Minggu, 16 September 2012

Puisi-Puisi Zubaidah Djohar: Melawan dan Mengingatkan


Sekembalinya dari Bincang Sastra di TBY malam ini, saya serasa berat melangkahkan kaki. Senyum Mbak Abidah el Khalieqi masih terasa. Tentu saja ia tak mengenal saya, hanya tak sengaja kami bertubrukan pandangan ketika ia akan pulang. Panggung terbuka yang cukup sepi itu menjadi ruang untuk kembali mengingat. Dengan puisi, malam ini saya dicabik sepi sekaligus ingin menghilang di balik tebing, atau sekalian menjadi pecah berkeping-keping. Puisi-puisi ini mencipta sayatan, pisau yang membelah-belah ingatan. Luka dan sakit yang dikuburkan itu kembali dikabarkan.

Malam ini Studio Pertunjukan Sastra mendatangkan seorang penyair perempuan dari Aceh, Zubaidah Djohar. Judul kumpulan puisinya adalah Pulang Melawan Lupa. Acara dimulai dengan pembacaan beberapa puisi karya Mbak Zu yang bagi saya sendiri sarat pesan untuk kembali mengingatkan pada luka-luka Aceh. Sejarah luka Aceh memang terlalu panjang untuk sanggup saya tulisan. Sebagian puisi itu  ditulis di Canberra meski hatinya selalu terpaut pada tanah kelahirannya. Saya tak membeli buku kumpulan puisi Mbak Zu sehingga tak bisa berkomentar banyak secara pribadi. Dan tulisan ini juga hanya sisa ingatan tentang orang-orang yang telah lebih dulu membaca kumpulan puisi itu.

Para pembaca puisi membawakan puisi Mbak Zu dengan gaya khasnya masing-masing. Diselingi nukilan lagu Bungong Jeumpa, bait yang dilagukan dengan gaya tutur khas Aceh, seorang pembaca puisi yang nervous sebelum mulai lalu menghisap-hisap rokok di celah jari, malam ini menjadi hangat meski tak semua yang hadir benar-benar menikmati pembacaan puisi. Sebagian mengobrol, sibuk memotret atau memenjara mata pada layar hp.

Hamdi Salad mengawali diskusi dengan memposisikan dirinya sebagai seorang pengganggu, bukan kritikus sastra sehingga yang dia bicarakan di sini hanyalah sekadar refleksi setelah membaca kumpulan puisi. Mbak Zu adalah salah satu selain  beberapa penyair perempuan Aceh lain. Alumni Magister Kajian Gender UI ini sedang melanjutkan studinya di Australia yang juga memboyong keluarganya ke sana. Hamdi lalu bercerita tentang puisi dari salah satu teman Gibran yang kurang lebih berkisah tentang hidup di barat hanya jasad saja, tapi ruh penyair itu tetap berada di timur. Sepertinya tak jauh juga dengan Mbak Zu yang menuliskan puisi-puisi tentang Aceh di benua seberang.

Selain menulis puisi, Mbak Zu adalah seorang aktivis perempuan. Dan karenanya tentu tak asing dengan sekumpulan teori-teori gender dan feminisme. Feminis menempatkan tubuh perempuan sebagai medan bagi karya sastra itu sendiri, sebut saja Monolog Vagina. Karya sastra ini menjadi medan bagi tubuh perempuan untuk berkomunikasi kepada publik. Sebagai aktivis, tubuh perempuan menjadi media untuk menyadarkan. Semoga saya tak salah mencatat karena tentu akan melibatkan perdebatan sangat panjang soal feminis dan aktivis.   

