Jumat, 24 Februari 2017

Wiji Thukul dan Saya

Di kota kecil tempat saya membusuk sekarang ini, konon ada harapan dibangunnya sebuah bioskop. Entah jadi atau tidak, proposalnya baru masuk dan masih nego harga. Kalau memang benar ada bioskop di kota ini, belum tentu juga saya diijinkan untuk menikmati sajian film layar lebar. Kesenangan-kesenangan yang semakin berkurang memang sudah menjadi konsekuensi dari pilihan jalan hidup yang sekarang sedang saya jalani.

Biarlah orang ribut-ribut soal film Istirahatlah Kata-Kata. Di sini saya hanya bisa menikmati tulisan dan komentar-komentar atasnya, berikut meme-meme terkait yang bertebaran di media sosial, mulai dari sekian banyak plesetan judulnya sampai bertaburannya puisi-puisi Wiji Thukul yang kadang bisa menyejukkan tapi kadang pula begitu kering, begitu saja dipakai, dan begitu saja dilepaskan dari konteksnya.

Istirahatlah Kata-Kata mengundang beragam komentar. Dari yang memuji hingga yang nyinyir. Ada yang membandingkannya dengan Motorcycle Diaries, ada pula yang menuliskannya dengan begitu politis. Sosok Wiji Thukul pun memang sudah sedemikian politis. Banyak yang menilai pendekatan film yang lebih menonjolkan sisi keseharian sang penyair bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Tentu saya tidak akan membahas detail film itu karena saya belum menontonya. Apa yang akan saya ungkapkan adalah sesuatu yang dekat-dekat saja dengan pribadi saya.

Film biografis memang telah banyak bermunculan. Mulai dari Tjut Nya’ Dien, Sang Pencerah, Sang Kyai, Soegija, Soekarno, sampai Habibie dan Ainun, sampai Jokowi. Memfilmkan sosok besar memang beresiko, apalagi kalau meleset dari pengetahuan awal para penontonnya sebelum mereka melihat film. Mungkin banyak yang kecewa tapi bisa jadi juga bayak yang suka. Dan memang film bukan arena yang netral dimana berbagai pertarungan ide, kepentingan, hingga pesanan berkumpul jadi satu di dalamnya. Bagaimana dengan Wiji Thukul?

Saya mengenal sosok Wiji Thukul semenjak es em a. Jalan perkenalan saya pun bisa dibilang unik. Di es em a, saya dikenal sebagai penyair liris, bisanya bikin puisi yang indah-indah tentang langit, hujan, daun-daun jatuh, dan apalah itu. Bagi saya, puisi-puisi bagus saat itu adalah puisi-puisi yang dimuat di majalah Horison di mana saya mengenal Opa Taufik Ismail yang sudah dibikin memenya jadi Istirahatlah Kakek-Kakek itu. Ragam diksi dan pertalian kata yang saya gunakan saat itu sama sekali tidak repolusioner. Saya sudah menamatkan Tirani dan Benteng dan cukup menikmatinya. Saya hanya mengenal Chairil lewat Aku dan beberapa karya Leon Agusta yang saya bacakan saat lomba porseni tingkat es de.

Pertemuan dengan Wiji Thukul memang cukup mengejutkan. Pada waktu itu saya mendadak diminta mengikuti lomba baca puisi yang salah satu puisi pilihannya adalah Nyanyian Abang Becak. Sungguh girang saya menemukan sebuah puisi yang bisa begitu nandhes dan lugas. Dalam lomba itu, saya cuma jadi juara 2 karena saya tidak memenuhi kriteria membaca puisi yang baik dan benar. Kata jurinya, saya terlalu teatrikal dalam membawakannya. Ini lomba baca puisi, bukan pentas monolog, katanya. Mungkin saya perlu membacakannya sambil mengisap rokok, di depan stand mic, diiringi musik genjrang-genjreng yang berirama semakin cepat ketika semakin cepat pula kata-kata diucapkan sang penyair.

Saya tidak begitu fasih bicara politik meski sedikit-sedikit tahu soal kejamnya pemerintah Orde Baru dan sekompi kacang ijonya. Nyanyian Abang Becak adalah keseharian yang tampak di hadapan saya pada saat itu, terlepas dari pengetahuan tentang persoalan struktural yang memungkinkannya terjadi. Nalar remaja saya belum mampu menggapai bagaimana nasib bisa menjadi persoalan kekuasaan. Sampai sekarang, Nyanyian Abang Becak terus berevolusi dalam diri saya. Sedikit demi sedikit puisi itu tumbuh dan menubuh. Ah, tapi mungkin saya terlalu berlebihan. Puisi Wiji Thukul memang terus mengendap meskipun tidak mempengaruhi proses saya menulis puisi selanjutnya. Puisi-puisi saya tetap cuma onani sia-sia. Masih saja liris, tidak politis, manikebuis, hingga pada akhirnya saya jengah dan merasa cukup dengan puisi.


Nyanyian Abang Becak memang dekat dengan saya karena memang seperti itulah yang dirasakan orang-orang di kampung saya. Dari rasan-rasan mereka di bawah pohon matoa di halaman rumah, berbagai sambat terlontar dengan riangnya. Saya tidak pernah tahu bagaimana rasanya harga-harga bisa mempengaruhi sedikit banyaknya beras dan lauk yang terhidang di meja. Hidup seolah tak pernah merasa kekurangan meskipun saya cuma anak guru es de. Sampai pada akhirnya saat ini saya tahu bagaimana susahnya ngubetne duit yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Mungkin belum bisa dikatakan kekurangan tapi memang nyaris-nyaris. Begitulah soal pemenuhan kebutuhan yang tentu jadinya sangat personal.

Wiji Thukul digambarkan sebagai sosok yang terasing dimana saya juga tidak tahu keterasingan dari sudut mana yang coba dijelajahi. Menjadi asing. Saya secara sadar memang sedang mengasingkan diri. Hidup dalam sunyi. Tidak banyak berinteraksi dengan dunia luar. Suatu kondisi yang mungkin sama tapi begitu kontra produktif dari apa yang dilakukan Wiji Thukul. Dua keterasingan yang sama sekali berbeda.

Dan begitulah. Saya kembali tenggelam dan rebah dalam alunan soundtrack In the Mood for Love.



24 Februari

Sabtu, 21 Januari 2017

00:04

I take my broken heart and turn it into fart. Preeeeeetttttt... tidak kurang panjang, kan? Beberapa waktu lalu saya menonton Carrie, film karya Brian De Palma yang dibikin tahun 1976. Plotnya tidak terlalu ruwet, seorang gadis remaja dibully teman-temannya di sekolah saat mendapatkan menstruasi pertama selepas pelajaran olahraga. Perbuatan teman-teman Carrie ketika ramai-ramai melemparkan pembalut membuat mereka harus menjalani hukuman sebagai syarat mengikuti prom night menjelang kelulusan. Carrie memiliki kekuatan telekinesis, kemampuan menggerakkan benda-benda. Ibunya begitu mengekangnya dengan dalil-dalil agama ketat. Teman-temannya kemudian membuat rencana untuk mencelakainya saat prom night berlangsung dengan menumpahkan darah babi yang digantung tepat di atasnya. Kemarahan Carrie manjadi begitu mengerikan. Tragedi berlangsung dari awal hingga akhir. Begitu mengerikan hingga sebenarnya terkesan aneh. Bagaimana menjelaskan aneh, silakan tonton sendiri.

Apa menariknya filem ini hingga sempat dibuat ulang beberapa kali dengan sutradara berbeda dan tentu dengan penerjemahan mereka masing-masing. Naskah filem diadaptasi dari novel Stephen King yang terbit tahun 1974. Adegan-adegan Carrie punya De Palma terasa dramatis, diperankan tokoh dengan karakter-karakter kuat seperti Sissy Spacek sebagai Carrie dan Piper Laurie sebagai Margaret, ibunya. Mereka mampu membuat beberapa scene menjadi iconic dengan bantuan bunyi seperti yang terdepat dalam film Psycho. Bunyian nyaring bernada tinggi yang diulang-ulang untuk menambah efek menegangkan.

Saya tak hendak membandingkan dua buah karya, hanya mencatat saja beberapa hal yang cukup menjadi perhatian. Hampir empat puluh tahun kemudian, Kimberly Peirce membuat filem dengan judul sama, dengan plot yang hampir sama pula, namun dengan beberapa tambahan detail dan perubahan-perubahan. Bukan ingin membandingkan mana yang lebih baik tapi lebih melihat bagaimana sebuah novel diadaptasi menjadi filem kemudian direproduksi dalam rentang jaman yang berbeda.

Para kritikus film bisa melihatnya dari kacamata feminisme hingga maxisme, tapi saya tak hendak menjadi kritikus di sini. Saya hanya ingin membuang sesuatu yang memenuhi otak. Kayak judul album mum, yesterday was dramatic today is okay. Menulis ini semoga saja bisa menghilangkan efek drama dari masa lalu saya yang pahit itu. Kalian tahu, kan? Persoalan melihat adalah persoalan memilih jadi ya begitulah, saya akan tanggung akibat dari pilihan penglihatan saya yang ternyata berdampak buruk pada bubrahnya rasa selama lebih dari dua hari untuk kemudian bisa normal kembali.

Kadang memang kita tak bisa memilih apa yang kita lihat. Kita disuguhi begitu saja dan dengan tanpa sengaja kita melihatnya begitu saja. Seperti efek melihat poto seseorang berjaket merah dan bercelana coklat pendek di sebuah social media. Bukan salah siapa yang mengaplodnya, bukan salah aplikasinya dan memang bukan salah siapa-siapa. Melihatnya membukakan pintu pada sebuah momen tertentu ketika jaket itu berbau gpu. Bersamaan dengan itu pula segala macam hal lalu berhamburan keluar tanpa bisa dikontrol. Persoalan kontrol ini pula yang cukup menyebalkan.

