Jumat, 23 Agustus 2013

Tulisan Tidak Jelas tentang Sesuatu yang Tidak Jelas

Sekian hari membusuk di Ngawi, saya merasa punya hutang untuk menulis. Suatu hari Momosuke* menelepon saya dan mengungkapkan kegelisahaannya tentang ekspresi budaya kelas pekerja di Indonesia pasca Orba. Adakah? Sekian banyak pertanyaan ia lontarkan dan saya pun gagap menjawabnya. Sebenarnya saya tak hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bagi saya, terlalu banyak hal yang harus diurai. Produk budaya dengan kriteria seperti apakah yang bisa mengekpresikan kelas pekerja?

Pasca Orba, sepertinya kita kesulitan mencari sosok seperti Pram dalam sastra atau semacam Iwan Fals dalam musik. Kesulitan untuk menemukan memang bukan berarti tidak ada. Bisa saja karena kita yang tidak banyak tahu. Mungkin saat ini kita hanya bisa menemukan beberapa karya bernuansa kelas ketika sosok besar sudah sangat sulit bisa disebut merepresentasikan kelas pekerja yang tentu juga dilihat lewat karyanya. Sebut saja beberapa band indie yang sudah disebutkan Momosuke dalam tulisannya** itu. Melancholic Bitch misalnya, apakah Joni dan Susi itu kelas pekerja? Seandainya bisa dijawab ‘iya’, tentu banyak pertanyaan lain yang mengikuti. Pesan seperti apakah yang disampaikan lagu-lagu semacam itu?

Ketika bicara tawaran band-band indie lewat lagu dan musik mereka, mungkin bisa dikaitkan dengan musik alternatif untuk memenuhi kebutuhan kuping-kuping yang merasa sakit mendengar Wali atau Armada di televisi. Musik alternatif dengan demikian juga tidak bisa serta merta disebut ekspresi budaya kelas pekerja. Persoalan lain muncul dalam perbincangan kami. Kalaupun ada produk-produk budaya kelas yang muncul, seringkali berjarak dengan kuping yang bisa dijangkaunya. Efek Rumah Kaca itu didengar siapa? Jangan-jangan sebagian besar hanya anak kuliahan yang merasa tidak keren kalau tidak mendengar band indie, atau sekelompok hipster yang sudah bangga ketika bisa menikmati produk diluar mainstream budaya tetapi tidak sadar bahwa mereka juga sudah menjadi mainstream pada satu titik. Semakin banyak ditemukan ambiguitas di sini. Mungkin masih perlu juga diklarifikasi kembali mana lagu perlawanan (melawan apa atau siapa), mana yang mengandung anasir kelas, hal hal tersebut bisa diidentifikasi lewat apanya, dan sebagainya. 

Dalam percakapan kami, muncul lagu Pak Bos yang dicover oleh Qupit Nosstress. Liriknya kira-kira berisi keluhan seorang pekerja yang minta bosnya untuk menaikkan gaji. Sambatan soal dia yang sering ngutang di warung, kas bon di kantor, memang terasa sangat khas kelas pekerja. Apakah lagu semacam itukah yang kemudian disebut sebagai ekspresi kelas pekerja? Lagu itu berbahasa Bali dengan gaya lirik tanpa basa basi. Soal bahasa ini pula yang memancing kegelisahan lain. Kebusukan saya di kota kecil macam Ngawi membuat saya ingin mencari—meski hanya asal tulis dan serampangan—siapa tahu bisa ketemu produk budaya yang mengekspresikan kelas pekerja seperti yang dipertanyakan Si Momosuke.

Ketemu Apa di Ngawi?
Kota saya sangat sepi. Penduduk kampung saya sudah mulai menutup pintu sejak jam delapan malam. Sebagian besar dari mereka adalah petani, beberapa punya tanah dan sebagian besar lain hanya buruh. Orang kaya di kota lebih banyak di dominasi oleh pejabat, pegawai negeri, mungkin beberapa pedagang. Di kampung saya itu, sebagian petani yang bisa membangun rumah adalah mereka yang punya anak jadi TKI. Tulisan ini benar-benar cuma ngawur, banyak sekali asumsi yang mungkin tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Tapi saya benar-benar ingin menemukan sesuatu dari kampung halaman yang sunyi.

