Minggu, 20 Februari 2011

Obrolan Singkat Lewat SMS: Si Mbok dan Genduknya

Ini ceritanya Genduk baru dapat transferan dari Pak De. Si Mboknya ingin bisa merasakan rejeki anaknya. Tapi dasar si Genduk ini memang pelit. Padahal, meski cuma sebatang gincu pun Si Mbok sudah senang. Ia ingin bibirnya merekah merah sambil tersenyum untuk menyambut Genduknya jika pulang sewaktu-waktu. Suatu malam, Si Mbok mengirimkan SMS kepada Genduk.

Si Mbok: Nduk, Si Mbok sudah membelikanmu sprei, handuk, dan beberapa keperluanmu yang lain. Si Mbok senang kau sudah punya rejeki sendiri. Kali ini Si Mbok mau kau belikan apa?

Genduk: Mbok, apa to artinya hadiah dariku. Eling, Mbok. Materi itu hanya kosong.

Si Mbok: Si Mbok ingin kau mengerti diriku...

Genduk: Aku juga ingin Si Mbok mengerti diriku. Bekti iku ora kudu sarana materi.

Si Mbok: Aku ngerti, tapi bukankah selama hidup manusia masih butuh materi. Hidup tanpa materi itu mustahil.

Genduk: Makane, ora kleru to yen aku ngomong rasah njaluk materi saka aku. Njaluk kui neng Gusti Allah yo, Mbok...

Si Mbok: Dasar medit...dit....dit....dit...dit...dit....

Laporan Sepasang Mata: Pertunjukan Tumirah Sang Mucikari, Ada Teror dari Dalam Diri

Saya datang lagi membawa serangkaian cerita. Kali ini tentang sebuah pertunjukan Teater Koin FE UII Yogyakarta. Malam minggu masih kurang kerjaan. Akhirnya keluyuran sendirian dan berakhir di Taman Budaya seperti biasa. Tempat yang selalu memberikan energi bagi hati. Saya butuh seni untuk terus hidup.

Hujan deras sekali. Kata poster yang terpasang, pertunjukan akan dimulai jam tujuh malam. Sampai di sana masih sepi. Para aktor terdengar masih latihan di dalam. Saya celingukan sendirian mencari orang yang bisa ditanyai. Meja untuk tiket dan buku tamu masih kosong tanpa panitia yang menjaga. Wah, ini niat mau ada pertunjukan atau gak ya? Sampai akhirnya mereka muncul, eh aktornya ada yang ikut keluar juga. Aneh. Dan ternyata, panitia berkata bahwa tiket sudah terjual semua untuk pertunjukan malam ini. Kalau mau nanti ada tiket lesehan setelah semua penonton bertiket masuk dan harganya tetap sama. Apa mau dikata. Saya akan mencoba menunggu saja.

Ternyata ada pameran fiber art di gedung sebelah. Sekalian mampir saya pun melihat-lihat. Hujan masih deras. Sepertinya karya-karya di pemeran ini sudah ada yang pernah ditampilkan sebelumnya karena saya ingat betul masih menyimpan fotonya. Berkeliling sambil mengguman-gumam sendirian. Berkomentar tentang gambar-gambar unik yang mampu ditangkap mata. Salah satu karya yang menarik adalah Eruption. Jangan bertanya mengapa menarik, itu rahasia. Beberapa anak muda tiba. Berdiri di depan karya berwarna hitam seperti bayangan yang menempel tembok tampak dari belakang. Imajinasi mereka sampai pada sesosok bayangan yang dengan cepat bisa bergerak melompat-lompati dahan pohon seperti dalam cerita ninja. Anak muda itu pun berfoto sambil menirukan jurus ninja di komik Naruto. Jurus yang bisa mengendalikan bayang itu.

Sudah hampir jam delapan. Saya menerobos tirai hujan, pindah lagi ke gedung pertunjukan sebelah. Kata panitia lima menit lagi pertunjukan akan dimulai. Ternyata tiketnya masih ada. Cukup sepuluh ribu untuk tiket lesehan. Harga normalnya dua belas ribu lima ratus rupiah. Beruntung karena setelah masuk saya bisa tetap duduk di kursi. Memang masih banyak yang kosong. Siapa yang tahu kalau saya beli tiket lebih murah.

Sebelumnya, saya tak tahu apa dan darimana itu Teater Koin. Jujur saya tertarik nonton karena kepengen tahu bagaimana naskah Seno Gumiro Ajidarmo, Tumirah Sang Mucikari ini dipentaskan. Saya juga berkepentingan untuk menunggu Sukab muncul di panggung. Bertanya-tanya mau jadi apa dia kali ini karena saya belum pernah membaca naskah ini sebelumnya. Tapi, saya mengenal Sukab. Akhirnya, pertunjukan dimulai dengan setting sebuah rumah bordil di pinggir hutan. Setting waktu mungkin sekitar tahun delapan puluhan. Ketika (mungkin) pemerintah Orde Baru sibuk menghadapi pemberontakan dari daerah-daerah. Di rumah bordil inilah biasanya para tentara singgah, entah itu tentara pemerintah atau para gerilyawan. Tumirah nama mucikari di tempat itu. Di awal pertunjukan, para penonton pria sudah menelan ludah disuguhi gadis-gadis cantik berbusana seksi. Gadis sibelah beberapa kali membaca Istighfar, melihat anak-anak Tumirah berdialog sambil memamerkan pahanya. Total sekali meraka berakting sampai mungkin lupa dimana mereka kuliah. Hehehe...

Cerita berlanjut dengan munculnya sepasukan ninja. Mereka bertugas untuk menebar teror dan mengandu domba. That’s the politics. Saya tak akan banyak membahas ini karena mungkin sudah banyak yang membahasnya. Seni maupaun sastra yang mencoba untuk melakukan resistensi terhadap kekuasaan, kata Hidden Transcript-nya James Scott. Seni yang menyamarkan kejadian dan fakta. Tapi sayang, kemungkinan pesan penting ini kurang sampai. Sutradaranya belum terlalu lihai untuk menjelmakan naskah menjadi sebuah pertunjukan. Tumirah banyak juga melakukan monolog tapi mungkin juga tak sampai. Jangan tanya alasanya karena saya juga tidak tahu. Mungkin karena intonasi dialognya, atau cara penyampaiannya. Saya mengira pertunjukan ini akan lebih menarik kalau sutradara bisa menyelipkan lelucon yang bersifat menyindir. Ini bisa disampaikan oleh salah satu aktor. Pusat dari pertunjukan ini adalah Tumirah. Sementara Tumirah sendiri menurut saya kurang menarik perhatian. Maaf kalau saya terlalu banyak omong, padahal juga gak ngerti apa-apa.

Cerita detailnya bisa anda baca sendiri di naskah Seno. Saya sedang menunggu Sukab. Dan muncullah dia sebagai tukang obat kekasih Tumirah. Saya suka Sukab. Sayang ia hanya muncul sebentar kemudian ditangkap ninja. Suatu malam ia dibuang begitu saja di suatu kampung. Warga kampung itu langsung menggelar sidang rakyat dan membalas dendam terhadap Sukab. Badannya disilet-silet (pakai bolpoin bertinta cair berwarna merah). Lalu ditaburi garam dan jeruk nipis. Sukab mati. Tumirah menangis. Bermonolog. Dan begitulah ceritanya berakhir. Segala kejadian lewat. Intel bodoh datang. Mau ngamar sekaligus memata-matai para pelacur yang lebih pintar dari si intel. Segala kejadian lewat kembali. Rumah bordil tetap ramai dikunjungi, tentara pemerintah dan gerilyawan. Terbakar dalam pelukan Tumirah dan anak-anaknya. Aktor dan tokoh terbaik bagi saya tetap Sukab. Sekian.

Saya tak ingin banyak ngelantur tentang pertunjukan ini. Saya mau membuat cermin saja. Mata saya yang tadi menonton pertunjukan sudah selesai melaporkan hasil penglihatannya. Di setiap jeda, panggung gelap dan penata setting sibuk menggotong properti. Di jeda ini saya menerima laporan dari mata yang lain.

Begini laporannya. Di dalam diri saya sedang ada orang yang menebar teror juga. Orang ini sibuk juga mencari kambing hitam. Aksinya sudah lama dilakukan tapi begitu rapi hingga saya tak bisa merasakan perubahan apa-apa. Sering kemudian saya menyalahkan diri sendiri. Dengan begini, misi dari si penebar teror ini telah berhasil. Diri saya sudah menjadi kambing hitam atas apa yang dia lakukan. Kata mata yang lain itu, ini soal cinta. Tapi kenapa saya yang jadi korbannya. Berarti ini bukan soal cinta. Si mata yang lain salah melakukan identifikasi dan analisis.

Lelah sudah saya jadi kambing hitam. Si penebar teror ini bekerja dengan jaringan yang mungkin lebih kuat dari diri saya. Saya tahu mereka banyak. Penebar teror itu juga diri saya sendiri, yang menjadikan saya seperti dikejar-kejar dosa. Saya tahu saya lemah dan begitu kecil, ringkih. Meraka itu kuat. Saya adalah sepasang mata buta yang harus digendong kemana-mana. Saya yang menunjukkan jalan dan merekalah yang berjalan. Tapi, kadang mereka ini bisa menindas saya meskipun seharusnya sayalah penguasa sebenarnya. Dengan kejam mereka bisa menindas saya sampi tandas. Habis sudah tak bersisa. Menjadi redup. Kehilangan jalan.

Si penebar teror itu. Dia juga yang menjadikan saya sering merasa lelah tapi tak bisa melepaskan sesuatu itu dari dalam sini. Baiklah. Saya mengaku saja. Saya takut tidak dicintai. Sampai saya mengorbankan diri saya sendiri agar tetap dicintai. Ini salah, bukan? Saya suka sekaligus takut sendiri. Saya tenang sekaligus gelisah dalam diam. Membunuh peneror itu tidak akan ada artinya. Mungkin saya bisa mengendalikannya, tapi bagaimana caranya? Itu akan saya pikirkan nanti.

Hal yang lebih penting sekarang adalah mencari Sukab. Barangkali dia tahu jawabannya. Dia sudah banyak melakoni hidup menjadi apapun dalam cerita. Dimana saya bisa menemukan Sukab? Apakah ada yang tahu? Di pertunjukan ini dia sudah mati di pangkuan Tumirah. Saya mau mencari Sukab. Di luar masih gerimis. Sengaja saya pulang dengan memanggul titik-titik hujan. Sukab bisa siapa saja. Siapa saja bisa memberi jawaban yang sudah disiapkan untuk saya. Kemudian, semua akan dikembalikan pada saya. Saya tak mungkin bisa membunuh peneror itu selama saya hidup. Tapi mengerikan kalau peneror itu sampai melahirkan Sarpakenaka dalam diri saya. Akan ada perang yang tak pernah berakhir. Saya harus menemukan Sukab.

Dialog Nglantur

H: Ketika akhir hari sampai pada hitungan menit. Dan perkenankan Heru untuk berpamit dalam kelelahan diri. Moga esok kita bisa bersahabat dengan hari. “met bubuk sweety”

R: Hey, ada berapa wanita yang kau kirimi sms macam begitu? Lama sudah aku tak bikin puisi. akhir-akhir ini begitu banyak sesak memenuhi otak. Dan kau tahu, aku ingin membunuh seseorang di kepala ku. Dari dulu dia itu tak mau pergi-pergi juga. Kalau kau tahu cara membunuhnya, tolong beritahu aku ya...

H: Karya ini terlalu mubadzir untuk kunikmati sendiri, maka biar para wanita mencicipi colekan puisi penghantar mereka terlelap senyap. Diriku juga lama koma dari berimajinasi dengan puisi, karena hati ini sudah beku oleh luka-luka baru. Kau tanya aku tentang menghapus orang yang ada di kepalamu, sedangkan orang di kepalaku memaksaku untuk bisu.

R: Aku tanya kau betulan. Kenapa jawabanmu seperti itu? Aku benar-benar ingin membunuhnya. Atau aku harus meminta orang di kepalamu agar tak membisukanmu?

H: Karena aku tak berpengalaman melupakan seseorang. Membunuh perasaan saja butuk waktu yang tak singkat. Tapi intinya sebuah proses, ya pelan-pelan saja!

R: Ah, kalau cuma nasihat begitu sudah sangat sering kudengar. Aku butuh cara cepat dan instan. Tapi ya sudahlah, selamat malam saja. Selamat tidur juga. Itu ada seseorang di kepalamu yang sedang menanti kau selimuti dengan puisi.

H: Met tidur kembali

Setelah percakapan bodoh ini. Orang di kepalaku semakin menjengkelkan. Sudah lama dia seenaknya tinggal dikepalaku tanpa uang sewa. Dia itu bisa saja sekali waktu bersantai di cabang-cabang neuron otakku. Menganggapnya cabang pohon, dia bisa duduk sambil memainkan game dalam telepon genggamnya. Bersandar dengan menekuk ke atas kaki kirinya dan kaki kanannya akan dinaikkan ke atas lutut kaki kiri. Begitu setiap hari sambil bersiul-siul tak jelas, sambil asyik mendengarkan musik. Bahkan seenaknya saja meminum cairan otakku ketika haus. Suatu kali pernah juga hampir menghancurkan otak kiriku sampai aku tak bisa berpikir dengan logika. Seperti orang bodoh aku menuruti maunya meski semua menentang apa yang kulakukan. Suatu kali pernah juga ia begitu saja membuka pakaiannya dan berbaring di atas lobus optical sampai aku hampir membentur pintu ketika berjalan. Dia malah dengan santainya mengipas-ngipas badannya yang kepanasan, berjalan mondar-mandir sibuk menukar isi otak kecil dan menggantinya dengan rekaman suaranya.

Aku tak bisa mengusirnya. Setiap ia pergi justru aku yang kebingungan mencari. Ia sering mencuri sedikit demi sedikit bagian di otak kananku. Aku sampai beberapa hari tak bisa berimajinasi. Ini seperti membunuhku perlahan-lahan. Lebih menyakitkan ketika sedikit demi sediikit otakku hancur. Ia mencecap sungsum di medula oblongata. Aku hampir tak bisa bergerak lagi. Seperti orang bodoh tak bisa berpikir apa-apa selain dia. Tapi aku tak bisa mengusirnya. Dan karena itu aku ingin membunuhnya. Sekarang dan saat ini juga. Tapi bukankah ketika aku membunuhnya aku akan mati juga. Entahlah. Aku hanya butuh cara paling tepat. Bantu aku kalau kau bisa.