Kadang seorang penyair menjadi seperti politikus tua yang kebingungan mencari pena. Padahal, pena itu diletakkannya di atas telinga sendiri. Maka puisi adalah pengingat, sebuah alat melawan lupa. Seperti kata Milan Kundera yang sudah terlalu sering dikutip dimana-mana itu, “Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” Politik ingatan sendiri sudah banyak dibicarakan orang setelah PD II. Bahkan, Ranggawarsita dengan Serat Kalatidha-nya menjadi jalan untuk melihat lagi. Soekarno punya ungkapan Jasmerah. Soeharto punya sekian banyak rekaya sejarah, dan sebagainya. Kajian politik ingatan ini memang banyak dibahas oleh orang-orang kiri. Kata Hamdi, “Kalau di Jogja ini, kiri jalan terus. Kalau kanan masih kadang berhenti. Makanya, karena kiri jalan terus jadi muter-muter. Orangnya juga jadi ikut muter-muter.”

Pasca tsunami Aceh, banyak sekali karya sastra bermunculan yang membahas tentang Aceh. Namun, sebagian besar dari karya tersebut justru ditulis oleh orang-orang dari luar Aceh. Banyak dari karya itu yang juga melakukan kritik terhadap orang-orang yang masuk ke Aceh. Katanya mereka itu melebihi Belanda, Orde Baru tanpa jiwa. Sedangkan puisi Mbak Zu dapat dikatakan semacam otokritik. Ia memiliki perspektif berbeda ketika memandang Aceh, tentu karena Mbak Zu adalah orang Aceh itu sendiri. Dalam puisinya akan banyak dijumpai kata-kata seperti damai, lelaki itu, tentara-tentara, penguasa dan sebagainya. Di beberapa sisi, Mbak Zu juga mengkritik orang Aceh yang kadang hanya minum kopi dari pagi sampai pagi lagi.

Puisi Mbak Zu membangkitkan ingatan tentang kehebatan perempuan-perempuan yang pernah berkuasa di Aceh. Meski saat ini, perempuan menjadi kelompok paling rentan. Pada saat perang, konflik sampai saat ini pun perempuan lebih sering menjadi korban. Ketika angka menyebutkan sekian banyak perempuan meninggal, sekian banyak mengalami perkosaan dan penindasan, ada bagian-bagian yang tak bisa diungkapan sekadar dalam lembar laporan penelitian. Melalui puisi, Mbak Zu menambal ruang kosong ini untuk merekam suara-suara yang tak bisa didengar.  

Banyak aktivis maupun LSM yang ingin membebaskan Aceh dari penindasan. Tapi apa yang akan dilakukan setelah damai? Hal inilah yang jarang dipikirkan. Mbak Zu mengajak untuk pulang dengan maknanya yang lain. Puisinya mengingatkan pada spiritualitas Aceh bahwa ada negeri lain yang akan menjadi tempat pulang setelah kehidupan ini. Pulang pada kematian dan kehidupan setelahnya.

Pembicara selanjutnya ingin melihat puisi-puisi Mbak Zu dari perspektif jurnalistik. Sebagaimana berita atau segala bentuk karya jurnalistik, hakikat puisi juga menjadi penyampai informasi kepada publik. Dalam tataran fungsi inilah puisi tak jauh beda dari beberapa karya jurnalistik. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan oleh berita. Ketika seseorang tidak bisa mempersoalkan syariat Islam ketika Qanun diberlakukan lewat berita, maka puisi bisa melakukannya. Itulah kenapa ada ungkapan ketika jurnalisme dibungkan, sastra bicara. Beberapa puisi Mbak Zu juga mirip dengan feature. Puisi-puisi itu bisa memotret dengan jelas derita seorang perempuan yang ditinggal mati suami, perempuan-perempuan yang mengalami ketidakadilan, dan sebagainya.

Seperti sebuah foto, karya puisi Mbak Zu mampu memotret dengan jelas. Kita diingatkan dengan pemenang Honorable Mention World Press Photo tahun 2003 kategori Spot News karya Tarmizi Harva. Foto ini menggambrakan seorang laki-laki yang tangannya terikat pada sebatang pohon pinang. Laki-laki itu hanya mengenakan celana dalam berwarna abu-abu pucat. Dari lehernya yang terikat kain putih usang itu, darah kering mengalir ke punggung dan menjadikan rumput hijau di bawah kakinya menjadi kemerahan. Seorang perempuan seperti terlihat mengusap pipinya sembari membawakan sepasang pakaian. Seorang perempuan lagi berdiri dengan wajah sedih sambil menggendong anaknya. Tak ada laki-laki lain di foto itu. Tak ada juga yang berani melepaskan lelaki yang terikat dan hampir mati itu.