Di seberang sungai dekat tempat saya tinggal konon katanya ada kuburan pki. Banyak hal menarik yang tentu tidak ilmiah tapi semacam bisa menjadi informasi penting untuk mengungkap masa lalu. Kenapa masih senang mengorek masa lalu yang penuh sakit? Tapi begitulah, kuburan itu menyimpan hawa panas dan punya energi tersendiri bagi yang bisa merasakan. Para hantu pki adalah mereka yang sampai sekarang masih menyimpan dendam. Tumuse daya katika memang ada manusia yang bisa mengambilnya, jadinya daya yang berangasan dan pemarah—untuk tidak terjebak pada stereotip tapi memang begitulah adanya. Cocok bagi yang pengen punya ilmu kebal bacok dan sebangsanya. Ceritanya, orang-orang itu dimasukkan dalam kranji, semacam tempat untuk mengurung ayam. Satu kranji diiisi tiga orang. Dan begitulah mereka dieksekusi. Tidak hanya dari tempat ini, orang-orang yang dieksekusi banyak pula yang berasal dari luar daerah, termasuk dari Jawa Tengah. Ada pula satu orang yang memang masih kerabat salah satu petinggi negara. Darimana saya mendapat cerita ini memang akan terdengar konyol kalau diceritakan, juga bisa membahayakan. Maka dari itu, lebih baik tidak perlu saya ceritakan. Toh ini bukan sebuah cerita ilmiah yang bisa dibuktikan kebenarannya. Bisa jadi saya cuma ngarang saja akibat masih kena efek jaket merah itu.

Kembali pada Carrie. Sebagai penikmat masa lalu, saya bisa menyimpan adegan-adegan Brian de Palma lebih lama dalam kepala daripada remake-nya. Warna darah yang terlalu merah di akhir filem memang bisa membuat lebih membara, menganga dan yah, itu barangkali gambaran neraka dalam konstruksi pikiran kita. Sementara remake-nya memakai warna darah yang lebih gelap, dan mengubah tokoh utama menjadi semacam pahlawan super yang nggak banget jadinya.

Rasanya susah menjadi manusia bahagia ketika masih punya lingering feeling terhadap seseorang. Meski sudah dibegitukan, tetap itu belum bisa hilang. Barangkali nanti, saya akan datang dengan menggemgam sebuah pistol dan menodongkannya tepat dikepalanya. Mungkin 15 atau 20 tahun kemudian. Orang itu akan kaget dan ketakutan. Lalu saya dengan tenang menurunkan pistol itu tanpa menambakkannya, memandang matanya sesaat lalu berpaling dan meninggalkannya begitu saja tanpa berkata-kata.

Tidak bisa dibilang juga kalau saya sekarang tidak bahagia. Beginilah saya sudah memilih,  mengambil jalan yang benar-benar berlainan dari kalian-kalian semua. Di sini begitu sepi. Tapi silakan diamati bagi mereka para pembaca alam. Ada yang merangkak diam-diam di bawah kalian. Alam sudah berubah. Ular-ular sudah mulai keluar. Alam bernubuat. Di sini angin berhembus pelan. Hampir hujan. Sebentar lagi. Barangkali. Jadi, mari kita menonton lagi Eternal Sunshine of The Spotless Mind.



21 Januari 2017  

Rabu, 04 Januari 2017

Persoalan-Persoalan Rumah Tangga Masjarakat di Pedesaan Jawa

Judul di atas tidak dimaksudkan untuk menggambarkan isi tulisan pendek ini. Sebuah cerita yang tersusun dari kisah-kisah acak orang-orang yang kebetulan entah dengan sengaja atau tidak saya dengar ceritanya dari orang kedua atau ketiga atau dari sumbernya secara langsung. Mereka menanggung hidup yang tidak sederhana. Desa bukan tempat yang hijau permai penuh damai. Kedamaian dapat dirasakan dari cara mereka menyikapi hidup, tetapi tidak dengan hidup itu sendiri.

Ketertarikan saya dengan manusia-manusia ladang membuyarkan lamunan. Mereka tidak sederhana. Mereka orang-orang yang bertanggung jawab untuk hidup dan terus hidup dengan segala daya upaya yang bisa dilakukan. Saat ini musim panen kacang. Para peladang sambat bahwa para pengebas itu tak punya perasaan. Mereka menentukan harga seenak udelnya. Sama sekali tak sebanding dengan harga benih dan biaya pemeliharaaan. Sebagian peladang menyerah. Menjual kacangnya dengan harga murah. Sebagian memutar otak dengan mencari penjual dan memanen kacang dengan tenaganya sendiri untuk mengirit biaya tenaga. Seluruh anggota keluarga dikerahkan untuk memanen hasil yang tak seberapa.

Perputaran uang di sini berjalan lambat. Sambil menunggu waktu, orang-orang ladang sibuk mencari pinjaman. Sehari belum tentu bisa makan kenyang. Beberapa orang memelihara sapi atau kambing. Sehari-hari mereka mencari pakan di ladang-ladang dan dipanggul hingga ke rumah. Semenderita-deritanya saya, tak sebanding dengan kerja dan keringat mereka. Hanya untuk terus bertahan hidup dan hidup dan keluarga dan biaya sekolah anak-anak mereka.

Pak J tak punya rumah lagi karena diusir istrinya. Hidupnya terpaksa menumpang kesana kemari. Mantan istrinya yang dulu sudah tak mau menerimanya lagi. Hingga pernah ia menumpang hidup sebagai penjaga kandang ayam. Tak terbayangkan bau busuk yang harus ditanggungnya setiap hari. Tak kuat bertahan, ia pun pergi dari kampung ini. Entah kemana sekarang.
Mbak W adalah janda dengan empat orang anak. Ia keluar dari pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga. Seminggu yang lalu anaknya yang pertama meninggal. Dan saat ini mbak W masih berduka namun terus berjualan makanan keliling. Kenapa tidak ada kisah yang bahagia? Tentu saja ada. Bahagia itu cuma soal cara pandang yang tak semua orang bisa melihatnya dari sisi yang sama.

Hidup di tengah ladang, di pinggir sungai, yang jika tak ada yang dimasak tinggal memetik daun-daun singkong ternyata juga tak buruk-buruk amat. Di sini saya tetap bisa membaca buku selama yang saya mau, menonton film-film yang tak lagi menarik. Ketertarikan yang dinikmati seorang diri menjadi sama sekali tak menarik. Itulah kenapa manusia sudah semestinya berbagi.

Di sini terlalu banyak kisah cinta. Dari remaja hingga soal perselingkuhan khas masa-masa puber kedua. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika cinta orang-orang ini bisa begitu dasyat, bahkan membunuh. Saya kira soal-soal begini hanya menimpa orang-orang dalam adegan sinetron, antara pak bos dan sekretarisnya, antar teman sekantor dan segala bentuk hubungan bias perkotaan yang begitu membanjir lewat cerita-cerita tak masuk akal di televisi. Di sini cinta begitu nyata dengan segala bentuk hubungan sebab akibatnya. Semua menjadi masuk nalar dan mudah sekali dicerna. Kadang begitu ruwet tapi juga bisa menjadi sangat sederhana. Kadang dengan sekian banyak alasan, kadang bisa sama sekali tanpa alasan.

Sudah, terlalu banyak cerita hingga cuma jadi menyentuh permukaan-permukaannya saja. Bahkan permukaan pun sebenarnya belum bisa dikatakan tersentuh. Pak H beserta istri dan tiga orang anaknya memang terbiasa hidup susah. Pekerjaannya sebagai tukang dekorasi acara pernikahan sama sekali tak menjanjikan. Ia bercerita kalau pernah mengalami seminggu hanya makan nasi dengan garam. Dan sampai sekarang mereka tetap hidup dan bahagia.


Sudah, kapan-kapan saja saya lanjutkan lagi kalau mau. Buat para pembaca semua, mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah menyita waktu kalian yang berharga untuk hal tak penting ini. Daaadaaa...


4 Januari 2017 

Minggu, 03 April 2016

Semacam Rindu yang Taek!

Malam ini aku menahan sekuat tenaga untuk tidak mengirimkanmu pesan atau semacamnya. Malam kemarin kau muncul begitu saja dalam mimpiku. Barangkali memang karena sebelumnya aku membacai status facebook seorang teman tentang mimpi akibat hal-hal yang direpresi. Ah, taek.

Dalam mimpi aku bertemu denganmu di sebuah koridor kampus. Aku tidak tahu tempat itu. Mungkin sebuah latar yang pernah kulihat dalam film. Tempatnya begitu tak asing dan akrab. Kau muncul dengan tas ransel hitam buluk, dengan flanel kotak-kotak hijau muda yang itu. Aku tak ingat pembicaraan kita. Yang pasti bukan soal ruwet dan omong seng lainnya. Sebuah perjumpaan yang biasa. Tanpa luapan rindu atau ungkapan-ungkapan membosankan lainnya.

Anehnya, aku berjumpa dengan ibumu yang mendekap buku-buku tebal. Ibumu berambut pendek, memakai rok span di bawah lutut dengan baju merah tua berhias bunga yang terkesan terlukis samar. Aku justru mengingat dengan jelas pembicaraanku dengan ibumu. Sambil berjalan menyusuri koridor, kami membicarakan sifatmu dan kondisi kesehatanmu. Fak!  

Kau baik-baik saja? kenapa aku hanya bisa menulis tentangmu? Entah apakah aku masih boleh menanyakan pertanyaan semacam itu. Rasanya begitu jauh, begitu konyol sekaligus menyedihkan. Sudah. Cuma ini. 


3 April 2015

Senin, 03 Agustus 2015

Sebuah Upaya Untuk...

