Sabtu, 30 Juli 2011

Membaca Politik Sembari Minum Kopi*


Hampir setiap pagi saya mengakrabi aroma kopi. Mulai dari biji kopi yang disangrai dan ditumbuk, kopi Bengkulu dari Eka, sampai berbagai rasa kopi dalam kemasam yang dicampur dengan susu, cream, mocca, vanila dan sebangsanya itu. Hanya saja siang ini sedikit ada kopi berasa sangat berbeda menyentuh indera saya. Silakan saja kalau ingin membilang saya kurang gaul atau apa karena sudah lima tahun di kota ini tapi baru hari ini bisa mengambah dunia lain dari aroma kopi.

Di sebuah tempat, apapun namanya. Ruap asap kopi ternyata bisa menampilkan berbagai realitas politik. Asap rokok berkepulan melukiskan pikiran-pikiran orang yang beraneka macam. Sayang sekali saya sendiri tak tahan dengan ruang baru ini. Rasanya sedikit asing karena sebagian dari mereka menggunakan dialek yang hanya mampu saya pahami sepatah-sepatah. Padahal, akan lebih banyak yang bisa diceritakan ketika saya bisa menahan diri untuk duduk lebih lama.

Angkringan, tempat nongkrong atau warung kopi mungkin sudah pernah menjadi kajian politik ketika dihubungkan dengan konsep ruang publik. Setidaknya, akan sedikit berbeda kalau saya bisa melihatnya sendiri. Pak Habermas berkata bahwa di ruang publik yang bebas macam beginilah orang-orang dalam posisi mereka yang setara bisa melakukan transaksi-transaksi wacana (discursive transactions) dan praksis politik tanpa mengalami distorsi dan kekhawatiran, ini kalau saya tidak salah ingat. Lalu kata orang di depan saya tadi, di tempat ini banyak sekali keputusan dieksekusi. Orang bisa betah ngobrol dari jam delapan pagi sampai warung tutup jam dua belas malam tanpa henti. Mereka merancang konsep, mungkin stratak kalau konteksnya gerakan mahasiswa, membicarakan politik kampus, isu-isu mutakhir yang akan diangkat dan sebagainya. Tempat ini menjadi semacam arena bertemunya pemikiran para intelektulitas muda dari berbagai universitas.

Aroma politik dari uap kopi dan asap rokok semakin lama akan semakin mengental. Di ruang publik ini pun katanya banyak intrik yang menuntut para peminum kopi** untuk selalu pasang mata dan telinga, karena siapa yang tidak peka akan tersingkir dengan sendirinya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ruang publik yang bebas pun tidak menjamin para penghuninya terlepas dari keberadaan kuasa, posisi-posisi yang terlihat setara tapi tidak setara dan seliweran-seliwaran kepentingan yang bisa datang dari mana saja.

Aspek yang muncul kuat di ruang publik jenis ini dan paling terlihat adalah unsur informality. Aspek informality membuat hubungan sosial menjadi tidak terlalu formal atau kaku sehingga tempat ini menjadi semacam public sphere yang dinamis. Para peminum kopi bisa keluar dari struktur-struktur tertentu yang constraining dan membuatnya enabling. Hal yang dibicarakan ketika rapat dalam sebuah organisasi dengan pola hubungan formal dan vertikal bisa menjadi cerita lain ketika dibahas dalam suasana yang lebih horizontal seperti ini. Banyak proses terjadi di dalamnya. Ada eksplorasi persamaan dan perbedaan persepsi, reframing ide dan perspektif, mobilisasi sumber daya dan tentu masih banyak hal yang saya tidak tahu. Beberapa yang saya sebutkan pun sebenarnya hanya kemungkinan dari banyak hal yang dilakukan para peminum kopi di tempat ini.***

Melihat sepintas relasi-relasi antar peminum kopi, dalam pikiran saya seperti tergambar jaring-jaring yang saling berpotongan, saling melingkari, atau membentuk semacam pola-pola tertentu. Jaring-jaring ini mengandung banyak sekali endapan ideologi, ekspresi beragam ide, rasa solidaritas sampai perasaan senasib sepenanggungan**** antar peminum kopi. Jaring relasi ini pun tak dapat dihindari memiliki banyak retakan, bahkan patahan ketika lempeng-lempeng pemikiran tidak hanya dieskpresikan melainkan menjadi sesuatu yang diskursif dan terus diperdebatkan. Proses semacam inilah yang sebenarnya bisa membawa kematangan berpikir bagi para peminum kopi.

Dari kepulan asap gulungan tembakau berbagai merk yang dilukis dengan ampas-ampas kopi, bisa dilihat bagaimana teori-teori Arend Lipjhart, Ustadz Satori atau Pak Maurice Duverger menemukan signifikansinya dalam ranah politik praktis. Para peminum kopi dengan wajah-wajah serius bicara soal sistem pemilu dan partai, electoral threshold yang harus dicapai dan entah apalagi yang tidak saya pahami karena selalu membuat puisi ketika Pak Ketut dan Mas Sigit menyampaikan kuliah tentang tetek bengek ini.

Lalu apa tujuannya? Saya sendiri juga tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Mungkin untuk mencounter negara (dalam ruang yang lebih sempit barangkali mengkritisi pejabat-pejabat rektorat), mungkin untuk misi yang lebih mulia demi kebangkitan bangsa, mungkin juga menjadi strategi untuk mencapai kekuasaan yang lebih tinggi. Beberapa peminum kopi yang menonjol bisa berkesempatan menjadi pengurus parpol lalu berkiprahlah mereka dalam politik praktis di daerah atau bahkan di senayan. Bagaimanapun mereka adalah bagian dari sebuah alur. Saya tidak tahu juga bagaimana kelanjutan cerita para peminum kopi ketika sudah masuk dalam sistem tertentu. Apakah mereka tetap akan memperjuangkan idealisme yang dibicarakan siang malam itu? Apakah karakter mereka cukup kuat juga untuk tidak terseret arus? Apakah mereka kemudian bisa mewujudkan visi dengan mengubah sistem dari dalam? Entahlah.

Satu hal lagi yang ingin saya katakan atau seperti apa yang dikatakan orang di depan saya siang tadi. Di sini memang tempatnya orang-orang yang telah matang aspek psikomotor dan afektifnya tapi serasa kurang sumber daya untuk menggenapi aspek kognitif. Mereka, para aktivis ini mungkin sudah ahli ketika turun ke lapangan namun lemah ketika harus menjadi konseptor yang bisa merangkai, mensistematisasikan suatu ide dan menurunkannya pada wilayah praksis. Tukang membuat konsep sebenarnya bisa dilakukan oleh para akademisi maupaun peneliti. Namun, mereka yang berbekal teori-teori langit itu kadang enggan turun dari menara gadingnya untuk melihat wilayah praktis dimana teori-teori itu dapat mewujud atau bahkan menemukan penyempurnaan wujudnya.

Sebagai sebuah ruang publik yang bebas, tempat ini sepertinya masih membutuhkan adanya sharing sumber daya. Peminum kopi bisa jadi tidak hanya terbatas pada para aktivis tapi bagaimana networking bisa dikembangkan sampai para peneliti, akademisi, atau menantang bahaya dengan memasukkan aktor-aktor “negara”, tentu dalam batas dan skema hubungan yang informal tadi. Ketika semua aktor bisa menjadi peminum kopi yang baik, dengan misi kebaikan bersama yang ingin dicapai, bukankah sekat-sekat bisa semakin tidak terlihat?

Hanya inilah yang sempat saya rekam. Tulisan ini sangat mungkin terkontaminasi dengan imajinasi yang saya buat sendiri sehingga tidak seutuhnya sesuai dengan senyatanya.