Mengumpat dan Mengkritik Lewat Musik
Kalau lagu Pak Bos berisi keluhan, maka lagu yang saya temukan mungkin bernada sama namun ditambah pisuhan atau umpatan yang tak banyak bisa kita jumpai dalam lagu-lagu berbahasa Jawa. “Hush, gak pareng misuh. Dosa!,” kata Si Mbok. Mengumpat itu dianggap dosa. Pisuhan adalah kata-kata terlarang demikian juga misuh yang merupakan tindakan tidak terpuji dalam interaksi dengan konteks budaya Jawa. Pisuhan orang Ngawi yang mataram sudah tentu akan berbeda dengan ekspresi pisuhan orang-orang daerah tapal kuda, meskipun sama-sama terletak Jawa Timur. Dan misuh pun ternyata tidak gampang karena di dalamnya terdapat intonasi tertentu yang membuat sebuah kata bisa menjadi semacam pelepasan ketika diucapkan.

Zaman Orba, orang akan dicap tidak sopan, tidak santun karena misuh. Maka tidak berlebihan kalau saya sedikit girang menemukan lagu semacam ini bisa muncul di Ngawi. Saya pertama kali mendengarnya dari siaran radio lokal yang diputar Si Mbok sambil menyetrika baju di kamar depan. Ketika mendengarnya pun Si Mbok berkomentar, “lagu cap opo kuwi. Kok isine misuh.”

Lagu berjudul Kudu Misuh itu dilantunkan oleh Dhalang Poer. Orang ini mulai dikenal ketika mencipta dan menyanyikan Langit Mendhung Kutho Ngawi. Berbeda dengan lagu-lagu campursari yang biasanya bicara tentang asmara, Dhalang Poer mengungkapkan penderitaan nasib wong cilik yang dikutuk selalu menemui jalan buntu dalam hidupnya. Lagu itu mengumpati nasib, diri sendiri, mengumpat keadaan, aparat. Gaya liriknya bercerita, mengisahkan seseorang dengan hidupnya.

Coba to gagasen lelakonku iki
Ora ono senenge susah sing tak temoni
Ngolah ngalih gaweyan kabeh ra nate ngunduh
Dino dino isine mung kudu misuh….embuh

Cobo nggarap sawah tinggalane wong tuwaku
Gumunku saben tandur rego rabukke dhuwur
Bareng tibo panen rego gabahe medhun
Kabeh modal utangan ora biso kesahur…ajur

Sawah tak dol murah aku nyicil angkudes
Lagi nyopir seminggu rego bensine ngenthes
Tarip tak undakke penumpang nggrundel ae
Kerep telat oli, rusak ring sak metale…oh kere

Montor ngangkrak neng bengkel ra biso ogel ogel
Rasane uripku mung kari thengel thengel
Nyepi nang kuburan golek tembusan togel
Nomer ngeblong terus aku tambah dhedhel dhuwel…oh gathel

Kabeh dalan wis buntu aku nekat mbandhar dhadhu
Durung ono sing udhu keamanan wis njaluk sangu
Ana oknum tentara ana oknum polisi
Bukaan wingi wingi wis kerep tak amplopi
Bareng prei ra nyangoni aku diseret nyang bui
Diganjar telung sasi….
Misuh sak jrone ati…..jancuk

Kira-kira lagu itu bercerita tentang orang yang tak pernah sukses dengan pekerjaannya. Jadi petani, rugi karena harga pupuk tinggi dan harga gabah rendah saat panen. Sawahnya dijual demi membeli mobil angkutan desa namun kembali merugi karena harga bensin naik, tak ada biaya untuk perbaikan dan akhirnya rusak. Ketika semua jalan telah buntu, si aku mencoba keberuntungannya lewat togel, tak pernah tembus juga. Menjadi bandar dadu pun dilakoni dan akhirnya diseret aparat ke bui karena tak bisa kasih setoran.