Bodoh sekali. Seharian ini aku menunggumu. Kedatanganmu yang dramatis dan mengejutkan dua hari lalu membuatku terus berpikir bahwa kau bisa datang begitu saja dengan tiba-tiba, tanpa kabar dan berita sebelumnya, dengan peluh dan napas yang tinggal setengah-setengah. Mungkin tidak hanya pada senja kau bisa muncul dengan tiba-tiba di depan pintu rumahku. Bisa jadi kau akan muncul di tengah malam atau di pagi buta. Begitu singkatnya pertemuan itu hingga aku masih belum percaya kalau dua hari lalu kita benar-benar bertemu. Dan aku masih membuatkanmu kopi, menemanimu makan, lalu mengantarmu pulang ketika purnama ikut menyambut kesedihan kita yang sudah begitu usang.

Begitu melihatmu, image yang muncul dalam kepalaku sungguh mirip adegan film dimana aku ingin berlari memelukmu, mengusap peluhmu, menghujanimu dengan ciuman dan kata-kata rindu. Rasanya memang tidak ada penghalang bagiku untuk melakukannya tapi entah kenapa aku sangat menahan diri. Mungkin kau juga begitu. Sebegitunya aku berusaha menahan diri hingga pada akhirnya hanya bisa mrebes mili.

Kau mengabarkan kelulusanmu. Iya, aku tahu. Kau bahagia dengan itu? Mungkin iya, begitulah rasanya bahagia ketika seorang anak yang dibanggakan bisa membuat orang tuanya lega. Pembicaraan singkat itu sudah jelas menempatkan kita pada posisi dan tangung jawab yang harus ditanggung sendiri-sendiri. Tidak bisa bersama? Sudah jelas tidak.

Aku senang kau marah-marah dan memaksaku menyelesaikan kuliah. Masih sempat pula kau membawakanku buku sementara gono gini kita entah bagaimana nasibnya. Aku membacanya sedikit. Masmu mungkin tertarik dengan bahasan soal film Islam-islaman yang dalam Ayat-Ayat Cinta, Islam dicitrakan sebagai sesuatu yang glamour. Aku masih ingat Masmu pernah bilang begitu. Aku senang meski hanya sempat mendengar sedikit cerita tentang buku, film, dan kabar teman-temanmu. Sudah lama aku tidak mendengar orang ngomong seng. Aku sudah menonton Z (1969), film Costa Gavras yang kau bicarakan. Filmnya agak datar meskipun ending-nya membahagiakan. Aku sempat menonton beberapa filmnya yang lain: Missing dan Amen yang bagiku cukup membosankan. Plotnya lumayan tapi filmnya terasa begitu sepi, seperti tanpa upaya untuk melibatkan emosi penonton, bahkan musik latar pun tampaknya jarang terdengar. Tapi dia cukup punya gaya. Cerita detektif atau pencarian orang hilang memang tidak perlu sedramatis Hitchcock meramunya. Kau tahu sendiri bahwa aku menyukai film-film yang bisa membuatku terhubung dengan ilusi dalam layar, salah satunya lewat ikatan emosi. Beda dengan Dardenne bersaudara. Meskipun jarang pula melibatkan musik dan lebih memilih noise, fokusnya terhadap subjek bisa membuatku terhubung, seperti kembali menikmati Bresson yang kekinian.

Aku juga menonton God Help the Girl (2014), tipikal film musikal yang indie-indie-an. Entahlah. Kau tahu aku jarang membaca dan kerjaanku cuma menonton saja. Tapi setelah sekian lama aku tak menulis akhirnya aku bisa kembali menulis meski cuma jadi curhatan nggrantes. Bayangin dah kalau kamu mau datang lagi. Kelar lah tesisku. Masem... Kau belum bertemu ibuku. Aku mengkhawatirkan kesehatanmu hingga tak berani memintamu untuk datang sekali lagi. Ada yang masih terasa mengganjal. Tapi tak apa kalau kau tak datang lagi. Mungkin dua tahun lagi. Mungkin tidak akan pernah lagi. Tak apa.

Aku ingin bilang terima kasih. Aku ingin bilang maaf dan entah karena apa aku masih tidak bisa merasakan kalau kita benar-benar sudah berpisah. Memang sudah? Memang kita pernah bersama? Ah.  

3 Agustus 2015

Selasa, 20 Januari 2015

Dini Hari, Hal-Hal yang Kutemui dalam Perjalanan Pulang dari Tempat Pertapaan

Aku menyebut mereka sebagai teman-teman kalong, kepada siapa saja yang tak pernah tidur di malam hari, yang menemaniku dalam perjalanan pulang, sekitar empat puluh lima menit waktu tempuhnya, bisa lebih cepat kalau mau ngebut. Saat dini hari, jalanan begitu sepi dan merekalah yang biasanya kutemui. Apakah kau masih tidak tidur di malam hari? Kalau aku masih setiap hari. Paling cepat aku tidur jam tiga pagi. Jangan tanya aku melakukan apa hingga tak pernah tidur, yang pasti bukan menulis. Aku belum bisa menjawabnya. Baiklah, kali ini akan kuceritakan tentang apa saja yang kutemui dalam perjalanan pulang saat dini hari. Aku ingin kau melihatku kali ini. Akan kukenalkan kau pada jalan, malam, dan hal-hal yang mungkin kau temui. Maka aku akan memberitahumu dengan rinci, bila suatu hari kau melakukan perjalanan sepertiku, kau tak akan menemui banyak kesulitan, meski ini juga tak mungkin terjadi. 

Bisa dipastikan kalau kau memacu motor dengan kecepatan 60-70 km/jam pada pukul tiga dini hari, kau akan bertemu dengan udara dingin yang mampu menembus jaket murahan seperti yang kukenakan. Aku tidak punya jaket anti dingin seperti punyamu itu. Udara dingin semakin mengakrabi dan aku sangat berterima kasih kepadamu atas jurus rahasia mengeluarkan angin dari dalam tubuh yang kau ajarkan padaku. Salah satu teman dari udara dingin yang sering kujumpai adalah kabut. Seandainya kau bertemu butiran-butiran air yang rapat dan lembut itu, kau tentu harus mengurangi kecepatan karena jarak pandang akan berkurang. Apabila kabut datang, kau bisa memakai siasat melawan dinginmu, berteriak-teriak atau bernyanyi kencang-kencang. Tidak ada yang akan mendengarmu, tidak ada pula yang akan menganggapmu gila. Saat-saat inilah kau akan bertemu dengan teman-teman kalong lain. Mereka akan mendahuluimu atau sebaliknya, sambil kau harus terus waspada dan  berhati-hati menghindari lubang-lubang jalan.

Teman kalong yang pertama dan cukup berbahaya adalah penjual sayur. Di kehidupan sebelumnya, mungkin mereka ini adalah para pembalap dunia. Mereka biasanya kulakan sayur sejak pagi buta. Segala macam sayuran, bahan makanan, sampai jajanan, dibungkusi dengan plastik lalu ditata, diletakkan atau dicantelkan dalam kerangjang. Setiap hari mereka membonceng keranjang yang penuh dengan muatan. Sebagian besar dari mereka laki-laki. Mereka berkendara dengan kecepatan tinggi, padahal motornya kadang sudah tak layak lagi, yang terpaksa harus dipacu begitu rupa. Penjual sayur biasanya tidak melakukan perjalanan sendirian. Kau akan bertemu dengan lima orang sekaligus yang bisa mendahuluimu secara bergantian. Kalau sedang malang, mereka tanpa sadar bisa kehilangan barang dagangannya di jalan. Kalau barang dagangannya tidak diiikat kuat, bisa jadi akan jatuh di jalanan. Jangan heran kalau kau bertemu segepok kerupuk yang jatuh dijalanan, pernah pula bungkusan kresek hitam berisi roti bolang-baling. Barang-barang yang terjatuh ini pun bisa jadi bahaya. Kalau kau menghindarinya saat kecepatan motor tinggi, akan sangat beresiko mengganggu keseimbangan. Kau boleh memungut barang-barang yang terjatuh itu, meski aku tak pernah melakukannya.

Kalau kau pulang agak pagi menjelang terang, biasanya kau akan banyak bertemu dengan truk tangki pengangkut air. Mendahului mereka ini gampang-gampang susah. Laju mereka kadang memang tidak terlalu kencang. Tapi karena sempitnya jalan, susah untuk mengambil tempat sebelum menyalip. Kau harus memastikan dulu bahwa tidak ada kendaraan lain yang melaju dari arah berlawanan dalam jarak dekat. Yang menyebalkan, kalau mereka sedang melaju kencang sedangkan kesempatan untuk mendahului tak datang-datang. Kau harus rela mengekor mereka dengan menghirup karbon monoksida dan bau solar yang memuakkan. Kalau sudah begitu, jaket harus dicuci sampai rumah, termasuk juga muka. Sebentar kau mungkin akan merasa hangat karena asap knalpot yang meniup-niup tubuhmu, tapi ini sungguh memuakkan.

Truk tangki tak beda jauh dengan truk bermuatan pasir atau batu. Mereka biasanya berangkat dini hari untuk mengambil muatan. Bahkan, ada yang tujuannya sampai ke Kulon Progo. Beberapa truk akan mengambil muatan di daerah utara. Aku tidak terlalu banyak tau kemana mereka pergi, juga tidak tertarik untuk mengikuti mereka. Kau harus berhati-hati kalau ingin mendahului mereka di jalan menanjak. Truk-truk itu akan berjalan sangat lambat. Lebih lambat lagi kalau truk itu sudah bermuatan, tapi ini jarang terjadi. 