*Tulisan ini barangkali menjadi geje alias gak jelas untuk pembaca yang tidak mengetahui konteks yang saya bicarakan. Tapi ya sudahlah, setidaknya saya bisa merekam untuk diri saya sendiri. Hanya interpretasi sepihak tanpa dikonfirmasikan ulang atau mencoba menggalinya lebih dalam. Soalnya kalau digali lebih dalam bisa jadi tesis.hehehe...
**Hanya sebutan untuk orang-orang yang suka ngopi di sini.
***Untuk bagian ini saya memang sedikit sok tahu.
****Yang ini muncul ketika mereka menggunakan logat yang hampir sama ketika berbicara, dengan wajah-wajah serupa, bibir menghitam kebanyakan menghisap asap, ah entahlah bagaimana melukiskan kemiripan orang-orang itu dalam kata-kata.

30 Juli 2011

Kamis, 30 Juni 2011

Ingin Makan Siang Tanpa Geram

Lengang
Tak ada yang menyahut
Kata tak juga memenuhi undanganku
untuk datang
Kembali bertualang
Sampai kapan harus kuabadikan kejahatan
Dengan hanya kagum pada pikiran orang-orang
Buku-buku yang mereka baca
Sedang aku di sini setia merawat luka
Memenuhi pelupuk mata
Geram tak hendak rebah begitu saja


Di sebuah perpustakaan
30 Juni 2011, 11:06 am

Rabu, 22 Juni 2011

Catatan dalam Gelap Malam Gerhana Bulan

TBY, Sabtu 18 Juni 2011
Beberapa hari yang lalu, gerhana bulan terjadi dini hari. Orang-orang selalu menghubungnya dengan pertanda-pertanda. Dan malam ini, saatnya Sanggar Nuun menggelar lakon “Gerhana Bulan Ketiga “ karya Wahyudi dan disutradai oleh Mukhosis Noor. Setelah berkeliling menikmati berbagai benda dan makanan yang dihadirkan kembali dari masa lampau lewat Pasar Kangen di halaman TBY, saatnya untuk mengerutkan dahi menikmati suguhan teater surealis yang lahir dari paduan alam nyata dan imaji.

Panggung mulai gelap. Setting panggung dibuat cukup sederhana dengan kain putih yang dijereng setengah lingkaran seperti sosok bulan sebagai latar belakang. Di depannya terdapat sebuah menara menjulang dengan aksen ranting-ranting pohon pada puncaknya. Seseorang kemudian muncul di puncak menara sambil menari-nari. Sayang sekali olah tubuhnya kurang sempurna sehingga tarian yang seharusnya menyajikan kesan magis itu jadi terlihat kaku.

Orang-orang datang membawa kursi, saling mendesis dengan gerakan menakutkan. Kursi selalu membawa persepsi saya pada cerita tentang kekuasaan. Ternyata memang benar. Alkisah di sebuah negeri, seorang pemimpin baru saja meninggal dunia. Wilayah itu jadi kacau setelah ditinggal pemimpinnya. Orang-orang saling berbisik tentang siapa yang akan menggantikan kedudukan pemimpin itu. Perekonomian semakin kacau, membuat rakyat kecil tambah sengsara, sementara para pejabat masih sibuk sendiri mencari pengganti sang penguasa.

Sepasang pemain membawa lilin dan menari perlahan. Lilin itu menerangi samar balai pertemuan dimana ratu dan ketiga anaknya saling berdialog. Ketiga anaknya itu ternyata buta dan salah satunya adalah perempuan bernama Samina. Sang ratu duduk di atas kursi roda dengan baju keperakan beraksen futuristik. Adegan ini sedikit terlalu lama dan membosankan, bercerita tentang tiga orang yang memiliki darah pemimpin dalam tubuhnya tapi tak bernyali untuk memimpin negeri hanya karena keterbatasan mereka. Tiga orang yang mewakili rasa keraguan, ketakutan dan kecurigaan.

Setelah perdebatan para pewaris tahta, saatnya rakyat bicara. Muncul seorang gila yang sedang berakting mimpi basah di tengah pasar yang masih sepi. Tak lama kemudian, mulailah para pedagang pasar yang menjual obat, pakaian dan barang pecah belah ramai menawarkan dagangannya, saling berebut pembeli. Para pembeli terdiri dari kekek tua dan dua orang perempuan. Mereka ingin mencapai kesepakatan harga dengan kepentingannya masing-masing dan akhirnya tak tercapai pula. Tiba-tiba suasana mulai meninggi dan mereka semua berakting seperti kera, meninggalkan panggung dengan tiba-tiba pula.

Adegan berikutnya adalah rapat dewan agung untuk menentukan siapa yang menjadi pemimpin negeri itu. Tak jelas juga bagaimana akhirnya. Dua orang pewaris tahta mati terbunuh, termasuk juga Samina yang juga dibunuh entah oleh siapa. Sepertinya ada satu lagi pewaris tahta yang sebelumnya tidak muncul di adegan, tapi entahlah. Pikiran saya kadang melayang kemana sehingga tak seluruhnya isi pertunjukkan ini bisa diperangkap dalam otak.

Secara keseluruhan, saya suka dengan pertunjukan Sanggar Nuun kali ini. Beberapa pemainnya bisa masuk dalam karakter tokoh sepenuhnya. Mereka seperti bisa menghilangkan diri untuk sementara atau memenjarakan ‘aku’nya untuk diganti dengan ‘aku’ si tokoh cerita. Beberapa diantaranya sepertinya bisa berperan dengan baik karena bawaan sehari-harinya sudah begitu. Tapi, ini hanya prasangka, tentu bisa benar dan bisa saja salah.

Beberapa karakter yang sempat masuk dalam catatan saya salah satunya adalah Samina. Tokoh ini dalam kemunculannya selalu mendapat respon dari teman di sebelah yang awam dengan teater. Aktingnya cukup baik untuk ukuran seorang perempuan yang kadang memiliki keterbatasan dalam mengeksplorasi peran. Ia cukup berhasil memerankan sosok wanita buta yang terkesan sadis dan sinis. Tokoh perempuan lain juga terlihat baik seperti sosok ratu dan penjual baju. Tata busana dan riasanya cukup mendukung pencitraan tokoh. Meskipun menggunakan jilbab, busana para aktris ini tetap memiliki unsur teatrikal dan tidak terkesan aneh.

Untuk aktor lain, saya suka dengan karater orang gila. Meskipun tidak memiliki porsi cukup banyak dalam cerita, setidaknya orang gila ini bisa merepresentasikan bahwa ialah sebenarnya yang paling waras dalam cerita ini. Berikutnya adalah penjual jamu dengan gaya bicara dan aksennya yang mirip sekali dengan penjual jamu aslinya. Dan yang paling saya sukai adalah sosok penjual barang pecah belah. Entah kenapa orang ini bisa menjadi benar-benar tua. Ia mengubah suaranya menjadi cempreng tapi terkesan sangat biasa seperti suara aslinya. Sepertinya, ada orang tua yang benar-benar masuk dalam diri si aktor ini. Riasan wajahnya sangat mendukung dan dia juga bisa menjadi seperti benar-benar kera dalam adegan sebelum meninggalkan panggung.

Unsur gerak dan dialog dipadu padankan secara selaras dalam pertunjukan ini. Musiknya cukup lumayan dengan beberapa kali terdengar suara mirip tetesan air, cukup mendukung suasana yang ingin ditampilkan. Peran ganda dari beberapa aktor perlu untuk diapresiasi tersendiri, semoga bukan karena kurangnya pemuda yang berminat pada teater sehingga sampai kekurangan orang untuk sebuah pertunjukan.