Bagi Mbak Zu sendiri, kumpulan puisi ini menjadi kewajiban moral yang didedikasikan bagi para korban perang. Puisi ini membuka ingatan bahwa jalan keadilan bagi perempuan korban perang harus diperjuangkan. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam adalah jalan untuk membangun peradaban. Syariat Islam seharusnya tidak mengejar-ngejar tubuh perempuan untuk ditertibkan tapi bagaimana memenuhi hak mereka sebagai perempuan.  Puisi ini adalah seruan perdamaian, melawan lupa, dan tak bermaksud mengungkit-ungkit sakit atau terpukau pada sejarah kelam. Puisi-puisi ini adalah suara-suara menuntut keadilan yang ingin dikabarkan kepada para penguasa atau siapapun mereka.

Mbak Zu lalu bercerita tentang Putri. Gadis remaja asal Aceh ini bunuh diri karena malu setelah ditangkap polisi syariat Islam atau Waliyatul Hisbah dan dituduh sebagai pelacur. Hanya karena menonton organ tunggal dengan temannya, tuduhan dan hukum yang akan dibebankan kepadanya menghantui Putri sampai ia nekad mengakhiri hidupnya. Mbak Zu hampir tak bisa menahan air mata ketika menuturkan cerita ini. Jeda.

Perjuangan melalui puisi adalah perjuangan untuk mengingat. Hamdi sendiri sambil bercanda di akhir acara, memperkenalkan sebuah aliran kritik sastra baru yang diberinya nama kritik sastra gaib. Sebuah karya sastra tidak hanya dikupas secara semantik bagian-bagian yang terlihat di dalamnya. Tapi, bagaimana sastra di baca sebelum dan sesudah karya itu dituliskan. Kritik sastra gaib menjadi cara untuk melihat sesuatu yang tak kelihatan di balik sebuah karya, termasuk ingatan. sudah terlalu banyak kritik sastra yang mengupas awalan me- dan akhiran –kan dalam sebuah novel yang bisa dibahas sampai empat puluh halaman. Bagaimana sebuah puisi mampu menyentuh jiwa seorang, menebar pengaruh dan pada akhirnya mampu menggali sebuah kesadaran tak banyak menjadi pilihan bagi kritikus sastra kita. Dan Puisi Mbak Zu adalah puisi yang merekan jejak-jejak ingatan untuk kemudian melawan.

Saya meninggalkan tempat duduk yang berundak-undak itu. Di parkiran, seorang satpam sedang membaca Al Quran dengan bersila, melipat kakinya di atas kursi. Puisi Mbak Zu seperti menebar energi sekaligus teror bagi proses kreatif saya sendiri. Tentu tak bisa dibandingkan karena setiap penyair punya jalannya masing-masing. Saya benar-benar tak akan berani menerbitkan naskah dalam folder yang sudah tersusun rapi. Seberapa banyak penyair menuliskan tentang hujan, sampai hujan telah habis dituliskan, sampai kerontang. Saya tahu diri untuk tidak menambah sakit negeri ini dengan puisi yang mungkin memang belum layak baca. Proses ini akan terus berlanjut. Tetap saya akan hadir dalam diskusi puisi selanjutnya, memotret, mengamati dan mencatat di pojokan.