Ternyata Dhalang Poer cukup produktif mencipta lagu. Ketika mencari lagu Kudu Misuh lewat youtube, muncul pula lagu-lagu lain bernada sama. Satu lagu lagi berjudul Karnawi, menceritakan kisah bocah pengamen dan penjual koran. Ibunya buruh, bapaknya tukang becak. Sudah enam bulan tak bayar SPP, Karnawi sering dihukum gurunya di depan kelas. Lagu lain berjudul Buron bercerita tentang anak desa yang harus pergi ke kota karena tak ada pekerjaan dan biaya sekolah. Di kota, ia pun jadi pengangguran, ikut teman dan akhirnya menjadi gali. Akhir kisahnya tragis. “Ning terminal maca Koran karo turon/ Aku kaget potretku disilang buron/ Diuber buser aku ndelik ning nglangon/ Bubar kelon, kecekel mergo keturon//.

Tiga lagu tersebut menceritakan kisah orang-orang bernasib malang. Lagu-lagu Dhalang Poer ditulis menggunakan bahasa Jawa ngoko, tingkatan bahasa yang paling rendah dalam struktur bahasa Jawa. Zaman dulu pernah ada sebuah gerakan untuk menghapuskan krama inggil atas nama kesetaraan sebelum bahasa Indonesia digunakan secara meluas di Jawa. Ngoko mengandung muatan yang sesuai bagi ekpresi-ekpresi wong cilik. Dalam lagu-lagu dia atas, bahasa yang dipakai sangat mudah dimengerti bahkan oleh orang seperti saya yang tak pandai berbahasa Jawa.

Lagu-lagu lain banyak berisi kritik seperti cerita tentang aparat yang sengaja membakar pasar dan kritik-kritik terhadap para anggota dewan yang terhormat. Dalam lagu Sidangmu dudu Sidangku, Dhalang Poer menyebut wakil rakyat dengan sapaan kowe dalam bahasa ngoko, bukan panjenengan dalam krama meski sama-sama berarti kamu. 

Opo lali jaman pemilu
Kowe janji arep mikir aku
Nanging  bareng wis oleh bangku, rakyat njerit kowe ora krungu
He, opo bisu…lho malah turu….lho malah nesu…huszz saru

(Sing perlu dipikir, lengo pye amrih mudun, listrik pye amprih murah, pendidikan murah…ora kok gaji diundakke, rapat dewe di dog dewe…eh…konkonane sopo?...angel, angel…)

Musik campursari terdiri dari irama-irama sederhana yang gampang masuk telinga siapa saja. Nada memungkinan intonasi pisuhan menjadi lunak, bisa dibilang masih halus, berbeda ketika saya mendengar Momosuke yang lama di Surabaya itu misuh. Wow, mahir dan mantap sekali kedengarannya. Penggunakan ngoko dalam lagu Dhalang Poer terasa sangat berbeda ketika saya menemukan karya sastra berbahasa Jawa dari seorang penulis kelahiran Ngawi? Budaya kelas seperti apa yang tampak?

Ekspresi Wong Cilik dalam Sastra
Ngawi punya orang besar seperti Umar Kayam. Phd dari Cornell jeh. Siapa yang tak kenal novel Para Priyayi dan Jalan Menikung. Buku-buku itu saya baca ketika masih SMA dimana pada waktu itu saya belum begitu mengenal terminologi kelas meski sekarang juga hanya sekadar tahu. Saya pun hanya bisa menikmati membaca novel itu tanpa mengapresiasinya lebih jauh. Tidak banyak yang bisa saya ingat dari jalan cerita novel Pak Kayam. Saya justru mengingat wajahnya karena peran beliau sebagai Soekarno dalam film G30 S/PKI yang hampir setiap tahun saya tonton sejak SD. Bapak saya yang memberi tahu kalau bintang film itu berasal dari Ngawi.