Beberapa momentum mungkin ada yang meleset. Namun, tak ada suatu pertunjukkan yang sempurna di dunia ini. Kebetulan saya mengajak beberapa teman kost yang belum pernah menyaksikan teater sebelumnya. Setelah sampai di kost, hal yang ditanyakan adalah cerita tadi sebenarnya bicara tentang apa? Teman saya hanya menangkap adanya perebutan kekuasaan dan memang itu intinya. Ia juga seperti terngiang-ngiang dengan nama Samina dan sering menyebut kata itu dengan nada dan gaya teatrikal.

Teater surealis yang cenderung berunsur absurditas mungkin memang sedikit sulit diterima orang awam karena penonton harus merefleksikan lebih dalam dan tidak hanya sekadar menonton. Hal seperti inilah yang membuat otak berputar selama pertunjukkan namun tidak semua penonton mau melakukan itu. Tentu akan ada terang setelah gerhana bulan. Purnama.
Good Job, I Like It....

Senin, 20 Juni 2011

Semalam Jadi Pasien di Orkhestra Rumah Sakit

TBY, 10 Juni 2011

Tiga orang pasien sedang duduk di pojok ruang tunggu sebuah rumah sakit. Segala gaya dan tingkah laku mereka selalu kompak, sampai tempo batuk dan gaya membuang ludah pun juga sama. Sudah tiga hari mereka menunggu panggilan sebagai pasien untuk segera ditangani dokter. Tiga hari pula penyakit mereka tambah parah saja. Adegan inilah yang mengawali pertunjukan Tetaer Shima dengan judul “Orkhestra Rumah Sakit” karya Puntung CM Punjdadi.

Cerita selanjutnya berbicara seputar sebuah rumah sakit dengan segala ketidakberesannya. Orang-orang kaya memesan kamar VVIP di rumah sakit hanya untuk beristirahat dan menghindar dari persoalan. Dokter dan perawat saling bercinta. Pemilik rumah sakit dan perawat juga saling bercinta. Seorang dokter menjual organ pasien yang sudah mati, katanya demi ilmu pengetahuan, untuk para mahasiswa kedokteran. Dokter mempunya staf ahli anestesi, seorang satpam bertubuh tambun yang selalu membawa ganden untuk memukul kepala pasien biar cepat mati. Orang miskin dioprasi di dapur, dibedah perutnya dengan gergaji dan pisau berukuran besar sekali.

Beberapa menit berselang, ada sebuah adegan yang tak terduga ketika muncul salah satu aktor dari atas panggung menggunakan tali. Katanya dia ini adalah malaikat pencabut nyawa. Seorang malaikat yang bisa disogok agar nyawa bisa diperpanjang demi menikmati dunia. Seorang pemabuk cukup membayar lima ratus ribu saja untuk satu minggu perpanjangan nyawa. Waktu yang cukup panjang baginya untuk bertobat atau untuk lebih bisa menikmati dunia lewat botol-botol alkohol. Ide adegan ini memang menarik dan menggelitik. Hanya saja, kemunculan malaikat dan gayanya yang terlalu aneh sedikit mengganggu komposisi pertunjukan secara keseluruhan.

Segala macam paradoks rumah sakit dihadirkan dalam cerita ini. Miskin dan kaya tentu tak bisa diperlakukan sama. Moralitas manusia diaduk-aduk sedemikian rupa. Adegan pun di tutup dengan kisah ketika si miskin mati, satu orang pun tak ada yang menangisi. Sangat berbeda dengan si kaya, mati dikerubuti sanak saudara yang pura-pura mengeluarkan air mata. Wartawan datang untuk mengambil gambar-gambar topeng kesedihan. Para penangis terlihat konyol ketika mereka bergaya ketika difoto dan kembali menangis ketika lampu kamera berhenti menyala.

Pertunjukan Teater Shima kali ini cukup mampu menampilkan naskah cerita yang segar. Sebuah realitas yang mungkin sangat bisa terjadi di carut marutnya negara kita saat ini. Para penonton bisa dibuat tertawa sekaligus miris. Artistiknya pas dengan suasana yang ingin dibuat dan mampu menerjemahkan naskah dengan baik. Musiknya juga tidak wagu sehingga mampu menjadi penyelaras setiap adegan. Konsep cerita dan unsur-unsurnya sepertinya dirancang dengan matang. Kapasitas keaktoran para pemain juga relatif seragam sehingga tidak ada salah satu aktor yang terlihat menonjol atau terlalu lemah.

Satu hal yang menarik dari teater ini adalah ketika pertunjukan yang ditampilkan mampu menjembatani antar generasi. Pemain senior dan anak-anak SMA menjadi satu dalam kesatuan sebuah panggung dan isi pertunujkan. Model pertunjukan seperti ini dapat menjadi alternatif pembelajaran teater yang cukup menarik. Transfer dan sharing pengalaman bisa dilakukan dalam satu wadah pertunjukan yang sebenarnya. Proses learning by doing seperti inilah yang bisa diadaptasi ketika pengembangkan kapasitas para aktor pemula bisa dilakukan dengan berpentas bersama para seniornya.

Sebagai pasien saya cukup puas dan tidak merasa menyesal membayar tiket masuknya. Sebagai pasien, saya mengaku sakit dan harus dirawat dengan selang-selang infus dan aliran oksigen. Pertunjukan kali ini cukup memberi saya energi. Seperti pasien yang menunggu diperiksa seorang dokter tampan, seperti pasien yang kelaparan menunggu jatah makan yang kadang tak berasa. Pertunjukan-pertunjukan semacam inilah yang membuat saya masih betah tinggal di rumah sakit jiwa bernama Yogyakarta. Saya tak mau sembuh dengan tetap menyeduh kata. Saya mau tetap gila biar bisa disebut manusia.

Salam buat salah satu pemain musik, seorang lelaki yang main gitar itu rambutnya mirip gadis Sunsilk.hehe...

Senin, 06 Juni 2011

Kenangan Berenang dalam Kuah Soto

Rasanya baru kemarin
kita menyusuri kota ini bersama.
Masih adakah menyisa?
Kuah soto bebek dan
butiran nasi yang kau habiskan dari piringku.

Wajah kita menghitam penuh asap bus kota
Kau membuka setangkup keluhan pada tuhan
di atas lapaklapak pasar
bergembok lelah para penjual sayuran,
ikan bandeng dan pindang.
Siang seperti dingin
membekukan kita di hadapan televisi menyala
seorang perempuan dan ular besar menggayut manja

Aku menengok ke arahamu
telah kau habiskan sisa makan siangku.
Cinta dan kenangan kecanduan kuah soto,
kehilangan selaput di antara ruas jari
tak bisa lagi berenang bersama si bebek buruk rupa.
Rasanya baru kemarin
masih adakah menyisa?

Juni 2011
Mengenang Kembali dari Kaca Jendela Bus Kota, ketika Melewati Klaten

Rabu, 01 Juni 2011

Ingatan Rapuh Desa Brubuh

Seperti itulah matamu,
berdiam antara kedalaman samudra
dan dunia para pencuri.
Begitu saja cinta kita,
seperti seikat rambutan
kau curi dari pohon di kebun tetangga.
Kau manjat, dikeroyok semut hitam
Katamu ini lebih manis,
dari rambutan kehijauan yang bergerombol
di pekarangan samping rumahmu.