Kamar Kost, 16 September 2012, 01:12 WIB


Sabtu, 01 September 2012

Menghidupkan Kembali ‘Rangin’ dalam Teater


“Para pembaca Tempo: Hallo???? Hallo???.... Bangun belum???”* Entah kenapa tiba-tiba saya mengingat kembali kalimat ini. Sebuah kalimat penutup dalam salah satu esai Ben Anderson di atas seperti sindiran yang menghujam. Meskipun Ben bicara tentang hal yang berbeda dan silakan dibaca sendiri, setidaknya sengatan tulisannya membuahkan pertanyaan berat. Seberapa jauh kita mengenal Indonesia ketika manusia-manusia seperti saya ini otomatis telah menjadi Indonesia. Berapa orang dari kita mengenal pahlawan-pahlawan negeri, selain yang wajahnya dikurung dalam pigura dan dipajang di dinding-dinding kelas kita.

Barangkali ada ribuan kisah epik yang muncul di negeri ini. Kisah-kisah para pemimpin pemberontakan rakyat seperti Dipati Ukur di Priangan, Kyai Hasan Maulani di Kuningan atau Kyai Wasid dan Jaro Kajuruan, juga K.H Achmad Chatib di Banten. Dan Cirebon memiliki Ki Bagus Rangin yang memimpin pertempuran melawan Hindia Belanda pada Februari 1806.

Di sebuah hutan yang sunyi, Rangin dan Ciliwidara sedang menyusun strategi.
Di hutan yang sunyi, Rangin dan Ciliwidara menyusun strategi. 
Kisah Ki Bagus Rangin menggambarkan pemberontakan akibat kelaparan dan kemiskinan yang diderita oleh rakyat Cirebon. Cerita yang kental dengan aroma sejarah dan semangat berjuang dari rakyat tersebut diangkat menjadi sebuah pementasan teater berjudul Rangin. Teater Kerikil dengan sutradara pertunjukan Kedung Darma Romansha berhasil menyuguhkan sesuatu yang segar untuk dinikmati di hari keempat Festival Teater Jogja.  

Pertunjukan ini dibuka dengan lantunan tembang yang menarasikan cerita. Efek tembang selalu menimbukan kesan mistis dan ketika hal ini dimunculkan di awal, maka pentas malam ini berhasil menyergap saya untuk tidak mengalihkan mata dari panggung. Konsep latar panggungnya sangat sederhana. Teater ini berani bertaruh pada efek cahaya dan kemampuan para aktor untuk mengelola ruang panggung yang kosong.

Rangin menjadi menarik setelah saya tahu bahwa aktor yang bermain merupakan aktor multiperan. Seorang pemain didaulat untuk memainkan lebih dari satu tokoh, bahkan dengan karakter yang berlawanan. Hal ini sekaligus memancing penonton untuk benar-benar memperhatikan siapa sedang berperan sebagai siapa, untuk tidak membilang bahwa konsep ini juga sedikit membuat bingung. Pertaruhan teater model ini terletak pada kemampuan pemain dalam memerankan tokoh-tokoh yang berbeda. Sebagai teater yang juga mengandalkan keaktoran, Rangin sepertinya belum mampu memikat hati saya.  

Permaian bayangan dalam Rangin
Pertaruhan terhadap efek pencahayaan bukan tanpa resiko. Beberapa kali lampu sering terasa telat padam sehingga ketika satu pemain yang sama kemudian beralih menjadi tokoh yang berbeda, bahkan menjadi narator, perpindahan ini terasa masih kurang halus. Kejanggalan lain juga sangat menggangu ketika pemain yang sudah diceritakan mati, bangkit meninggalkan panggung di depan mata penonton. Mungkin akan lebih nyaman kalau saat itu layar panggung ditutup sejenak atau lampu dipadamkan.

Melihat pertunjukan ini rasanya seperti memutar kembali pengalaman menonton sandiwara tradisional, macam kethoprak kalau di Jawa. Cirebon barangkali punya tradisi maupun bentuk sandiwara tradisionalnya yang khas, yang tentu saja kerap mengusung kisah-kisah dalam babad dan cerita rakyat lain. Cerita epik Ki Bagus Rangin ini juga muncul dalam lakon wayang Babad Bantarjati.