Sabtu, 22 Januari 2011

Sekadar Bercerita: Babad Kamanegara dari Mata Seorang Penonton Buta

Malam ini di Purna Budaya UGM, setelah sekian lama tak menonton pertunjukan macam begini, akhirnya saya kembali bisa menikmati pertunjukan kethoprak futuristik dari Sastra Budaya FIB. Yang beda, kali ini saya berangkat dengan sepeda motor, bukan ngonthel seperti yang sudah-sudah. Yang sama, saya tetap sendirian. Tapa ngrame, tak kenal satu orang pun dan tak ada seorangpun yang mengenal saya. Menikmati keterasingan di tengah tawa, dengung mereka yang bicara sebelum pertunjukan dimulai dan perasaan-perasaan aneh yang begitu saja muncul tanpa diketahui macamnya. Pertunjukan kembali menggali tema tentang kekuasaan. Kali ini disajikan dalam bungkus humor segar dan konsep kethoprak modern.

Seorang sinden berkerudung dan berkebaya merah hati memasuki panggung. Duduk bersimpuh di tangga pertama sebelum mencapi panggung. Ini sudah terasa aneh. Lalu dimulailah tembang. Sebuah suluk pembuka entah apa namanya. Damar menyala berkedip-kedip. Bayangan wayang yang saya tidak tahu itu tokoh siapa muncul di layar. Tembang terus terlantun dan damar pun perlahan padam. Panggung kembali gelap. Beberapa saat kemudian, musik yang hingar bingar dari band pengiring pertunjukan diperdengarkan. Katanya ini adalah Kethoprak Lesung, tapi hanya ada satu lesung yang ditabuh dan tak terdengar. Bunyi kayu yang saling beradu tenggelam dalam deru pukulan drum dan petikan gitar elektrik. Jujur saya sedikit kecewa, berharap akan ada gemelan yang menyertai. Tembang yang tadi terlantun tak juga terasa menggetarkan sebagai sebuah pembuka pertunjukan. Dan berikutnya akan lebih banyak lagi yang terasa aneh.

Ki dalang, seorang bertubuh besar yang memakai rompi merah itu duduk bersila di samping para pemain musik. Dengan mikropon di dekat bibirnya, mulailah ia bercerita. Inilah kisah tentang para penguasa. Para penguasa yang hanya bisa saling berebut kekuasaan tanpa memperhatikan rakyatnya. Konon, masa depan akan kembali sepertihalnya masa lalu dengan banyak kerajaan-kerajaan berdiri. Inilah sebuah cerita tentang Kerajaan bernama Kamanegara.

Kerajaan Kamanegara berdiri tepatnya di tahun 2222, kalau saja dunia tidak keburu hilang ditelan kiamat. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja bernama Garuda Wuruk. Seorang raja yang hanya mementingkan kesenangan dirinya. Negaranya telah digadaikan kepada para pengusaha untuk dibangun mal, banyak pabrik, perusahaan, apartemen, dan sebagainya. Bahkan, penggunaan lahan untuk pemakanan sangat dilarang di negara ini. Rakyat digusur, sengsara tiada tara. Mereka tinggal di area pemakaman yang sebentar lagi juga akan digusur.

Sementara itu, para pejabat kerajaan justru merancang sebuah konspirasi untuk menggulingkan raja, tepat di ulang tahun kerajaan ke-500. Mereka berencana untuk memfinah Patih Gajah Agni. Setelah Si Patih mati, maka mereka dengan mudah akan dapat menggantikan posisi raja. Di lain pihak, rakyat sudah tidak tahan dengan kepemimpinan raja dan terus saja melakukan demonstrasi menentang kebijakan-kebijakan raja.

Kira-kira begitulah ceritanya. Tema kekuasaan memang tak pernah dingin, selalu hangat untuk dibicarakan. Para mahasiswa ini dengan lihai menggunakan tema ini untuk diangkat sebagai sebuah seni pertunjukan. Pada bagian awal memang sedikit membosankan dan terasa aneh. Melihat kethoprak tapi dengan gaya penampilan para pemainnya yang aneh. Make up-nya aneh-aneh pula, dengan mengenakan asesoris yang juga aneh. Musiknya juga tidak terlalu mendukung pertunjukan. Musik dari band modern ini kurang bisa ikut menjadi bagian dalam menciptakan suasana. Hal menarik yang justru saya perhatikan adalah komentar orang-orang di belakang saya. Aneh-aneh saja pokoknya celetukan yang terdengar dari mereka.

Setting panggungnya cukup menarik, digambarkan gedung-gedung bertingkat. Sebuah singgasana berwarna coklat muda, lebih mirip seperti kursi pak bos yang bisa berputar-putar itu. Ada kursi panjang di tepi. Kotak kayu mirip loker terpasang juga di tepi panggung dengan warna-warni. Loker itu katanya adalah penyimpan jenazah karena memang jenazah tak boleh lagi dikuburkan di dalam tanah. Katanya ada arwah gayus yang mati karena disengat lebah, lalu Bakri yang mati karena tersedak dawet, juga beberapa jenazah yang saat ini masih menjadi orang penting di negeri ini.

Meski masih menggunakan fondasi cerita yang berkisah tentang kerajaan, pertunjukan kali ini banyak kehilangan unsur tradisi. Unsur yang lekat dengan kethoprak sebenarnya tidak perlu dihilangkan sebanyak itu dan diganti dengan banyak sekali unsur modern. Ada tarian break dance dari para mahasiswi cantik di adegan ulang tahuan kerajaan. Dialek Jawa memang masih kental muncul dari dialog para pemian tapi tentu tidak semua. Humor yang dilontarkan dan mengundang tawa sebagian adalah humor yang saru, sebagian adalah yang mengkritik pemerintah dan hanya itu. Jayus tapi kadang lucu.

Dari segi keaktoran, memang tidak terlalu terlihat total seperti dalam sebuah teater. Beberapa aktor mampu memainkan karakternya dengan cukup baik. Salah satunya adalah penjaga makam, seorang laki-laki yang berperan sebagai perempuan paruh baya. Fotonya dipasang di nisan-nisan kuburan yang dijaganya dan menjadi bahan membuat guyonan. Kemudian adalah istri raja. Dengan cukup baik ia mampu menjalankan peran sebagai perempuan yang berkuasa dan terlihat tidak canggung di atas panggung. Dandanan anehnya pas dengan karakternya yang culas itu. Sayang sekali pesta ulang tahun kerajaan yang telah dipersiapkannya selama tiga bulan harus batal karena demontrasi.

Tokoh yang paling saya sukai di pertunjukan ini adalah Patih Gajah Agni. Dari celetukan penonton dan juga beberapa pemain, katanya dia ini anaknya Marwoto, pemain srimulat dan kethoprak itu. Benar tidaknya saya juga tidak tahu. Barangkali juga benar karena; satu, bakat bapaknya kemungkinan besar memang menurun ke anaknya. Dua, karena gigi mereka sama-sama selonjor-nya. Beberapa pemain kadang jayus membuat lelucon tapi Patih gajah Agni ini benar-benar bisa membuat saya terpingkal. Juga, kacamata dan sedikit gesturnya yang mengingatkan saya pada seseorang. Ah, di sini hanya ada banyak anak muda. Kisanak itu tidak ada di sini.

Selalu beginilah kisah kekuasaan. Para penguasa saling berperang, rakyat kecil tak dihiraukan. Negara hanya menjadi sebuah istilah saja. Orang-orang sibuk dengan kepentingannya. Dan saya malah bermimpi ketika duduk melihat pertunjukan ini. Para pemain berganti rupa. Para pemain berubah wujud. Para pengusaa itu menjadi raksasa menelan rakyatnya. Keributan dan kerusuhan mewujud dimana-mana. Dan di dalam chaos seperti apapun bentuknya tentu masih ada cosmos (keteraturan). Seperti di telan jauh ke kedalaman suluk. Saya tenggelam. Tenggelam begitu dalam. Barulah saya tersadar setelah seseorang dengan kamera mahal di tanganya mendesak saya untuk sedikit minggir agar ia bisa membidik gambar dengan tepat. Saya terbangun di tengah keramaian dan huruk-pikuk tawa para penonton. Semula, saya mengira telah menghilang begitu saja.

Adegan terakhir yang saya nikmati adalah ketika Patih Gajah Agni berperang melawan orang-orang yang menfitnahnya. Karena bernama Agni yang berarti adalah api, maka ia akan kalah apabila terkena air. Dimulailah adegan konyol sembur-semburan air antara mereka yang berperang. Semua penonton terbahak. Hujan diluar tak terdengar dan terasakan. Ternyata telah reda. Saya harus segera kembali ke kost sebelum tak dapat pintu. Maaf bisa saya tak bisa melanjutkan ini cerita. Barangkali, cerita ini akan berakhir dengan munculnya seseorang yang bisa Mbabad kembali Kamanegara. Meletakkannya kembali dalam pusaran Cakra Manggilingan. Menemui kejayaan kemudian setelah kejatuhannya. Barangkali semua akan berakhir menjadi sebuah cerita sederhana, berakhir bahagia.

Apa yang saya tulisakan ini adalah kesan, dari seorang penikmat pertunjukkan buta. Tak tau mana yang benar-benar baik atau kurang baik. Ketika saya mengatakan aneh atau apapun tentang para pemain, sekali lagi ini adalah kesan. Semoga tidak ada yang tersinggung. Toh, aneh juga adalah bagian dari kreativitas yang saya sungguh sangat apresiasi. Masih lebih baik daripada saya yang hanya bisa menikmati kemudian mengomel tak jelas begini. Terimakasih telah menghibur saya malam ini.

Purna Budaya, 21 Januari 2011

Sabtu, 08 Januari 2011

Tarian Kehidupan Para Seniman Indramayu

Sore yang kebetulan tak hujan. Dalam senja, mengayuh sepeda kembali setelah sekian lama tak dilakukan ternyata lumayan menyegarkan. Selalu banyak hal bisa dilihat sepanjang jalan. Kehidupan, keruwetan, kesumpekan dan sepanjang jalan Maliboro yang macet karena kelihatannya mau ada pawai budaya. Senang sekali Jogja akhir-akhir ini mengadakan kirab budaya. Pun begitu, sepeda saya bisa menyusup diantara para mobil angkuh, motor, dan bus kota. Akhirnya sampai juga di taman Budaya. Kabarnya sedang ada acara digelar. Benar saja. Sampai di sana para pemain Jaran Thek Ponorogo sedang beraksi. Menari-menari sampai kemudian ndadi alias kesurupan. Mereka makan beling dan arang kesukaan, dicambuki dan adegan-adegan mengerikan semacamnya.

Acara ini merupakan publikasi hasil penelitian “Revitalisasi Seni Tradisi dan Pertunjukan Lokal di Indonesia” dengan program “Anak Muda dan Seni Tradisi” yang digagas oleh Ford Foundation. Begitulah yang tertulis di bukletnya. Sementara mereka sedang asik makan arang, saya mencoba berkeliling sebentar. Sudah lama saya tak menyambangi tempat ini karena berbagai kesibukan yang sebenarnya tidak menyibukkan. Kembali bisa melihat wajah-wajah seniman Jogja. Rambut mereka masih gondrong saja. Terlihat beberapa wajah yang tak asing. Tapi saya mencoba untuk tak terlihat. Karena memang begitulah. Saya tak suka kelihatan. Saya selalu bisa mengenali mereka dan tak satu pun dari mereka yang mengenali saya.

Di pojokan ada tubuh mungil Gunawan Maryanto yang menggendong tas ransel besar di punggungnya. Ada pembaca puisi juga. Kalau tidak salah namanya Kedung Dharma Romansha. Dan yang kelihatan gelungannya itu pastilah Wangi Indriya, si penari topeng dari Indramayu itu. Saya pernah melihatnya nyinden dan menari di salah satu pertunjukkan teater Garasi. Bikin merinding melihat kombinasi gerakannya yang gagah dan suara khas tembang. Beberapa lagi saya tidak tahu namanya tapi sering muncul juga di acara-acara begini. Saya hanya sendirian jadi lebih baik menjadi tak kelihatan. Ini lebih mengasyikkan. Menjadi yang tak dikenali orang.

Para pemain yang kesurupan sudah kembali setelah raganya dipinjamkan. Acara dilanjutkan dengan pembukaan. Basa basi dari presenter yang kukenali dulu pernah mengisi acara juga. Berikutnya adalah pertunjukan Tari Topeng dari Indramayu. Saya kira akan kembali melihat Mbak Wangi Indriya menari. Eh, yang muncul ternyata dua keponakannya yang berumur sekitar 14 tahun, laki-laki bernama Viki dan perempuan bernama Dadem. Mengesankan lagi. Keduanya dengan gemulai membawakan karakter topeng berwarna merah itu. Setelah tarian selesai, para penonton dipersilakan untuk menonton film dokumenter dari kesenian yang telah dipertunjukkan. Saya cuma sempat melihat film dokumenter tentang Sanggar Mulya Bhakti pimpinan Pak Taham yang adalah bapaknya Mbak Wangi.

Seharusnya bisa melihat sendiri film dokumenternya. Kurang seru kalau saya yang bercerita. Tapi entah kenapa melihat kisah Sanggar Mulya Bhakti ini hampir menjebol bendungan di kelopak mata. Sanggar ini didirikan pada tahun 70-an. Mengalami banyak masa pasang surut hingga berdiri sampai sekarang. Bahkan, bangunannya pernah roboh untuk kemudian bisa berdiri kembali dengan bantuan dana kemanusiaan Kompas. Sanggar non profit inilah ladang tumbuhnya para seniman Indramayu yang dimotori Pak Taham, anak-anaknya sampai generasi ketiga yaitu para cucunya.

Melihat film ini seperti melihat mimpi. Mimpi saya sendiri. Saya pernah mimpi menari dikelilingi lilin-lilin menyala. Mabuk dengan aroma ratus dan dupa. Sering juga saya mimpi jadi penyair setengah gila yang melakukan perjalanan dari kota ke kota. Perjalanan dalam kereta, bisa kota atau sekdar berjalan kaki menuju tenggelamnya matahari. Sebuah perjalanan untuk mencari. Keinginan ini tak pernah sampai. Saya terpenjara oleh rutinitas dan kenormalan hidup seperti sekarang. Terpenjara kefanaan dan nafsu sebagaimana kehidupan orang kebanyakan. Sekolah sampai lulus kuliah, tapi malah nganggur tanpa kerjaan. Ini seperti sisi kehidupan yang kuinginkan. Berjuang dalam berbagai kesulitan hidup hanya untuk menghidupkan seni.