Seperti maling,
kita saling mencuri nafas
Mbah kakung angon kambing dan cari rumput
Mbah putri menyiapkan makan siang
Tubuh bongkoknya riang memasak sayur lodeh dari ketela
di bumbu bawang, cabai dan garam saja
tungku dan gemeretak kayu menyusupkan asap
siap mengintip kita dari celah jendela menutup rapat

cinta kita memang hanya seikat rambutan curian
melawan gravitasi dengan melemparkan kejahatan
mimpi menggantungnya di langit tak bisa jatuh
menjadi bintang, kejora, bahkan
tiba tiba aku mengingat Brubuh
tikar pandan lusuh dan uap kopi
menyepuh peluh

1 Juni 2011

Senin, 30 Mei 2011

Palilah (Geguritan Kagem...)

Manungsa pancen ora bisa ngangsa pesthi, ngaya tekane pesthi
Sing pada nresnani uwis minggat siji mbaka siji
Pamit ora bisa maneh ngenteni
Lunga nggandeng wong kang bisa dijak bebarengan tumekeng pati
Mbabat alas urip bebarayan wiwit saiki

Aku ora bisa nggoceki maneh
Wis ben, ah luweh

Nadyan aku ora bisa njawab pitakonanmu
Mangertia yen sejatine aku isih ndelikake apa kang sanyatane
Salawase aku mung mikir awakku dhewe
Ora nggrahita kaya ngapa laraning atimu,
Nalika aku mung nggoleki sliramu yen lagi kasaput sepi
Banjur lali yen pas nedheng seneng

Pangapuramu kang tansah tak enteni
Palilah iki tampanana
Aku mung bisa ndedonga, uripmu bisa manggih mulya
Donga kang ora bakal kendhat
Rahayu ndonya akherat

Wengi iki lumantar hawa anyeting angin,
Ukara kanthi ukara mbanyu mili
Kaya-kaya sliramu wong kang paling becik sak ndonya,
Wong kang paling tresna lan mangerteni aku
Kaya-kaya aku sing paling tumindak culika gawe rojah rajehing atimu
Nanging ora, dudu kuwi kang terang trawaca saka kandhamu
Aku selak yen kudu dadi wong sing paling disalahake jroning kahanan iki

Ah, mbuh ora weruh
Tak rungokne wae kabeh pangucap kang krasa mung dadi uwuh

Kocapa carita swaramu njelma kaya Rahwana
Ngucap mantra kang aku ora ngerti nganggo basa apa
Dadaku sesek sanalika
Aku kena suwuk
Ong....ora bisa bali ngantuk
tumeka isuk

Mei 2011

Kamis, 26 Mei 2011

Sepagi Sembah Selatan

Sepagi dalam sembah kepada selatan
Aku membaca ayatayat ombak di atas punggungmu
Kau duduk bersila, memejam mata
Dan selalu seperti itu, kau tak pernah tahu,
bagaimana aku menatap punggungmu,
menekuk lutut dalam pasir dan sengat matahari

Di pelupuk cakrawala kau telah menemukannya
Gadis berparas lautan, rambutnya berurai gelombang
Dan masih saja tak lepas mataku dari punggungmu
Perlahan begitu saja menguraimu menghilang
Bersama gadis lautmu, senyap melepaskan kehilangan
Kau melesap sudah

Aku sebutir pasir, ombak menyapuku
Sebutir pasir mendekati ombak
Sebutir pasir mencicipi ombak
Sebutir pasir menenggak ombak
Setetes ombak menyentuh sebutir pasir
Sebutir pasir menjadi ombak
Kita menghilang bersamaan
Aku, kau dan gadis lautmu
Merasuk dalam ombak selatan

Mei 2011

Senin, 16 Mei 2011

Pada Sebuah Perjamuan

Pada sebuah perjamuan. Para petani dan nelayan terdampar. Para pejabat duduk mengelilingi meja bundar. Perjalanan meninggalkan ladang dan lautan, mengambang dalam lagu-lagu kenangan dan pidato-pidato seremonial.

Seperti terasing di dunia lain. Mereka tenggelam dalam tumpukan makanan. Lidah-lidah saling bergidik, enggan mencecap udang saus strawberry dan gurame yang disiram saus buah warna-warni. Nelayan tak tidur semalam. Nangkap cumi-cumi untuk digoreng dengan sangat kering bermandi saus asam manis. Petani terjaga semalam. Menuai padi dan sayuran organik yang dihidangkan di sini. Segala yang tak pernah sampai di meja makan mereka sendiri.

Para pelayan restoran masih saja hilir mudik. Menyangga piring-piring saji dengan gunungan penuh sendawa dan basa-basi tawa. Sebentar saja, piring-piring segera kosong. Perut-perut menggembung, menjelma balon udara, menerbangkan mereka. Hingga ke lautan, udang dan cumi tak sempat dicerna ingin segera kembali. Sampai ke ladang-ladang padi, dimana beras ingin menjelma benih, kembali menelusup ke rahim bumi. Perut-perut pecah sudah. Tertusuk jerami-jerami basah.

15 Mei 2011

Kamis, 05 Mei 2011

Obrolan Para Penyair dalam Sekaleng Bir

Ini warung kopi tapi banyak yang minum bir di sini. Yang tak mabuk tak bisa bikin puisi. Biar sesak di kepung asap rokok, saya akan tetap setia dengan pena dan buku catatan kecil ini, duduk dipojokan bersama seorang teman. Yang saya lakukan hanya merekam, berusaha tak melewatkan obrolan dan diskusi ini. Bukankah akan hilang kalau tak dicatatkan? Bukankah bisa basi kalau hanya ditanak dalam ingatan?

Senin malam, 2 Mei 2011 di sebuah warung kopi, seorang penyair muda Y. Thendra BP melaunching buku kumpulan puisi keduanya. Puisi-puisi ini ditulis sejak tahun 2004-2011. Sebuah usaha yang berat katanya untuk membuat puisi-puisi ini. Hadir sebagai pemantik diskusi adalah Saut Situmorang dan Alwi Atma Ardhana.

Kalau ada orang bersuara berat dengan kaleng-kaleng bir di depannya itu, saya sudah menduga kalau nantinya pembicaraan ini akan mengarah pada perang-perangan yang dimainkan para penyair di dunia mereka. Dunia perang kalian memang sering saya dengar dari kabar yang dibawa angin, beberapa esay Saut dan wacana postkolonial yang sering didengung-dengungkan itu. Seandainya bukan orang yang bergelut dengan sastra, tentu tidak akan tahu permaian perang-perangan seru. Entahlah, sebenarnya saya pun tak begitu paham dengan pintu yang saya masuki malam ini. Ah, setidaknya saya bisa nyangkut, pada seuntai rambut gimbal Saut.

Acara dimulai dengan pembacaan beberapa puisi Thendra. Sulur-sulur asap masih mencekik dari luar dan dalam ruangan. Saya terus merasa sesak sampai mengalihkan pandangan pada seorang pemuda berkaos merah. Dari belakang, hanya punggungnya saja yang kelihatan bertuliskan kutipan kata-kata Sutan Sjahrir yang berbunyi “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.”

Bicara soal pertaruhan, saya sampai detik ini entah kenapa selalu kalah main judi soal cinta, bertaruh kepingan cinta. Habis sudah cinta, tinggal sedikit saja menyisa. Soal hidup, rasanya tak banyak juga yang sudah saya pertaruhkan, tak banyak pula yang bisa saya menangkan. Wajah orang-orang yang datang dalam acara seperti ini rasanya memang hanya mereka-mereka saja dan entah cerpenis atau penyair berambut gondrong diikat itu datang lagi juga. Masih dengan kaos putih yang sama seperti yang dipakai di acara malam minggu bersama Chairil di Stasiun Tugu. Kaos bergambar salah satu pemimpin dunia bertuliskan ‘he is my hero’ di bawahnya. Apakah seniman memang tak sering ganti baju? tanggalkah inspirasi ketika mereka ganti baju? Barangkali bau keringat bisa memicu urat-urat syaraf kepala untuk melahirkan karya. Tanya saya aneh-aneh saja. Barangkali juga dia punya banyak kaos yang seperti itu.