Teman-teman kalong lain adalah orang-orang yang entah kemana tujuannya. Mereka biasanya berkendara sendirian atau berboncengan. Aku tidak tahu mereka akan pergi kemana. Sebagian memang bisa ditebak. Kalau yang membawa tas besar dan kardus-kardus, mereka mungkin sedang diantar untuk bepergian jauh naik bus atau kereta. Kalau ada anak muda yang membawa tas punggung besar, mereka mungkin mahasiswa yang akan kembali ke kota tempat mereka kuliah. Kalau malam minggu, kau bisa mencurigai sepasang laki-laki dan perempuan yang berboncengan mesra sebagai pasangan selingkuh, tapi ini tentu imajinasi yang terlalu berlebihan.

Bicara soal malam minggu, teman-teman kalong lain adalah anak-anak muda yang sering mengadakan balapan. Mereka bergerombol di pinggir jalan sepi, biasanya pada track lurus yang cukup panjang. Aku belum pernah menyaksikan balapan mereka seperti apa, belum pernah pula aku diberhentikan karena jalannya mereka sita sementara. Mereka anak-anak berusia es em pe hingga es em a, yang biasa terlihat duduk atau nongkrong-nongkrong di pinggir jalan sambil merokok dan mengobrol dengan asiknya.

Di daerah selatan, sekitar tempat pertapaan, kau akan banyak menjumpai orang-orang yang sering ngawur jalannya. Mereka berkendara tanpa pernah menghidupkan lampu di malam hari, tanpa pernah menghidupkan lampu sen jika belok. Padahal, jalanan naik turun begitu sungguh berbahaya kalau tiba-tiba ada orang di depanmu, belum lagi kalau hujan dan jalanan licin. Sempat suatu kali aku ingin berhenti dan bertanya kepada mereka. Maksud mereka itu apa? Apakah dengan begitu mereka merasa hebat? Orang-orang sama sekali tak sayang pada nyawa sendiri. Orang-orang yang sungguh menyebalkan. Mungkin kalau kau yang bertemu mereka, semua pisuhan dan nama-nama hewan di kebun binatang akan kau keluarkan.

Kau juga harus berhati-hati dengan mobil-mobil yang berpapasan denganmu. Kau harus benar-benar memperlambat laju motormu. Lampu mobil mereka seringkali menyilaukan mata. Untuk sesaat jalanan bisa sama sekali tak terlihat. Untunglah mataku masih bisa diajak berkompromi, tapi kurasa matamu tidak. Kalau sempat bertemu mereka, titip pisuhan bertubi-tubi dan keluarkanlah semua nama-nama hewan di kebun binatang hingga kau lega. Pengendara mobil kurang ajar seperti itu akan sangat sering kau temui. Seolah-olah hanya mereka saja yang punya mobil, yang punya lampu paling terang sedunia hingga kami yang cuma naik motor ini didzolimi seenaknya.   

Kau juga akan menemui hal-hal tak terduga di jalanan. Suatu hari, aku pernah menjumpai orang mati yang dikuburkan dini hari. Aku sempat terkejut karena tiba-tiba terlihat banyak orang berdiri di tengah jalan. Kukira sedang ada kecelakaan atau mungkin sedang ada balapan, ternyata tidak. Setahun yang lalu, bapak dan ibuk pernah mengalami kecelakaan di daerah itu juga. Aku sempat merasa miris. Ah, sudah setahun rupanya. Orang-orang itu membawa tongkat bercahaya merah dan menyuruhku berhenti sebentar sampai mobil jenasah masuk dalam pelataran kuburan yang kebetulan ada di pinggir jalan. Kalau biasanya orang mati itu dipikul, yang ini dinaikkan mobil bak terbuka. Cukup aneh rasanya. Memang di beberapa tempat, orang mati harus segera dikuburkan jam berapapun ia meninggal. Kalau ada yang mati jam 12 malam, setelah persiapan semua selesai, akan langsung dikuburkan dengan segera. Kukira memang seperti itu juga kebiasaan di daerah ini. Tapi ternyata tidak. Keesokan harinya, aku mendengar cerita bahwa orang yang dikubur semalam adalah penderita AIDS. Katanya, mayat dengan perlakuan khusus itu dikuburkan oleh petugas berwenang dari dinas kesehatan yang sudah berpengalaman.
 
Selain teman-teman kalong, kau akan menemui hal-hal lain yang cukup berbahaya. Di daerah sekitar kuburan yang kuceritakan tadi, sering ada mangga jatuh yang kalau kau tak sengaja melindasnya. Mangga-mangga itu licin dan bisa jadi akan membuatmu tergelincir, paling tidak hilang keseimbangan. Setelah hujan atau angin tiba, kau harus berhati-hati dengan ranting patah yang menghadang di tengah jalan. Kalau kau tak hati-hati, patahan ranting itu bisa nyrimpet kaki atau masuk jeruji roda. Kau harus berhati-hati pula dengan kucing yang tiba-tiba menyebrang. Mereka seringkali sangat mengagetkan. Kalau sudah kepepet, tabrak saja mereka, meski aku juga tidak tahu apakah kucing yang mati itu lebih baik daripada kau yang mati. Konon katanya menabrak kucing hingga tewas bisa membawa sial. Kalau kau terburu-buru dan tak sempat mengambil mayat kucing itu untuk dikuburkan dengan layak, keesokan harinya kau harus memandikan motormu dengan air kembang lalu membuat bubur merah putih agar sang sial tidak menempel padamu. Mengingat kau yang kacau akhir-akhir ini, coba ingat-ingatlah apakah kau pernah menabrak kucing? Atau apakah kau pernah pipis sembarangan di bawah pohon? Aku tahu kau tidak akan percaya ucapanku.

Mungkin bagian inilah yang akan paling kau sukai. Kalau kau lapar pada dini hari dalam perjalanan pulang, akan kutunjukkan padamu tempat-tempat makan yang cukup lumayan. Kau bisa mampir di Pasar Kerten. Pasar itu selalu ramai sejak dini hari. Ada penjual nasi pecel, soto, penyetan, garang asem dan sebagainya. Aku pernah mencoba penjual yang di tengah. Agak kurang enak masakannya. Cobalah penjual yang di pinggir, paling selatan. Aku pernah makan dengan ibuku di sana. Semangkuk soto, nasi pecel dengan lauk ati ayam dan dua gelas teh hangat cukup lima belas ribu saja. Kata ibuku, soto di situ tidak ada rasanya. Cobalah menu lainnya. Kau bisa makan sambil menikmati suasana riuh para pedagang. Suara orang yang memecah kelapa, tawar menawar, dan kalau kau beruntung, kau bisa menguping pembicaraan menarik di antara mereka. Kau bisa makan juga di daerah Paron. Setelah melewati pasar, ada jalan sedikit menikung, sebuah warung nasi pecel buka malam hari, sebelah kanan jalan dari arah selatan. Karena sebagian pengunjungnya adalah laki-laki, aku tak pernah mampir ke sana. warung itu ramai sekali meski kata orang masakannya tak begitu enak, mungkin karena orang-orang itu lapar. Ada desas-desus juga kalau penjual nasi pecel itu punya pesugihan hingga warungnya tak pernah sepi, tapi jangan percaya yang terakhir kukatakan itu.

Dua kali kau akan menjumpai pasar. Pada hari-hari pasaran tertentu, pasar-pasar ini ramai sekali. Orang-orang berseliweran tanpa memperhatikan jalan. Siapkanlah jarimu untuk memencet klakson. Sangat disarankan kalau kau ingin mayak dengan membunyikan klaksonmu berulang-ulang. Orang-orang itu tak pernah peduli dengan motor yang lewat ketika menyebrang. Sembarangan sekali. Pelankan motormu. Kau boleh mengumpat orang-orang yang sudah keterlaluan ngawurnya. Kalau untuk itu, aku yakin kau sudah tidak perlu disuruh lagi. Ah, helmku yang bermerk dan berwarna sama denganmu, bahkan sama-sama dibelikan oleh para ibu itu sudah dipinjam orang dan tak dikembalikan. Suatu pertanda!

Satu hal lagi yang paling berbahaya adalah pikiranmu sendiri. Aku sering melamun saat berkendara sendirian di jalanan sepi dan dingin. Seringkali kau yang melintas di kepalaku. Mampirlah ke rumah. Aku menunggumu. Lain kali akan kuceritakan  tempat pertapaan itu. Kalau boleh mengambil gambarnya, akan kutunjukkan padamu. Sampai ketemu.

20 Januari 2015

Rabu, 07 Januari 2015

Menonton Film-Film Tentang Penulis Tapi Gak Bisa Segera Menulis

Mengawali tahun, rasanya aku akan menuliskan sesuatu yang lagi-lagi tidak bermanfaat bagi kemashlahatan umat. Ini tentang film-film yang bercerita soal penulis. Ceritanya macam-macam. Sebagian sangat tidak menarik, bahkan, tokoh penulis tidak menjadi inti cerita melainkan sekadar tempelan saja. Bentuknya macam-macam pula. Sebagian berisi biopic yang menggambarkan bahwa beberapa penulis besar tingkat dunia adalah seorang homoseksual.

Aku ingin tahu ceritamu. Sungguh aku ingin pula mengikuti film-film baru yang hangat tayang di bioskop. Aku ingin menonton Senyap. Kau cerita soal lubang hitam Nolan? Film-film Indonesia sekarang tampaknya banyak yang menarik meskipun tak terjangkau olehku, Pendekar Tongkat Emas itu film macam apa? Di kota busuk ini tidak ada bioskop. Orang-orang ramai membicarakan sesuatu yang ingin kutonton tapi tak kesampaian. Ah, sudahlah. Rasanya lelah menggerutu di sini, tambah lelah dengan mendengarkan lagu-lagu yang kucuri dari laptopmu.