Dari ladang pasangan seniman di Indramayu itu, tumbuhlah bibit-bibit seniman macam Mbak Wangi bersaudara, yang tak pernah layu sampai generasi ketiga. Keluarga ini ada yang menjadi dalang, sinden, pengrawit dan penari topeng. Semua bisa. Dan para seniman ini memang tak pernah manamatkan pendidikan formal mereka. Mbak Wangi juga ternyata tak tamat SMA. Seni adalah nasi buat mereka, menjadi menu makanan sehari-hari. Pagi ke sekolah, setelah itu masih harus ke ladang atau sawah untuk membantu orang tua. Malam baru mengecap latihan yang keras dari Pak Taham. Prestasi di sekolah menurun drastis dan akhirnya memutuskan untuk tak melanjutkan. Selain itu, tuntutan ekonomi para pekerja seni ini memaksa salah satu saudara Mbak Wangi menjadi TKW di Kuwait dan Abu Dhabi. Modernisasi juga menjadi salah satu lawan kuat dalam perkembangan seni di Indramayu. Hadirnya Orkes Musik Dangdut dan Organ Tunggal turut menggerus pendapatan para seniman.

Kalau dilihat foto jaman dulu ibu saya, kalau tak salah dia juga penari, sama dengan budhe. Di Foto itu, Ibu mengenakan kostum tarian “Gatotkaca Gandrung” dengan pose gerakan gagah. Tapi akhirnya mereka juga jadi pegawai negeri. Seninya dipakai untuk mengukir saya dan kehidupan kami sehari-hari. Ah, dia juga seniman. Berbeda sekali sama Viki dan Dadem, dua penari topeng yang sudah mempertontotan kebolehannya tadi. Sejak kecil mereka sudah bertekad untuk menjadi penari. Tak mau jadi pegawai negeri yang dibilangnya ruwet itu. Ketika mereka gemulai menarikan Tari Topeng itu, saya sendiri sibuk sembunyi di balik topeng. Kelana sendirian. Hidup makai topeng tak pernah lepas dari kemunafikan. Menjebakkan kehidupan pada segala yang hanya permukaan.

Seni tak akan pernah mati. Ada semacam dorongan kuat dari para orang tua untuk tetap memasukkan anak-anak mereka ke Sanggar. Inilah yang membuat semangat untuk berkesenian tak pernah padam. Ibu-ibu dari kalangan bawah merasa perlu memasukkan anaknya ke Sanggar karena dorongan bahwa dengan menari pun anak-anak mereka bisa ke luar negeri seperti Mbah Wangi. Bisa ke Jepang dan keliling ke berbagai kota di Indonesia. Mereka masih percaya bahwa seni bisa menjadi sandaran hidup untuk anak-anak mereka. Sedangkan para orang tua dari kalangan menengah ke atas merasa perlu membekali anaknya dengan seni sebagai suatu penyeimbang. Anak mereka tidak hanya disibukkan dengan berbagai les seperti bahasa Inggris, Matematika, dan sebagainya. Tapi, juga mengenalkannya pada seni untuk yang bisa menyentuh dan menjadi penyeimbang hati.

Kalau bisa terus diregenerasi macam begini tentu seni bisa kembali dihidupkan kembali. Lebih riuh dari sebelumnya. Berjuang melawan sekaligus mengalir bersama zaman yang semakin edan. Masih banyak yang bisa diceritakan dari seni indramayu ini. Tak cukup bila hanya dilukiskan lewat coretan pendek saya. Inilah kisah perjalanan yang dikemas dalam film berjudul “Years of Living Artistically”. Sebuah film tentang perjalanan, benturan nasib dan dan seni dengan segala bentuk proses menjadinya.

Gelap mulai turun. Saya tak bisa menamatkan pemutaran film berikutnya tentang komunitas Ho’e yang suka makan arang tadi. Katanya, mereka tak hanya berkesnian tapi anak muda di kampung mereka sudah berhasil menginisiasi berbagai macam kegiatan kreatif desa. Sudah ya, saya pulang dulu. Roda sepeda menggelinding berputar menekan jalanan. Hidup saya kembali menyala. Saya menikmati setiap keterasingan. Dan saya membenci kesunyian ketika tak sedang bersama tuhan. Ah, semoga besok bisa kembali ke sini dan bercerita hal lain lagi.

7 Januari 2011 @ TBY, Jogja Broadway

Kamis, 16 Desember 2010

Gerakan Civil Society dalam Diskursus Penetapan Sultan DIY

Revitalisasi civil society menjadi prakondisi untuk menguatkan demokrasi di Indonesia. Sejak Orde Baru, gerakan masyarakat sipil muncul sebagai ekpresi dari otoritarianisme negara. Gerakan ini sebagian besar merupakan resistensi terhadap berbagai kebijakan negara. Pemerintah menjadi common enemy bagi gerakan masyarakat sipil sehingga di satu sisi hal ini menjadi hal yang bisa menjadi arah tujuan bagi gerakan-gerakan tersebut. Pasca Orde Baru, pintu demokrasi mulai terbuka. Pemilu sebagai salah satu tiang demokrasi prosedural dapat dilaksanakan dengan lebih demokratis. Gerakan masyarakat sipil kembali mencari bentuk ketika kehilangan common enemy-nya. Beberapa diantaranya bergerak untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dan advokasi. Beberapa lagi masih setia sebagai gerakan untuk menentang kebijakan-kebijakan pemerintah. Sedangkan yang lainnya, terfokus pada isu-isu seperti lingkungan, kebudayaan, pendidikan, dan sebagainya.

Dalam hubungan dialektika antara negara dan masyarakat, civil society menempati suatu posisi yang menentukan. Ketika masyarakat mampu melampaui pengawasan dominasi negara dan menjadi lebih mandiri, maka prospek demokratisasi dapat lebih terbuka. Dalam situasi saat ini, hubungan antara negara dan masyarakat cenderung lebih simetris. Bahkan, untuk beberapa kasus menunjukkan bahwa hubungan antara weak state and strong society, negara lemah dan masyarakat lebih kuat. Hal ini membuka peluang masyarakat untuk mengontrol persoalan-persoalan politik mereka. Negara pada saat ini telah mengalami krisis legitimasi sebagai akibat kebijakan-kebijakan yang tidak dapat mengakomodasi kepentingan rakyat banyak. Negara selalu mendapat kritikan untuk banyak masalah yang berhubungan dengan hak-hal asasi, partisipasi masyarakat, perwakilan, keadilan, pemerataan ekonomi dan sebagainya. Semakin jauh negara mengabaikan permasalahn-permasalahn tersebut, keabsahannya akan dipertanyakan dari waktu ke waktu (Hikam, 1996:123).


Diskursus penetapan Sultan di DIY sebagai runtutan dari tahapan pembahasan RUUK menjadi salah satu kasus menarik untuk melihat bagaimana perkembangan civil society dalam pembangunan demokrasi. Eksistensi Yogyakarta sebagai daerah istimewa salah satunya disimbolkan dengan Sultan yang sekaligus ditetapkan sebagai Gubernur. Wacana mekanisme pemilihan Gubernur DIY sebagai salah satu bagian dari RUUK menuai protes dibanyak kalangan. Tensi politik cenderung memanas di DIY dengan banyaknya gerakan demontrasi dari berbagai elemen masyarakat yang mendukung penetapan.

Kasus ini dapat dibaca sebagai bentuk menguatakan civil society di aras lokal. Pisau analisis Chandoke terkait dengan persyaratan munculnya civil society pada saat ini relatif sudah terpenuhi. Keterkaitan fungsional antar elemen yang menyusun sistem politik di aras lokal sudah mulai tampak. Forum-forum representatif dari civil society yang menjadi ajang diskursus kritis yang bersifat sebagai counter balance terhadap negara telah ada (Suwondo, 2003: 182).

Isu penetapan Sultan sebagai gubernur DIY merupakan suatu pemantik bagi kebangkitan civil society di Yogyakarta. Lingkungan Kraton dengan pola-pola kekuasaan patront-klien di dalamnya ternyata justru bisa membangkitkan model demokrasi yang partisipatif di kalangan masyarakat. Nilai dan kesetiaan masyarakat Jogja terhadap eksistensi Kraton dalam hal ini dapat membentuk suatu gerakan masyarakat untuk terlibat dalam pengambilan keputusan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini memberikan suatu nilai positif bagi perkembangan dan pembangunan demokrasi di lingkungan Kraton Yogyakarta.

Aksi masyarakat Jogja untuk mendukung Penetapan Sultan didukungg oleh berbagai elemen masyarakat. Berbagai elemen yang mendukung penetapan Sultan sebagai Gubernur antara lain adalah Paguyuban Kepala Desa se-Yogyakarta, Paguyuban Kepala Dusun se Yogyakarta, Paguyuban Tukang Becak dan Wisata se Yogyakarta, Forum Komunikasi Seniman se-DIY. Paguyuban Tri Dharma, Pemalni, Komunitas Juru Parkir, Patma, Handayani, Pamarta, Paguyuban Pedagang Lesehan Maliboro (PPLM), Paguyuban Pengusaha Malioboro (PPM), dan Paguyuban Pengusaha Ahmad Yani (PPAY) tak mau ketinggalan beraksi. Para pedagang, tukang becak, juru parkir hingga mahasiswa juga akan memenuhi kantor DPRD. Bahkan, janda-janda yang tergabung dalam Persaudaraan Janda-janda Indonesia (PJJI) pun berdemonstrasi.

Selebihnya, apabila menilik berbagai unsur masyarakat yang terlibat dalam aksi menuntut penetapan Sultan sebagai Gubernur DIY, dapat dikatakan bahwa sebagian besar dari mereka adalah elemen masyarakat di aras lokal. Sebut saja Paguyuban Kepala Desa dan Dusun se-DIY. Munculnya dua paguyuban tersebut dapat menjadi refleksi bahwa sistem politik di tingkat lokal dapat berjalan secara fungsional. Meskipun belum dilacak lebih jauh bagaimana pengorganisasian dua bentuk paguyuban ini, setidaknya aspirasi masyarakat di aras lokal sudah berani muncul dipermukaan. Sangat memungkinkan masih adanya elite capture dalam pengorganisasian dua paguyuban tersebut. Namun, ketatnya kontrol dari masyarakat dapat membuka peluang peluang mekanisme pengorganisasian yang lebih terbuka dan partisipatif.

Salah satu kasus yang tampak adalah bentuk dukungan berupa pengibaran sekitar kurang lebih 15.000 bendera Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dikibarkan di sepanjang ruas jalan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bendera tersebut dikibarkan oleh masyarakat setempat sebagai dukungan klausal penetapan keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bendera tersebut berlatar kain warna putih dengan lambang kraton `Hanggobo berwarna kuning yang pada bagian bawahnya tertera tulisan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ukuran sekitar 70 centimeter kali 40 centimeter yang dipasang diujung bambu runcing sebagai tiang pengibarnya.

Ketua Paguyuban Lurah Gunung Kidul, Suparno menyampaikan bahwa bendera-bendera tersebut berasal dari swadaya masyarakat dan sudah mulai didistribusikan untuk dipasang sejak Senin, 12 Desember 2010. Suparno mengatakan, jika pemerintah pusat tetap ingin mengubah keistimewaan DIY yang salah satunya dengan tidak menetapkan Sri Sultan Hamengkuwono X dan Sri Paduka Pakualam IX sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, dirinya bersama dengan elemen masyarakat lain siap melakukan penetapan sendiri. Sementara itu salah satu warga Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, Bambang Waluyo mengatakan mendapatkan bendera Kraton dari kepala dusun sebagai bentuk dukungan untuk penetapan Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Dari Kasus di atas, dapat dikatakan bahwa elit politik lokal mempunyai peranan penting untuk menggerakan inisiatif warga dalam rangka ikut ambil bagian dalam partisipasi politik. Di aras lokal dengan warna masyarakat yang masih kental dengan budaya Jawa, munculnya elite lokal sebagian besar merupakan tokoh yang dapat diteladani oleh masyarakat. Oleh karena itu, elit lokal dituntut untuk terus menerus menjadi wadah bagi masyarakat sekaligus menjalankan fungsi intermediari untuk menyalurkan aspirasi tersebut. Seorang Kepala Dusun ataupun Kepala Desa di Gunung Kidul mampu menggerakkan warganya untuk secara swadaya menunjukkan dukungan mereka terhadap penetapan Sultan melalui pengibaran bendera Kraton. Sebaliknya, proses ini juga perlu diwaspadai karena keberadaan elite lokal juga sangat rentan ketika ia justru menggunakan basis legitimasinya dimasyarakat untuk melakukan mobilisasi demi kepentingan pribadi.

Gerakan civil society melalui aksi masyarakat Jogja mendukung penetapan Sultan sebagai Gubernur dalam kacamata demokrasi bukan berarti tidak mendukung bentuk demokrasi prosedural melalui pemilihan. Namun, hal ini justru telah menunjukkan bentuk demokrasi karena merupakan kehendak sebagian besar masyarakat Yogyakarta. Demokrasi dalam kasus ini dapat dilihat secara lebih dalam sebagai bagian dari demokrasi substansial.

Permasalahan yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah bagaimana melakukan pelembagaan terhadap potensi civil society yang cenderung menguat seperti yang terjadi di Yogyakarta. Gerakan mereka pada tingkat tertentu telah berhasil membuat DPRD DIY sebagai representasi rakyat Jogja untuk menyetujui mendukung penetapan Sultan sebagai Gubernur. Menguatnya civil society di DIY dikhawatirkan hanya menjadi aksi yang akan terjadi dalam kasus-kasus tertentu saja dan bersifat temporal. Sangat memungkinkan ketika gerakan masyarakat tersebut kemudian menghilang apabila Pemerintah Pusat sudah mengakomodasi keinginan mereka dalam pembahasan RUUK.

Civil society dalam hal ini tidak hanya harus menguat pada masa atau untuk kasus-kasus tertentu saja. Segala unsur yang dapat membangkitkan atau menguatkan civil society perlu memikirkan mekanisme untuk melakukan pelembagaan agar potensi demokrasi dalam masyarakat dapat dikembangkan dalam segala kondisi. Aktor-aktor seperti elit politik lokal, dukungan dari para intelektual, LSM, bahkan pemerintah sendiri diperlukan untuk mengawal potensi civil society agar tetap menjadi pilar bagi pembangunan demokrasi.