Romantisme Kedaerahan sampai Dunia Lipstik Perkotaan

Sambil berusaha untuk fokus, saya menyimak apa yang dibicarakan oleh Alwi. ‘Aku’ dalam puisi-puisi Thendra katanya tidak satu, apalagi dalam beberapa puisi yang bernada protes atau mengangkat tema-tema sosial politik. Puisi-puisi Thendra mengandung dua tema besar. Ia memiliki kesadaran sebagai manusia pasca kolonial. Ia sadar pula berada dalam masyarakat yang dihajar sampai mampus oleh liberalisme dan kapitalisme.

Penggunaan ‘aku’ yang sangat cinta merupakan bentuk ironi, melihat Indonesia sebagai succeed state. Thendra memiliki banyak ironi yang bisa dimainkan untuk menggarap tema-tema besar tersebut.

Thendra menjadi salah satu penyair daerah yang memiliki imajinasi tentang kejayaan atau romantisme masa lalu di daerahnya. Misalnya dari sajak “Manusia Utama” yang diterjemahkan dari bahasa suku Amungme yang mulai tergeser. Ia memainkan ironi yang agak romantis tentang lubang-lubang tambang, dan sebagainya.

Tema besar kedua adalah ketika Thendra banyak menyoroti masalah-masalah perkotaan. Ia menggambarkan keindahan yang hanya lipstik, hanya kebohongan. Puisinya menggunakan diksi-diksi yang khas perkotaan. Misalnya saja dalam puisi “April Haiku Chairil”, Thendra menggunakan bentuk ortodoksi Haiku untuk melukiskan imajinya.

Sayangnya, saya tak beli buku kumpulan puisi Thendra jadi mohon dimaklumi kalau tak maksimal menggambarkan penjelasan Alwi.



Masih Nyangkut di Rambut Saut

Dari kumpulan puisi Thendra, Saut berani memberikan klaim sensasional bahwa ini adalah dobrakan dalam sastra Indonesia. Bagi mereka yang hanya menjadi pemuja berhala sastra koran minggu, akan mencret baca buku ini.

Puisi Indonesia Saat ini didominasi oleh puisi-puisi lirik romantik yang bersifat otobiografi. Apa yang sudah dimulai oleh Amir Hamzah, sedikit Gunawan Mohammad, Sitor Situmorang, Rendra, Subagyo Sastrowardoyo seperti dirusak oleh puisi yang hanya indah-indah itu. Para penyair itu sering bermain dengan kata majemuk yang dia sendiri tidak mengerti. Puisi telah dirusak oleh bentuk-bentuk repetisi yang terus direproduksi oleh sampah koran minggu.

Puisi Thendra menjadi angin segar dalam phrasing-nya. Ia telah selesai dengan kata, berbeda dengan para penyair koran minggu yang masih memiliki persoalan dengan kata. Ketika penyair masih memiliki persoalan dengan kata, bagaimana ia akan bicara melalui puisinya. Kesalahan ini diteruskan oleh beberapa nama itu. Padahal, sensasi bunyi pun sebenarnya tidak bisa mereka temukan. Thendra menjadi seperti gelombang kecil karena pengaruh kuat media.

Thendra memberikan penjelasan pertanyaan salah satu peserta diskusi. Barangkali terlalu dekat mikropon itu di mulutnya sampai apa yang dibicarakan menjadi tak jelas, tak sempat terekam. Ada juga pertanyaan tentang seberapa pengaruh Saut terhadap Thendra.

Tema-tema yang diangkat Thendra sedikit banyak mungkin memang mirip dengan Saut. Tema dimana-mana memang bisa sama tetapi kata Saut yang berbeda adalah phrasing-nya, bagaimana seorang penyair mengekspresikannya.

Kembali lagi ke pembicaraan sampah koran minggu. Kata Saut lagi, mereka itu telah salah dalam melakukan eksperimen kata untuk bunyi. Mereka banyak menggunakan repetisi kata atau kalimat dalam karya-karya puisi di koran minggu. Namun, mereka menggunakan fomula yang gagal. Lisensia puitika tetapi gagal juga. Menyerap bahasa Jawa ke Melayu-Indonesia tetapi gagal lagi. Kesalahan ini menjadi sesuatu yang diulang-ulang dan secara tak sadar dianggap benar. Ini terjadi pada pengulangan kata untuk jamak yang seharusnya diulang secara utuh. Untuk menunjukkan banyak daun seharusnya ditulis dengan ‘daun-daun’ dan bukan ‘dedaun’. Kata ‘pepintu’ itu tidak ada karena yang benar adalah ‘pintu-pintu’.

Entah mengapa hal ini bisa terjadi. Mereka seperti ingin menciptakan neo-pujangga baru-isme dengan menciptakan efek bunyi pada kata yang mirip lagu. Dari kata, mereka ingin menciptakan efek bunyi seperti musik. Nada menjadi komposisi paling tinggi dan kata sepertinya ingin dipaksakan untuk bisa menyeimbangi nada.

Seorang penyair adalah kekasih kata. Ketika seorang penyair ingin melesapkan makna dari kata berarti ia tak lagi menjadi kekasih kata. Lebih kacaunya lagi, bahkan para redaktur koran minggu itu ada yang tidak menulis puisi. Tambah parahnya, para penyair ada yang menganggap status jurnalistik sebagai standar status estetik. Mereka tak bangga karyanya masuk KR tiap bulan, tapi bangga ketika bisa masuk Kompas setahun sekali. Semua puisi menjadi seragam padahal redaktur koran minggu banyak yang mempropagandakan pluralisme. Kalau tak percaya bisa dicoba. Sekali-kali tulislah puisi bernada protes seperti puisi Wiji Thukul, bisa dijamin tak akan masuk koran. Sementara itu, ketika kau tulis puisi tentang diri sendiri, pasti masuk.

Pertanyaan lagi tentang apakah Thendra berhasil memasukkan kritik sosial dengan gayanya? Alwi kemudian menjawab bahwa kata ‘tambang’ yang digunakan, mungkin menjadi haram bagi banyak MNC di Indonesia, jarang juga digunakan oleh penyair. Kulon Progo mungkin banyak dilukiskan dengan pantainya yang indah tapi jarang yang mengangkat ironi pasir besi, misalnya. Thendra telah berhasil menggunakan ironi sebagai poetry device. Puisi-puisinya datang dari satu tradisi dan ironi-ironi yang digunakannya bisa sampai ketika ia bisa memilih diksi-diksi yang justru haram.

Kata Thendra tentang puisinya yang mirip Saut itu, semua orang pernah terluka tapi yang menjadikannya beda adalah bagaimana mengungkapkan luka itu. Dia mengaku belajar dari Saut tapi tak merasa terpengaruh dengan Saut. Puisi-puisi Saut, juga khasanah pengatahuan dunianya telah ikut membuatnya kaya.

Saut menyahut bahwa isu pengaruh itu menarik, seperti dalam kumpulan puisinya “Saut Kecil Bicara tentang Tuhan”. Ada semacam kecemasan tentang pengaruh. Seorang penyair bisa beranggapan bahwa supaya dia bisa hidup dalam puisi maka harus membunuh dewa-dewa mereka sebelumnya. Kecemasan ini khas dialami oleh kaum romantik sekitar abad ke-18 yang menentang habis rasionalisme pada abad sebelumnya (ini kalau saya tidak salah dengar).