Baru saja aku menonon Ruby Sparks (2012). Ceritanya sederhana dan sangat mudah ditebak. Seorang penulis jatuh cinta dengan tokoh rekaannya. Tokoh itu tiba-tiba muncul menjadi gadis yang nyata, yang kehidupannya bisa dikendalikan oleh penulis itu, lengkap dengan perasaan-perasaannya. Kau bisa menebak kelanjutan ceritanya bukan? Awalnya mereka hidup bahagia, lalu tidak lagi, lalu si penulis membebaskan tokohnya itu, menuliskan pengalaman anehnya menjadi sebuah buku dan pada suatu pagi yang indah mereka dipertemukan kembali di sebuah taman. Tidak ada yang menarik dari film ini. Aku tak lagi bisa melihat film dengan baik seperti ketika aku bisa mendengarkan komentarmu.

Kau sudah menonton Capote (2005) bukan? Kau betah menonton film panjang itu. Betapa kau sangat menghargai usaha seorang penulis untuk menghasilkan sebuah karya. Bukan sebuah proses yang mudah dan singkat tentunya. Before Night Falls (2000) bercerita tentang seorang penulis Kuba, Reinaldo Arenas. Sayangnya, film ini tidak begitu baik menceritakan latar belakang kisah yang terjadi ketika Castro memimpin. Barangkali juga otakku yang tak mampu menampung setiap detail adegan dalam film itu.

Tidak banyak yang bisa diambil dari menonton film-film tentang penulis. Kadang kau akan menemukan ide cerita yang menarik atau tips-tips menulis yang berceceran di sana-sini. Seorang penulis novel atau cerita pendek harus memiliki kemampuan untuk menggiring pembaca pada setiap tahapan alur cerita, mungkin bisa menggunakan teka-teki sekaligus menyediakan satu demi satu kunci untuk membuka teka-teka itu. Kau bisa juga menuliskan detail spesifik untuk memperdalam dan membuat pembaca masuk ke dalam ceritamu. Tapi ya begitulah, film-film itu tidak mampu mengenyangkanku. Kau juga akan menemukan beberapa kesamaan nasib dari penulis-penulis itu. Hidup mereka kebanyakan tidak bahagia. Sylvia Plath mati bunuh diri, Sylvia (2003), begitu juga dengan banyak penulis lain. Kalau kau buka hardisku, akan kutunjukkan film-film apa saja yang sudah kutonton. Itupun kalau kita masih bisa bertemu lagi dan bisa saling mencuri. Aku bertemu Rimbaud dalam salah satu film yang kutonton. Katanya, love doesn’t exist. 

Kau bisa mendapati cerita konyol seperti ini: seorang penulis beserta keluarganya menempati sebuah rumah tua dengan alasan tertentu. Dan kau tahu, rumah itu ternyata berhantu. Seorang gadis kembar sering muncul. Dulunya, semua anggota keluarga penghuni rumah itu mati terbunuh oleh sang ayah. Arwah si ayah itulah yang kemudian merasuki si penulis. Selama sebulan menulis, orang itu ternyata hanya menuliskan kalimat yang sama. Aku tak ingat bunyi kalimat itu. si penulis jadi gila dan membunuh istri dan anaknya sendiri. Kalau tak salah, itu film Martin Scorsese. Adalagi cerita begini: seorang penulis terkenal mengalami kecelakaan ketika badai salju. Ia ditolong oleh penggemar berat novelnya yang terobsesi dengan tokoh utama. Si penggemar ini punya masa lalu yang mengerikan sebagai perawat. Kelakuannya berubah ketika tau akhir cerita bahwa si tokoh utama dibunuh oleh penulisnya. Ia kemudian memaksa si penulis untuk menuliskan kembali cerita yang diinginkan penggemarnya itu. Begitulah.   

Aku sudah menonton film-film Danny Boyle. Aku suka caranya meningkatkan tensi dengan musik-musik latar bertempo cepat. Soal musik latar dalam film, aku menonton sebuah dokumenter tentang sejarah musik dalam cinema. Kau yang mengkopikannya. Kadang kita tak pernah sadar bahwa pada film-film tertentu, seorang penata musik benar-benar memikirkan bagaimana mengawal tokoh lewat musik maupun efek suara sehingga menimbulkan kesan tertentu kepada penontonnya. Tidak hanya montase dan rangkaian adegan, atau cara-cara pengambilan gambar, suara punya peran yang tak kalah penting. Image adalah esensi dari cinema dengan suara yang selalu mengawani dalam menciptakan sense bagi para penontonnya.

Tokoh-tokoh utama memiliki leitmotif yang membuat penonton mengenalinya dan tanpa disadari menggiringnya berpindah dari satu adegan ke adegan lain, dari perhatian ke satu tokoh ke tokoh yang lain. Musik dalam cinema mengalami pergeseran dari masa ke masa, dari orkestra yang mengisi pemutaran film bisu, penggunaan lagu-lagu pop yang populer pada zaman film itu dibuat, hingga perangkat elektronik dengan sejuta tobol-tombolnya. Kita bisa melihat transformasi image dalam film, demikian juga kita akan bisa melihat tranformasi suara. Seorang musisi bisa jadi juga seorang fisikawan. Seni dan teknologi bercumbu mesra di sini. Ada penata-penata musik legendaris yang isian musiknya menjadi arketip. Kau akan menemukan musik yang mirip antara film King Kong yang kemudian muncul kembali di film Inception. Sayang sekali dokumenter ini hanya membahas musik-musik dalam film Hollywood.

David Cronenberg punya versi cerita film menarik soal penulis, Naked Lunch (1991). Yang ini beda dari yang lain. Di film itu, kau akan bertemu makhluk-makhluk menjijijkkan, termasuk mesin ketik yang bisa berubah menjadi serangga berlendir dan bisa berbicara. Dalam The Pillow Book (1996) kau akan bertemu dengan gambar-gambar bertumpuk dan berulang yang sangat menggangu, tapi dengan cerita cukup menarik, tentang seorang perempuan yang terobsesi dengan salah satu seni klasik Cina, kaligrafi yang dituliskan pada tubuh manusia. Pada akhirnya, ia menuliskan karyanya pada tubuh-tubuh laki-laki.

Masih banyak yang ingin kuceritakan. Sayangnya hanya jadi sekilas-sekilas begini. Aku minum kopi Kapal Api di sini. Gak enak sekali. Bolehlah kalau kau mau mengirimkan kopi Kupu-Kupu Cap Bola Dunia. Selamat sore. Kapan kita ke Warung Giras? Sudah adakah stok Aroma Bandung di sana?

7 Januari 2015

Rabu, 31 Desember 2014

Mendung Akhir Tahun

Kau pernah merindukan seseorang hingga sakit? Aku pernah dan itulah yang saat ini kualami. Pola tidur dan makanku kacau. Penyakit maag tambah parah. Hawa dingin pegunungan kadang tak tertahankan. Apakah kau juga pernah membayangkan bahwa rindu dapat menyebabkan kematian? Sepertinya tidak. Kau punya banyak cara untuk mengalihkan perhatian dengan segala bentuk kesibukanmu. Rasanya aku tidak lagi bisa menulis dengan baik, meskipun tulisanku juga tak pernah baik. Setahun ini terlalu banyak hal berat terjadi. Hari ini gerimis. Aku teringat musik latar piano hujan Eric Satie yang mengiringi aktivitas kamar kita, sesuatu yang mustahil untuk bisa kembali terjadi.

Aku senang mendengar kau telah menyelesaikan tulisanmu. Sedangkan aku terjebak di sini, tidak, aku menjebak diriku sendiri di sini dan mulai sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tentang hal yang sama, yang selalu mereka ulang kembali seolah mereka begitu peduli dengan nasib manusia yang sedang ditanyainya, meskipun sebenarnya mereka sama sekali tak peduli bahwa sekadar pertanyaan bisa menjadi begitu mengganggu. Maka uruslah hidup kalian sendiri. 

Sebentar lagi tahun berganti. Kau pasti ingat beberapa malam pergantian tahun yang pernah kita lewati; tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga, ah. Dan saat ini aku hanya bisa mengetikkan kalimat-kalimat buruk sambil meneteskan air mata. Langit di luar mulai gelap diiringi suara serangga musim hujan yang hanya bisa dinikmati mereka yang sedang patah hati. Jadi, sudah berapa perempuan kau tiduri? Jim Morrison melantunkan puisi:

Whiskey Mystics and Men

Well I'll tell you a story of whiskey and mystics and men. And about the believers and how the whole thing began. First there were women and children obeying the moon. Then daylight brought wisdom and fever and sickness too soon.

You can try to remind me instead of the other you can. You can help to insure that we all insecure our command. If you don't give a listen, I won't try to tell your new hand. This is it, can't you see that we all have our ends in the band?

And if all of the teachers and preachers of wealth were arraigned. We could see quite a future for me in the literal sands.

And if all of the people could claim to inspect such regret. Well, we'd have no forgiveness, forgetfulness, faithful remorse. So, I tell you, I tell you, I tell you we must send away. We must try to find a new answer instead of a way.

Orang-orang di luar ribut membicarakan pesawat jatuh. Angin bertiup lembut.

Sementara kau membaca komik, aku akan menyeduh kopi dan menyiapkan setangkup roti tawar dengan selai susu coklat. Lalu aku akan menyusul membaca novel dan menghabiskan hari begitu saja. Mengenang hal itu, aku semakin tidak peduli dengan dunia dan tenggelam dalam ingatan-ingatan ketika sepenuhnya kita bisa bersama. Kau tahu apa yang bisa menyembuhkanku? Belum ada. Aku masih sekarat di sini dan usaha apapun yang dilakukan orang-orang yang katanya menyayangiku itu, hanya sedikit bisa mengalihkan perhatianku. Selebihnya, aku kembali tenggelam. Ini lebih dalam, sangat lebih dalam dari yang pernah kualami. Sulit sekali ternyata. 