Tujuan akhir dari pemberdayaan politik arus bawah adalah untuk memperkuat rasa kemandirian dan mendorong pengembangan diri masyarakat, yang pada gilirannya memungkinkan mereka untuk lebih menyadari akan hak-hak budaya, ekonomi, dan politik mereka. Kesadaran politik semacam ini sangat penting dalam mengarahkan perjuangan mereka pada pemenuhan pertisipasi politik secara penuh sebagai warga negara (Hikam, 1996: 130). Proses yang terjadi di Yogyakarta dapat ditindaklanjuti dengan melakukan pemberdayaan politik arus bawah. Fenomena ini jangan sampai hanya menjadi semacam euforia politik sesaat dari masyarakat. Meskipun berada di bawah struktur Kraton, masyarakat Yogyakarta memiliki potensi untuk menjadi bagian dari civil society dalam mengawal proses demokratisasi di Indonesia.

Mencoba Mengaitkan Civil Society dan Sultan Ground dalam Kerangka Teoritis Chandoke

Civil society dalam konsep Chandoke yang berkorelasi dengan demokratisasi berusaha untuk menggeser perspektif state center ke society centre dimana masyarakat mampu mengorganisasi diri dan terbebas dari intervensi negara. Konsepsi Chandoke tersebut kemudian digunakan untuk melihat relasi antara masyarakat DIY dalam kaitannya dengan penggunaan Sultan Ground. Sultan Ground sendiri secara singkat merupakan tanah milik Sultan yang bisa digunakan oleh masyarakat dengan segala macam pengaturannya setelah menerima Surat Kekancingan dari Kraton.

Civil society di sini dapat dimaknai sebagai nilai maupun institusi. Sebagai nilai, dalam konsepsinya, civil society harus memiliki beberapa karakter, pertama adalah adanya partisipasi politik, pertanggungjawaban negara dan publisitas dari politik. Yogyakarta sendiri terkenal memiliki ciri khas budaya masyarakat yang masih dipengaruhi oleh tradisi mataraman. Budaya masyarakat tersebut telah terinternaliasasi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dan sebagian masih dipertahankan sampai sekarang. Struktur masyarakat di Yogyakarta masih pula dipengaruhi oleh paham kekuasaan Jawa dengan pelibatan Sultan sebagai sosok raja pengayom sekaligus penjaga kesejahteraan rakyatnya. Kekhasan tersebut juga menyangkut soal tanah dan penggunaannya.

Dalam perkembangannya, penggunaan Sultan Ground oleh masyarakat ternyata menuai banyak masalah. Selain karena hukum Kraton yang harus bersinggungan dengan hukum negara, beberapa aktor lain sempat masuk dalam ranah ini menyangkut penguasaan sumber daya alam, khususnya tanah. Masyarakat pengguna Sultan Ground dalam hal ini bisa diposisikan sebagai civil society. Dalam konsep Chandoke, syarat keberadaan civil society setidaknya bisa digunakan untuk mengidentifikasi masyarakat pengguna Sultan Ground sebagai individu dengan hak-hak yang melekat di dalamnya serta harus dilindungi. Selain itu, Chandoke juga mengemukaan bahwa anggota civil society adalah semua individu yang dilindungi oleh hukum.

Perkembangan kasus yang terjadi belakangan menyorongkan fakta bahwa hak-hak masyarakat pengguna Sultan Ground tersebut ternyata banyak yang dirampas, baik itu oleh negara maupun oleh aktor lain. Kasus nyata yang pernah terjadi bisa dilihat bagaimana pemerintah Kabupaten Bantul merelokasi warga yang menempati daerah Mancingan, Parangtritis (2006) dalam rangka penataan kawasan. Persoalan pelik ini terkait dengan surat Kekancingan Magersari dari warga yang diterbitkan oleh Yayasan Sultan Hamengkubuwono VII, bukan oleh lembaga yang saat ini mengurusi urusan pertanahan yaitu Paniti Kismo. Surat yang dimiliki warga akhirnya tidak diakui sehingga masyarakat terpaksa pindah. Surat tersebut memang menyebutkan bahwa warga tidak berhak membangun bangunan permanen karena sewaktu-waktu tanah dapat diambil apabila diperlukan. Ketidakjelasan hukum dan aturan tersebut lebih jauh dapat merugikan masyarakt karena sewaktu-waktu mereka bisa digusur dari tempat tinggal.

Civil society dalam kasus tersebut menempati posisi marginal. Keberadaan mereka kurang mampu menjalankan fungsinya sebagai alat kontrol negara. Mereka bahkan menjadi korban dari aturan hukum negara yang tidak mengatur secara jelas tentang hak tanah adat dan ulayat. Bila demikian yang terjadi, keberadaan civil society yang lemah belum mampu menjadi pilar bagi tegaknya demokrasi melalui bentuk partisipasi maupun representasi. Kasus-kasus sengketa Sultan Ground yang lain sebagian besar juga belum diselesaikan melalui keterlibatan masyarakat, baik pada sisi kedalaman maupun keluasannya.

Hal ini akan berbeda ketika civil society dimaknai sebagai institusi. Melalui bentuk asosisiasi maupun institusi, civil society lebih mampu mengambangkan dirinya sebagai alat kontrol negara. Fakta ini dapat dilihat dalam kasus dukungan masyarakat Pengok terhadap penetapan Sultan HB X sebagai Gubernur dan Paku Alam IX sebagai wakil Gubernur (Maret, 2008). Masyarakat tersebut tergabung dalam Serikat Penghuni Rumah Negara Kereta Api (Sepur NKA). Dukungan ini dimaksudkan agar mereka dapat terus menghuni rumah dinas PT KA yang status tanahnya berupa Sultan Ground. Mereka berpendapat bahwa selama pemerintahan Sultan, rakyat dapat hidup tentram karena Sultan mampu menjadi penyayom bagi warganya. Kelompok masyarakat ini berharap dapat tetap menghuni rumah meraka dengan sistem sewa atau bagaimana baiknya.

Kasus ini memperlihatkan bahwa kehidupan asosiasional yang kuat dapat menguatkan civil society dalam posisi tawar meraka terhadap negara. Melalui asosiasi, masyarakat sadar akan haknya dan mampu mempertahankannya, misalnya dalam kasus ini adalah dengan mendatangi DPRD DIY untuk mendukung keistimewaan DIY dengan latar belakang mereka dapat terus menempati Sultan Ground. Meskipun tidak dapat disimpulkan secara gegabah, kehidupan civil society dalam bentuk institusi setidaknya telah mampu berpartisipasi dalam rangka memperjuangkan kepentingan mereka. Proses ini secara lebih jauh mampu mendorong masyarakat ke dalam iklim demokratisasi meskipun kehidupan mereka masih berada dalam lingkungan tradisi yang kuat atau bahkan bersifat constraining terhadap proses partisipasi.

Perbandingan Model masyarakat Sipil di Lingkungan Kraton

Ketika melihat model masyarakat sipil di dalam, di lingkungan dan di luar Kraton, maka akan terlihat kecenderungan warna yang berbeda. Beberapa contoh kasus dalam studi ini setidaknya bisa mewakili warna masyarakat sipil di tiga ranah tersebut. paguyuban Semar Sembogo atau perkumpulan dukuh se-DIY misalnya. Paguyuban ini dengan bebas dapat menyuarakan aspirasinya terkait dengan isu-isu keistimewaan DIY. Di luar itu, peguyuban ini tetap melakukan kegiatan dan pertemuan rutin seperti arisan dan sebagainya. Relasinya dengan Kraton sukup jelas, namun terbatas pada dukungan mereka terhadap penetapan Sultan sebagai gubernur. Di luar itu, kelompok ini tidak berelasi dengan Kraton secara langsung. Beberapa nilai dari masyarakat sipil dapat dilihat dari dinamika paguyuban ini. Mereka memiliki keterlibatan dan komitmen warga negara dalam proses politik (civic engagement) ketika berusaha untuk terlibat dalam pembahasan RUUK. Kehidupan asosiasional yang kuat juga diperlihatkan, meskipun derajatnya kadang bersifat temporal tergantung pada naik turunnya isu pembahasan RUUK di DPR. Partisipasi mereka melalui berbagai event yang melibatkan massa secara luas, khususnya masyarakat Jogja dapat dibaca sebagai proses demokratiasi masyarakat. Dinamika terhadap paguyuban ini apabila ditelisik lebih dalam tentu tidak sesederhana penjelasan di atas. Banyak elemen lain yang masih bisa diungkap melalui pendalaman studi labih lanjut.

Berbeda halnya dengan masyarakat sipil di lingkungan Kraton. tipe ini dicirikan dengan berbagai paguyuban dan asosiasi yang juga banyak direproduksi di daerah lain dengan bantuan program pemerintah. Relasinya lebih banyak ke pemerintah daerah daripada ke Kraton sendiri. Meskipun demikian, struktur Kraton masih mewarnai paguyuban-paguyuban tersebut. struktur ini di satu sisi bisa mendorong berkembangnya masyarakat sipil seperti budaya toleransi, gotong royong, tingginya tingkat kepercayaan antar anggota, dan sebagainya melalui falsafah dan budaya Jawa yang diwariskan. Namun di sisi lain, struktur ini bisa dikatakan seperti mengambil jarak terhadap masyarakat sendiri. Posisi Sultan, sebagai Raja sekaligus Gubernur DIY tidak serta merta berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat sipil di lingkungan Kraton. sebagian besar dari paguyuban yang ada hanya menjadi agen pemerintah untuk menjalankan program-progamnya. Sebut saja Kelompok Tani Wanita Sri Rejeki, asosiasi ini terasa kurang memiliki ruh masyarakat sipil yang seharusnya hadir di dalamnya. Hal ini sedikit berbeda dengan paguyuban Genthong 13, pemerintah dalam hal ini hanya menjadi fasilitator sedangkan nilai-nilai masyarakat sipil tersebut dapat berkembang dalam paguyuban ini. Mereka memiliki pengaturan tersendiri dalam pengelolaan air dengan pelibatan yang intensif dari para anggotanya.

Warna yang sama sekali lain tampak pada paguyuban abdi dalem Kraton. data sementara yang terkumpul menggambarkan bahwa meskipun mereka menyebut dirinya sebagai paguyuban, namun mungkin tidak bisa dikategorikan sebagai masyarakat sipil. Aspirasi mereka tidak memiliki wadah yang representatif. Struktur Kraton yang terlalu kuat telah mengungkung mereka sampai untuk menyampaikan pendapat saja mereka tidak memiliki keberanian. Menarik melihat bagaimana kelompok ini bisa melakukan demontrasi terkait keistimewaan DIY. Pun demikian, inisiatif untuk melakukan protes tersebut tidak muncul dari diri mereka melainkan berdasarkan amanat para Pengageng di atasnya. Kuat dugaan bahwa proses ini bisa dikatakan sebagai bentuk mobiliasasi. Para abdi dalem tersebut memiliki logika tersendiri ketika mereka mau habis-habisan mengabdikan diri untuk Kraton. padahal, apabila melihat latarbelakang mereka, beberapa diantaranya pernah bekerja sebagai pegawai bank, angkatan laut, bahkan seorang profesor. Ada semacam karakter dan habitus tersendiri yang membentuk mereka yang kemudian digunakan untuk merasionalisasi apa yang mereka lakukan.

Dalam perspektif nilai, Kraton bisa dikatakan menyumbang banyak terhadap hadirnya relasi-relasi masyarakat yang masih memegang bentuk toleransi, kepercayaan, sebagai basis dari terbentuknya masyarakat sipil. Namun dari sisi struktur, Kraton dengan kuat mencengkeram model-model partisipasi dan keterbukaan untuk menjaga legitimasinya dengan kewibawaan dan eksistensi yang selama ini terus dipertahankan dengan berbagai cara.

Hasil wawancara Abdi Dalem Kraton, 21 Oktober 2010

Salah satu abdi dalem yang kami temui adalah KMT CB atau Bupati Kliwon. Ia menjabat sebagai Bupati Kliwon sejak tahun 2000 sampai sekarang. Jenjang kepangkatan ini sudah yang paling tinggi untuk abdi dalem yang tidak bisa menjadi Pengageng. Jabatan pengageng biasanya dimiliki oleh keturunan Sultan, seperti yang saat ini menjabat adalah wayah kaping 8 (cucu ke-delapan). Pengageng merupakan istilah lain dari pimpinan sedangkan tepas adalah istilah lain dari Kraton. Mbah Buyut dari KMT CB dulunya adalah seorang abdi dalem, sedangkan kakek dan ayahnya hanya petani dan kusir andong biasa. KMT CB juga tidak memiliki tanah magersari yang biasanya bisa diwariskan secara turun temurun. Dalam hal ini ia memang tidak minta, tuturnya, “nyuwun menawi mboten diagem rak nggih malah muspro.”

Baginya, menjadi abdi dalem memiliki motif tersendiri. Pertama, ia ingin melestarikan budaya Jawa sebagai budaya adiluhung. Selain itu, ia juga bisa srawung dengan para abdi dalem lain dan bersama-sama mengabdi pada Sultan. Motifnya yang lain adalah harapannya untuk mendapat berkah dari apa yang ia lakukan. “Ngiyup sak ngisore ringin rak nggih langkung iyup,” ujarnya terkait dengan kesediannya menjadi abdi dalem.

Jumlah abdi dalem punakawan kurang lebih adalah 1200. Dari jumlah tersebut, kira-kira 100 orang bekerja di Tepas, dan yang lain adalah abdi dalem caosan atau hanya sowan dalam waktu 12 hari sekali. Jenjang gaji yang diterima abdi dalem masing-masing adalah sebagai berikut:
Abdi dalem caosan : 10.0000
Abdi dalem yang bekerja di Tepas: 20.0000
Bekel enom : 30.000
Bekel Sepuh : 40.000
Lurah : 50.000
Kliwon : 70.000
Wedana : 80.000
Riyo Bupati Anom : 90.000
Bupati Anom : 100.000
Bupati Sepuh : 110.000
Bupati Kliwon : 120.000
Bupati Nayaka : 140.000
Bupati Sentana : 160.000

Selain gaji, para abdi dalem juga mendapatkan tunjangan kesehatan yang besarannya disesuaikan dengan jenjang kepangkatan.

Setiap harinya, mereka bekerja setiap pukul 09.00-13.30 WIB. Namun, untuk KMT CB, ia meminta untuk tidak sowan setiap hari Jum’at. Hari itu dikhususkannya untuk beribadah, juga membersihkan masjid dekat rumahnya. Jarak rumahnya ke Kraton kira-kira adalah delapan kilometer yang ditempuh dengan sepeda motor setiap harinya. Saat ini, ia sudah berusia 67 tahun dan dikaruniai 6 orang putra. Anaknya yang paling tua sudah jadi sarjana, sedangkan yang paling kecil sudah lulus SMA dan menikah.