Para penyair berambisi untuk menciptakan kredo sendiri dan menemukan orisinalitas. Jamal D. Rahman pernah bertanya kepada Sutardji, “semua gaya puisi telah ditulis, lalu saya nulis apa?” Sautlah yang menjawab, “Bunuh diri saja kau,” diiringi dengan derai tawa berat Saut dan yang lain.

Apa yang sudah dilakukan Saut adalah mencoba memasukkan semua penyair ke dalam dirinya dan kemudian memberinya nama baru. Inilah yang disebut sebagai intertekstualitas. Inilah yang disebut orisinalitas bagi Saut. Mencontek itu mungkin tapi siapa yang bisa mencontek. Mencontek adalah pekerjaan yang tidak mudah, bahkan Taufik pun hanya bisa plagiat. Pengaruh itu justru harus dimiliki oleh penyair.

Kekal kemudian menanggapi bahwa pasca ia menerbitkan buku, justru banyak hantu-hantu menggagu. Penyair muda sangat sulit untuk tumbuh menjadi dirinya. Ada sistem feodal yang telah diamini bersama, bahkan oleh beberapa jaringan sastra. Seorang penyair muda kalau harus berdiri bahkan harus menghancurkan dirinya. Koran minggu tidak hanya mempengaruhi tetapi juga menakut-nakuti dan akhirnya sampai pada yang merusak itu. Ia kemudian bercerita produktifitasnya ketika masih berada di kampung halaman dan sekarang entah kenapa malah menjadi tidak produktif, mungkin setelah mengenal Kompas juga. Yang mau jadi nabi menjadi semakin sulit karena harus menghadapi sabda nabi-nabi yang lain.

Saut kembali menyahut tentang sebuah jalan alternatif. Sebagaimana di Selandia Baru, dimana terdapat dua arus yang sama kuat antara sastrawan akademis dan satrawan kafe. Sastrawan akademis biasanya mempublikasikan karya mereka lewat majalah-majalah sastra sedangkan sastrawan kafe ini biasa membacakan sajaknya di kafe-kafe. Dua kubu ini memang saling berantem juga tetapi bisa bersama-sama berjalan dan sama-sama meriahnya. Tidak ada keharusan suatu karya diterbitkan. Ada semacam tradisi membaca karya secara lisan sebagai alternatifnya.

Para penyair yang tidak ingin memberhalakan sastra koran harus mampu menciptakan arus lain seperti live poetry. Sayangnya, tradisi ini belum terlalu kelihatan di sini. Bayangkan bagaimana meriahnya ketika para penyair bisa saling membacakan karyanya di kafe-kafe, di depan wanita-wanita cantik yang datang minum kopi. Arus ini bisa menjadi semacam perayaan bagi mereka-mereka yang ingin hidup di luar sastra koran. Lalu, ketika tradisi ini bisa berjalan di sini, sanggupkah para penyair itu tidak diundang ke acara-acara penerimaan hadiah sastra? Sanggupkah mereka untuk tidak dinilai dengan penghargaan-penghargaan? Memang ada persyaratan utama yaitu menjadi bintang merah komunis. “Hahaha....,” Saut kembali tertawa, kali ini lebih renyah.

Derai tawa berat Saut disahut yang lain. Saya menutup catatan kecil ini. Kembali merenung-renung. Perang kalian itu masih terlalu abstrak. Saya rasa biar saya di sini saja. Belum waktnya saya ikut perang-perangan sementara persoalan puisi saya pun belum terselesaikan. Benar juga, bagaimana ingin berkata kalau masih banyak persoalan dengan kata? Bagaimana mau maju perang jika tak punya senjata? Saya merasa tak pernah cukup hingga tak pernah berani keluar. Dan saya juga belum memutuskan akan berdiri di kubu yang mana. Akan saya leburkan saja dua kubu itu jadi satu dan menjelma puisi Ratna. sementara itu, biarlah saya melanjutkan ini dulu, mencari diri sendiri dengan lirisisme, romatisisme, puisi-puisi gombal tentang kesepian yang kekanak-kanakan.

Puisi adalah ekspresi. Tak ada yang salah dengan semua puisi. Berat memang ketika membawa kuasa dan politik dalam puisi. Akan ada yang dominan dan akan ada yang menjadi korban. Pasalnya, hukum alam memang mengatakan demikian. Jangan-jangan yang menghegemoni itu tak sadar telah menindas belahan jiwanya. Biarlah dunia kalian menjadi seru dengan ramainya resistensi puisi-puisi anak muda penuh ironi. Biarlah bapak-bapak pembaca harian minggu sedikit dilenakan dengan sajak-sajak indah sastra koran. Bukankah itu baik juga menjadi hiburan setelah seminggu jadi buruh, nguli cari uang. Sayangnya, memang harus mencapai titik seimbang. Mengalahkan yang dominan memang tak mudah dan inilah yang sedang diperjuangkan para penyair muda di sini.

Tentang alternatif membacakan sajak itu, sepertinya dari dulu saya juga sudah sering melakukan. Sayangnya hanya didengar hujan, didengar malam.

Yogyakarta, 4 Mei 2011

Selasa, 03 Mei 2011

Pesta Makam Cintaku

Kau masih sunggingkan senyuman. Tak sungkan-sungkan memintaku membawakan sepasang kembar mayang di hari pernikahanmu. Biar kuhangatkan pestamu. Dengan butir-butir cemburu yang kuperam di balik matahari. Biar kubekukan pestamu, kekasih. Dengan taburan kamboja dari makam cinta yang kusimpan di kutub semesta.

Jika saja, kepura-puraan bisa terjadi begitu gampang. Betapa lega segala ini kulakukan tanpa pernah aku berkata.

Kekasih, aku masih seperti buta yang sengaja ngajak pengantinmu main petak umpet. Tentu kau tak akan pernah tahu, betapa sulit aku menemukan persembunyian. Karena setia, kau sembunyi itu tak akan pernah kuberitahu.

Kekasih, aku akan menjauh sejenak. Aku telah membuat yang seperti kau diingatanku. Semakin lekat diriku kepada kenyataan sampai kian jauh aku dari kau yang nyata sesungguhnya. Aku membuat tiruanmu dari jaya cerita sejarah masa lalu dan sisi-sisi palsu ini begitu menarik.

Selalu bisa aku menggambarmu dengan detail yang kukonstruksikan sendiri. Dari garis tepi kuku hijau hutanmu sampai lipatan lembut di wajahmu yang bergerak-gerak ketika kau berganti-ganti rupa. Sedih dan bahagia untuk siapa. Sepasang sayap kecil keluar dari punggungg langitmu. Hitam asap begitu pekat.

Negeriku adalah kekasih yang mencinta sekian juta manusia dari lain dunia. Rela meski bopeng bertopeng kepalsuan dan kebohongan. Bersetia pada para pengkhianat mengaku pecinta.

Aku masih menekuk mata. Memejam dan melihatmu membungkuk. Memintaku membawakan sepasang kembar mayang di hari pernikahanmu. Gunung emas dan timah. Mahar kehancuranmu untuk para pengantinmu itu.


1 Mei 2011

Senin, 02 Mei 2011

Mencari Chairil di Gerbong-Gerbong Kereta

Deru kereta membungkus sajak-sajak
Di Stasiun Tugu malam itu
Para penyair membaca kembali Chairil
Memunguti cinta, semangat dan romantisme tersisa
Zaman semakin menelan Chairil

Peluit berbunyi
Kereta menjelma bidadari tua
Jengah melawan suara-suara

Beragam sekali penyair yang datang malam ini. Sepertinya acara ini sengaja dibuka di ruang publik seperti stasiun macam begini. Biar sajak juga bisa dinikmati semua khalayak. Pembacaan puisi-puisi Chairil sedang digelar di sini, sebuah ruang terbuka hingga bisa dinikmati siapa saja, penumpang kereta dan orang-orang iseng seperti saya yang terpaksa harus masuk dengan membayar karcis peron. Para penyair satu demi satu membacakan sajak-sajak. Beberapa tetap dengan gaya seniman mereka. Membaca sajak sambil mengapit sebatang rokok di sela jari-jari mereka.

