkan tanya jawab singkat setelah pemutaran. Telah hadir dua orang sutradara dari film How to Make a Perfect Xmas Eve dan Ritual. Seorang bertanya apakah ketika membuat film tentang persetubuhan, sang sutradara tidak ikut tegang? Spontan saya tertawa dalam hati. Di awal film tadi sudah dibilang bahwa orang-orang yang tidak bisa berpikiran terbuka dan kura­­­­­ng dari 18 tahun lebih baik tidak usah menonton.  

Perkembangan para sineas ternyata tidak diikuti dengan kedewasaan berpikir penontonnya. Film Ritual dibuat setelah mengadakan workshop film selama enam bulan. Hasilnya adalah sebuah film panjang yang tidak untuk ditayangkan dan film pendek yang telah anda saksikan. Selama jangka waktu itu, sang sutradara berusaha untuk menemukan mood antar pemain, membangun keselarasan suasana, bahkan sampai persoalan detail ketika pintu hotel diketuk. Film ini telah melewati diskusi panjang, bahkan dengan membeberkan persoalan paling personal sekalipun, dan tentu juga mendiskusikan persoalan moral.

Soal erotisme dalam sinema sepertinya menjadi perbincangan yang tak sudah-sudah. Kita akan berurusan dengan sensor, baik sensor dari diri kita sendiri maupun urusan formal miliki negara. Teman di samping saya saja berusaha mengalihkan pandangan dari layar, berusaha tak melihat itu adegan meski ia terpaksa harus tetap mendengar suara ah uh ah uh dari para aktor. Haha.

Erotisme dalam sinema barangkali pernah menjadi unsur bawaan, unsur pelengkap atau permainan bebas gaya kapitalis yang ingin menarik sebanyak-banyaknya penonton dengan memanfaatkan—kalau istilah Bazin—tropisme paling ampuh: tropisme seks. Tentu bukan karena yang terakhir itu, dalam film Ritual, kita benar-benar menyaksikan ritual. Sesuatu yang diulang-diulang, persetubuhan pada jam istirahat siang, dan mungkin gaya khas kelas menengah.

Hmmm, apalagikah? Rasanya cukup untuk berkomentar tentang film ini. Seandainya kita bisa melihat transmutasi estetis yang sempurna dalam film semacam ini, Ritual maksud saya. Apa meneh kuwi transmutasi? Haha. Seandainya transmutasi estetis ini berjalan sempurna, penonton tentu tidak ikut beremosi dengan para aktor. Nyatanya, efeknya tetap berbeda pada setiap orang. Ada yang bisa menangkap estetika atau terjebak pada sesuatu selain itu. Teman saya sendiri mengaku jadi agak gimana gitu ketika melihat sang aktor yang kebetulan hadir.

Enaknya begini saja. Setiap film memang bebas mengatakan apa saja tetapi tidak akan mungkin memperlihatkan segalanya. Tabu sosial dan moral menjadi pembatas tersendiri, yang kadang terlalu picik dan semena-mena. Terserah penonton, apakah maslahat dari menonton film-film seperti itu akan lebih banyak dari mudarat yang ditimbulkannya.

Seorang lagi bertanya mengapa yang ditampilkan dalam film-film seperti Ritual dan How to Make a Perfect Xmas Eve seperti meniru-niru barat. Kita bisa melihat adegan pembunuhan dan berdarah-darah itu seperti dalam film Saw. Kenapa tidak mengambil gaya pembunuhan yang khas Indonesia atau ritual senggama khas Indonesia? Sumpah, saya kembali ingin tertawa. Saya tahu betul maksud penanya yang mendorong munculnya warna-warna lokal dalam film. Tapi gak banget kalau ditanyakan dalam konteks dua film itu tadi. Jawaban para sutradara juga sederhana. How to Make a Perfect Xmas Eve dibuat ketika sang sutradara sedang patah hati dan muncul imajinasi untuk mencincang-cincang tubuh mantan pacarnya. Sama sekali tak ada referensi dari film barat. Lagi-lagi, gap dimana dunia para sineas berdiri dan penontonnya sepertinya sudah semakin mendesak untuk dijembatani. Saya tidak tahu lagi harus berkomentar apa.

Selama ini memang jarang saya menonton film pendek dan menjadi pengalaman visual tersendiri setelah menonton film-film yang tidak bisa dipercaya itu. Ada efek filmis yang mengikuti saya kemana-mana. Perubahan cara melihat dan memandang realitas pun terjadi. Di tempat makan itu, seorang pria sedang melihat dengan tatapan hampa kepada pasangan perempuannya yang tidak juga menyelesaikan makan malam. Dalam hatinya, saya mendengar suara gemuruh emosi tertahan. Seperti ingin mengunyah perempuan di hadapannya itu. Tiba-tiba saja mengalir rangkaian gambar filmis dalam kepala. Betapa kadang laki-laki juga tertindas oleh perempuan. Haha.  

Film Indonesia yang Tidak Bisa Dipercaya

Ada dua film panjang Indonesia yang saya tonton dalam JAFF. Film pertama adalah Parts of the Hearts (Paul Agusta, 90 menit, 2012). Film ini bercerita tentang Peter yang gay. Dibagi menjadi delapan bagian narasi yang mengisahkan cerita cinta Peter dari kecil sampai dewasa. Banyak eksperimentasi kamera dan efek yang berbeda di tiap bagian. Kesatuan sekuen gambar dalam film ini membuat homoseksualitas tidak lagi terasa menjijikkan tetapi romantis, penuh cinta dan kesedihan yang akan selalu mengiringinya. Ini hanya kesan saya yang tetap saja masih melihat dengan perasaan janggal orientasi seksual yang dianggap menyimpang itu.

Film ini bertambah manis dengan soundtrack yang mengiringi kisah cinta Peter. Tiap bagian memiliki judul-judul unik seperti Stolen Kiss, Game Kiss, Solace, dan sebagainya. Asyik. Mungkin kata itu tepat untuk menggambarkan film ini. Saya suka sekali dengan bagian awal film ini. Setelah Peter dan teman laki-lakinya mengungkapkan cinta, slide show benda-benda ditampilkan dengan latar sebuah kamar. Dari jam dinding yang berdetak, sprei kusut, kertas tisu berserakan. Seperti ada semacam peralihan pemaknaan di balik benda-benda. Tentu saja penonton sudah mahir mengidentifikasi apa yang terjadi di antara mereka berdua. Pemaknaan beralih ke analogi dan analogi menuju identifikasi. Sketsa montase yang ditampilkan ini terasa indah, seperti visualisasi puisi. Masih banyak pula gambar-gambar close-up yang tiba-tiba dikaburkan untuk menampakkan kesedihan dan tampaknya memang cukup berhasil.

Parts of the Hearts penuh dengan pemain baru. Maksudnya, baru saya lihat dalam film ini, termasuk pemeran Peter yang berubah-ubah untuk menggambarkan perubahan usianya. Lagu dan narasi di awal sedikit berubah menjadi kaku ketika muncul dialog antar pemain, meski tidak semua tentunya. Sebagian dialog menggunakan bahasa Inggris. Buat saya ini terdengar aneh karena jarak saya sendiri dengan budaya mereka terasa jauh. Sebagian dialog lain benar-benar terasa mengambang, sebut misalnya dialog Peter dan mantan kekasihnya yang bertemu kembali di sebuah kamar hotel setelah enam bulan tak ada kabar. Sang kekasih memilih menikahi seorang perempuan demi membahagiakan orang lain. Fragmen ini terasa sedikit mengganggu walaupun kemudian tertutup dengan narasi berikutnya yang tetap bisa dibilang asyik.

Berikutnya adalah film berjudul Mata Tertutup (Garin Nugroho, 90 menit, 2012). Film pesanan Ma’arif Institute ini bercerita tentang persebaran fundamentalisme Islam di Indonesia. Film ini mengangkat persilangan tiga cerita, seorang perempuan bernama Rima yang dipatahkan oleh sesuatu yang sangat dia percaya sebelumnya, seorang Jabir yang memilih menjadi martir sebagai jalan keluar kemiskinan dan seorang Ibu yang menunggu kepulangan anaknya yang direkrut NII.  

Soal narasi dalam film tidak akan saya utak atik karena sudah ada pernyataan bahwa narasi tersebut dibuat berdasarkan hasil riset. Pembuatan filmnya sendiri melibatkan mantan anggota NII yang berada di tengah-tengah kru film dan memberi petunjuk kepada pemain, begitu kata Om Garin. Film ini hampir dibuat tanpa skrip kecuali sekitar sepuluh halaman konsep adegan yang telah disusun matang. Dengan demikian, film ini sepenuhnya mengandalkan kemampuan akting para pemain dan kecakapan mereka dalam berimprovisasi sesuai arahan sutradara.