Di Kraton, terdapat paguyuban yang bernama ‘Budi Wadu Narendra’. Paguyuban ini dapat diistilahkan sebagai korps-nya abdi dalem Kraton. Pada awal berdirinya, paguyuban ini mengadakan pertemuan setiap satu tahun sekali untuk semua anggota, namun saat ini pertemuan itu sudah jarang dilakukan. Untuk masing-masing Tepas, pertemuan rutin para abdi dalem dilakukan setiap dua bulan sekali. Pertemuan ini dihadiri oleh Pengageng 2 (wakil Pengageng) beserta cariknya. Jumlah keseluruhan abdi dalem yang mengikuti pertemuan ini biasanya hanya 20 orang.

Pertemuan tersebut membahas tentang berbagai persoalan terkait administrasi. Pernah sekali waktu para abdi dalem tersebut dipanggil oleh Gusti Joyo dan diberi pengarahan seputar persoalan di Kraton, bisanya dilakukan pada hari Jum’at. Pelibatan abdi dalem ternyata sangat terbatas. Untuk persoalan pembangunan fisik di Kraton, abdi dalem tidak pernah dilibatkan sama sekali.

Pada saat ini, Kraton sedang mengadakan pawiyatan atau sekolah untuk abdi dalem. Lama pendidikan untuk satu angkatan diselesaikan dalam jangka waktu satu bulan. Meskipun demikian, saluran aspirasi untuk para abdi dalem tersebut ternyata sangat sedikit. Mereka tidak bisa menyalurkan ide-ide hanya karena tidak berani. “Menawi abdi dalem, mboten wonten ingkang wantun,” demikian ungkap KMT CB. Mereka bahkan merasa tidak membutuhkan hak untuk menyalurkan aspirasi tersebut. Bagi mereka, cukup bendara-bendara saja yang bersuara. Hak tanah yang dimiliki para abdi dalem sebagian besar juga tidak diminta. Mereka biasanya diberi tanah di daerah-daerah yang jauh seperti di Selarong, sedangkan tanah-tanah di lingkungan Kraton adalah hak bagi keluarga Sultan. Untuk KMT CB, ia memilih untuk tidak meminta haknya tersebut karena saat ini ia sendiri sudah punya rumah dan tanah, meskipun hanya di dusun.

Ketika merebak isu RUUK DIY, terkait penetapan Sultan sebagai Gubernur. Para abdi dalem ini terlihat berdemo untuk mendukung Sultan. Ini pun dilakukan demi kepentingan Sultan. Demontrasi belum pernah sekalipun dilakukan untuk kepentingan pribadi atau ngaturaken panyuwunan. Mereka sekali lagi merasa benar-benar tidak berani. Inisiatif untuk melakukan demontrasi terkait RUUK juga bukan berasal dari abdi dalem sendiri. Dari perkataan KMT CB, terlihat bahwa ada upaya mobilisasi dari para Pengageng untuk menggerakkan abdi dalem.

Melompat ke peristiwa Gempa Jogja, abdi dalem ternyata tidak mendapat bantuan dari Kraton secara langsung. Bantuan didapatkan dari pribadi seperi Gusti Pembayun yang menyumbangkan kasur, bahan makanan pokok dan peralatan rumah tangga kepada KMT CB. Padahal, pada saat itu beliau kehilangan rumah dan satu orang anaknya.

KMT CB menjadi sesepuh di Kanayan Bumi Sewu atau perkumpulan abdi dalem yang bertugas mengurusi apabila ada yang meninggal dunia. Paguyuban ini lebih dinamis karena memiliki kegiatan rutin seperti arisan setiap bulan. Apabila ada gelar budaya, mereka biasanya juga diundang untuk menyaksikan sebagai tamu, mendampingi rombongan Sultan. Mereka pernah akan dilibatkan dalam suatu pawai budaya, hanya saja kegiatan ini batal dilaksanakan karena peserta dari Muntilan ternyata sudah banyak jumlahnya. Untuk Kanayakan lain, KMT CB mengaku tidak tahu karena memang jarang berkumpul. Sepertinya masing-masing Tepas memang di setting untuk tidak saling mengetahui urusan masing-masing.

Mereka juga diperbolehkan untuk ketemu Sultan setiap Lebaran. Sowan seperti ini sudah dijadwalkan dan dikoordinasikan dengan rapi. Untuk pagi, yang diperkenankan untuk sowan adalah abdi dalem dengan pangkat Riyo Bupati ke atas. Di bawah pangkat itu, masih diperbolehkan hanya saja dengan waktu yang berbeda, atau mungkin hari yang berbeda.

Para abdi dalem biasa mengenakan beskap yang juga menunjukkan identitasnya. Misalnya untuk warna merah, adalah abdi dalem pekerja kasar, seperti tukang memotong rumput atau bersih-bersih. Semua pakaian tersebut diusahakan secara mandiri. Hanya saja untuk abdi dalem yang bertugas di bidang pariwisata, akan mendapat jatah sragam dari kraton. bekerja di Parentah Hageng sebenarnya rekasa atau berat, sering lembur tapi tidak mendapatkan gaji tambahan. Berbeda dengan abdi dalem atau pihak luar yang menyajikan uyon-uyon di Bangsal Sri Manganti. Mereka mendapatkan sekitar lima sampai sepuluh ribu setiap kali sowan. Mereka menyajikan uyon-uyon setiap hari Senin, Selasa dan Minggu. Pada hari Rabu biasanya digelar pertunjukan Wayang Golek. Pada hari Jum’at terdapat acara Macapatan dan hari Sabtu digelar pertunjukan Wayang Kulit.

Salah satu pegawai di Parentah Hageng yang kami temui, khususnya yang menjabat sebagai carik bernama MA. Beliau ternyata adalah seorang pensiunan pegawai Bank Mandiri, bagian audit. Sebagai abdi dalem, beliau berpikir bahwa hidupnya akan lebih bermanfaat ketika kemampuannya masih bisa digunakan untuk kepentingan Kraton meskipun sudah pensiun.

Mekanisme reward dan punishment dalam Kraton dilaksanakan dengan cara sederhana. Abdi dalem yang sudah bekerja selama delapan tahun akan mendapatkan lencana bernama ‘Setyo Aji Nugraha’. Lencana ini diberikan secara periodik dalam jangka waktu tersebut. hal ini menjadi satu-satunya reward bagi abdi dalem yang sudah dengan setia menjalankan tugasnya. Kraton tidak memberikan reward dalam bentuk tunjangan atau yang lain. Sedangkan mekanisme sanksi dikenakan pada abdi dalem yang selama 6 bulan tidak sowan. Sanksi yang diberikan adalah dikeluarkan setelah sebelumnya diberi surat peringatan.

Beberapa cerita yang didapat dari para abdi dalem ini kadang terasa berada di luar logika. Misalnya saja KMT CB yang rela dengan gaji 120 ribu tiap bulan untuk mengabdi ke Kraton setiap pagi. Demikian halnya dengan cerita dati Dwijo Soesilo Atmojo yang menjadi salah satu abdi dalem keprajan. Beliau adalah seorang pensiunan Kepala Sekolah SMP I Pandak, Bantul yang sowan setiap kamis minggu pertama, tiap bulan. Selain itu, terdapat cerita dari YJ, S.H. M.M. Ia menjadi abdi dalem atas wasiat dari ayahnya. Pangkatnya adalah Raden Wedana yang sowan setiap Kamis minggu pertama dan keempat. Ia adalah pensiunan angkatan laut yang juga pernah mengajar di Akademi Sekretaris Don Boscho, Jakarta. Rumah dinasnya saat ini adalah di Jakarta. Jadi untuk setiap bulannya, ia harus nglaju dari Jakarta dengan Kereta hanya untuk sowan. Keluarganya sempat keberatan. Setiap kali habis duduk bersila, ia juga sering merasakan sakit. Tapi sekarang karena sudah terbiasa, sudah tidak merasakan sakit lagi. Dan keluarga akhirnya juga bisa menerima keputusannya.

Sebagai abdi dalem, masing-masing pribadi pasti punya motif tersendiri. Di satu sisi, mereka kemungkinan akan merasa bangga diakui sebagai orang njero Kraton. posisi ini memiliki prestise tersendiri secara sosiologis di masyarakat. Para abdi dalem ini memang sedikit banyak memiliki karakter yang hampir mirip. Kalau melihat dari perspektif Bourdieu (sosiolog Prancis) mereka memang hidup dalam suatu struktur terlembaga, yang dalam prosesnya telah terinternalisasi sekian lama dalam masing-masing pribadi sehingga membentuk suatu habitus.

Ringkasan Ide tentang Masyarakat Sipil dalam Chandhoke, Neera, Benturan Negara dan Masyarakat Sipil

Pembicaaraan tentang masyarakat sipil selalu terkait dengan pembicaraan tentang negara. Dalam perkembangannya, konsep masyarakat sipil terus mengalami perubahan seiring dengan berbagai perubahan konsep tentang negara. Negara dipahami sebagai entitas yang berusaha untuk mengontrol dan membatasi praktik politik masyarakat dengan membangun peraturan politik. Praktik negara tersebut menyentuh arena dimana terdapat mediasi dan kompetisi; tempat dimana masyarakat masuk dan berhubungan dengan negara. Arena tersebut bisa didefinisikan sebagai masyarakat sipil.

Nilai-nilai dari masyarakat sipil adalah partisipasi politik, adanya pertanggungjawaban negara dan publisitas politik. Konsep ini diambil dari tradisi pemikiran Montesquieu, De Tocqueville dan Habermas (bukan dari Chandhoke). Sebagai institusi, masyarakat sipil adalah forum yang representatif dan asosiatif, pers bebas dan asosiasi sosial. Anggota dalam masyarakat sipil dalah individu yang mempunyai hak-hak dan dibatasi secara yuridis, yang disebut warga negara. Dan perlindungan terhadap anggota suatu masyarakat sipil termaktub dalam kata dan lembaga hak asasi. Masyarakat sipil kemudian menjadi tempat diproduksinya kritik rasional yang memiliki potensi untuk mengawasi negara. Masyarakat sipil memiliki hak-hak istimewa dari teori demokrasi sebagai pra kondisi yang vital bagi eksistensi demokrasi. Eksistensi masyarakat sipil tidak selalu berarti melawan negara, atau akan melanggar batas-batas politik yang dibangun negara. Seperti yang dikatakan Gramsci, hegemoni masyarakat sipil bisa menjadi tangan pertama bagi negara dalam proyek pengendalian praktik sosial.

Seperti halnya hubungan antara negara dan masyarakat, konsepsi tentang masyarakat sipil juga mengalami evolusi. Ide masyarakat sipil muncul sejak lahirnya istilah zoon politicon ala Aristotelian di Yunani. Konsep ini berkembang lebih jauh karena pada dassarnya masyarakat sipil bukanlah masyarakat politik. Pada masa Romawi, mulai dikenal adanya konsep masyarakat sipil yang lebih modern. Orang mulai mengenal dikotomi antara kehidupan politik dan sipil. Konsep selanjutnya digagas oleh Locke dan Hobbes yang merumuskan adanya hubungan antar individu dan antara individu dengan negara sebagai hasil kontrak.

Dalam ekonomi politik klasik, ruang dimana individu saling bertemu dan mendapatkan kebutuhannya disebut sebagai masyarakat sipil. Masyarakat sipil dalam ekonomi klasik, muncul tidak hanya sebagai sistem pemenuhan kebutuhan, namun juga sebagai rumah untuk kesadaran diri individu. Evolusi konseptual tentang masyarakat sipil berkembang seiring dengan munculnya teori liberal. Kekuasaan negara tidak dapat dihilangkan atau bahkan direduksi ke minimun. Masyarakat yang kompleks membutuhkan negara untuk melestarikan ketertiban, hukum dan memegang legalitas. Tetapi, negara harus dibatasi. Masyarakat sipil harus menemukan alat untuk membatasi kekuasaan negara. Kekuasaan negara harus dibagi ke wilayah-wilayah di luar negara, dan salah satunya melalui asosiasi-asosiasi sosial, kultural, profesional dan religius.

Dari sinilah muncul konsep masyarakat sipil sebagai asosiasi sosial oleh Tocqueville. Suatu asosiasi dapat mempersatukan pikiran sehingga asosiasi meminjamkan suatu koherensi dengan kehidupan publik, mengusahakan keutamaan civic, dan menanamkan nilai-nilai demokrasi. Dalam fase liberalisme ini, masyarakat sipil digunakan sebagai konsep yang utama untuk mengorganisasi hubungan negara-masyarakat. Namun, teori ini gagal mengidentifikasi masalah dalam masyarakat sipil yang rentan terhadap fragmentasi dan perang. Masyarakat sipil memerlukan prinsip integral untuk mempertemukan kontradiksi di dalam dirinya.

Konsep masyarakat sipil kemudian dijelaskan dalam tradisi Hegelian, Marxian dan Gramscian. Dalam tradisi pemikiran Hegel, Masyarakat sipil terdiri dari individu-individu yang masing-masing berdiri sendiri atau bersifat atomis. Masyarakat sipil ditandai dengan pembagian kelas sosial yang didasari pada pembagian kerja yaitu kelas petani, kelas bisnis dan kelas birokrat atau pejabat publik (public servants). Masyarakat sipil adalah masyarakat yang terikat pada hukum. Hukum diperlukan karena anggota masyarakat sipil memiliki kebebasan, rasio dan menjalin relasi satu sama lain dengan sesama anggota masyarakat sipil itu sendiri dalam rangka pemenuhan kebutuhan mereka. Hukum merupakan pengarah kebebasan dan rasionalitas manusia dalam hubungan dengan sesama anggota masyarakat sipil. Tindakan yang melukai anggota masyarakat sipil merupakan tindakan yang tidak rasional. Dalam kerangka teori dialektikanya ini, Hegel menempatkan masyarakat sipil di antara keluarga dan negara. Dengan kata lain, masyarakat sipil terpisah dari keluarga dan negara.

Marx mengkritik pemisahan negara dan civil society dari Hegel menjadi penyebab keterasingan manusia. Logika Hegel mengenai negara membawahi civil society dibalik menjadi civil society membawahi negara. Logika pembalikan ini bisa dijelaskan dalam pengertian civil society sebagai masyarakat borjuis dan negara merupakan alat di tangan borjuis untuk melanggengkan proses penghisapan terhadap kaum buruh. Marx memandang civil society sebagai masyarakat yang dicirikan oleh pembagian kerja, sistem pertukaran dan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi. Pandangan ini memang sama dengan pandangan Hegel, tetapi kemudian ia menambahkan bahwa masyarakat sipil itu terbagi dalam dua bagian yaitu kaum majikan atau kaum borjuis sebagai pemilik alat produksi (property-owners) dan kaum buruh atau kaum proletar yang tidak memiliki alat produksi (propertyless).