Penyair sekarang tambah aneh dan beragam saja. Atau yang saya lihat itu bukan penyair? Pokoknya yang datang di situlah. Seperti halnya kereta, barangkali mereka ini juga punya kelas-kelas tersendiri mulai kelas ekonomi sampai eksekutif. Dari yang saya lihat semalam, ada penyair gembel dengan kaos dan jins belel, rambut gondrong dan tas ransel melekat seperti menampakkan identitas seniman kepenyairannya. Ada yang menenteng kamera mahal kemana-mana, mengarahkan lensa dan membidik objek dari berbagai angle yang berbeda. Ada yang suka bikin puisi di angkringan kaki lima. Ada yang hanya bisa bikin puisi di kafe mahal. Padahal mereka sama-sama minum kopi juga. Ada yang membaca sajak lewat secarik kertas lusuh. Ada yang menghafalnya di luar kepala. Ada juga yang membaca sajak lewat BB-nya, perempuan berambut cepak yang melafalkan Chairil sebagai Cairil, bukan Kairil seperti kebanyakan disebut. Masih banyak ada-ada lain malam itu.

Kereta tiba setelah peluit berbunyi dan petugas mengumumkan kedatangannya. Ada yang berbisik pada saya bahwa Chairil sedang duduk bersama pemeluk teguh di salah satu gerbong itu kereta. Katanya, Ia akan menuju senja di pelabuhan kecil. Menemui “Aku”.

Stasiun Tugu, 28 April 2011

Ziarah Kubur Penyair yang Tak Pernah Mati

Di Bentara Budaya Yogyakarta, 27 April 2011, para seniman menziarahi kembali kenangan dan karya-karya Chairil Anwar si penyair besar. Obrolan digelar dengan tema “Chairil Anwar: Hidup dari Hidupku.” Hadir pula dalam acara ini anak perempuan Chairil bernama Evawani. Si Celurit Emas, D. Zawawi Imron, datang juga sebagai pembicara dan yang terakhir adalah Tia Setiadi, seorang esais dan penyair.

Acara dibuka dengan pertunjukan musik dari Untung Basuki bersama Sanggar Bambunya. Mereka membawakan musikalisasi puisi dari sajak “Di Tepian Brantas” karya Kirdjomulyo. Seiring lantunan musikalisasi puisi ini, foto-foto tafsir puisi Chairil jatuh beberapa. Tampaknya, Chairil sengaja datang menyaksikan bagaimana zaman ini mencoba untuk meminjam kembali semangatnya, di tengah puisi-puisi yang semakin tak puitis bertebaran dimana-mana.

Sepanjang denting gitar, pandanganku tak lepas dari Mbak Eva, tak menyangka kalau kesan saya tentang anak seorang penyair bisa dikacaukan dengan penampilannya. Zaman bergerak, berderak dengan suara yang semakin serak. Anak penyair itu ternyata sama sekali tak mewarisi bakat bapaknya. Padahal, keren juga kalau ada penyair perempuan seperti Chairil. Ah, kebanyakan penyair perempuan masih sentimentil dan melankolis sepertinya. Atau tak sadar saya hanya bicara tentang diri saya sendiri? Sepertinya yang terakhirlah yang benar.

Rambut dicat merah, bersepatu karet hijau model terbaru, memakai celana hitam dengan baju kuning bercorak bunga-bunga kecoklatan. Kacamata ditaruhnya di atas ubun-ubun kepala. Bibirnya merah sekali. Anak penyair itu melangkahkan kaki dengan sedikit pincang ke depan, duduk di bagian pinggir paling kiri setelah Pak Zawawi dan Tia Setiadi.

Untung Basuki masih melantunkan dua sajak berikutnya, “Sajak Kerinduan” dan “Elegi”. Masih ingat di telinga baris yang diulang-ulang dalam lagu Elegi dari sajak Linus Suryadi AG itu, “Pergi menggoreskan luka kembali.....”. Setelahnya, masih ada pembacaan puisi Chairil berjudul “Aku” oleh Anang Hanani, saya tak kenal juga siapa dia. Yang saya ingat adalah ekspresinya ketika membawakan sajak “Aku” dengan garang dan terlalu cepat. Tampaknya memang sajak ini yang saya kenal pertama kali, dulu.

Sepenggal Kenangan

Mbak Eva mulai dipersilakan untuk bicara setelah pembawa acara membacakan sajak Chairil berjudul “Doa”. Kenangan dan cerita-cerita kecil yang tersisa dari sosok Chairil mulai mengalir. Mbak Eva bukan penyair, dia bekerja di bidang hukum, menjadi notaris. Putri keduanya juga seorang notaris. Mbak Eva tinggal di Krawang dan putrinya di Bekasi, jadilah seperti sajak Chairil “Krawang Bekasi”. Mbah Eva ditinggal mati Chairil ketika dia masih kelas tiga es de. Ibunya kemudian menikah lagi dan nama Chairil dirahasikan dari putrinya itu. Suatu hari, buku Chairil diterbitkan dan dari situlah Mbak Eva tahu siapa ayahnya.

Mbak Eva melanjutkan cerita tentang rencana pemindahan makan Chairil dari Karet ke Krawang, mungkin biar Chairil bisa ikut merasakan berbaring bersama para pahlawan-pahlawan lain, tapi keluarga tak mengizinkan karena wasiat Chairil di salah satu puisinya, “di Karet-di karet daerahku yang akan datang”.

Chairil pernah bilang pada istrinya, kalau dia berumur panjang kepingin jadi menteri. Kalau dia berumur pendek, maka akan banyak orang yang akan berziarah ke kuburnya. Pada waktu itu masih dalam pemerintahan Belanda dan istrinya pun berkata, “boro-boro mau jadi menteri, malah masuk penjara.” Itulah sepenggal kisah yang pernah didengar Mbak Eva dari ibunya.

Chairil adalah orang yang sangat menggilai buku. Ia rela tak makan asal masih ada buku untuk dibaca esok. Bahkan, untuk sebuah buku, mencuri pun ia rela meskipun akan dikembalikan lagi ke toko setelah dibaca. Chairil menulis puisi secara otodidak, ia juga menguasai beberapa bahasa walaupun tak pernah menamatkan sekolahnya. Mbah Eva banyak juga mendapatkan cerita dari Asrul Sani dan HB. Jassin tentang ayahnya.

Cerita-cerita masih saja dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang dilontarkan pembawa acara. Hidup Chairil adalah hidup seorang seniman. Keluyuran setiap hari di antara stasiun Krawang dan Bekasi. Ia menikah ketika zaman perang, hingga harus melewati galengan atau pematang sawah hanya untuk bisa menikah. Bunga yang dipakai pada waktu itu adalah bungai teratai sampai setiap layu harus segera diganti dengan yang baru.

Meskipun dengan kehidupan ala seniman seperti itu, Chairil sangat menyayangi Eva. Ia seperti ingin membawa anak perempuannya itu pergi kemana-mana. Chairil ingin memiliki anak itu seutuhnya untuk dibawa berkelana. Ia sempat menculik anaknya sendiri. Bahkan, keluarga mengancam akan melaporkannya ke polisi. Dari tulisan Nasjah Jamin, pernah diceritakan bahwa ketika Chairil sedang sendiri, matanya berkaca-kaca, berbisik menyebut nama anak dan istinya.