Memang keaktoran para pemain dalam film ini sudah tidak diragukan lagi. Amalgam pemain (halah, istilah apa meneh iki?) antara pemain profesional, para aktor teater dan pemain dadakan yang sebenarnya cukup beresiko ternyata justru menambah kekuatan cerita film ini. Siapa tak kenal dengan Jajang C. Noer, aktris luar biasa berwajah keras ini berperan sebagai Ibu yang khawatir anak gadisnya masuk NII.  Siapa tak kenal Kedung Darma Romansha. Saya sendiri mengenalnya sebagai aktor teater dan pembaca puisi yang sering tampil di berbagai acara. Dengan pakaian hitam-hitam sambil menjual kopyah, Kedung memainkan perannya sebagai semacam anggota JIL yang sedang merekrut pemuda-pemuda putus asa untuk dijadikan martir bom bunuh diri atas nama jihad. Seorang pelaku bom bunuh diri diwakili oleh sosok Jabir, seorang anak pesantren yang ikut casting karena diberitahu bahwa syaratnya hanya bisa mengaji. Wajahnya lugu dan polos dan terlihat cocok untuk perannya yang ingin mati demi sang Ibu.

Film ini diisi oleh bunyi saluang yang khas membari kesan tersendiri. Saya ingin tapi enggan membahas narasi. Soal fundamentalisme dan ekstrimis keagamaan itu. Film ini memerangkap penonton pada realitas sekaligus ilusi dramatik dari citraan gambar. Siapa yang tak menyebutnya dramatis ketika digambarkan seorang istri petinggi NII, pucat, dengan daster kumal, hamil dan sakit hingga mengalami pendarahan karena kesulitan ekonomi yang diderita.

Ilusi dalam sinema adalah niscaya, kadang justru menghilangkan kesadaran realitas yang dalam benak para penonton akan diidentifikasi melalui tampilan yang bersifat sinematografis. Tapi karena sudah ada pernyataan di awal dari sutradara, saya jadi tak akan bicara banyak tentang ini. Film selalu tak bisa membedakan dengan jelas di mana awal dan akhir kebohongannya, karena itulah justru yang membentuk seninya.

Saya sudah lelah menulis ini hampir seharian. Saya cukupkan saja sampai di sini. Kalau dibahas detail satu demi satu sebenarnya ini bisa menjadi novel. Hehe. Akhir tahun penuh seremonial festival. Selamat menonton!


Kamar Kost, 10 Desember 2012.

Jumat, 30 November 2012

Pertemuan dengan Tupim Si Tupai Pengembara

Di dunia tak bernama itu, musim hujan disebut juga musim tangis. Musim tangis yang memendam tawa sebagaimana benih-benih yang sedang tidur di bawah tanah menunggu rengkuhan matahari. Di musim tangis inilah seekor tupai singgah di suatu tempat dalam pengembaraannya. 

Orang-orang memanggilnya Tupim. Nama ini diberikan kepadanya karena dia seekor tupai kecil dengan pipi yang manis. Tupim; tupai pipi manis. Si Tupim adalah tupai yang senang mengembara. Ia sudah menjelajahi banyak tempat dan melihat banyak hal. Tupim berjalan dengan jubah hitam berkerudung. Dari jauh tupai kecil ini mirip para pengembara gipsi. Tapi ia pengembara biasa, hanya senang berjalan tanpa tujuan. 

Tupim memakai kalung yang terbuat dari rangkaian biji-bijian kesukaannya. Ia selalu mengumpulkan banyak jenis bijih-bijian dari berbagai tempat selama pengembaraan. Pipi yang manis menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap binatang maupun manusia yang dijumpai. Mereka tidak akan segan memberi makanan tanpa diminta. Pandangan mata Tupim yang bening dan penuh kasih itu seakan bicara, mencairkan hati siapapun yang melihatnya. 

Musim tangis baru saja datang. Gerimis biasanya betah turun berlama-lama. Tupim berjalan sendirian dengan jubah hitamnya, menyelusup di antara kaki-kaki manusia, kendaraan yang berseliweran, disilaukan oleh lampu-lampu jalan, papan-papan iklan. Kaki kecil Tupim terasa sangat lelah. Seharian ia berjalan dan ingin sekali rasanya beristirahat sejenak. Pada dinding sebuah bangunan, tak sengaja Tupim melihat poster pertunjukan. Sebuah band bernama Gable dari Perancis bagian utara akan memainkan musik mereka di tempat itu.

Tupim sangat suka mendengarkan musik atau melihat pertunjukan musik. Seringkali ia berhenti dalam pengembaraanya untuk menyaksikan orang-orang memainkan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi indah itu. Kadang ia menjumpai pertunjukan yang membosankan tapi didatangi banyak orang. Lain kali Tupim melihat orang-orang memainkan musik dengan sangat aneh, sampai efek kesedihan mendengar musik itu bertahan selama berhari-hari dalam hatinya. Kadang juga Tupim sedih karena merasa kehilangan ketika aktivitas musikal tidak lagi manual. Orang-orang juga lebih suka menjadi penonton, pasrah mendengar musik yang menyuruk-nyuruk masuk telinga. 

Malam ini Tupim mampir ke kamar saya, sekadar meminta remah roti. Perutnya terlalu lapar. Sambil menyambut sekerat roti dan segelas kopi, Tupim kemudian menceritakan pertunjukan musik yang baru saja ditontonnya. Saya akan menuliskannya dengan campuran ejaan bahasa negeri tupai yang sudah disempurnakan. Bagi yang tidak mengerti, saya mohon maaf. 

Tupim mengawali ceritanya dengan sedikit sumpah serapah. “Gak pa pa ta mas-mase karo mbak-mbak kuwi. Gendheng. Gak lara ta wong-wong kuwi? Saya tak banyak tahu soal musik dan jadi bertanya-tanya apakah ini yang disebut musik kontemporer, avant gardist katanya. Semua hal bisa jadi alat musik, semua boleh jadi perkusi, njuk dithuthuki. Triplek elek barang disuwek-suwek neng ngarep mikropon. Gek kuwi ki nyilih dolanane bocah saka ngendi kok nganti diorak-arik neng nduwur drum barang. Bukane gumun neng yo mung ngrasa aneh wae. Jan wong saiki cen aneh-aneh isine.  

Musik mereka adalah ramuan dari banyak sekali hal. Ana musik cangkem, post rock, sedikit berbau hip hop, malah ana hardcore barang og. Lagu mereka banyak terdengar lebih seperti narasi daripada lirik yang liris. Ana sing nesu lan padu dhewe-dhewe njuk digameli. Aneh tapi segar. Nonton mereka ki dadi memecah bosan saka ngrungokne lagu-lagu kebanyakan. Sebagian lagu mereka pendek. Akeh-akeh mau nganggo basa Inggris. Sing paling ketok kuwi nganggo sudut pandang sato kewan. Ana lagu sing nyritakne bebek buruk rupa, ana sing critane tentang serigala kelaparan, uga akeh suara asu barang.

Mereka memadukan permainan musik dengan teater. Salah satu memakai topeng, menyanyi dan melompat di atas panggung. Pembawaan liriknya juga sangat teatrikal; bengong, kejang-kejang, autis dan ekspresi lain yang kuat muncul pada wajah-wajah kepanasan penuh peluh. Lirik mereka sederhana, kadang konyol, menggelora dan mengandung pelepasan. Mereka memindahkan kebisingan-kebisingan kecil yang tak dihiraukan ke dalam musik, mengundang kehadiran banyak sekali suara. 

Hingar-bingar mereka juga mengandung kematian. Seperti lagu terakhir itu, bercerita tentang orang-orang yang bunuh diri dengan berbagai cara. Pertunjukan mereka ditutup dengan suara flute sengau, sumbang,  melenceng dari tonalitas, rusak tapi indah. Kadang memang sesuatu yang sumbang, sedih dan rusak itu indah, seperti hidup.”

Tupim mengakhiri ceritanya. Ia pamit akan melanjutkan perjalanan. Pengembaraannya memang sangat berbahaya tetapi Si Tupim kadang justru memilih berjalan di malam hari. Ketika saya bertanya kenapa, Tupim sedikit bercerita bahwa mimpi buruk telah mengganggunya di malam-malam sunyi. Ia ingin pengembaraan ini tak selamanya sendiri. Tupim butuh teman hanya ia belum menemukan, hanya ia selalu saja ditinggalkan. Musim tangis masih mengguyurkan gerismis. Tupim mencabut salah satu biji kacang dari kalungnya dan memberikannya kepada saya. “Suatu hari kelak, kacang ini bisa tumbuh sampai ke langit dan menyelamatkanmu, terima kasih untuk roti dan kopinya,” kata Tupim sebelum menutupi kepalanya dengan kerudung hitam lalu menghilang dalam gelap. 


Kamar Kost, 29 November 2012 

Jumat, 23 November 2012

Semalam Menonton “Je vais bien, ne t'en fais pas (I'm Fine, Don't Worry)”


Sebuah keluarga pasti menyimpan suatu rahasia, kadang butuh kebohongan untuk membuatnya tetap menjadi rahasia dan kebohongan ini dapat terus dibenarkan dengan dalih melindungi orang yang kita cintai. Seperti cerita dalam film yang kental dengan nuansa drama ini, kehidupan keluarga dengan sepasang anak kembar (laki-laki dan perempuan) digambarkan dalam sepanjang adegan yang mungkin bagi sebagian orang mampu menggugah emosi.