Gramsci menolak paham ekonomistis Marx. Bagi Gramsci, perubahan ke arah masyarakat sosialis bukan semata-mata bercorak ekonomistis, tetapi juga harus memperhatikan aspek sosial, budaya dan ideologi. Oleh karena itu, hegemoni menjadi tema sentral dalam pemikiran Gramsci sebagai upaya mewujudkan cita-cita masyarakat sosialis-nya.
Gramsci memasukkan masyarakat sipil dalam bangunan atas (super structure) Marx bersama dengan negara. Dalam masyarakat sipil, terjadi proses hegemoni oleh kelompok-kelompok dominan sedangkan negara melakukan dominasi langsung kepada masyarakat sipil melalui hukum dan masyarakat politik. Gramsci sendiri mengakui bahwa senyatanya masyarakat sipil telah terhegomi. Pengakuannya itu diungkapkan dengan mengatakan bahwa masyarakat sipil adalah etika atau moral. Masyarakat sipil adalah wilayah dimana relasi antara kelompok tidak dilakukan dengan koersi. Maka Gramsci mengatakan bahwa masyarakat sipil mencakup organisasi-organisasi privat seperti gereja, serikat dagang, sekolah, dan termasuk juga keluarga. Gramsci juga mengatakan bahwa organisasi-organisasi dalam masyarakat sipil mempunyai tujuan yang berbeda-beda seperti politik, ekonomi, olah raga, seni dan sebagainya namun mereka memiliki asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang diterima oleh masyarakat meskipun sering tidak kentara.

Masyarakat sipil merupakan medan perjuangan politik. Oleh karena itu, dalam rangka pembentukan negara sosialis, Gramsci mengatakan perlunya kelompok buruh membangun hegemoni atas kelompok-kelompok lain dalam masyarakat sipil dengan sebuah ideologi baru yang mampu mewadahi kepentingan-kepentingan kelompok-kelompok lain dalam masyarakat sipil dan sekaligus mampu mewadahi kepentingan kelompok buruh. Karena masyarakat sipil telah terhegemoni, maka kelompok buruh perlu melakukan kontra hegemoni.

Definisi masyarakat sipil di masa kini membawa dua pengertian baik dari kaum Liberal maupun Marxis. Negara pada saat ini memiliki kekuasaan yang lebih. Dengan kekuasaannya, negara mencoba untuk memadamkan seluruh pemikiran dan debat rakyatnya-atau negara yang mencoba memimpin masyarakat sipil. Negara kemudian dituntut untuk mempertanggungjawabkan kekuasaannya. Negara-negara tersebut hanya akan bertanggungjawab melalui praktik demokratis masyarakat sipil yang merdeka. Pemberian hak istimewa masyarakat sipil sebagai ruang terciptanya politik demokratis melahirkan beberapa kesimpulan utama terkait dengan konsep masyarakat sipil dalam hubungannya dengan negara. Konsep masyarakat sipil sebagai ruang publik mulai dikenal luas melalui gagasan Habermas.

Pengertian ruang dalam masyarakat sipil adalah ketika rakyat berkumpul bersama dalam suatu arena dengan satu pengertian bersama. Kepentingan umum tidak hanya berkaitan dengan keseluruhan masyarakat, tetapi merupakan mekanisme vital yang membawa individu-individu dan kelompol-kelompok dari wacana privat ke dalam wacana umum. Proses ini berlangsung melalui pembentukan dan penghamburan opini publik yang dihasilkan melalui debat dan diskusi. Keseluruahan proses tersebut membutuhkan ruang yang relatif bebas dari campur tangan negara, pengakuan hak setiap anggota, dan keberadaan institusi seperti pers yang bebas, asosiasi-asosiasi, lembaga-lembaga perwakilan dan aturan hukum. Kepentingan umum dalam diskusi ini merupakan kepentingan yang dapat dicapai bersama, dalam artian tidak terhalang posisi kelas atau struktur lainnya.

Masyarakat sipil sebagai ruang publik juga diartikan sebagai ruang di luar birokrasi yang memberikan saluran komunikasi yang diberikan negara, yang menjadi tempat berlangsungnya diskusi dan debat umum yang merdeka. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah sejauh mana kemerdekaan masyarakat sipil dari negara?
Pintu masuk ini membawa kita pada perdebatan dan benturan yang terjadi antara masyarakat sipil dan negara. Masyarakat sipil tentu tidak bisa sepenuhnya berada di luar negara. Masyarakat sipil tetap membutuhkan negara untuk menjamin hak-hak mereka dan melakukan regulasi melalui hukum. Di satu pihak, negara juga butuh masyarakat sipil sebagai kontrol atas kekuasaannya. Namun, negara juga berusaha untuk mengintervensi masyarakat sipil dengan berbagai program-program yang diterapkan di tengah-tengah keberadaannya. Masyarakat sipil yang selalu bergerak aktif telah memunculkan kebangkitan demokrasi. Sebaliknya, praktik-praktik yang berlangsung di dalamnya justru tarkadang menindas prinsip demokrasi itu sendiri. Masyarakat sipil masih rentan terhadap fragmentasi atau kemungkinan juga praktik-praktik yang bersifat elitis. Demikian juga dengan arena dimana masyarakat sipil tersebut tumbuh, tentu tidak bisa dipisahkan dari keberadaan masyarakat politik dengan segala bentuk isu dan praktiknya. Dengan demikian, konsep masyarakat sipil masih akan terus berevolusi dan berkembang seiring dengan dinamika yang terjadi dalam masyarakat dan perkembangan hubungan antara negara dan masyarakat.

Senin, 13 Desember 2010

Ketika Cempluk Ditanya Soal Penetapan atau Pemilihan Langsung untuk Jogja

ah, saya mencoba untuk tidak peduli saja. toh saya juga cuma pendatang di sini. saya orang asli Ngawi. buat apa ikut ribut-ribut soal monarki atau demokrasi. yang penting saya tetap bisa cari rejeki. dan tak ada yang melarang untuk tiap hari bisa bikin puisi.

Minggu, 28 November 2010

Cerita Kang Bedjo Sepulang dari Kota

Semoga tak bosan dengan ini roman picisan Bedjo dan Cempluk

Pertemuan ini bisa dikatakan rahasia, tentu saja Si Mboknya Cempluk sudah merasa aman ketika tahu Kang Bedjo sekarang sudah jauh dari anaknya. Tapi anak-anak ini selalu lebih pintar. Cinta memberikan logika lebih pada mereka. Dengan segala cara, mereka masih saja bertemu di balik punggung Si Mboknya.

Akhirnya cempluk bisa ketemu lagi sama orang yang dicintainya. Sempat Cempluk menunggu Kang Bedjonya di rumah dan tak datang-datang. Sempat juga Kang Bedjo gantian menunggu Cempluk yang tak datang-datang karena kesibukan. Setelah sekian lama saling menunggu, waktu begitu terasa lama meski cuma beberapa minggu. Akhirnya mereka bisa kembali bertemu. Segala cerita tumpah sudah. Apapun dan tentang semua hal dimuntahkan lewat kata, tak habis-habis. Tak sudah-sudah.

Kang Bedjo bercerita sempat pulang dengan membawa uang satu setengah juta. Tapi tangannya serasa tak bisa bertahan lama memegang uang. Habis sudah dipakai untuk memoles motor kesangannya, Honda Plethuk tahun tujuh lima. Kang Bedjo tetap seperti dulu. Seperti ketika Cempluk pertama kali bertemu. Kang Bedjonya tak pernah berubah oleh waktu. Kota yang terkenal mahir mengubah orang pun tak sanggup mengubahnya. Kang Bedjo tetap menjadi Kang Bedjo. Dengan pikirannya yang sederhana, dengan usahanya untuk menjadi kaya, dengan segala tekad untuk membuktikan kepada Si Mboknya Cempluk bahwa ia akan menjadi orang sukses tak seperti yang dibayangkan. Sekang Kang Bedjo sudah bisa pegang hp nokia tipe N-Gage. Bisa dikatakan kemajuan karena bukan lagi tipe jadul 3315 yang biasa dipakainya untuk berjualan pulsa.

Cempluk kembali menggambar cerita perpisahannya di Terminal Kertonegoro ketika Kang Bedjonya mau berangkat ke Jakarta. Kang Bedjo keren sekali. Pakai topi hitam dan jaket abu-abu yang dibelikan Cempluk dulu. Cempluk menemaninya sampai bus itu tiba. Sempat mereka minum dari botol yang sama, duduk berdua. Sampai adegan Cempluk menjabat tangan kekasihnya sampai bus yang membawa Kang Bedjo berangkat. Tas putih masih menggantung di punggung, Cempluk tetap menatapnya. Kang Bedjo duduk dibangku nomor lima. Tak kelihatan lagi. Bus itu merangkak perlahan meniti halaman terminal yang bergelombang. Tubuh Kang Bedjo barangkali ikut berguncang-guncang. Karena jalan bergelombang, karena mengharap seratus ribu pertemuan tanpa perpisahan. Cempluk membalikan badannya, berjalan dengan menunduk. Seorang pria tiba-tiba melontar kata, “Mbak, duite ilang yo? Kok ndingkluk trus.” Tak hirau, Cempluk tetap saja menunduk sampai meleleh di jalanan, sambil memacu kencang sepedamotornya untuk pulang.

Dan sekarang dipertemuan mereka, Kang Bedjo bisa cerita. Soal nikmatnya secangkir kopi seharga enam puluh ribu rupiah. Soal saudara-saudaranya yang kaya raya itu, jadi dokter, jadi kontraktor yang sedang membangun sebuah apartemen, juga cerita soal dirinya yang bangga jadi mandor proyek nan bisa perintah-perintah para kuli bangunan. Kang Bedjo jadi sering dapat traktiran makanan-makanan berkelas, bahkan terasa asing di lidah karena terlalu terbiasa dengan sambal trasi bikinan Cempluk. Terdengar lucu mendengar ceritanya, Kang Bedjo pun tak bisa menyebut dengan benar nama makanan-makanan itu. Tapi sayang, tetap saja ia harus jadi babu. Malah disuruh menjaga anak saudaranya yang masih kecil dan sangat nakal itu. Tiap hari sibuk ngepel dan nyapu, kadang juga setrika. Karena sudah jadi sarjana, bedanya Kang Bedjo tak lagi disuruh untuk cuci baju.

Ealah..Kang...Kang...dimana-mana nasibmu belum berubah juga. Seperti biasa, semangkuk mie ayam selalu menemani obrolan Cempluk dan Kang Bedjo. Ini pun masih Cempuk yang harus membayar semuanya. Besok Cempluk sudah harus kembali ke Jogja. Padahal, obrolannya dengan Kang Bedjo baru dimulai. Kadang cukup mata yang berbicara. Kadang kedua tangan saling menggemgam. Kadang pun cukup dengan diam. Masih kangen. Tapi ya bagaimana lagi. Semoga segera bisa ketemu kembali. Salam dari Cempluk.

Setelah Ngawi

Dari sinilah semua kisahku bermula
Ngawi kang ngawitani
Tapi aku harus berjalan memunggungimu kembali
Setelah kenyang makan kenangan
Setelah mabuk menghisap masa lalu
Menikmati haru
Hilang kemudian ini pikiran bersayapsayap beterbangan
Kemarin, adalah malam terakhir menelusupi ceritacerita
Tentang orangorang yang pernah keracunan makan puisiku
Tentang para sahabat yang selalu membebatkan hangat
Tentang peluk mesra dan dekap keluarga

Pagi ini akan kembali kukembalikan waktu
Kembali bercumbuan dengan senggang dan kesibukan
Aku akan berjalan memunggungimu
Sesekali bolehlah menengok ke belakang
Sesekali malah jatuh terjengkang kesandung kenangan
Meracau aku menuliskan cerita dipunggung kotamu
Meracau membacai kembali roman cinta kita yang dituliskan orang
Sampai bikin lupa kalau aku harus kembali ke waktu ini, pagi ini juga

Senin, 08 November 2010

Pemohonan Maaf

Saya benar-benar berterima kasih telah diingatkan tentang kekeliruan saya semalam
Dengan tulisan ini, saya ingin memohon maaf apabila ada beberapa tulisan yang kurang berkenan di hati panjenengan...

Beberapa tulisan dalam blog ini yang berkaitan dengan itu telah saya hapus. Kadang memang saya suka tidak berpikir jauh ketika menuliskan sesuatu. Kadang juga tulisan itu dibuat ketika pikiran sedang sakit sehingga tak bisa melihat dan mencerna akibat ke depannya. Untuk semua itu, saya mohon maaf. Juga untuk sekian persen mangkel yang pernah mampir di hati...

Rabu, 15 September 2010

Percakapan Diam

Percakapan Diam

bahasapun lesap sudah
katakata lenyap begitu saja
diamku dalam mu adalah sepenuh simbol
kau sanggup mengerti maknanya tanpa ucapan
dipercakapan maya kita dipertemukan
dan bagian manalagi yang harus kuterjemahkan menjadi diam?

Minggu, 05 September 2010

Pertemuan

Pertemuan

Setelah pekik pilu itu berlalu. Sesaat guntur menyambarku di pucuk ingatan masa lalu. Hanya seleret kilat saja gemuruh itu mengganggu. Menyeringai liat di lautan langit abu. Sujudsujud terakhir ini mulai demikian gagu. Membiarakan ingatan itu berdiam sendirian. Menemukan semainya di pesanggrahan jiwa paling dalam.

Luap haru terkubur di pasarehan waktu. Sekian purnama berlalu, kau belum juga bisa menerjemahkan rancangan hidup dan kematian yang bergantian datang. Sakit ini semakin parah saja. Membangkitkan lamunan dari bangkaibangkai masa silam.

Demikianlah aku menemukanmu kembali di zaman ini. Tapi kau malah menghitung mundur mencoba meledakkan kenangan. Kau, bukankah kita telah benarbenar saling mengenal. Terasa begitu karib mata itu, gaya bicara dan solah bawamu. Dari sini, pertemuan singkat kita dimulai. Dan berakhirlah di redup petang. Sepertinya, kau sengaja melupa memang. Pun ingatan tak bisa sengaja dijejalkan, dipaksakan.

Kamis, 02 September 2010

Hujan Bualan dari Para Pembual

Hujan Bualan dari Para Pembual

Pembual I : Biar aku memunguti remah-remah hatiku setelah sepasang mata menelanjanginya hingga tercecer dihadapanmu.. kususun lagi, ah mana tau besok kau yang mau membeli

Pembual II : Hei, kau ini penyair darimana?