Saat ini aku punya teman kecil. Namanya Ipang, usianya hampir tiga tahun. Dia yang setiap hari menemaniku menonton film dan menungguiku menuliskan ini. Betah sekali ia menonton bahkan ketika dia tidak tahu dialog dan jalan ceritanya. Film-film yang ditontonnya tertanam kuat di kepala lalu keesokan harinya akan menjadi bahan cerita menarik buat teman-teman sebayanya. Tentu saja film yang kutonton bersamanya adalah film-film yang memang layak ditonton anak-anak. Aku juga mengajarinya ekspresi terkejut yang khas kita. Dan dimarahilah aku oleh ibunya karena sudah banyak memberi pengaruh buruk.

Rasanya belum ada waktu untuk mengambil buku-bukumu dan mengembalikannya. Aku tidak tahu bagaimana kita akan mengatur harta gono gini yang tak ternilai harganya itu. Buku-buku itu kita beli atau kita print dengan mengurangi jatah makan, dengan mencari alasan untuk minta tambahan uang pada ibu-ibu kita. Di setiap buku itu, akan ada ingatan bahwa kita pernah membelinya bersama dengan segenap percakapan-percakapan bodoh yang menyertainya. Itulah yang tidak akan pernah bisa kita temukan pada siapapun, ketika kita masing-masing telah bersama orang lain. Tak ada gantinya dan bagimanakah cara kita agar sama-sama bisa saling melepaskan dengan penuh keikhlasan.

Orang-orang di kampung ini sedang suka membeli motor secara kredit. Entah disengaja atau tidak, dalam sehari ada empat orang yang motornya datang. Empat orang itupun masih memiliki hubungan keluarga. Entah dengan apa mereka akan mencicil motor itu tiap bulannya. Mungkin mereka akan pasrah kalau suatu saat tak bisa mengangsur, motor itu akan diambil kembali. Saat motor itu datang, para tetangga akan berkerumun untuk menonton.

Sedikit banyak aku belajar bagaimana orang-orang ini mengatur ekonomi rumah tangga mereka. Begitu ada uang, akan langsung dihabiskan dan saat paceklik, mereka punya keyakinan tinggi bahwa mereka tak akan kelaparan. Salah satu caranya adalah dengan berhutang.

Usaha-usaha mandiri tak begitu berkembang karena manajemen yang hancur-hancuran. Sedikit banyak pula aku tahu tentang manajemen truk pengangkut pasir dan batu. Salah satu ganjalan berkembangnya usaha adalah karena kewajiban sewa yang harus mereka bayar tiap bulan. Mereka menggunakan truk dari jalur leasing dan biaya sewanya tak sebanding dengan penghasilan. Biaya perawatan kendaraan juga cukup mahal, belum lagi ditambah dengan resiko kecelakaan yang tak bisa diprediksi, masih harus berpikir pula kalau sewaktu waktu harus setor kepada polisi karena sebagian besar sopir truk ini tak memiliki izin mengemudi. Fiuh.

Kau masih ingat bagaimana kita mengarang asal mula suatu kata? Konyol sekali bukan. Aku merindukanmu. Lewat lagu-lagu yang kausarankan untuk kudengar. Aku mendengarmu. Aku mendengar sesak napasmu di malam dan pagi hari. Aku mendengar keluh kesahmu. Aku mendengar kau yang tak bisa menerima alasan-alasan yang kubuat-buat karena tak sanggup pula kuceritakan  hal yang sebenarnya. Aku mendengar klak klik mouse dan keletak keletik jarimu dia atas keyboard. Aku mendengarmu menyeruput kopi menggunaan gelas kita. Aku mendengar semuanya. Suara-suara tentangmu begitu berisik. Maka biar kusudahi saja tulisan ini. Selamat malam.

30 Desember 2014

Kamis, 06 November 2014

Hai

Sudah sekian bulan blog tidak terisi. Sejenak aku mengundurkan diri dari dunia persilatan dan hiruk pikuk dunia. Soal cinta jangan ditanya lagi. Tambah runyam dan menggantung tanpa keberanian untuk menyelesaikan. Soal tesis apalagi. Sama sekali belum bertambah juga itu jumlah halaman. Semuanya terbengkalai. Banyak juga cerita menarik terlewat. Mungkin karena aku terlalu jarang tertawa dan disibukkan oleh hal-hal yang tak seharusnya menyibukkan. Aku begitu sibuk tak melakukan apapun, entah menulis, entah membaca atau menonton film sekadarnya.

Sejak pertemuan terakhir denganmu, wahai teman sebelah (jabatannya sekarang sudah diturunkan kembali secara sepihak. Sudah bukan bebeb lagi), jujur aku begitu banyak merasa kehilangan. Buntu sudah menjadi kepastian. Dan sekarang apa yang bisa kulakukan dengan tidak banyak mendengar cerita-cerita darinya. Teman sebelah sibuk bekerja dan aku sibuk membayangkannya bekerja, pekerjaan maha berat, mengubah dunia. Kalaupun aku diajaknya bicara suatu hari nanti ketika kita bertemu kembali, tentu aku akan kesulitan untuk mengerti, meski setidaknyambung apapun, aku dan teman sebelah akan selalu punya sambungan untuk pembicaraan kami. Hubungan semacam ini tidak mudah didapat. Seumur hidup memang cuma ada satu teman sebelah.

Malam ini ada IDRF, hal yang membuatku akhirnya bisa ngetik lagi. Rasanya memang belum kehilangan kemampuan untuk hal-hal semacam ini. Menuangkan nggrantes lewat tulisan dan tak malu dibaca banyak orang. Beberapa hari di jogja ini serasa hidup kembali, ada kelegaan yang luar biasa meski hanya sesaat. Kangen urip gathel sama teman sebelah itu jelas. Jelas sekali rasanya ketika mengambil motor di kontrakannya, membuka kamarnya yang berdebu dan sejenak membaringkan tubuh di kasur jahanam itu. “Menggigil adalah menghafal rute menuju ibukota tubuhmu,” kubayangkan kau berbisik di telinga sambil memelukku, mengutip sebait puisi.

Siapa yang akan kuceritai tentang film-film yang kutonton atau novel-novel yang kubaca, sementara komunikasi kita semakin jarang. Aku tak pernah lagi menanyakan apakah kau sudah makan, sudah mandi, sudah gosok gigi, sedang apa, sama siapa, melakukan apa, dimana, dan segalanya. Demikian juga denganmu. Cukup rasanya memastikan bahwa kita masih sama-sama tetap bisa hidup meskipun tidak berdekatan, tidak lagi bersama. Apa yang kaubayangkan tentang diriku mungkin berbeda tapi ini memang terlalu sakit. Dan tentu saja tak bisa kuceritakan semuanya di sini. Aku memilih pergi meninggalkan dunia kita meski tak ingin. Kau tahu bagimana itu terjadi.

Hari-hari di jogja rasanya terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja di dalam kamar kost meski tidur seharian di kost rasanya lebih melegakan daripada tidur seharian di rumah. Aneh, bukan? Begitupun aku masih menjadi tahanan yang wajib lapor tentang segala sesuatu yang aku lakukan di sini. Mereka lega pula karena kau tak ada di sini. Tak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Rasanya seperti tidak menjadi manusia. Sudahlah, tak perlu dibahas lagi.

Tema IDRF tahun ini cukup menarik. Membaca lakon-lakon awal kemerdekaan. Hari ini ada dua lakon yang dibacakan. Lakon Usmar Ismail berjudul Liburan Seniman (1944) dan Drama Rekonstruksi Rapat BPUPKI dan PPKI oleh Muhammad Anis Ba’asyin. Sebuah lakon yang kuat akan mampu mengundang perhatian penonton meski hanya dibacakan. Liburan Seniman memang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya walau hanya dua babak yang dibacakan. Konon katanya lakon ini masuk ke periodesasi propaganda dalam rentang periode lakon Indonesia setelah periode romantis dan sebelum masuk ke periode revolusi. Wow, ada yang meneliti hal beginian ternyata. Katanya juga, lakon Usmar selalu lolos dari sensor Jepang meski di dalamnya banyak mengandung unsur propaganda.

Lakon kedua dibacakan dengan terlalu banyak guyon. Aku tak menyalahkan hal itu dan sangat menghargai model interpretasi naskah segila apapun. Tapi dalam soal ini,  aku sayang pada naskahnya, merasa kasihan pada penulisnya yang sudah susah payah merekonstruksi ulang. Dalam bayanganku malah tergambar adegan film yang merekam kejadian itu. Lengkap dengan karakter tokoh dan bangunan suasana pada masa itu.

IDRF hari kedua tampaknya tidak akan pernah kusaksikan. Aku akan kembali mengasingkan diri. Semoga setelah ini akan lebih banyak tulisan menye-menye yang muncul kembali. Menye-menye yang sangat berarti buatku. Menulis masih membuatku merasa hidup. Dan memang sekarang aku masih hidup. Kau tahu, kadang kau menjadi saluran yang menghubungkanku dengan pengetahuan-pengetahuan. Menjauhnya aku darimu sedikit banyak juga menjauhkanku dengan pengetahuan-pengetahuan. Aku tidak tahu bahwa di Blitar, ada rakyat yang baru saja mereklaim tanahnya. Dan aku masih tidak mengerti apa yang dibicarakan Bruno Latour bahwa keseluruhan itu selalu lebih kecil dari bagian-bagiannya.

Segeralah bertemu dengan perempuan yang mengenal Arthur Rimbaud. Mungkin aku akan merasa lebih baik kalau kau yang jahat padaku, bukan sebaliknya. Kumpulan puisi Mira Sato kau tinggal di kontrakan rupanya. Padahal aku ingin kau membacanya di saat-saat buntu dengan tetek bengek teori, jurnal, dan pekerjaanmu. Salam buat teman-temanmu di sana. Semoga usaha kalian mengubah dunia tidak akan sia-sia, setidaknya akan ada malaikat yang mencatat kebaikan kalian semua demi cita-cita luhur kalian itu. Amin.  