Je vais bien, net t'en fais pas (I'm Fine, Don't Worry) di rilis di Perancis pada tahun 2006. Film ini disutradarai oleh Philippe Lioret berdasarkan novel karya Oliver Adam yang diterbitkan pada tahun 2000 dengan judul sama. Dibintangi oleh Melanie Laurent yang berperan sebagai Lili dan didukung oleh peran lain yang bermain natural, film drama keluarga ini setidaknya cukup menghibur meski sedikit membosankan di bagian tengah. 

Memotret kehidupan rata-rata keluarga kelas menengah Perancis, adegan pertama film ini diawali dengan cerita ketika Lili (sang adik perempuan) yang baru saja pulang liburan, dikejutkan oleh menghilangnya Loic (sang kakak laki-laki) setelah bertengkar dengan ayah mereka. Loic adalah seorang musisi yang menyukai panjat tebing dimana setiap apa yang dilakukan tak pernah dihargai oleh sang ayah.

Begitu kuatnya hubungan dengan saudara kembarnya, Lili menderita depresi ketika tak satu pun kabar datang dari Loic. Lili menolak makan dan dirawat di sebuah rumah sakit. Saya tak hendak bicara soal diskursus psikiatri yang dengan yakin bisa mengobati Lili dengan mengisolasinya, menyita semua barang-barangnya dan mengancam baru akan dikembalikan setelah Lili bersedia menelan makanan. Kondisi Lili justru semakin memburuk.

Sebuah kartu pos dengan tulisan tangan Loic akhirnya tiba dan Lili berangsur-angsur sembuh. Sepanjang film, penonton seperti digiring untuk berharap menyaksikan pertemuan dramatis antara kakak beradik kembar yang telah lama terpisah. Tetapi tidak, penonton dikejutkan dengan fakta bahwa kartu pos yang datang secara berkala itu ternyata bukan dari Loic melainkan ditulis sendiri oleh ayahnya.

Loic meninggal karena kecelakaan dalam latihan panjat tebing. Orang tua  Lili tak ingin melihat anak perempuannya terlalu sedih dengan menciptakan skenario cerita bohong tentang kartu pos. Sang ayah mengirimkan kartu-kartu itu dari kota-kota berbeda di sekitar mereka tinggal. Di kartu pos itu, sang ayah menuliskan kata-kata yang mengolok-olok dirinya sendiri sebagaimana Loic yang membencinya.   

Film ini dibumbui pula dengan kisah persabatan antara Lili, Lea dan kekasih Lea bernama Thomas. Mereka berkenalan ketika menjadi kasir di supermarket lokal. Lea sendiri adalah perempuan berkulit hitam yang mendapat beasiswa dan sedang menyelesaikan program doktornya di Perancis. Ketika di tanya Lili di sebuah kafe tentang kertas dan buku yang terbuka di meja, Lea menjawab bahwa semua itu adalah hal yang membosankan, tentang politik dan kekuasan di Mozambique. Ya, politik memang membosankan.

Lea pada akhirnya berpisah dengan Thomas. Lili dan Thomas kemudian saling jatuh cinta. Lili berlibur di Saint Aubin bersama Thomas. Setelah bercinta dalam tenda yang diterbangkan badai dan hujan, Lili berteduh di sebuah kafe dan mengenali sosok pria dengan mantel hijau pudar. Ia bukan Loic melainkan ayahnya yang terlihat sedang memasukkan kartu pos dari kota itu. Kebohongan sang ayah terbongkar. Ibunya telah mengetahui semua kebenaran. Ia menangis ketika Lili memberitahunya tentang kartu pos itu. Dan kita semua tahu sang ibu menangis karena apa.

Thomas mengetahui bahwa Loic telah meninggal. Ia melihat batu nisan Loic saat mengunjungi makam neneknya. Pada sebuah minggu yang cerah, Thomas mengunjungi keluarga Lili, tepat di hari ulang tahun ayahnya. Sebelumnya, Lili telah menemukan gitar Loic di bagasi mobil ayahnya saat akan meletakkan hadiah ulang tahun. Sebuah pertemuan, pembicaraan yang kaku antara Thomas, Lili dan keluarganya berlangsung sesaat. Ada semacam ketakutan bahwa semua akan terbongkar dan masing-masing menahan diri untuk tak mengatakan apapun. Mereka pun kemudian keluar untuk makan siang di sebuah restoran.

Akhir film ini dibiarkan mengambang. Penonton dibiarkan membuat akhir dari cerita ini. Dalam percakapan terakhir, Thomas mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin dikatakan kepada Lili, bukan tentang kematian Loic melainkan sebuah ungkapan cinta. Apa yang akan dilakukan kepada orang yang kita cintai? Mengatakan kebenaran yang menyakitkan atau terus berbohong untuk melindungi perasaannya. Barangkali juga, mereka telah sama-sama tahu dan memilih untuk tidak membicarakannya lagi. Kadang kata-kata memang tak selamanya bisa mengungkap sesuatu yang sedang berkecamuk dalam batin. Bagi orang terdekat, memahami dengan diam mungkin lebih baik daripada mencecar dengan ribuan pertanyaan.

Film ini cukup baik melukiskan persoalan kehidupan keluarga, sebuah keluarga yang tampak biasa dan baik-baik saja tetapi sedang tidak baik-baik saja. Seperti sebagian besar keluarga lain, anak-anak yang memberontak, seorang ayah yang memaksakan kehendak, pertengkaran-pertengkaran, dan setiap keluarga pasti melalui masalah demi masalah sementara hidup tetap akan berjalan digelantungi sekian banyak persoalan.

“Life was full of sound and fury, and in the end, signified nothing,” kata  Shakespeare. Saya lupa dapat kutipan ini dari mana, sepertinya juga dari film. Kalau tak salah ingat filmnya Woody Allen, You Will Meet a Tall Dark Stranger yang terkesan sinis dengan cerita para tokoh penuh masalah dan tak bahagia. Tentang seorang penulis yang tak laku lagi setelah novel pertamanya, seorang istri yang bekerja di galery lukisan dan tertarik pada bosnya, seorang ibu yang sangat mempercayai peramal, seorang ayah yang menikah lagi dengan perempuan sexy dan menguras isi kantongnya. Sedikit berbeda dengan drama komedi Woody Allen, film ini memang terasa lambat, gloomy, tapi tetap menyimpan bagian yang bisa membuat penonton tersenyum.

Saya menonton film ini di LIP. Seharian hujan begini mendatangkan kemurungan tersendiri bagi jiwa-jiwa kosong. Tak sekadar film, kadang tokoh-tokoh menyedihkan itu membuat saya yakin, banyak orang bernasib lebih buruk. Film ini tak lain masih berkutat pada cinta, sebuah ikatan pada saudara, keluarga, kekasih sampai kematian. Ah, tapi film ini membuat saya merasa semakin murung.

Orang-orang senang mengatakan sedang baik-baik saja padahal semua permukaan hanya paradoks bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Tak membicarakannya bisa menjadi pilihan, bercerita kepada orang lain juga bisa menjadi pilihan. Kejujuran yang menyakitkan atau kebohongan yang akan lebih menyakitkan. Meski begitu, Lili tak memilih bunuh diri dan tetap melanjutkan hidup dengan tak perlu membicarakan ketidakhadiran sang kakak tercinta. 

Di akhir diskusi yang tak membahas apapun kecuali mengarang-ngarang akhir cerita, segelas teh hangat dan kue disediakan untuk dicicipi. Gerimis tinggal tipis. Teman sebelah di belahan nusantara yang lain itu barangkali sedang tak baik-baik saja. Maka biar saya pinjam dua bait puisi berjudul Pemberian Tahu dari Chairil Anwar ini.

Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing. Kupilih kau dari yang banyak, tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring. Aku pernah ingin benar padamu. Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali.

Kita berpeluk ciuman tidak jemu, Rasa tak sanggup kau kulepaskan. Jangan satukan hidupmu dengan hidupku. Aku memang tidak bisa lama bersama. Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!”

Ah, tulisan ini rusak karena paragraf-paragraf terakhirnya. Biarlah. Seburuk-buruknya bentuk dan isi tulisan ini adalah untuk melegakan diri saya sendiri setelah menari di bawah hujan seharian.

Kamar Kost, 22 November 2012

Rabu, 07 November 2012

Mari Membual Malam Ini


Sebelum mulai, mari kita mengheningkan cipta, matikan segala musik, Radiohead juga. Dijamin kalau ngeyel tetap mendengarkannya, bahan tulisan dalam otakmu akan menguap jadi kebengongan semata. Kursor di layarmu akan terus berkedip-kedip dalam halaman kosong. Dan dari sini saya memulai, dari racauanya sepagi yang sepertinya telah jelas bahwa semua kemungkinan-kemungkinan telah tertutup, atau sengaja ditutup. Saya sendiri tak menjadikannya soal. Dari awal memang sudah ketahuan ujungnya, memang tidak ada celah.

Siangnya, saya pun terbuai dengan cerita keindahan ta’aruf seorang teman. Sebulan saling mengenal secara serius, suatu kali melalui surat elektronik, si perempuan mengajukan pertanyaan yang dijawab oleh si laki-laki sepanjang lima belas halaman. Sudah seperti tugas kuliah saja. Begitulah kemudian pertalian mereka akan disahkan bulan depan. Mungkin begitu lebih baik. Tapi saya sendiri masih suka mengalamatkan rasa pada orang-orang tidak jelas macam anda. Setidaknya, itu tidak jadi membuat saya membakar novel-novel yang sudah dibaca. Demikian saya harus memohom maaf kepada pembaca yang tidak mengerti konteks dari dua paragraf pertama ini.