Pembual I : Aku cuma sekedar membual, bukan menyair

Pembual II : Ah, seperti tak tau saja. Aku suka kau buali, lagi

Pembual I : Sontak kurangkai bualan dan kau mengaggapnya syair semalam. Ah, apa lagi kubuat bahwa inilah sekarang sudut pandang “aku”

Pembual II : Dari planet maya itukah kau? Entah syair atau bualan. Aku butuh sajak untuk kuhirup tiap malam

Pembual I : Dari malam-malam bualanku tercipta, membentuk senyawa-senyawa kesepian, partikel-partikel kedinginan, jadi kata, jadi rindu, jadi sajak dalam setiap malammu.., ah, kau pura-pura melupa zat dan malam-malam yang kita tiduri dulu

Pembual II : Siapakah? Kaukah itu? Ah, entahlah. Ingatanku penuh sesak oleh tumpukan utang, buku-buku kuliah dan detak-detak kedinginan

Pembual I : Tak perlu sesak hidupmu jadi ragu untuk kembali mengingat namaku, hutangmu pada dunia, buku-buku kehidupan, lebih bisa mengajari betapa kita tetap beruntung dengan nafas ini,
Ini memang aku

Pembual II : Ternyata ingatanku tak terlalu lapuk untuk membuka kembali brankas yang berisi namamu. Kawan, pekabaranmu tak pernah sampai padaku. Kemana saja puisi kau bawa lari?

Pembual I : Aku tengah duduk-duduk dengan puisi suatu malam dan tiba-tiba “yang seperti aku” mengajak bercinta dengan dunia. Kutanggalkan malam makai topeng hingga kuingat sebait kata. Malam, kau dan bualanku

Pembual II : “Yang seperti aku” lagi kebingungan nyari topengnya. Hei, jangan-jangan sedang kau pakai. Tapi wajahku bukan itu. Bukan topengmu. Bukan wajah yang itu. Hei, aku telanjang tanpa topeng itu? Dimana?

Pembual I : Di sini, dengan malam lagi. Bergumul mencumbui puisi..mencari topeng baru agar kau tak begitu sesak melihatku. Mencari topeng baruku di laci lama, laci tua aku lahir dan menetes mata
Hiruplah setiap bualanku. Topengku tinggal satu untuk nyamar menyebar sendu. Begitu kuat hasratku menetes mata, lagi dan lagi.. tapi ku tau cuma ada puisi, jadi biarlah kau kubohongi

Pembual II : Aku suka setiap kebohongan. Aku suka setiap bualan. Jadi, terus saja pakai topengmu. Terus saja buali dan bohongi aku. Sampai mabuk sama sajak-sajak terkutuk. Sampai takluk sama puisi-puisi tak punya bentuk

Pembual I : Akan kutusukkan pedang ke ulu hati agar tak lagi aku memiliki kebosanan membohong dan membual. Terus dan terus, lagi dan lagi, hingga tersisa labirin hampa hanya aku dan bualanku

Pembual II : Aku yang mau mati dengan pedang menancap di ulu hati. Bosan juga lama-lama dengar bualan. Para penyair lahir dari kata-kata tak berakhir. Bawa aku. Bawalah aku. Ke tempat dimana tak lagi ada bualan dan kebohongan

Pembual I : Di lorong hitam masih aku memijak kaki, sunyi dari siul panggilmu. Gelap dari suar rayumu. Di lorong dan dinding-dinding menatihku ini, aku baru melahirkan bualan, belum kata-kata perawan
Seperti apa tempat tanpa bualan dan kebohongan itu? Jika mampu, biar kupintal mulai dari sekarang

Pembual II : Entah seperti apa. Aku pun tak pernah tau. Barangkali seperti kau tanpa topengmu. Seperti hening dini hari. Tempat itu tak perlu kau pintal. Temukan kau tanpa. Tanpa dalam segala ada

Pembual I : Aku tanpa topengku akan seperti benang-benang transparan hingga semua luka dan nanahku bisa memilukanmu, tempat tanpa bualan apakah itu? Aku masih meraba

Pembual II : Jangan lagi kau pusingkan tempat macam itu. Tempat itu mungkin juga hanya bualanku

Pembual I : Ah kau... aku terlanjur bermimpi tentang tempat tanpa bualan itu. Ah, mimpiku bualanku

Pembual II : Siapa bilang bualanku tak benar. Siapa bilang mimpi-mimpi pasti jadi samar. Bisa jadi bualanku benar-benar samar. Bisa jadi tempat itu nyata-nyata benar

Pembual I : Ada tira-tirai kegalauan masih menutupiku. Mungkin dua kali punama, atau tiga. Aku bisa menyibak samar-samar tempat itu

Pembual II : Malam-malam bikin galau. Dua tiga purnama aku menjelma gila. Aku mau pinjam jam sepuluh lewat sembilan belas menit ini. Boleh kutukar sama sekeranjang bualan puisi

Pembual I : Beranjaklah dahulu memejam mata. Jam sepuluh belasan menit ini usah kau lewatkan. Berhentilah dengan waktu dan terbuai mimpi di situ. Boleh kuiringi bualanku untuk menemanimu

Pembual II : Mataku terpejam, tapi tidak dengan mimpi di balik jam. Tersungkur oleh dengkur manusia-manusia lupa tukang tidur. Mendongkrak-dongkrak mimpi sampai tinggi. Ketinggian, bahkan. Sampai lupa cara menjejak bumi. Biarkan saja. Nada teratur dari nafas berhembus keras itu itu membuatku tersaruk kembali. Hei, sampai aku pada pintumu?

Pembual I : Biar kukatakan, aku menipumu berkali. Tak wujud pintu kecuali hayalanmu, bisa kau buka. Tapi ada di dalamnya tiada rupa. Payah oleh usia, tua oleh kata-kata

Kembali tersaji bualan dari hasil saling berbalas pesan. Para pembual sedang menyiapkan bualannya untuk dijual kepada Anda. Maka, jangan sampai ditipu, dibuali, dibohongi seperti selalu aku. Suka dibuali sama Pembuai I itu. Masih lagi kunantikan bualanmu.

Pembual I : Ah, lama rasa tak kau kirim kata, sepertinya baru semalam... Atau dua atau tiga kata tak bersapa

Pembual II : Kau mau kubuali lagi? Ah, ini malam awal-awal ramadhan. Orang-orang lagi sibuk melawan kantuk dan kekenyangan. Huruf-huruf tak terpahami dibca merdu. Bergelantungan dimana-mana. Di ujung lidah, tertelan kerongkongan. Juga di ceruk wajahmu yang masih bertopeng itu. Kau tak ikutan mereka rebutan tuhan?

Pembual I : Au ah helap.. Mending bual merdumu nyenyak di telingaku. Toh tuhan tak tidur. Mana mau menjadi rebutan
Malam belum sepenuhnya terlelap, jadi jeda bualanku kunjungimu

Pembual II : Gelap juga harus membual apa lagi. Rasanya ini otak butuh direnovasi. Kau tak balik ke kampung halaman? Kunjungi kota kita yang sunyi. Bacai lagi catatan dan malam-malam yang kita buat bersama sepi

Pembual I : Terperangkap kesendirian di kamar kecil ini, tau mau meraba sunyi kampungku. Menikmati sunyi tiap malam, merangkai syair-syair rindu pada seseorang. Rindu setengah mati. Rindu yang tak jadi

Pembual II : Kenapa selalu sunyi dan rindu yang membaluti setiap puisi. Aku, kau, sama sama kita memerangkap malam. Rindu selalu indah. Tapi rindu malah jadi tak indah. Dalam pertemuan membuncah ruah

Pembual I : Enggan aku menitik mata lagi. Jangan sesali rinduku terobati tiap merayu mesra sunyi. Tak lagi, tak lagi, tapi lagi lagi, datang lagi. Aku, kau, juga malam mereka. Mau apa?

Pembual II : Kita membunuhi saja sunyi. Kita siksai saja rindu. Sampai belur. Sampai tak bisa mengoyakiku lagi. Hancur enggan lagi bertutur. Aku lagi kalah main catur soal cinta

Pembual I : Tak kau letak bidak bidak catur cintamu pada kotak yang tepat? Peluncur rindumu? Kemana kau arahkan? Benteng cemburumu, pion pion rayumu? Ah, bahkan aku belum memiliki ratu untuk bertaruh. Keburu permainanku disidak malam. Jadi tuli lagi aku. Jadi bisu lagi. Kembali hanya bernarasi. Tak henti, tak henti, tak henti

Sekian saja bualan dari kami. Terimakasih bagi saudara-saudara yang sudah berkenan membaca.

Ps: Pembual I adalah teman saya berpuisi sejak SMA. Semoga tak keberatan secuil karyanya nampang di sini.


Awal Ramadhan, Yogyakarta, Agustus 2010

Malam di Sebuah Beranda

Malam di Sebuah Beranda

Tambah penuh saja. Sajak-sajak saling menyapa. Di beranda ini. Para penyair tak pernah mati. Menyalaki setiap pagi sampai malam hari. Pada paruh pergantian hari. Beranda penuh dengan romantisme dan lirisisme puisi-puisi.

Merekalah para pecandu kata. Aku mengenal kalian hanya lewat ini beranda. Lewat novel dan kumpulan puisi tak terbaca. Menembusi jarak dan udara. Kalian nampang dengan beragam status, gaya foto dan nama-nama. Mengumbar ruh sajak-sajak mengembara. Membiarkan keliaran imaji berlari kemana-mana. Setiap doa setiap cinta. Setiap perjalanan setiap kenangan. Setiap realita setiap mimpi belaka. Para penyair menyeruput hidup lewat syairnya.

Yang tak pernah lepas dari layar. Sajak-sajak bergetar karena rerangkai komentar. Lembar-lembar catatan telah ditandai. Para puisi haus minta ditetesi secangkir apresiasi. Aku akan menunggu panah itu. Menancap di ujung ulu. Ketika takdir sebagai penyair. Perlahan memburu. Menyambutku di depan pintumu.

Di Balik Sebuah Dinding Ruang Lengang*

Di Balik Sebuah Dinding Ruang Lengang*

Inilah ruang lengang ujian. Skripsi dan pendadaran. Ada yang berdetakan, berguncangan, berdegupan. Kemeja putih dan rok hitam. Menunggu bapak dan ibu dosen datang. Keletak sepatu hak tinggi, terdengar berirama ngeri. Waktu perlahan melambat. Meningkahi setiap detik yang tak mau berlari cepat. Hmm, bikin kaget saja. Setiap kali pintu terbuka berderit mengajak bercanda. Perut jadi mules. Serasa kepingin sembunyi di balik meja. Bayangan pun melayang. Di dadar di atas kawah candradimuka. Memang harus melewati satu anak tangga ini. Keluar dari ruang yang hampir empat tahun mengunci. Dan ketika dipanggil masuk, waktu serasa berhenti.

Ah, ternyata hanya begini. Kami ditanyai, dikritik, digelitik, diberi saran tentang yang kurang dan kelebihan. Bapak dan ibu dosen ternyata baik sekali. Pada akhir sebelum meninggalkan kami, tak lupa memperingatkan. Harus mengubah attitude dan sifat kekanak-kanakan. Jangan lupa belajar lagi tata bahasa. Apakah ‘di’ harus dipisah dan disambung dengan kata berikutnya. Jangan asal menggunakan istilah. Hanya biar dianggap ilmiah. Modal sosial, anatomi konflik, entah.

Rasanya sudah lega. Seperti bisa membongkar batu penutup gua. Kami akan segera diwisuda. Jadi sarjana. Kebanggaan orang tua. Jadi sarjana ilmu politik. Ngurusi negeri dengan masalah serba pelik. Jadi tukang jadi seniman. Ah, sejenak lupakan. Kami mau makan-makan.


*Buat yang tadi siang ujian pendadaran. Selamat teman-teman...

Juli, 2010

Surat dari Cempluk Buat Si Mboknya

“Udaraning rasa iki tansah nonjok, kudu kawetu,” kata Cempluk mengawali permintaannya kepada saya.

Saya dititipi Cempluk untuk menuliskan pesannya kepada Si Mbok. Cempluk tak pernah berani mengatakannya secara langsung. Bingung, katanya. Semoga saja dengan menuliskan surat ini, Si Mbok bisa mengerti keinginan Cempluk. Buat Si Mboknya Cempluk, saya pribadi ingin bertitip pesan. Mbok ya jangan memaksakan mimpi pada anakmu. Hanya karena tak ingin anakmu mengulang getir kehidupanmu dulu. Si Mbok mesti sadar, kalau Cempluk itu sedang dikejar takdirnya sendiri.

Sebelum tengah malam. Langit berhias gumpalan awan. Selintas berbentuk jamur tak jelas. Selintas kemudian seperti kepala raksasa lapar yang ingin menelan bulan. Begitu samar dalam terang separuh purnama dan beberapa titik bintang. Beberapa helai angin berkelebat sesaat. Daun belimbing di depan kamar Cempluk bergerak perlahan. Ikut mendengarkan. Dan Cempluk pun mulai bercerita dengan kepala menunduk.

“Mbok, apalah yang bisa kulakukan tiap malam selain bertopang dagu. Mendengar kata-katamu yang mendengung di seberang itu. Aku tak pernah ingin menyakitimu. Apalagi ketika kuputar kembali ingatan tentang ajaran bu guru. Dari es de sampai es em a, mereka mengharuskan tiap murid untuk menghormati ibunya, tak membantah kata-katanya, tak boleh bilang ‘ah’ ketika dengar suruhannya, bla bla bla. Anakmu ini tak pernah bisa. Aku ingin punya mimpi dan hidupku sendiri. Kau turuti semua mauku, tapi kau tak memberi pilihan agar aku memilih hidupku.

Mbok, mimpi anakmu ini sangat sederhana. Hidup di kaki bukit dengan seseorang yang dicintainya. Entah dengan Kang Bedjo atau siapapun itu. Rumah mungil berpagar bambu dengan halaman tak begitu luas dikelilingi beragam tanaman. Menghijau seindah taman. Selalu terbuka sebuah jendela besar di samping pintu untuk melihat cucu-cucumu berlarian berkejaran. Jendela yang akan memperlihatkan ketika ia pulang meladang. Aku menyambutnya dengan segenggam cinta dan sebaris lambaian tangan. Sepanjang sore akan kami habiskan dalam cangkir-cangkir teh dan pisang goreng hangat. Betapa akan ada kebahagiaan teramat sangat. Di sana akan kutuliskan kisah-kisah manusia, peradaban, sejarah dan cinta. Bercengkrama membakar penat. Di bawah atap yang menampung embun, panas, garis-garis gerimis, badai maupun hujan lebat.