Keunikan Cirebon sebagai daerah yang bukan Jawa dan bukan Sunda menjadikan keseniannya mampu melukis pada kanvasnya sendiri. Pertunjukan ini mencoba untuk menampakkan warna lokal Cirebon dengan paduan tari topeng Indramayu. Saya mengenali gerakan tarian yang dibawakan ketika sosok pahlawan perempuan dalam tokoh Ciliwidara sedang bertempur dengan salah satu petinggi pribumi yang justru bekerjasama dengan Belanda untuk mengalahkan Ki Bagus Rangin.

Adegan pertempuran dikemas menarik dengan koreografi pencak silat yang dihadirkan. Permainan bayangan digunakan untuk menampilkan gerakan-gerakan silat di balik layar putih yang menutupi latar panggung bagian belakang. Saya sendiri tertarik pada adegan ketika Ki Bagus Rangin berorasi untuk membangkitkan semangat pemberontakan dihadapan rakyat banyak yang ditampilkan dengan permainan bayangan di belakang layar. Satu lagi adegan yang saya suka, ketika Ciliwidara bercakap dan bertarung melawan salah satu pejabat pribumi yang digambarkan dengan sedikit absurd.

Ki Bagus Rangin pada kenyataannya telah kalah dan menerima hukuman penggal dari Belanda. Namun, Rangin tidak mati dalam pertunjukkan ini. Ketika bagian atas panggung menurunkan semacam jaring sebagai gambaran penangkapan Rangin, ia berhasil lolos dan tiba-tiba menghilang. Sebuah tipuan yang diketahui semua orang digunakan dalam adegan ini. Rangin melepas ikat pinggang dan iket dikepalanya. Sekelompok prajurit datang dan ketika jaring tersebut dibuka, tokoh Rangin membaur dengan prajurit dan dikabarkan hilang. Pertunjukan ditutup dengan munculnya seorang laki-laki yang membawakan sebuah tari. Sebuah akhir yang kurang menggigit. Ketika tari usai, penonton seakan tak percaya bahwa pertunjukan juga telah usai.

Rangin ternyata tak pernah mati. Cerita dalam teater ini dari awal sampai akhir tak pernah sekalipun membunuh tokoh-tokohnya. Narasi cerita juga tak membunuh Rangin dan membiarkannya menghilang dengan kesaktiannya. Barangkali Rangin masih hidup dalam tubuh halusnya. Ia diam-diam menonton pertunjukkan. Rangin memenuhi ruang sambil melihat wajah-wajah penonton yang melihat dirinya diperankan oleh seorang aktor. Rangin tampak geleng-geleng kepala, “Jadi, tak banyak dari kalian yang mengenal saya, ya?.”

Akhir kata, saya tak akan berkoar-koar di sini soal semangat pemberontakan yang dikobarkan tokoh-tokoh rakyat zaman dulu. Setidaknya melalui teater ini saya merasa diberi tahu dan diingatkan bahwa pengetahuan tentang masa lalu menyimpan begitu banyak hal yang seakan bergerak mendekat tetapi jauh. Tokoh-tokoh seperti Rangin adalah mereka yang tertidur dan meminta untuk dihidupkan kembali, setidaknya bisa menyegarkan ingatan yang semakin busuk oleh tumpukan berita koran dan siaran-siaran televisi. Saya seperti sengaja melupa atau dipaksa lupa, bahkan tak ingin menoleh sejenak atau dipaksa untuk tak menoleh. Mungkin juga karena kita, eh, bukan... setidaknya saya sudah otomatis Indonesia dan sedang nyenyak tertidur di reruntuh ruang kelas.

*Kalimat ini ada dalam esai Ben Anderson berjudul Indonesia Statistik: Surat Buat Para Pembaca. Bagi yang mau tahu banyak soal Ben Anderson dan karyanya bisa menghubungi teman sebelah.

Kamar Kost, 31 Agustus, 23:35 WIB