Seharian bertapa dalam kamar mengharuskan saya untuk bergerak dari tempat ini, kemana saja. Sempat saya pernah melihat sebuah banner terpasang di perempatan jalan berisi jadwal pertunjukan teater, kalau tak salah berjudul “Siti Nurbaya”. Karena tidak tahu ini teater darimana, untung-untungan saja saya datang. Alih-alih bisa menonton, malah kehabisan tiket. Seseorang menawari tiket, bapak-bapak di dekat pintu gerbang. Saya menghindar. Ternyata ada seorang laki-laki yang membeli dari bapak-bapak itu. Harganya dua puluh lima ribu. Tiket teater lho, ada calonya. Sambil geleng-geleng kepala, saya pergi. Besok masih ada pertunjukan yang sama. Masih belum tahu apakah akan muncul tulisan berisi celaan seperti biasa.

Sambil menampung asap knalpot dan debu, pikiran ini melayang entah kemana. Beberapa kali suara klakson memperingatkan cara menyetir saya yang sedikit ngawur. Melamun di jalanan itu menyenangkan. Teringat pameran buku yang mulai digelar malam ini, saya memutuskan ke sana. Di halaman sedang ada seremonial pembukaan pameran. Yang  berpidato di atas panggung mengungkapkan optimismenya terhadap minat baca masyarakat yang mulai meningkat. Hal ini tentu harus dibarengi pula dengan jumlah buku dan penerbit yang juga harus meningkat. Yang berpidato di atas panggung itu—dengan nada meyakinkan—berbicara bahwa buku cetak tidak akan kalah dengan maraknya buku digital. Bla..bla..bla...

Pidato itu selesai dan seorang lagi memperingatkan kekeliruan pengucapan frase “Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”. Sejak undang-undang keistimewaan itu disahkan, kata provinsi dari penyebutan itu seharunya dihilangkan. Begitulah. Tak ambil pusing dengan omongan orang itu, saya langsung masuk ke ruang pameran. Seperti biasa, penerbit-penerbit menjajakan buku-buku dengan label diskon yang digantungkan di atas rak dan tumpukan. Diskonnya memang menggiurkan tapi buku-buku itu tidak.

Sebagian besar pandangan mata saya justru menyapu para pengunjung pameran. Beberapa kali saya melihat laki-laki bersarung. Mereka berjalan, sekadar melihat atau membuka-buka buku. Mereka banyak berkunjung ke stand tertentu dan beberapa yang menjual buku-buku tentang Islam. Pengunjung yang gondrong dan sedikit kumal terlihat mampir ke stand yang menjual buku-buku sastra, politik, sejarah dengan penerbit tertentu pula. Ini hanya observasi selayang pandang. Bualan saya jangan sampai di percaya.

Mampirlah kemudian saya di sebuah stand. Ketika menengok kebelakang, tak sengaja saya melihat Cerpenis itu. Tentu saya mengenali bentuk mukanya yang khas. Pastinya dia tidak mengenal saya. Terbitan kumpulan cerpen terbarunya sedang dijajakan di tumpukan paling depan. Kata salah satu penyair yang meng-update status di facebook, ini salah satu kumpulan cerpen terbaik di Indonesia selama lima tahun terakhir. Harganya cuma tiga puluh lima ribu. Baru saja juga digelar acara launching dan bedah bukunya yang tidak dihadiri oleh saya. Ah, siapa saya. Cerpenis itu sedang menggandeng sesosok perempuan, cantik. Terlihat polos dan lugu dengan kaos dan rok panjang sederhana.

Iseng saja saya perhatikan mereka memilih-milih buku. Tapi tak tahu juga akhirnya membeli yang mana. Si perempuan menyodorkan buku tentang kopi. Apa memang sedang marak buku yang membahas tentang itu? Beberapakali juga saya temui website baru yang memperbincangkan soal kopi, di Indonesia tentu saja. Iseng lagi saya pegang-pegang kumpulan cerpennya. Setelah membaca bagian belakangnya lalu saya letakkan lagi. Seberapa banyakkah Cerpenis itu berharap bahwa bukunya akan laku?

Masih tentang Cerpenis itu. Biar saya katakan sebentuk kekaguman pada salah satu cerpennya. Barangkali benar kalau ia sedang menceritakan tanah kelahirannya dan dengan lihai memulainya dari sebuah ungkapan. Siapa nyana kalau ungkapan thai phau ta  Lun Tun! ini berasal dari kekalahan China terhadap Inggris dalam Perang Candu sampai harus meminjamkan Hongkong sebagai ganti rugi perang. Ungkapan yang berarti meriam menembak London ini menyebar ke seluruh penjuru bumi dan menjadi semacam cemooh pada diri sendiri bagi orang Tionghoa.

Ungkapan ini terus dihidupi dan menjadi olok-olok bagi orang yang suka omong besar, suka membual. Thai phau ta  Lun Tun! yang berasal dari sakit hati sejarah, hidup dalam percakapan sehari-hari, dalam gosip, dalam permainan catur, dalam perbincangan anak-anak sekalipun. Ia melebur dalam tradisi-tradisi setempat dan diserap adat. Begitulah Si Cerpenis membuat kisahnya dengan begitu hidup. Silakan dibaca sendiri untuk lebih jelasnya. Saya tak berkapasitas menjelaskannya lebih detail apalagi mengarah ke kritik sastra.

Mirip-mirip tapi beda dengan cerita itu, di bagian bumi nusantara lain, sedang ada yang akan melakukan penelitian berpijak pada sebuah ungkapan. Apa kabar dengan nak mule keto? Kita tunggu saja hasilnya. Saya jamin akan luar biasa. Sekian bualan saya.


Kamar Kost, 7 November 2012

Selasa, 06 November 2012

Dongeng Titah Si Tikus Tanah


Untuk membunuhmu yang sudah beranak pinak dalam pikiranku, akan kukisahkan sebuah cerita. Kisah ini ditulis sambil mendengarkan Cinematic Orchestra yang sekaligus pernah mengiringi ciuman pertama kita. Bagian awal ini memang seharusnya dibuang saja. Tidak penting. Mari kita lewati dan langsung menuju pada cerita sesungguhnya.  

Sudah tiba musim mangga di kampungku. Anak-anak yang lewat tanpa permisi sering mengambili mangga-mangga masak berjatuhan di halaman. Mangga-mangga ini juga punya cerita. Tapi lain kali saja. Sudah hampir jam lima. Saatnya anak-anak menunggu, mengejar kereta mini yang lewat, lalu menaikinya sampai ke ujung gang. Kereta mini berkelap-kelip lampu dan bergambar tokoh kartun itu adalah milik salah satu warga kampung ini.

Kereta itu akan beroperasi di alun-alun kota setiap malam. Anak-anak hanya bisa menaikinya sesaat, gratis hanya sampai ke ujung gang. Jarang sekali mereka bisa melihat alun-alun kota yang sekarang sudah banyak berkeliaran becak dan odong-odong penuh lampu; merah, kuning, hijau dan biru. Mirip yang ada di alun-alun kidul Yogyakarta itu. Keren sekali bukan, kotaku sekarang. Katamu itu ndeso, ndangdut banget. Biarlah. Yang penting sudah ada pertunjukan teater di kota ini.

Nama sebagian anak di sini diilhami dari artis dan peran mereka dalam sinetron. Kalau kalian berkunjung ke kampungku, akan ku kenalkan pada Zahira, Amira, Farel, Acha, dan lain sebagainya. Ada juga kakak beradik yang cakep sekali wajahnya, tidak mirip dengan anak kampung yang sebagian berkulit hitam. Cara bicaranya lucu. Sedikit cedal, pelo kalau bahasa Jawanya. Mereka hidup dengan neneknya. Sang ibu sedang mencari nafkah sampai ke negeri gajah putih. Rumahku juga dikeramik dindingnya. Tapi sumpah. Ibuku bukan TKI.

Pada sore yang berbahagia ini, aku ingin mengumpulkan anak-anak itu untuk mendengar dongeng. Barangkali saja ibu-ibu mereka jarang membacakan cerita sebelum tidur. Kubiarkan mereka duduk melingkar di bawah pohon mangga di halaman rumah. Sebagian sambil memegang jajan lima ratusan yang hanya dengan rengekan terdasyat boleh dibeli. Sebagian menggenggam buah mangga setengah matang, lebih enak kalau digerogoti tanpa dikupas kulitnya. Ibu-ibu masih berceloteh sendiri. Berkumpul di seberang jalan sambil bergosip tentang masakan hari ini. Para ibu yang merebus mie instan, merebus daun krokot, membakar gerih, menanak nasi dan sambal, spesial untuk anak dan suaminya.

Anak-anak sepertinya sudah tak sabar ingin mendengar cerita. Meski mungkin terlalu mengada-ada, kumulai saja kisah tentang Titah. Nama ini adalah kependekan dari tikus tanah. Titah tak betah tiap hari harus selalu berada dalam tanah. Ibunya merasa ia masih terlalu kecil untuk keluar dari lubang sarang mereka. Dunia luar juga terlalu berbahaya baginya. Si Titah terbiasa melihat dalam gelap sehingga sinar matahari akan menyakiti mata. Tikus tanah memang rabun. Aku memeragakan menjadi rabun dan menggapai-gapai wajah mereka. Anak-anak tertawa.