Pak Kayam mungkin hanya menghabiskan sedikit waktu di kota kelahirannya. Namun dari Para Priyayi orang bisa mengira bahwa Wanagalih yang digambarkan terletak di tempat dimana Bengawan Solo dan Kali Madiun bertemu kemungkinan adalah Ngawi. Bagi saya yang mulai mengingat-ingat lagi, novel Pak Kayam lebih terasa seperti kritik priyayi untuk priyayi dan terkesan sangat ‘jawa sekali’. Saya ingat tokoh anak penjual tempe yang kemudian diangkat anak oleh juragannya. Bisa saja hal itu dibaca sebagai perjuangan kelas, barangkali. Si anak pungut miskin akhirnya sukses dan bisa hidup di luar negeri. Pak Kayam tidak banyak menyajikan konflik melainkan kontradiksi akibat perbedaan status sosial. Wong cilik dalam novel ini bisa berkelakukan labih priyayi daripada priyayi yang sebenarnya. Kepriyayian tidak hanya bisa didapat lewat keturunan melainkan dari akumulasi pengalaman dan perjuangan si tokoh tersebut.

Lalu, apa yang kita temukan di Ngawi paska Orde Baru? Dekade 2000-an—kalau dilihat dari terbitan karyanya—Ngawi akan menautkan saya pada nama Herlinatiens sebagai penulis yang lahir di kota itu. Saya tak begitu mengakrabi karya perempuan yang menulis Garis Tepi Seorang Lesbian yang katanya best seller. Demikian juga dengan karya-karyanya yang lain. Sepertinya ia  besar di Yogyakarta dan tentu saja ia tak menulis tentang Ngawi. Tahun 2005, terbit bukunya berjudul Malam untuk Soe Hok Gie, berkisah tentang seorang perempuan fiksi yang sangat digandrungi Gie, Soekarno, bahkan juga menarik hati Letkol Untung. Saya tak bisa banyak berkomentar soal pembauran antara fakta dan fiksi dalam novel ini. Ia juga menulis novel berjudul Koella, Bersamamu dan Terluka di tahun 2006. Novel itu bercerita tentang seorang gadis yang di PKI-kan karena ayahnya dituduh PKI juga. Penderitaan batin si tokoh utama muncul karena cintanya pada seorang taruna. Untuk penulis maupun karyanya, kali ini saya sangat ragu menyebutnya sebagai ekspresi dan produk budaya kelas pekerja.

Orang-orang Ngawi mungkin lebih cenderung romantis daripada progresif. Watak kota dan sosiologis masyarakatnya tidak bisa mendukung banyak untuk perubahan di kota kecil itu. Sejak saya lahir sampai sudah seperempat abad usia, demonstrasi yang terjadi di Ngawi bisa dihitung dengan jari. Orang-orangnya seakan adem ayem tata titi tentrem kertaraharja gemah ripah loh jinawi meski nasib mereka tetap begitu-begitu saja.

Kemudian saya menemukan kumpulan cerpen Daniel Tito di rak buku rumah yang berantakan, masih tersampul plastik. Mungkin Bapak yang membelinya. Kumpulan cerpen itu berbahasa Jawa dan pernah dimuat dalam majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Dua majalah itu menjadi bacaannya para priyayi Ngawi. Entah kenapa kalau bersinggungan dengan Bahasa Jawa, saya lebih nyaman menggunakan istilah wong cilik daripada kelas pekerja.

Beberapa cerpen Daniel Tito yang bercerita tentang kehidupan wong cilik dinarasikan secara realis. Dalam cerpen BMW 318i sosok priyayi digambarkan sebagai juragan dan wong cilik bekerja menjadi sopirnya. Si Sopir mau pulang kampung dan juragan yang baik hati meminjaminya mobil paling mewah yang ia punyai. Bukan merasa senang, si sopir merasa sangat kuatir terhadap barang pinjaman itu. Sampai kampungnya yang terleak di tengah hutan jati, dengan jalan yang hanya bisa dilalui satu arah kendaraan beroda empat, ia malah tak bisa tidur, memagari mobil pinjaman juragan agar tak diganggu anak-anak kecil, sampai menungguinya di malam hari. Alam pikiran si sopir menjelaskan sesuatu. Bahwa wong cilik selamanya harus tunduk, menerima perintah, dan menjaga kepercayaan si juragan yang baik hati.