Mbok, aku tak pernah ingin menjadi orang pinunjul seperti kau harapkan itu. Kau bilang impianku hanya igauan orang mabuk. Kau tak pernah bisa mengerti kalau kami akan hidup sederhana penuh cinta. Kau bilang itu khayalan belaka. Kau bilang kami tak akan pernah bisa bahagia. Kau bilang pertengkaran-pertengkaran kecil itu akan menjadi kerikil, lalu membatu, lalu menggunung dan melindas kami sampai tandas. Kau bilang juga, kami akan ribut soal perut. Dia tak akan bisa membahagiakanku, katamu. Membelikanku baju-baju, bedak dan gincu. Dan tanganku pun akan menjadi kasar karena terlalu banyak menumbuk padi dengan alu. Kau bilang juga, Kang Bedjoku akan pulang tiap malam dengan mulut bau ciu. Putus asa karena pekerjaan tak menentu. Tak membawa apapun ke rumah selain gerutu. Taruhannya di meja judi tak pernah menang. Pulang dengan membawa lubang galian baru. Sementara utang kami, sudah tiga bulan lalu jatuh waktu. Dan kau akan sia-sia menyelokahkanku. Tak ada artinya membesarkanku. Lalu kau akan mulai menyesali. Ketika aku tak bisa merawatmu saat senja mulai menyambangi usiamu.

Mbok, barangkali kau memang punya mimpi sendiri untukku. Impian yang kau rajut setiap malam. Di tengah redup lampu kamarmu, dalam setiap doa dan permohonan. Kau ingin aku membanggakanmu. Kau kembali tersenyum ketika bukan Kang Bedjo yang mendampingiku melainkan seseorang yang sederajat denganku. Ah, darimanakah kau mengukur cinta, Mbok. Dan dia yang pilihanmu itu. Akan menyiksaku dalam kelu. Sepah sudah tanpa cinta yang telah rebah. Aku mengerti Si Mbok ingin yang terbaik. Peta perjalanan dengan jelas telah kau gambarkan. Gambaran masa depan berulang kau putarkan dalam ingatan. Tapi, aku tak sedang beringin itu.”
Yah, dan beginilah Cempluk mengakhiri suratnya buat Si Mbok. Cempluk sedang ingin menuliskan sejarahnya sendiri. Cempluk akan mengutuki diri ketika ia tak bisa menjadi Cempluk. Kusut bertekuk lutut dalam angan-angan Si Mboknya sampai lunglai, takluk.

“Mbok, maafkan anakmu,” kata Cempluk sendu. Butiran bening meleleh membelah pipi Cempluk. Dari jauh, saya dititipi cium dan peluk dari anakmu, Cempluk. Bagaimanapun, Cempluk tetap ingin membahagiakan Si Mboknya. Seandainya saja kalian bisa untuk tidak meributkan masa depan sekarang. Karena selalu ada yang setia pada tugasnya. Membisikkan ketentuan-ketentuan itu di atas ubun-ubun kalian tiap malam.
Segera kemudian saya meraih, merengkuh tubuh Cempluk. Di atas sajadah doa pada ibunya, Cempluk memikul isak yang bertumpuk. Tubuhnya tergungcang karena tangis yang mencincang. Di perbatasan jarak, Si Mboknya Cempluk yang sedang hening dalam sila pun tergetar bersama getir yang tiba-tiba merasuk. Dalam duduk, ia pun terguguk.

Yogyakarta, Juli 2010

Dari Sepi Menjelma Puisi

Dari Sepi Menjelma Puisi
Diceritakanlah sebuah percakapan di tengah malam. Antara gadis dan pria yang sama-sama kesepian. Persahabatan mereka menjelma kata-kata. Dalam sepi lewat pesan-pesan pendek, sejenak melepaskan buntalan kata yang terpenjara. Mungkin ini tak bisa disebut sebagai puisi. Hanya ungkapan-ungkapan yang terdengar klise dari para pecandu malam dan penikmat kesepian. Selamat menikmati saja, semoga Anda menyukainya...

Sebelumnya, mereka bercakap tentang acara humor di televisi, ditayangkan hampir tiap hari. Dua manusia itu tak ada yang tertawa menatap layar kaca di depan mereka. Sama-sama bosan melewati malam, terasa sangat biasa. Si Gadis Sepi kemudian menjajal kemampuan Si Pria Sepi mencipta puisi.

Gadis Sepi : “Coba we gawe puisi, in English, maybe...hehe..”

Pria Sepi : “Lagi gak enek inspirasi. Kamu ae yang bikin.”

Meskipun mengaku sedang tak ada inspirasi, Pria Kesepian beberapa saat kemudian mengirimkan pesan pendek puitis pertamanya kepada Si Gadis Kesepian

Pria Sepi : “Lonely season in this night. Banyak orang menyanyikan kesepian. Try to sing but silent. Musim ini telah menyelimuti diri setiap insan. The moon try to give a joke, but not fun. Hanya bisa diam dan terpaku berteman sepi.”

Gadis Sepi : “Cieehhh...selamat datang pujangga baru.”

Pria Sep : “Time for you to make the great words.”

Gadis Sepi : “Ngko sik, rung metu kie..”

Pria Sepi : “Okay..antrian huruf demi huruf telah menanti kau ajak berbaris menuju lantunan keindahan.”

Gadis Sepi : “Wah, ternyata kau berbakat juga.”

Pria Sepi : “Bakat terpendam paling, hehe...”

Tak lama, Pria Kesepian pun beraksi lagi dengan kata-katanya.

Pria Sepi : “Mencoba menerawang tapi tak tampak. Mencoba berpikir tapi tak bisa terpikirkan. Mencoba menulis tapi tak muncul. Mencoba menunggu tapi tak datang-datang. Inspirasi..oh...inspirasi. Kemanakah dirimu kini bersandar. Seorang penyair telah menantimu. Datanglah kepadanya. Supaya dia bisa mengajak anak-anak kata bernyanyi dengan keindahan.”

Gadis Sepi : “Si Gadis tak sedang menunggu pesan angin itu datang. Barangkali, pada sebuah detik beku. Angan memang sengaja tak mau mengetuk pintu kamarnya. Barangkali, dia tak mau lagi meminjamkan malam untuk menampung bualan puisi. Barangkali, dia akan datang nanti. Membawa sekeranjang kata untuk menuliskan catatan kesepian. Betapa panjang sebuah penantian...never feel sure, waiting for something blur.”

Pria Sepi : “Seorang gadis menanti di ujung malam. Dia selalu menanti dan menanti sampai kapan malam yang sepi ini bisa bernyanyi untuknya. Sampai lelah jiwanya berharap kapan penantian itu akan berakhir. Oh, malam...temanilah dirinya dan bernyanyilah untuknya. Ajaklah bintang berdansa dengannya.

Gadis Sepi : “Si Gadis tak ingin ditemani malam. Ia tak mau menari bersama bintang. Ia berharap ada yang meruapkan separuh nyawa untuknya. Menjadikan beku ini kembali menganak sungai. Mengaliri kering nadi. Memuara pada lelana jiwa-jiwa tanpa pegangan. Mencari pasak di tengah isak yang sesak.”

Pria Sepi : “Dan dia pun berharap ada separuh jiwa anak manusia dipersembahkan untuknya. Dia terdiam dan bernyayi dalam hati. Sampai kapankah hatinya membeku?”

Gadis Sepi : “Sampai ada yang mengembunkan uap nyawa untukknya. Sampai ada sebuah pertemuan tak disengaja. Barangkali di sebuah stasiun kereta. Dia akan melanjutkan perjalanan yang tertunda. Pun ketika apa yang ditunggunya tak juga menyambangi bilik mimpi.”

Pria Sepi : “Di stasiun kereta itu dia berdiri. Kereta itu telah berlalu tetapi dia tetap berdiri. Di tengah keramain itu dia merasa sepi. Di tengah antrian itu dia tetap menanti.

Gadis Sepi : “Dia menjelmakan diri menjadi stasiun itu. Orang-orang lalu lalang dalam perjalanan. Kereta-kereta menampakkan selintas bayangan samar tertahan. Di tengah keramaian itu, dia mencari dirinya sendiri. Luput dari perhatian, menghilang dalam lekuk pertemuan dan perpisahan. Gadis itu tetap saja dirajam sendu. Menanti lambaian tangan. Memanggilnya pulang.”

Pria Sepi : “Gadis itu pun mengajak untaian huruf untuk bernyanyi. Mereka menyanyikan suara kesepian. Huruf-huruf itu berbaris menari indah menghibur si gadis. Hanya untaian kata yang indah itu yang selama ini bisa merubah kesepian menjadi pesta hati yang terbelenggu.”

Gadis Sepi : “Si Gadis tetap bernyanyi sumbang. Membiakkan rintih pada hatinya yang gamang. Si Gadis tak bahagia dengan tipu dan gombalan kata. Si Gadis merengut, lalu menggantungkan larut sepinya pada selintas kabut. Ini waktu sedang bermuka dua. Membelai dan mencekiknya bersama-sama.”

Pria Sepi : “Great words..”

Gadis Sepi : “Juga untuk kata-katamu..”

Pria Sepi : “:-)”

Pria Sepi : “Kapan-kapan pinjemi novel yang maknane dalem, hehe..po ngerti aq nduwe bakat terpendam.”

Gadis Sepi : “Okay..”

Pria Sepi : “Ndang merangkai kata-kata neh, ben kamu ndang bisa buat buku sendiri..hehe..judule “Lantunan Kidung Keheningan Jiwa”...

Gadis Sepi : “Kadang aku memang butuh pancingan kayak tadi, meskipun jadinya agak klise begini. Seru juga lho, bagaimana kalau tak publikasi untuk kalangan sendiri?”

Pria Sepi : “Sip...tapi namaku gak usah terlalu tampak, hehe..ntar nek karyaku dijiplak orang gimana?hehehe...”

Gadis Sepi : “Kamu mau inisial apa untuk namamu?”

Pria Sepi : “LM: Lonely Man, hehe....”

Malam berlalu begitu saja. Percakapan mereka usai. Masing-masing sibuk melantunkan lamunan ke negara awang-uwung. Nun jauh dengan segala imajinasi dan bayang-bayang. Enggan mereka beranjak dari malam dan sepi. Sudah terlanjur menikmati.

Pagi datang tiba-tiba. Tak terasa seperti menyentuh ubun-ubun mereka. Matahari menampakkan diri di tengah kerumunan dan sisa kantuk orang-orang. Jari-jari cahaya bertengger di pucuk reranting. Menegak embun. Mengeringkan lembab tanah dan awan semalam yang tak jadi hujan.

Puisi kembali menyapa mereka lewat sepenggal percakapan pendek.

Pria Sepi : “Mencoba bersanding dengan hangatnya terik matahari. Selamat pagi jiwa-jiwa yang bersemangat. Sandingkanlah hangatnya jiwa sejajar dengan hangatnya sang surya.”

Gadis Sepi : “Matahari baru saja akan merangkak. Tapi awan menelannya begitu saja. Keping-keping cahaya itu mulai surut. Tak mampu lagi menyusup di sela rimbun dedaun. Seperti hujan anak panah yang sekejap menghilang sebelum menusuki pori-pori. Siang meredup. Mengungsikan hangat. Menebarkan penat.”

Operator seluler akan tetap menjadi Pak Pos setia. Mengirimkan setiap kata untuk manusia-manusia kesepian di seluruh dunia. Kalian tentu bisa membayangkan, berapa juta pesan yang sedang beterbangan di udara. Betapa sesak langit dan musim.

Percakapan ini akan selalu diteruskan. Kepada lain orang yang sama-sama sedang butuh teman. Ada Si Gadis Sepi di sini. Barangkali, diantara kalian ada yang berminat menghiburnya dengan puisi. Bagi orang yang dikutuk sepi macam begini, puisi tak perlu indah atau menyayat hati. Hanya sesuatu yang bisa sekadar mengisi. Kawan, tak bosan menanti denting kata dan puisi terkirimkan untuk kami.

catatan:
Perkenalkan, Pria Sepi ini tampaknya sedang mencoba menjadi penyair. Meskipun, hanya bisa terilhami dan merangkai kata ketika merasa sepi. Karya hasil kolaborasinya dengan Gadis Sepi ini bisa dibilang merupakan karya perdana. Pria berinisial A asal Kota Ngawi ini sedang gencar mengejar pujaan hati yang tak tahu masih berlari kemana. Sedangkan gadis yang dicintainya sejak es em a itu masih saja enggan menjawab harapannya. Aktifitasnya saat ini masih menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Kota M. Anggota Laskar Senja ini masih aktif nongkrong di angkringan, bercakap soal cinta dan hidup. Meski sayang, intensitas pertemuannya semakin jarang karena kesibukan masing-masing. Kita nantikan saja karya-karya selanjutnya dari Sang Pria Sepi.

Beberapa malam berikutnya.....
Seorang teman (HD) mengirimkan pesan,
“Bila aku tidak menyukai kehidupanku, siapakah yang harus aku salahkan tentang semua ini? Apakah aku harus menyalahkan ibuku, karena telah melahirkanku sebagai anaknya. Atau aku harus menyalahkan Sesuatu yang tak memberiku kepandaian agar aku dapat menang dalam berperang dengan kehidupan. Atau diriku hanya orang bodoh yang menanyakan hal yang bodoh. Mungkin ini hanya pemikiran khilaf sesaat, dimana setan sedang menghampiri hati yang sesat.”

Gadis Sepi pun menjawab,
“Pun halnya aku sempat berpikir sesat. Tapi akupun tak bisa menyalahkan siapapun. Ini hidup seperti mimpi. Siapa yang bisa menyalahkan mimpi. Hah, memang susah mengalahkan diri sendiri. Yang sesat, yang selalu terikat dengan keinginan-keinginan, yang tak bisa lepas dari lekat nafsu, yang selalu ingin memburu. Tak pernah ada yang salah. Bukankah salah pun bagian dari yang benar? Sebagian diri kita memang diciptakan untuk menjadi hitam. Tak pernah ada yang salah. Berbuat, bersyukur, nrima, pasrah dan nikmatilah.”

Dan Pria Sepi pun ikut menjawab,
“Hidup itu aneh tapi nyata, gak ada yang gak mungkin. Hidup itu misteri dan kejutan. Jadi, misteri kehidupan akan lebih mengejutkan.”

Demikianlah setiap pesan memaknai kehidupan. Seperti inilah kekuatan kata-kata yang dituliskan. Tak akan sampai bila hanya dengan lisan. Dan beginilah kami biasa mengeja malam.

Pada suatu malam di Jogja, Juli 2010