Titah sering mengintip keluar lewat lubang sarang dan melihat istana kerajaan menjulang tinggi. Atap dan dindingnya kekuningan seperti terbuat dari emas. Bagian bawahnya terlihat kehitaman. Di sekitar istana terdapat rerumputan yang hijau dan indah. Ada pula pohon-pohon besar dengan buah kehijauan menjuntai-juntai ke tanah.

Titah benar-benar sudah tidak tahan. Ia meminja izin kepada ibunya untuk melihat istana impiannya. "Siapa tahu di istana itu tinggal seorang tikus cantik berwajah peri seperti dalam dongeng ibu," pikirnya. Dengan berat hati, Ibu Titah akhirnya mengizinkan anaknya untuk pergi mengintip dunia luar. Ibunya berpesan agar Titah tak pergi jauh-jauh dari rumah. Ia hanya diperbolehkan melihat istana yang terletak tak jauh dari lubang sarangnya.

“Aku akan selalu mengingat pesan Ibu,” kata Titah.
“Jangan terlalu jauh meninggalkan sarang, Anakku. Berhati-hatilah terhadap segala macam bahaya.”
“Jangan khawatir, Ibu. Aku akan berhati-hati. Ibu sudah memberi tahuku bentuk ular, burung, manusia, bunga-bunga, dan aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri.”
“Pergilah, Nak. Pulanglah sebelum senja. Ibu akan menyiapkan makan malam kesukaanmu.”
“Baik, Bu.”
“Sebelum pergi, Ibu punya sesuatu untukmu.”

Ibu Titah mengeluarkan sesuatu dari kotak warisan leluhur. Kotak itu sudah menjadi barang turun menurun. Ia mengeluarkan benda ajaib yang ternyata adalah sebuah kacamata. Titah menerimanya dengan senang hati. Ia mengenakan benda itu yang terus saja melorot karena hidung Titah terlalu kecil. Dengan hati berdebar-debar, Titah keluar dari lubang. Ia tak sabar ingin melihat istana impiannya dan diam-diam menyimpan harapan tentang seorang tikus cantik yang menunggu kedatangannya.

Sampai di luar lubang sarang, Titah mengucek-ngucek matanya sambil berkedip-kedip. Matanya harus menyesuaikan diri dengan cahaya matahari. Pemandangan yang tadinya kabur lama kelamaan menjadi jelas. Tapi betapa kecewa hati Titah. Istana impiannya itu ternyata hanya tumpukan sampah, daun-daun kering. Lantai istana yang terlihat kehitaman itu ternyata hanya abu bekas pembakaran. Kacamata dari ibunya benar-benar merusak mimpinya. Istana impian lenyap seketika.

Titah tak ingin lagi melanjutkan perjalanannya melihat dunia di luar sarang. Ia memutuskan untuk pulang. Segera ia ingin kembali ke lubang sarang. Tiba-tiba terdengar suara berdebam. Tanah bergetar. Titah melihat barisan manusia menuju ke arahnya. Ia melongo saja sambil mengira-ngira apakah yang ia lihat adalah manusia seperti cerita ibunya.

Anak-anak tetap tak mengalihkan perhatian dari ceritaku. Wajah mereka masih bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya.

Titah melihat barisan orang berpakaian hitam-hitam dengan celana tiga perempat yang juga hitam. Sebagian besar adalah laki-laki. Mereka membawa berbagai macam peralatan, membawa tongkat kayu, cangkul, sabit. Mereka juga membawa obor dari pelepah-pelepah daun kelapa. Orang-orang itu seperti menggumamkan mantra. Ya ma ra ja. Ja ra ma ya.

Titah mendengar gumaman mereka. Sekilas ia teringat perkataan ibunya tentang mantra kalacakra. Sebuah mantra untuk menolak balak. Manusia-manusia itu sedang memohon agar bisa terbebas dari segala musibah. Titah tak mampu mencerna apa yang terjadi. Pikiran mungilnya terlalu kecil menjangkau apa yang dilihat dan didengarnya. Ia segera berlari menuju lubang tempat tinggalnya. Sekuat tenaga Titah berlari. Sama sekali tak menoleh meski suara gumam manusia-manusia itu semakin keras. Lubang rumahnya memang tak seberapa jauh namun kaki mungil Titah sudah sangat lelah. Kakinya bergetar, antara takut dan lelah. Tanah yang dipijaknya juga semakin keras bergetar.

Hanya ada lubang rumah dan ibunya dalam pandangan Titah. Ia Sama sekali tak bisa menikmati perjalanan pertama keluar sarang. Bunga-bunga dan keindahan yang diimpikannya lewat bersama angin yang meniup tubuh bersimbah peluh. Titah terus berlari. Terus berlari. Terengah-engah.

***

Cerita yang hampir klimaks itu tiba-tiba harus kuhentikan. Hujan deras mendadak datang. Anak-anak berlari berhamburan. Pulang ke rumah sambil menanti ibu mereka menyajikan makan malam. Akhir cerita ini kusimpan sendiri. Mungkin terlalu sadis untuk didengar anak-anak itu. Setidaknya hujan telah menyelamatkan pendengaran mereka dari dongengku yang terlalu ngawur.

Manusia-manusia itu sedang melakukan ritual untuk memburu tikus-tikus yang merusak sawah mereka. Entah sejak kapan mereka tak pernah bicara lagi dengan tikus. Ketika malam tiba, tanpa ampun begitu saja membantai mereka. Ibu Titah mati terpanggang dalam lubang. Tubuhnya kaku, hangus terbakar. Manusia-manusia itu menggunakan alat penyembur api yang dijejalkan ke dalam sarang. Kadang membakar belerang di mulut lubang dan tikus-tikus di dalamnya mati keracunan.

Aku sendiri sibuk mencari Dewi Sri sementara dongeng tentang Titah terasa tak menyisakan pesan apapun bagi anak-anak itu. Barangkali mereka akan kembali mencari cerita dalam sinetron-sinetron. Ada perempun pakai baju kulit harimau dan berlagak bodoh ketarzan-tarzanan. Tak ada yang lebih bodoh dari orang yang menonton cerita itu, malah sudah dilanjutkan sampai season dua.

Di kampungku ada anak perempuan hafal dengan tarian perempuan tarzan itu. Ia memiliki seorang pengikut setia, mengikutinya kemana-mana. Ketika berjalan kemanapun, anak itu selalu membunyikan hape yang memutar lagu-lagu terbaru dari boyband dan girlband idolanya. Aku sering melihatnya lewat di depan rumah. Masih berseragam sepulang sekolah, tangannya menggengam plastik es. Sesekali ia bernyanyi sampil menyedot esnya lewat pipet berwarna merah.

Hujan reda tapi sudah hampir gelap. Beberapa kali terdengar suara mangga jatuh. Seorang anak menghampiri ketika aku masih duduk di teras, “Mbak, sesuk critani neh ya.” Malam ini aku dapat tugas untuk kembali mengarang cerita atau meyampaikan cerita bohong tentang akhir kisah Titah.



Kamar Kost, 6 November 2012

Senin, 29 Oktober 2012

Kesan Jadi Penonton IDRF 2012



Sebentuk kesan akan saya tuliskan setelah menonton Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF), tanpa teman sebelah. Payah, kalimat pertama tulisan ini sudah berupa keluhan. Saya memang belum pernah menonton acara serupa. Sebelum menonton, sedikit gambaran dalam benak memperlihatkan orang-orang yang membacakan naskah dengan intonasi dan ekspresinya. Lebih tepatnya mungkin bisa disebut pelisanan naskah drama. Di acara menonton yang sampai tiga hari berturut-turut tak pernah absen ini, saya ditemani oleh pendekar pasir beracun untuk dua hari pertama. Ia khusus datang dari pulau pasir untuk menemani saya. Dia memang teman yang baik.

Tema IDRF tahun ini adalah “Memperkarakan Realisme”. Dua tahun sebelumnya, IDRF mengusung tema “Melihat Kembali Realisme” dan tahun lalu bertema “Mengolah Kembali Realisme”. Sayang sekali saya tak ikut ambil bagian jadi penonton untuk IDRF tahun-tahun sebelumnya. Dan di sini saya hanya akan bercerita, tak berani membanding-bandingkan atau berkomentar macam-macam tentang teater dan lakon realis di Indonesia. Sejarahnya sudah sangat panjang dan bukan kapasitas saya sebagai penonton untuk menuliskannya.

Mas Joned Suryatmoko membuka acara sebagai direktur IDRF yang juga akan digelar di kota lain yaitu Semarang, Bandung dan Lampung. Seharusnya ia ditemani oleh Gunamawan Maryanto, sayangnya dia sedang berada di Korea. Mungkin para aktor Teater Garasi sedang diikutkan training dalam management artis SM Town biar terkenal seperti Super Junior.Hehe.. Penonton di hari pertama ini lumayan semarak. Pendekar pasir beracun cukup senang bertemu dengan salah satu penonton yang juga bergaya mirip pendekar. Seorang laki-laki dengan udeng-udeng atau iket di kepala. Ia datang sendiri dan sepertinya tak mengenal seorang pun di tempat itu seperti kami.