Dalam Bahasa Jawa, dengan segala tingkatan dan anak pinaknya, saya yang membaca cerita itu akan lebih mudah mengenali ungkapan-ungkapan yang digunakan wong cilik terhadap ndaranya. Mungkin sekarang memang jarang bisa dijumpai, tapi relasi-relasi macam itu saya yakin masih ada. Wong cilik menggunakan krama inggil, si ndara bicara dengan ngoko. Sastra Jawa masih ada dan tingakatan bahasa di dalamnya menjadi semacam hantu bergentayangan tetapi terlihat nyata sampai sekarang.

Cerita pendek yang memakai bahasa Jawa memberi kesan adanya jarak dengan penggunaan bahasa Jawa sehari-hari. Ketika membacanya, saya sendiri merasa pusing karena asing dengan kosa kata yang dipakai meski maknanya bisa diraba. Sama halnya dengan lagu dan cerita pendek, saya pernah menyaksikan pertunjukan teater di kota kecil ini, naskahnya juga ditulis menggunakan bahasa Jawa ngoko.

Petani di Atas Panggung
Satu-satunya kelompok teater yang saya tahu dan masih hidup di Ngawi adalah teater Magnit. Memang baru dua kali saya menonton pertunjukan mereka. Sungguh! Saya sangat menghargai usaha mereka menampilkan cerita. Dalam pertunjukan Geger Wong Ngoyak Wewe, digambarkan sebuah keluarga petani yang kehilangan anaknya. Latar pangung dibuat realis dengan tokoh-tokoh yang juga realis. Pemainnya anak-anak SMA yang tentu baru belajar teater sehingga bisa dimaklumi apabila sisi keaktoran masih sangat kurang.

Pertunjukan kedua yang saya saksikan berkisah tentang mitos terjadinya Sendhang Tawun di kota Ngawi. Daerah yang kekeringan dan usaha para petani untuk mencari sumber air baru menggambarkan betapa susahnya kehidupan mereka. Saya menandai ekspresi yang selalu muncul dalam dua naskah yang ditulis oleh teater Magnit sendiri. Mereka selalu menggunakan adegan kolosal dengan banyak pemain di atas panggung. Adegan tertentu diiringi dengan suara sorak yang diteriakkan bersama-sama dan berulang-ulang. Kebersamaan warga kampung untuk mencari warganya yang hilang, atau kerja petani yang diiringi sebuah lagu sederhana dan diteriakkan bersama.

Kebetulan ungkapan seperti itu saya temukan juga dalam salah satu film Akira Kurosawa berjudul Seven Samurai. Adegan menanam pagi dilakukan oleh para perempuan dengan koreografi mengikuti irama musik dan dendang para lelaki. Para perempuan itu berdiri berjajar, membungkuk dan mundur kebelakang secara bersamaan sambil membenamkan tunas-tunas padi dalam tanah berair.

Dari sekian banyak temuan di atas, wong cilik mengekspresikan hidupnya dengan berbagai cara dan media. Lewat musik, sastra, teater, berisi keluhan, umpatan, relasinya dengan priyayi, bahkan ekspresi-ekpresi subtil para petani berupa sorak sorai dengan semangat kolektifitas mereka. Kali ini saya hanya mencatat temuan-temuan kecil yang kemudian dikomentari sekenanya. Bisa saja kalau ini dikembangkan menjadi tulisan serius dengan perspektif yang jelas. Tapi dasar saya penulis pemalas, jadi ya begini saja. Saya sendiri ragu apakah yang saya tuliskan ini sesuai dengan yang dibayangkan Momosuke. Apakah ekspresi-ekspresi budaya kelas tersebut akan berhenti hanya ketika karya telah sampai ke publik? Selanjutnya apa? Mari kita tanya Momosuke.


* Momosuke (bukan nama sebenarnya) adalah seorang teman kuliah seangkatan yang suka baca komik, suka juga dengan segala hal berbau abang-abangan. 
**Saya sempat mamaksa Momosuke untuk menuliskan isi kepalanya lalu dia mengirimkan dua halaman yang—mohon maaf karena tak bisa saya sertakan di sini.


Kamar Kost, 22 Agustus 2013