Kamar Kost, 6 November 2014

Senin, 02 Juni 2014

Nge-Float

Aku tidak tahu apa jadinya kalau seusai menonton Float aku jadi menginap di kontrakanmu. Betapa nggrantesnya. Mereka memang keren, tidak perlu dipertanyakan lagi. Selama ini aku mendengarkan Float sebagai musik kamar, sambil mengingat-ingat setiap "Tiga Hari Untuk Selamanya" yang pernah kita alami beberapa kali. Dan ketika menyaksikan live-nya, wow.... Di lagu terakhir, senar gitar mas mas berkaos Jew Tube itu sempat putus, tapi mereka tetap kembali, membawakan satu lagu lagi karena penonton tak mau bubar setelah Surrender selesai dinyanyikan. Padahal, lagu itu menjadi semacam klimaks sebelum akhirnya harus diakhiri dengan Too Much This Way.  
























Konser-konser yang kusaksikan belakangan hanya menjadi semacam acara senang-senang yang tak menyenangkan. Melayang-layang lalu jatuh dengan kerasnya: mak gedebuk. Lara, cuk... ngerti gak sih kowe kuwi? yo ngerti sih, tapi piye meneh.

Kene nyedhak kene, tak dongengi. Jaman mbiyen ana mbok rondho ndhandhapan nduwe anak papat. Jenenge: Kado, Tengeng, Rawis karo Sabar. Mbareng segone wis mateng, anake papat sing lagi dolanan ning latar njuk diceluk kon mangan. Ben praktis, lek nyeluk anake mau nganggo disingkat: do..ngeng..wis..bar.. Wis yo, muah..muah.. 

Sabtu, 31 Mei 2014

Jalan Buntu, Gang Guanjiwa

Meskipun efeknya hanya bertahan sepanjang jalan pulang ke kostan, aku cukup menyukai malam ini. Rekor pertunjukan musik yang berefek paling lama buatku tetap dipegang Melbi. Sebagai pembuka, malam ini Jambul bikin meleleh. Terutama untuk lagu 69 di 98 sama Kota yang Tak Pernah Bermimpi. Sayang sekali tidak ada Mas Ipang dan Bung Arie O. Padahal dulu katanya mereka mau launching album juga. Kapan jadinya??? Huaaaa... lagu itu bikin sedih. Ini bukan karena tidak ada yang bisa diajak ber-69. Haha. Di sana, orang berbagi kesedihan, kesepian, kerinduan, kenangan, bicara kota, tapi aku kembali seperti kehilangan diri ketika masuk kamar. Sriinggg... semacam ada yang merenggutku lalu menimpuki dadaku. Rasanya sesak.

Sebagai sebuah pertunjukan musik, Menyusuri Jalan Pulang bisa dibilang berhasil. Konsepnya jelas, dari tata panggung hingga nomor lagu yang dibawakan. Lagu baru mereka cukup lumayan. Beberapa lagu dengan bit cepat mengingatkan kembali pada musik-musik Dewa 19. Aku tak tahu banyak soal musik jadi tak banyak pula yang bisa kukatakan. Aku suka isian gitar sama efeknya Damar. Begitulah.


Hai Mas..

Persiapan Seorang Aktor



Nguing...Nguing...










Ada yang terlupa. Sebenarnya tadi Jambul mainnya sama mas-mas satu lagi, tapi ternyata di kamera tidak ada fotonya.

Dan selarut ini kau masih berdiskusi tingkat dewa dengan para dewa nun jauh di sana. Bikin tambah sedih. T_T

Kamis, 29 Mei 2014

Buntu

Okay. Aku akan menulis kalau kamu balik. Okay. Kamu akan balik kalau aku menulis. Terus ini ketemunya di mana? Setiap hari aku membuka folder sialan itu dan tak lama kemudian menutupnya kembali. Dari seratus menit paket telepon yang gantian kita pasang tiap malam, berapa menit habis sudah untuk membahas persoalan menulis dan mengumpati kemacetan kota brengsek yang sekarang kau tinggali. Dan mas mu yang satu itu sungguh-sungguh menunjukkan perhatian terhadap nasib kita berdua. Beberapa kali dia mengirim pesan pendek secara tiba-tiba, selalu menanyakanmu juga.

Sebagian besar sudah kuceritakan padamu apa saja yang kulakukan kemarin. Aku menonton mas mas yang genjrang genjreng main gitar klasik. Suara gitarnya bersaing dengan orkes keriut kursi penonton. Sering sekali penonton memperbaiki duduknya, barangkali bosan, barangkali mengantuk. Komposisi-komposisi yang dimainkannya terasa lamaaaaaa sekali. Mas mas itu bermain gitar seperti tak mengeluarkan tenaga. Jari-jarinya panjang, bergerak dengan indah.

Dan aku teringat kamu. Kau bermain gitar dengan jari-jarimu yang mudah basah. Mas mas di panggung itu berubah menjadi kau. Karena terlalu rapatnya not dan mungkin tingkat kesulitan dari sonata-sonata yang kau bawakan terlalu tinggi, jari-jarimu menjadi terlalu basah. Sangat basah. Keringat mengucur dari ujung jari-jarimu. Benar-benar mengucur seperti air mancur, bercipratan kemana-mana, membasahi panggung, mengguyur muka penonton yang duduk tenang di barisan depan. Tapi kau sangat menikmati permainanmu, sedikit menggoyang kepala ketika memainkan nada dengan tekanan tertentu. Matamu sesekali terpejam ketika memainkan bagian dengan petikan lembut, membukanya kembali saat harus memetik dengan sedikit keras, lalu kau mengakhiri permainanmu. Kau berdiri sambil memegang gitarmu, membungkuk sedikit memberi hormat pada penonton, lalu melangkah mundur dan sedikit membungkuk sekali lagi. Tepuk tangan terdengar begitu meriah. Para penonton sangat menyukai kucuran keringat yang memancar dari jarimu itu. Rasanya asin-asin segar mirip minumam isotonik bermerk keringat. Adegan seperti itulah yang kulihat ketika sekian detik aku tak bisa menahan kantuk.  

Mungkin aku terlalu banyak membaca novel akhir-akhir ini. Jarang sekali aku berbicara dengan orang. Hidupku seperti fiksi. Juga ketika kemarin aku datang ke sebuah acara bedah novel Kelir Slindet. Ada banyak kesamaan-kesamaan yang kutemukan dari apa yang kubaca akhir-akhir ini dan memang begitulah yang dikatakan oleh pembicaranya. Pak Profesor menemukan bahwa novel itu penuh situasi paradoksal, bergaya mozaik, seperti kolase, menyelaraskan tradisionalisme dan modernisme. Novel itu, katanya adalah pemberontakan penulis yang diproyeksikan lewat tokoh-tokohnya.

Pembicara satunya lagi adalah orang yang sedang menulis ensiklopedia fiksi Indonesia. Dia banyak cerita soal tokoh-tokoh dalam novel itu. Novel itu sangat mirip dengan Ronggeng Dukuh Paruk, basis ceritanya menyangkut musik yang hidup di masyarakat. Caranya menggambarkan latar juga mirip, banyak menggarap soal kuburan, melibatkan roh yang masuk ke tubuh penari, tokoh utamanya perempuan, dan mungkin masih banyak kesamaan lain. Ada semacam kecenderungan yang sama dalam penulisan novel-novel berlatar agraris. Selain Ronggeng Dukuh Paruk, Pak Profesor juga menyebutkan beberapa kesamaan dengan Jatisaba.

Peruangan dalam novel dibangun atas kontradiksi yang terus bekerja. Ini bisa dilihat dari kata kunci yang muncul dari novel ini: tarling dangdut, kasidah, musholah, warung remang-remang, haji, telembuk/lonte, ustadz, pemabuk, intip, dakwah, judi, madrasah, TKW, Indramayu. Soal intip mengintip ini juga muncul di novel terbaru Eka Kurniawan. Sama-sama jadi adegan pembuka.  Dulu, PKI tak pernah menang di Indramayu meskipun menggarap soal-soal telembuk dan semacamnya itu.

Karena sudah dibahas sedemikian rupa, aku tak jadi membeli novelnya. Pengarangnya cerita juga soal proses kreatifnya. Novel itu sebenarnya hanya sepertiga bagian dari keseluruhan novel yang ditulis setebal kira-kira 750 halaman. Penerbit baru bersedia menerbitkan yang sepertiga itu atas alasan pemasaran dan sebagainya. Itupun sudah banyak dipotong, adegan coli sambil liat penyanyi tarling dangdut misalnya.

Entahlah, meskipun dibilang itu berdasarkan observasi langsung di kampungnya sendiri, bersifat etnografis, atau apapun sebutannya sama sekali tidak menarik minatku. Tawaran apakah yang diberikan novel itu? Model cerita penuh paradoks itukah? Kontras antara Haji, Bos Walet, telembuk dan pemabuk itukah? Lawas. Hmmm... sayangnya aku tidak mengerti soal kritik sastra. Tapi aku suka ada yang menulis tentang Indramayu, geografis dan budayanya tentu menarik. Okay Mas, istrimu cantik. Aku liat akting kalian di Mata Tertutup.