/1/
Di hari pertama ini, Behind Theatre akan melisankan naskah Helvy Tiana Rosa. Dulu saya senang membacai karya Helvy ketika es em a dengan majalah wajib baca zaman itu bernama Annida. Jangan salah karena beberapa tulisan saya sewaktu es em a memang sangat Islami. Sempat dulu awal kuliah ikut FLP karena ingin menjadi penulis seperti Mbak Helvy. Tapi kemudian tak betah karena merasa bukan bagian dari sekawanan bidadari surga yang ada di sana.

Kembali pada naskah Helvy yang di bacakan di IDRF. Lakon berjudul Jiroris ini memang cukup menarik. Naskah ini dibawakan oleh Behind Theatre dengan interpretasi khas mereka yang segar dan menghibur. Helvy bercerita tentang seorang ibu yang khawatir dengan anaknya yang ikut Rohis di sekolah. Sebagai naskah realis, pelisan dan naskahnya sendiri bisa dikatakan berhasil menghibur. Perdebatan antara pandangan feminis dan Islam dengan kutipan dari Cixious dan Hadist Nabi dibawakan oleh aktor yang cute (peran Rossa, anak seorang pengacara ternama, tiba-tiba mengalami perubahan perilaku setelah ikut Rohis) dan seorang perempuan bergaya kebarat-baratan sebagai peneliti terorisme di Indonesia dari Amerika. Bagian ini menjadi tak terkesan berat. Penonton bisa menikmati dan kadang diselingi tawa.

Saya sendiri tidak tahu pakem dramatic reading itu seperti apa. Apakah hanya boleh dibacakan begitu saja atau pelisan bisa menerjemahkan naskah itu melalui penyutradaraan. Kalau anak-anak rohis digambarkan demikian heboh, tentu bukan lagi menjadi realis. Itu pun sebenarnya bukan soal. Dalam hal memindahkan realitas ke panggung, se-realis apapun, pasti tetap ada fleksibilitas pertunjukan yang bisa ditoleransi.

Dari pengalaman saya menonton, mungkin memang sudah jarang teater yang membawakan naskah realis. Kalaupun ada, naskah-naskah yang dibawakan sudah demikian uzur. Kalau tidak begitu, mereka membawakan naskah-naskah terjemahan seperti punya Chekov. Naskah-naskah realis nan uzur ini tentu harus kembali disesuaikan dengan zaman kalau ingin dipentaskan saat ini. Kalau tidak, mereka akan terjebak pada pembawaan kaku dan tak menarik perhatian. Jiroris tampaknya memang membawa angin segar bagi kekhawatiran saya tentang pertunjukan-pertunjukan teater realis yang seringkali masih membawakan lakon-lakon lama.  

Sebagai pembanding, naskah kedua yang ditampilkan di hari pertama ini berjudul Keluarga-Keluarga Bahagia (Happy Family) karya Ann Lee. Lakon dari Malaysia ini dilisankan oleh Teater Stemka. Berbeda dengan naskah pertama yang dibawakan dengan segar, naskah kedua dilisankan dengan membacanya begitu saja. Para aktor duduk di kursi setengah melingkar. Satu aktor bisa membawakan tiga karakter sekaligus. Kelompok teater yang bisa dibilang senior di Yogyakarta ini membawakan naskah yang bercerita tentang anak-anak perempuan beranjak dewasa. Percakapan mereka membawa cerita tentang bagaimana anak-anak itu memandang laki-laki di usia mereka, memperbincangkan hal-hal yang dianggap tabu dan tak layak diperbincangkan, juga soal-soal keluarga lainnya. Kadang segar, lucu, tapi juga sedikit membosankan. Mungkin juga karena ini naskah dari Malaysia sehingga sedikit tidak akrab masuk dalam telinga.

/2/
Hari kedua IDRF, pendekar pasir beracun masih bisa menjumpai kawan pendekarnya. Kali ini tak lagi memakai udeng di kepala. Tapi tetap saja ia terlihat berbeda dengan sepatu boot menkilapnya itu. Mas Joned kembali membuka acara, tetap dengan kabar bahwa Gunawan Maryanto masih berada di Korea. Di pojokan belakang, sepertinya saya melihat Mas Ipank sedang bersama teman-temannya. Biar saya jujur di sini. Saya nge-fans dengan salah satu potongan lirik lagunya, “dan revolusi...yang kita nanti...akhirnya pecah...di kamar ini...”

Hari kedua ini diisi dengan pelisanan naskah dari Singapura, ditulis Huzir Sulaiman berjudul Cogito. Naskah ini dilisankan oleh Forum Aktor Yogyakarta. Naskah ini juga sedikit terkesan berat. Para pelakunya memperbincangkan Descartes, Santo Agustinus sampai Rumi. Tiga Katherine Lee bertemu dan mengaku sebagai istri Tony Szeto. Salah satunya adalah sebuah program komputer. Seperti judulnya, dan yang tertulis di pamflet juga, naskah ini ingin bicara tentang keberadaan. Saya sendiri kurang begitu mengerti soal yang berat-berat berfilsafat macam begini. Tetap ada riuh tepuk tangan meski entah berapa dari orang-orang yang mengerti isi naskahnya.

Naskah kedua berjudul Ruang Putih karya Rangga Riantiarno. Dia adalah seorang penulis muda dan aktif di Teater Koma. Naskahnya bercerita tentang sebuah ruang yang mengharuskan penghuninya mengingat kejadian sebelum mereka mati, sebelum mereka bisa melanjutkan perjalanan kembali. Behind Theater kembali membawakan naskah di hari kedua IDRF. Seperti apapun naskahnya, tampaknya memang akan menjadi konyol kalau mereka yang membawakan.  

Dua naskah ini sepertinya memang perlu diperkarakan terkait tema realisme yang diambil. Saya jadi bertanya-tanya apakah naskah realis itu? Kalaupun ingin membuat pembahasan tersendiri, antara naskah realis dan pertunjukan teater realis tentunya menjadi dua hal yang sebaiknya dipisahkan tetapi tetap menjadi satu. Saya tak cukup punya bahan untuk membicarakannya di sini, sejarahnya..bla..bla..bla..., perkembangannnya di Indonesia...bla..bla..bla..teater dan naskah realis saat ini...bla..bla..bla...

Segumpal pertanyaan itu saya karungi untuk di bawa pulang. Tetap menggumpal dalam pikiran sampai sekarang. Kalau ada yang ingin berbagi, silakan hubungi saya. Mas Ipank sudah menghilang sejak jeda sebelum pelisanan naskah kedua.

/3/
Pendekar pasir beracun sudah pulang ke negerinya. Hari itu saya menonton sendirian. Rencananya juga setelah ini saya langsung pulang ke kampung halaman. Mas Joned kembali membuka acara dan lagi lagi mengabarkan bahwa Gunawan Maryanto masih berada di Korea. Penonton di hari ketiga ini sedikit menyusut. Meski demikian, Pendekar berudeng itu masih ada. Ia cukup setia juga karena tetap hadir sampai hari ketiga.

Hari ini akan dibacakan naskah berjudul Roberto Zucco. Karya dari perancis ini ditulis oleh Bernard-Marie Koltes tahun 1988. Naskah ini diterjemahkan oleh Arya Seta. Sampai sekarang hanya sebagian saja naskah yang diterjemahkan terkait dengan persoalan izin dan sebagainya. Sebagian lakon yang dilisankan oleh Forum Aktor Yogyakarta ini bercerita tentang seorang kriminal bernarma Roberto Zucco. Dari sebagian naskah itu, Zucco digambarkan sebagai seorang kriminal. Ia melarikan diri dari penjara dan menemui ibunya. Dan akhirnya dibunuhnya juga.

Tema besar kriminalitas dan nama penulis naskahnya benar-benar mengingatkan saya pada salah satu bagian novel Milan Kundera yang berjudul Kekelan itu. Melalui seorang pembaca berita, Mil Kun—panggilan sayang saya untuk penulis satu itu—mempersoalkan isi berita termasuk kriminalitas dan seberapa dekatnya dengan kehidupan kita. Setiap hari kita memang disuguhi berita tentang pembunuhan, kerusuhan, bayi yang dibuang, gadis diperkosa, dan sebagainya. Pun kadang kita sempat menganggapnya sebagai hiburan semata. Mendengar atau menyaksikan berita pembunuhan hampir mirip dengan membaca novel Agatha Christie sambil minum teh di sore hari.

Naskah Roberto Zucco membawa pada suatu kedalaman tertentu dari seorang yang dianggap kriminal. Mungkin juga yang seperti ini pernah kita saksikan di film-film psikopat. Tapi melalui naskah teater, kriminalitas bisa disajikan lengkap dengan kedalamannya, kehidupan seorang Zucco dan lingkungannya. Sayang sekali naskah ini belum lengkap diterjemahkan sehingga saya pun tak bisa menikmati pelisanannya secara utuh.

Naskah kedua yang dibacakan berjudul Keok karya Ibed Surgana Yuga (2010). Sepertinya naskah ini memang paling berkesan. Pelisan naskahnya sendiri adalah Teater Stemka dengan Om Landung Simatupang sebagai naratornya. Penampilan Teater Stemka untuk naskah ini terasa lebih menarik dibandingkan ketika mereka membawakan naskah Keluarga-Keluarga Bahagia sebelumnya. Menarik juga karena naskah karya seorang penulis dan pegiat teater muda dibacakan oleh kelompok teater sepuh di Yogyakarta.

Para sesepuh Teater Stemka berusaha untuk membawa ruh naskah yang berlatar di Bali dengan alunan seruling dan kenong. Mereka berusaha sekuat tenaga membawakan aksen Bali dalam pelisanan naskah tersebut, meski tak sepenuhnya menggunakan dialek Bali karena waktu latihan yang hanya enam kali. Beberapa kali kesalahan dalam pelisanan justru diubah oleh Om Landung menjadi sesuatu yang renyah dan mengundang tawa.

Lakon ini tentu bergaya realis. Bukan Bali yang banal yang ditampilkan melainkan Bali sekaligus orang-orangnya dengan segala pertarungan di dalamnya. Sebagian orang Bali dalam lakon ini digambarkan suka tajen, mabuk, suka dengan istri orang, kongkalikong dengan negara untuk urusan perjudian, kekerasan, pembunuhan, dan sebagainya. Terlepas dari pikiran-pikiran yang romantis maupun yang najis tentang teman sebelah dan ke-Bali-annya, naskah ini tetap bisa saya nikmati, kadang dengan tawa, kadang juga dengan pikiran yang tiba-tiba melompat entah kemana.  

Dikisahkan sepasang suami istri bernama Made Surya dan Luh Sandat yang mencari penghasilan dengan berjualan ketika tajen berlangsung. Tajen sendiri konon katanya sudah dilarang tapi masyarakat di desa kecil itu tetap saja menyelenggarakannya atas nama adat. Salah satu pemain tajen yang bergaya mirip preman bernama Komang Kober. Ia bekerjasama dengan Pak Binmas agar tajen tetap bisa dilangsungkan dengan memberinya uang.    

Ceritanya sederhana. Komang Kober mencintai Luh Sandat dan berusaha menjebak Made Surya melalui tajen. Komang Kober menyimpan niat buruk dibalik kebaikannya meminjamkan uang untuk biaya Ngaben ayah Made Surya yang lumayan mahal. Komang kober bekerjasama dengan Pak Binmas untuk menjebak dan memenjarakan Made Surya ketika ia mengikuti tajen. Sementara suaminya dipenjara, Komang Kober pun berencana memiliki Luh Sandat seutuhnya. Belum sempat terjadi, Made Surya mengetahui rencana Komang Kober dan terjadilah perkelahian berdarah itu. Dari cerita ini, Ibed sebagai orang Bali berusaha menampilkan Bali tanpa dibedak-bedaki dan saya suka itu.

Dari keseluruhan lakon yang dilisankan dalam IDRF 2012 ini, saya jadi bisa membuka mata. Tentu akan sangat beragam kalau tema-tema realis kembali dihadirkan di pangung-panggung pertunjukan. Tema dan cerita yang barangkali secara tidak langsung bisa mengobati sakitnya masyarakat negeri ini. Dari tiga hari ini, pelisan IDRF terlihat muncul dari tiga generasi. Dari anak-anak muda, setengah tua, sampai para sesepuh dari Teater Stemka. Yang muda tetap harus lebih banyak berlajar dan berproses sebagai aktor. Saya tahu itu proses begitu njlimet dan berdarah-darah.

Pegiat teater di Yogyakarta seharusnya bisa terinspirasi dari lakon-lakon ini. Jangan sampai tragedi ketika saya menonton teater beberapa waktu lalu terulang kembali. Sudah membayar tiket sepuluh ribu tapi pertunjukan yang dihadirkan justru membuat saya geram dan membangkitkan nafsu ingin membunuh orang. Terlepas dari bentuk apresiasi saya, cerita tentang kuburan keramat yang dikomodifikasi itu membuat saya ingin melempar sandal ke atas panggung.Hehehe..

Anak-anak muda kadang tergiur dengan bentuk teater yang aneh-aneh, teater tubuh, teater surealis dan aneh-anehan lain yang justru membuat penonton awam seperti saya tidak mengerti apa yang saya saksikan. Barangkali teater realis dianggap sebagai dasar yang mungkin dianggap pula sudah dilewati atau sudah tak masanya lagi. Padahal, pelatihan aktor yang njlimet juga tetap berlaku dalam teater jenis realis ini. Padahal, melalui pertunjukan-pertunjukan bentuk ini, kita kembali diingatkan terhadap realitas.

Realitas sendiri barangkali sudah sangat jarang kita saksikan. Ia ditumpuki berita-berita koran dan televisi. Berita-berita yang terlalu sering berseliweran meski saya tetap tak pernah percaya pada mereka, selain sebatas sesuatu yang mengejutkan, mengundang tawa, bergidik, merinding untuk sesaat kemudian dilupakan.

Saya menuliskan ini di ruang depan, ruangan yang dulu saya juluki ruang relung. Ruangan paling depan rumah ini memang semacam ruang untuk melihat ke dalam. Dulu sebelum mengenal Jogja, tulisan-tulisan awal saya pernah lahir di ruang ini. Masih polos. Mungkin seperti juga tulisan ini yang lahir tanpa tambahan informasi. Ah, akses internet lewat modem lelet sekali di sini. Tulisan ini murni kesan. Sekian.

Ditulis pada sebuah hari dimana saya pengen sekali ketemu Om Seno di Magelang, tapi apa daya.
Ruang Relung, 29 Oktober 2012

Selasa, 16 Oktober 2012

Oleh-Oleh Perjalanan ke Pulau Pasir


Sudah beberapa minggu lalu saya pulang membawa oleh-oleh ini. Biar diperam dulu. Alih-alih memang baru sempat dituliskan. Saya tahu tentang Pulau Pasir dari kabar seorang teman. Tentu kau tak akan menemukan tempat ini dalam peta manapun. Peta yang dibuat demi mengusai wilayah-wilayah, menerobos setiap jengkal hutan, gunung, pantai, sungai, lautan. Pulau Pasir adalah salah satu yang tak bisa ditemukan kecuali kau mau mengikuti kabar angin dan nekat untuk mencarinya. Pulau Pasir konon katanya akan datang juga kepada orang-orang yang benar-benar ingin menemukannya tanpa maksud menguasai.

Sebelum menemukan Pulau Pasir, saya singgah di sebuah kampung. Tempat ini mungkin ada dalam peta. Maaf saya tak bisa menyebutkan namanya. Kala itu hari minggu. Cuaca di kampung itu sedang panas-panasnya. Hari hampir siang dan di sebuah lapangan orang-orang mulai berdatangan. Tak ada yang aneh di sana. semua hampir mirip dengan kampung-kampung yang pernah kau temui. Mereka tidak terisolasi dari peradaban. Pekerjaan sebagian besar warga adalah petani, penambang pasir, segelintir pegawai negeri dan seorang mantri hewan. Itulah yang saya tahu. Saya hanya mampir sehari di pulau itu.

Di lapangan telah berkumpul orang-orang yang menyaksikan panggung organ tunggal. Duet penyanyi di atas panggung terdengar meliuk-liuk. Seorang laki-laki dan seroang lagi perempuan melantunkan salah satu tembang campur sari. Cuaca panas tak menghalangi warga untuk mencari hiburan sejenak setelah seminggu penuh bekerja. Organ tunggal itu dipesan untuk memeriahkan lomba antar kelompok senam ibu-ibu di kampung itu. Sponsornya salah satu partai yang baru saja muncul dan sedang giat-giatnya menggalang massa. Semua orang sudah tahu tapi tentu tak ada satupun bendera partai di sana. 

Lomba itu juga dimeriahkan dengan doorprize berupa oeralatan-peralatan rumah tangga seperti kipas angin, rice cooker dan dvd player. Ibu-ibu sudah memegang kartu bertuliskan nomor undian. Ketika panitia mengumumkan nomor yang ditunjuk, beberapa muka tampak mengkerut karena bukan nomor mereka yang disebut. Beberapa lagi merekah senyumnya. Segera seorang ibu berlari mendekat panggung karena beruntung mendapat sebuah televisi. Pembagian doorprize adalah acara puncak dan setelahnya akan ada hiburan reog. Panitia sudah pamit tapi anak-anak kecil dan beberapa ibu-ibu justru mendekat ke panggung. Mereka ikut naik panggung dan berjoged. Panitia memperingatkan untuk berhati-hati karena panggung itu rapuh dan bisa runtuh kalau terlalu banyak orang di atasnya.

Aih...ibu-ibu yang di depan panggung itu rasanya masih tak rela kalau musik berhenti. Ia masih ingin terus bergoyang dengan pakaiannya yang ketat tapi aneh, meninggalkan panggung sampil mengusap keringat di dahinya. Celana dan baju ketatnya itu sebenarnya menyiksa, masih ditambah dengan rompi berwarna ungu tua. Tubuhnya benar-benar basah karena panas. Anak-anak juga mulai sedikit menjauh dari panggung. Rambut mereka kemerahan dengan kulit mengkilat karena matahari. Kaki-kaki mungil bersisik itu beradu dengan debu dan rumput-rumput kering kecoklatan.