Dangdut pantura memang lagi tren sekarang, apalagi banyak yang bahas soal kultural kultural studisan, menyebut panggung dangdut Indramayu sebagai kenyataan hibrida. Asyek... Pertunjukan tarling (yang mungkn lebih klasik) seringkali diselipi pula dengan drama. Bahasanya dan ceritanya cukup menarik untuk dilihat lebih jauh. Kalau awalnya dari tarling begitu, terus sekarang yang banyak dikenal adalah dangdut pantura seperti Monata atau OM Sera, itu pergeserannya, jenisnya yang lain, atau percabangannya atau bagaimanakah? Kalau dari tonalitas, terdengar jelas ada percamuran Sunda dan Jawa, agak berbeda dengan dangdut. Ah, banyak pertanyaan mulai menggantung-gantung meskipun aku sudah mencoba tak mempedulikannya. Ini masih belum ngomong panggung. Dari fisiknya misalnya, dari yang cuma gelaran tikar hingga panggung dengan kubah melengkung di atasnya. Ah, tapi ini mau sampai di mana? Rasa-rasanya potret yang kuperoleh hanya permukaan, bahkan belum bisa disebut sebagai permukaan, begitu banyak label bertebaran.

Aku tak punya bayangan soal tarling. Jadinya ya buka Youtube meski cuma serampangan:

atau


Dengerin juga dramanya meskipun gak ngerti bahasanya:

Dan ini salah satu panggungnya:

Melihat-lihat semua itu, serasa banyak hal yang campur baur dan memang tidak nyambung. Tapi ya buat apa aku mencarinya lebih jauh. Aku jadi ingat Tubuh Ketiga meskipun pilihan visualisasi atas hasil riset mereka di Indramayu sedikit janggal. Sudahlah. Cukup.


Kamar Kost, 29 Mei 2014


Senin, 19 Mei 2014

Semacam Emboh

Aku ini gampang sekali ditebak. Tulisan yang muncul di blog ini sebagian besar adalah tulisan galau. Kalau tidak ada tulisan, berarti aku sedang tidak galau, kawan. Sungguh kasihan bukan?

Kau tau apa jawaban Paijem ketika ditanya apa yang akan dilakukan setelah pesta pernikahannya? Bukan bulan madu, bukan mencari rumah baru, tapi membayar hutang. Paijem, perempuan sabahabatku itu akan menanggung sendiri seluruh biaya pernikahannya,  empat bulan lagi. Kau bisa bayangkan sepasang pengantin yang biasanya tak perlu banyak mengurus tetek bengek berbiaya, harus berpikir keras untuk tidak membuat malu keluarga di hadapan orang. Pernikahan memang tak hanya bisa diselesaikan ketika dua orang bersepakat untuk menjalani hidup bersama selamanya. Kau akan diributkan dengan urusan kadar kepantasan pesta. Semiskin-miskinnya dirimu, orang-orang itu tetap mengharapkan makanan yang layak di hari pernikahanmu. Tapi aku tak hendak memikirkannya. Rasanya cukup muskil untuk kita.

Masa depan macam apakah yang sudah nyata-nyata bisa ditebak seperti itu? Seperti kalau orang bertanya padaku apa rencanaku setelah lulus, maka dengan berat aku akan menjawab: berusaha mencri cara agar bisa putus denganmu. Masa depan semacam itu bukan masa depan. Itu hanya kenyataan yang kebetulan ada di waktu yang bukan sekarang atau masa lalu. Sejauh mana pula orang akan berharap pada masa depan yang tak tertebak itu, yang kalau kata orang di sebuah film diistilahkannya dengan l’avenir[i]. Kau pernah menonton TiMer[ii]? Film bodoh itu bahkan sudah mengkhayalkan berapa lama orang bisa menemukan belahan jiwanya dengan menanam alat semacam countdown timer di pergelangan tangan. Alat itu akan berbunyi ketika kau bertatapan dengan belahan jiwamu. Cerita film lalu dihias dengan beberapa kebohongan, serta konsekuensi-konsekuensi hubungan percintaan yang muncul gara-gara alat aneh itu. Lucu sekali bukan? Ketika semua hal sudah bisa diprediksi, dijadwalkan, direncanakan, ah, manusia tidak akan mengenal lagi kejutan.
  
Kau tahu, aku menangis menonton Scenes From a Marriage[iii]. Aku tak bisa membayangkan bisa serasional orang-orang itu. Aku selalu kesulitan menjelaskan apa yang kurasakan, seperti kehilangan semua majas yang mungkin diciptakan manusia untuk mengungkapkan permisalan-permisalan. Bayangkan seorang suami yang tiba-tiba meninggalkan istrinya, lalu mereka bertemu lagi beberapa tahun kemudian, menjadi sama-sama dewasa dengan kehidupannya sendiri-sendiri. Ah, kau memang harus menontonnya sendiri dan mulailah membayangkan aku yang menangis menonton film itu sambil mengumpat-umpat: Jancuk!

Tampaknya aku terlalu banyak menonton film-film yang tak kutahu lagi juntrungnya. Jarang sekali sekarang aku bisa menemukan film yang bisa kutonton sampai habis tanpa memencet keyboard bergambar panah ke kanan untuk mempercepat jalannya. Begitulah kuhabiskan waktu dan ini benar-benar gawat. Selalu ada kegelisahan yang tak bisa disembuhkan dengan menonton film atau membacai novel. Aku sudah tahu kenapa, tentu karena aku tak melakukan apa yang harus kulakukan. Aku tidak memaksa diriku hingga membentur dinding. Padahal dinding-dinding sudah demikian menghimpit. Ketika sudah membuka folder sialan itu, aku merasa begitu muak, dengan segera meng-klik tanda silang berwarna merah di pojok kanan layar laptop. Berapa banyak orang menasihati dan menyemangatiku, tapi entahlah. Bukan berarti aku tak menghargai perhatian mereka. Betapa bebal otak ini!

Beginilah, kalau kau ingin tahu apa yang kulakukan setelah kau pergi ke kota brengsek itu. Aku membiarkan waktu lewat begitu saja. Orang macam apa yang seolah-olah membiarkan waktu lewat di depannya, bahkan hampir menganggapnya tak ada. Aku hidup dari suara adzan ke suara adzan, antara makan, tidur dan berak. Betapa menyedihkan. Keadaan ini semakin melarat-larat, berlarut-larut dan aku tak bisa menghancurkan kurungan kebosanan pasif ini.

Mari sedikit melompat, kalau kau bandingkan cara orang bercerita, mungkin ini tak bisa dibandingkan, tapi cobalah kau tengok Tart di Bulan Hujan[iv] dan Surga Sungsang[v]. Yang pertama adalah kumpulan cerpen sedangkan yang disebut kedua adalah novel pendek yang pada awalnya aku sangka pula sebagai kumpulan cerpen yang disatukan. Sebut saja keduanya mencoba mengungkap absurditas manusia dan dunianya meski dengan cara yang sama sekali berbeda. Aku cukup suka keduanya. Bagiku cara bercerita bukan menjadi pokok persoalan. Entah apakah Surga Sungsang itu mampu mengambil alur dari Murakami, menggabungkannya dengan Lukisan Neraka Akutagawa lalu membuat latar mirip yang mirip dengan Seratus Tahun Kesunyian, dengan bumbu imajinasi surealis yang membuat otakku membayangkan bentuk-bentuk aneh dari gambaran itu, bagiku sungguh tak ada masalah. Memang tak ada yang benar-benar baru di permukaan bumi. Lain dengan Tart di Bulan Hujan yang menyuguhkan cerita-cerita ringan, dengan tokoh-tokoh tahun 80-an yang mungkin terasa berjarak untuk dibaca hari ini. Kadang kau bisa mengerutkan dahi di akhir cerita atau sekadar tersenyum kecut saja.

Tambera[vi]. Ya, Tambera. Bagi sebagain orang mungkin cerita itu tak beda jauh dengan kisah Hanafi yang mencintai Corrie. Tambera mencintai Clara. Meski sedikit beda konteksnya, tetap cuma Minke yang bisa menikahi Annelies. Lain kali akan kutuliskan kisah itu secara terpisah.

Rasanya tak ada yang menyenangkan kecuali membaca novel sambil leyeh-leyeh di sofa. Begitulah kebanyakan novel-novel abad ke-19 diciptakan untuk membuat orang bersantai. Sekarang? Entahlah saya masih membaca sendirian. Kesel tenan padahal tak berpikir apapun. Mungkin kalau kau kembali ke kota ini, aku sudah tidak mengerti lagi apa yang kau bicarakan. Bacaanmu sudah tingkat dewa begitu, lokal-global begitu. Wuah, kamu keren sekali pasti. Dan barangkali kau akan menjumpaiku menjelma perempuan biasa-biasa saja, dengan legging bunga-bunga, yang sudah melupakan semua bacaan dan hanya suka menonton film yang sedang tayang di bioskop. Saat itu, kau dengan yakin akan mulai menjauh, kembali ke kota brengsek itu. Seperti itukah cara membuatmu meninggalkanku.   

Arrrrrggghhh...... Aku tak bisa menghubungimu. Frustasi sekali kalau begini. Kota itu, dan saudara Y yang terhormat memang brengsek sekali. Lebay, ah. Embohlah.

Kamar Kost, 19 Mei 2014




[i] Film yang dimaksud adalah sebuah dokumenter berjudul Derrida (2002), disutradarai oleh Kirby Dick dan Amy Ziering Kofman. Istilah tersebut dipakai sekenanya dalam tulisan ini.
[ii] Disutradarai oleh Jac Schaeffer, rilis pada tahun 2009.
[iii] Film yang disutradarai Ingmar Bergman. Film ini ditayangkan dalam bentuk mini seri televisi dan versi film panjangnya dirilis tahun 1974. Kalau kau lihat trivia di IMDb, setelah film ini tayang di Swedia, kasus perceraian meningkat tajam dan jumlah pasangan yang menggunakan jasa konsultan pernikahan meningkat pula dua kali lipat.
[iv] Kumpulan cerpen Bakdi Soemanto, Jakarta: Penerbit Buku Kompas (2014).
[v] Buku cerita Triyanto Triwikromo, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama (2014).
[vi] Novel karya Utuy Tatang Sontani, Jakarta: Balai Pustaka (2002).