Berikutnya rombongan reog tiba. Mereka diangkut oleh truk dengan bak terbuka. Anak-anak yang tidak boleh lagi berada di panggung mulai memanjat dan bertengger di atas bak truk agar bisa menyaksikan pertunjukan lebih jelas. Reog di sini berbeda dengan reog di Ponorogo. Saya tak punya cukup data untuk menuliskan sejarah dan perkembangan hiburan rakyat macam reog yang saya saksikan ini. Reog di sini hanya berupa barisan yang terdiri dari dari dua orang pemimpin laki-laki, delapan orang penari perempuan, barisan kera, ksatria, raksasa dan punakawan yang mondar-mandir di sela barisan.

Saya menduga kalau pertunjukan ini mengusung cerita ramayana. Tarian yang diperagakan dalam pertunjukan ini memang sedikit statis. Irama musiknya juga demikian, hanya mengulang beberapa nada dalam sistem tangga nada pentatonis, mungkin slendro, mungkin juga pelog, tapi kemungkinan besar slendro. Pertunjukannya hanya menggunakan hitungan langkah kaki secara sederhana. Gerakan tangannya juga cukup sederhana. Gerakan-gerakan ini juga tergantung oleh karakter yang dimainkan.

Tata rias dari para penari reog terlihat tebal. Sedikit riasan berlebihan tampak pada bagian hidung dan mata. Para raksasa juga dirias dengan wajah menakutkan, bermata besar berwarna merah. Ketika perang antar penari berlangsung, pemain lain duduk melingkar. Terlihat wajah-wajah lelah karena kepanasan. Beberapa di antaranya minum dari botol yang sama secara bergantian. Setelah pertunjukan di lapangan ini, mereka masih harus berkeliling lagi menuju tempat pertunjukan berikutnya. Bayangkan, mereka akan menggelar pertunjukan antara delapan sampai sepuluh kali dalam sehari. Mereka berdandan sejak pukul enam pagi, selesai sekitar jam dua belas siang. Dan mereka baru akan selesai mengadakan pertunjukan sampai pukul sebelas malam.

Reog di kampung ini memiliki keragaman. Selain mengangkat cerita Ramayana yang bisa dikenali dengan barisan kera, reog jenis lain mengusung barisan prajurit. Barisan ini terdiri dari prajurit pedang, prajurit panah, prajurit tombak, dan prajurit gada. Masing-masing biasanya terdiri dari lima orang, tapi ini bukan pakem yang wajib diikuti. Pertunjukan perang dilakukan antar prajurit tetapi tetap dalam satu kelompok, misalnya prajurit pedang dengan prajurit pedang.

Pertunjukan ini biasa hadir setiap minggu. Ada banya kelompok reog di kampung ini. Mereka bergiliran membuat pertunjukan. Kadang juga ngamen kalau kebetulan ada yang menanggap. Sempat tak habis pikir kenapa kesenian ini masih ada. Kata seseorang yang saya temui ketika menonton, mereka mungkin tak banyak mendapat uang dari pertunjukan-pertunjukan itu. Sebagian malah merugi. Beberapa kelompok memang mempunyi kostum sendiri untuk dipakai saat pertunjukkan. Bagi yang tidak, mereka harus menyewa kostum dan berarti juga menambah biaya. Sekali ditanggap katanya hanya dibayar sekitar lima ratus ribu. Mana cukup uang tersebut dibandingkan jumlah anggota sebanyak itu. Meski begitu, pertunjukan reog tetap ada setiap minggu. Mereka ada bukan karena uang tentunya.

Penanggap bebas meminta untuk mempertunjukkan adegan perang yang mana dan disesuaikan dengan tarif atau bayaran. Adegan paling menarik biasanya menampilkan perang antara buta cakil dengan seorang ksatria. Gerakan cakil memang harus terlihat lincah dan memukau. Peran cakil memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Tak semua kelompok reog meiliki seorang karakter cakil. Kalau sudah begitu, mereka bisa menyewa pran cakil dari kelompok reog lain. Adegan lain yang juga sering dipesan adalah perang antara hanoman melawan raksasa. Peran hanoman juga diharuskan lincah. Seorang hanoman juga harus lucu memperagakan gerakan-gerakan kera, menggemaskan tapi juga mematikan.

Masyarakat memiliki klasifikasi untuk mengatakan kelompok reog mana yang dikatakan baik dan kurang baik. Klasifikasi ini biasanya didasarkan pada penilaian atas gerakan, kesesuaian gerakan dan irama, serta kesesuaian antara penari dan karakter yang dibawakan. Masyarakat bisa memilih kelompok reog mana yang ingin merekan tonton beradasarkan penilaian-penilaian tersebut.

Ini juga yang mau saya kisahkan. Ketika bunyi-bunyian mulai terdengar di lapangan, orang-orang berkumpul, perempuan dan anak-anak, juga gadis-gadis yang berboncengan mengendarai sepeda motor. Di kampung itu, sudah biasa gadis-gadis akan mengendarai motor berkeliling kampung tanpa helm. Orang-orang menyebutnya nyetrika dalan. Sebutan ini muncul karena mereka suka mondar-mandir seperti setrika menelusuri jalan. Selain itu, ada sebutan lain yaitu; thethek. Yah, bisa dikatakan semacam show off gitu. Para pemuda biasanya bergerombol di beberapa tempat tertentu, seperti counter hape, jembatan lama atau di teras rumah. Mereka kadang juga mondar-mandir dengan motor tak kalah dengan para gadis. Siulan akan terdengar dari para pemuda itu ketika gadis-gadis melintas di depan mereka.  

Saya juga sempat mencatat cara berpakaian mereka. Beberapa ada yang mewarnai rambutnya, meski sangat tidak cocok dengan warna kulit. Beberapa lagi mengenakan bandana dan pita di rambut. Sepertinya girl band yang sedang marak menjadi referensi bagi penampilan gadis-gadis kampung ini.

Perempuan dan anak-anak memang antusias ketika mendengar keramaian di kampungnya. Tapi tidak dengan seseorang yang saya temui ini. Ia justru merasa tidak nyaman dengan keramaian dan jenis hiburan yang ditawarkan, khususnya organ tunggal dengan panggung dan penyanyi dangdutnya. Saya tahu juga kalau ia masih keturunan priyayi di kampung ini. Orang-orang kampung masih menempelinya dengan label status sosial yang cukup tinggi karena keturunan. Ketika saya ajak menonton pertunjukan di lapangan itu, ia terkesan malas dan mencemaskan perkataan orang tentangnya. Meski demikian, ia hampir kenal dengan semua warga kampung, tetap rendah hati meski berstatus sosial tinggi.

Saya jadi ingat cerita novel Mbah Suparto Broto dengan Republik Jungkir Balik nya. Keluarga Kartijo diceritakan baru saja mengungsi dari Surabaya ke Probolinggo. Mereka harus mengungsi karena bom-bom yang mulai berjatuhan ketika pasukan Bung Tomo berusaha mempertahankan Surabaya pada November 1945. Keluarga Kartijo digambarkan cukup mapan dan bahagia di Surabaya. Ketika pindah ke Probolinggo itulah keluarga Kartijo kesulitan mengikuti kebiasaan hidup orang-orang Madura di desa. Mereka hanya mencari ikan, bertani dan suka dengan berbagai hiburan seperti Sandur (semacam pertunjukan teater tradisional) atau Tandak Bedes (komidi kera). Di sana digambarkan bahwa ketika bunyi-bunyian itu terdengar, perempuan dan anak-anak akan langsung berlari menuju sumber bunyi tersebut berasal.

Ini hanya sebuah cerita. Saya tak bermaksud jauh mengaitkannya dengan different taste dalam kelas atau kategori seni “tinggi” versus “rendah”, “modern” versus “tradisional”, “elit” versus “populer” dan dikotomi semacamnya. Tak punya waktu untuk melihat bagaimana masyarakat menghidupi seni reog ini. Yang saya tahu, mereka hanya ingin melestarikan tradisi dan kebudayaan reog yang sudah hadir dan bertahan cukup lama, entah berapa tahun pastinya. Secara obyektif, kesenian ini mungkin hadir dengan institusi, individu dan kelengkapan yang telah tersutruktur dengan skema-skema persepsi dan pemaknaan tertentu. Secara subyektif, seni reog juga memproduksi simbol-simbol di dalamnya yang dapat diidentifikasi serta menunjukkan keragaman dalam bentuk seni pertunjukannya.

Rasanya sudah cukup saya bercerita. Lha wong cuma mampir saja ke kampung itu. Tujuan saya adalah mencari Pulau Pasir. Sebuah pulau tersembunyi dimana tak sembarang orang bisa menemukannya. Di pulau itu saya ingin mencari sahabat saya, Si Pendekar Pasir Beracun. Rupanya ia benar-benar menghilang setelah pertarungan yang urung dilakukan. Entah, apakah saya bisa menemukannya di balik matahari senja. Para pembaca budiman, mohon doanya agar bisa menemukan Sang Pendekar Pasir sahabat saya.

Kamar Kost, Maghrib, 16 Oktober 2012