Chairil hanya meninggalkan sebuah radio tua. Tapi, dari banyak cerita ini, Mbak Eva merasa sangat bangga terhadap ayahnya. Bersyukur sekaligus sedih juga kenapa dia yang hanya anak satu-satunya tak dituruni bakat ayahnya itu.

Entahlah, cerita ini terasa garing. Padahal, saya pun tak juga begitu mengenal Chairil. Hanya puisi berjudul “Aku” dan “Doa” saja yang masih sedikit teringat karena pernah saya bacakan ketika lomba baca puisi waktu kecil dulu. “ra kenal Chairil kok ngaku penyair,” saya mengejek diri saya sendiri. Saya mengaku memang tak begitu punya kemampuan untuk menyerap zaman dan bacaan-bacaan, atau saya tak menemukan, atau jangan-jangan...ah sudahlah, saya tak ingin berprasangka yang bukan-bukan tentang diri saya sendiri.

Wajah Chairil di Zaman ini

Inilah yang akan disampaikan oleh Tia Setiadi. Bagaimanakah Chairil di masa sekarang? Maka, dimulailah sebuah cerita.

Pada tahun 1946, ada seorang perempuan Amerika melakukan perjalanan dengan kereta dari Yogyakarta menuju Jakarta. Tiba-tiba, seorang pemuda berpakaian lusuh menghampirinya dan mengajak bicara. Ternyata perempuan itu adalah istri dari penyair besar Amerika, Ernest Hemingway.

Pemuda itu mengajaknya berdiskusi tentang kebudayaan Amerika. Tidak hanya menguasai soal kebudayaan secara umum saja, tapi juga mahir membicarakan pengarang Amerika, termasuk suaminya. Pemuda itu memahami setiap apa yang dikatakannya dan bicara dengan nada berapi-api. Istri Ernest Hemingway ternyata terus mengenang moment ini sampai di bawanya pulang ke Amerika. “Kalau saja banyak pemuda seperti itu, betapa hebatnya Indonesia setelah merdeka,” kata istri Ernest Hemingway. Dan pemuda itu adalah Chairil Anwar.

Pada wkatu itu, ia berumur sekitar 24 tahun. Pertanyaannya adalah bagaimana ia belajar? Tia sudah membaca sekitar 20 buku tentang Chairil. Setiap orang memandang Chairil dengan cara yang berbeda di waktu yang berbeda pula hingga tercipta sekian banyak wajah Chairil di zaman ini.
Tia ingin berbicara beberapa hal tentang Chairil. Pertama adalah elan. Iwan Simatupang mengatakan bahwa Chairil tidak hanya seorang pribadi yang kuat tetapi juga eksplosif seperti gunung berapi. Dari dirinya memancar kecerdasan, kegelisahan, ia terus bergerak dan bergerak dengan sangat cepat hingga akhirnya hilang.

Chairil adalah orang yang kuat berjalan kaki semalam suntuk sambil bicara. Hidupnya adalah membaca untuk kemudian dikeluarkan kembali lewat diskusi dan dituliskan dalam puisi-puisi. Alasan inilah yang mendasari sebuah pembelaan Asrul Sani terhadap Chairil dengan sajak “Krawang Bekasi” yang pernah dituduh plagiat dari sebuah sajak Amerika. Chairil adalah orang yang sangat cepat mencerap hingga tak sadar dengan apa yang dituliskannya. Secara pribadi, Tia pun memaafkan ketidaksengajaan ini.

Chairil juga seorang pemburu buku. Seorang Chairil mungkin hanya bisa dilahirkan di Jakarta dengan segala buku-buku yang bisa diakses hanya di ibu kota. Ia bisa menjadi Chairil karena telah menemukan buku-buku yang tepat. Kartini tidak bisa menjadi Chairil karena tidak menemukan buku-buku yang tepat. Buku yang dibaca tentu akan mempengaruhi apa yang dilahirkan oleh seorang penyair. Karena buku-buku yang tidak tepat, penyair sekarang tak bisa lagi membuat sajak semacam “Aku”. “Jadinya sekarang ya seperti buku ayat-ayat itulah....”, kata Tia sambil bercanda.
Chairil juga seorang yang memiliki etos kerja tinggi. Ia selalu terobsesi untuk terus berkarya. Hampir tidak ada seorang penyair yang menuliskan otokritik terhadap dirinya sendiri sebanyak Chairil. Ia terus saja merasa kurang. Sajak-sajak baginya adalah eksperimen dan hanya beberapa saja yang menurutnya berhasil.

Chairil adalah seorang yang romantik. Ketika Asrul Sani melakukan kritik terhadap dirinya dan Chairil tak sependapat dengan kritik itu, mereka saling bicara, di sebuah jalan yang berbeda, saling berteriak dan di ujung jalan itu, mereka berpelukan mesra.

Ada yang bilang kalau Chairil dipengaruhi oleh Rilke. Beberapa surat atau pidato dari keduanya memang kadang mirip karena ditujuan untuk perempuan, meskipun dengan arah pembicaraan yang berbeda.

Sitor Situmorang pernah menyatakan bahwa angkatan pujangga baru seperti STA adalah generasi yang cukup ilmu tapi kurang elan, sedangkan angkatan ’45 seperti Chairil, Asrul Sani, adalah angkatan yang cukup elan tapi kurang ilmu. Masa revolusi adalah hari-hari yang gelisah hingga tak cukup punya waktu untuk duduk menghadap meja. Ilmu membutuhkan objek dan objek ilmu adalah masyarakat. Sedangkan pada waktu, masyarakatnya masih terlalu sederhana.
Bagaimanakah dengan generasi sekarang? Apakah sudah cukup ilmu? Cukup elan?


Mengagumi Chairil

Berikutnya adalah giliran Pak D. Zawawi Imron. Singkatan di huruf D masih saja dirahasikan. Tapi kata Pak Zawawi, huruf D itu bebas saja kalau mau diterjemahkan sebagai “dinosaurus”. Hehehe... Tanggal lahir Pak Zawawi tak juga diketahui. Tapi katanya, ia lahir di zaman Jepang ketika belum mengenal nama-nama bulan tahun masehi. Yang diketahui hanya bahwa ia lahir pada tanggal 25 Ramadhan, dengan begitu, sambil berkelakar, “setiap orang bisa kasih kado ulang tahun kapan saja buat saya.” Beberapa kumpulan puisinya adalah “Bulan Tertusuk Ilalang”, “Nenek Moyangku Air Mata”, “Celurit Emas”, dan sebagainya. Banyak lah pokoknya.

Ketika harus berbicara tentang Chairil, Pak Zawawi merasa bagai embun yang harus bicara tentang luasnya samudra, bagai selembar daun yang harus berkata tentang luasnya hutan. Pak Zawawi mengaku bukan seorang kritikus tapi hanya seorang pengagum sehingga sulit mengadakan kajian kritis tentang karya Chairil. Ia memilih menjadi penghayat, daripada merasa benar di jalan yang sesat lebih baik merasa sesat di jalan yang benar. Chairil adalah orang hebat. Di usianya yang hanya 26 tahun 9 bulan itu, ia telah berhasil menjejakkan kakinya di bumi Indonesia dan jejaknya tak mungkin terhapus.

Syahrir adalah pengagum Chairil. Soekarno bahkan pernah bilang dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1964 yang judulnya berarti “Nyeremet-Nyerempet Bahaya” itu. Pak Zawawi kemudian menirukan gaya pidato Soekarno yang kurang lebih isinya; “Chairil mau hidup seribu tahun lagi. Soekarno mau hidup seribu tahun juga tapi 100 tahun pun belum tentu bisa, tapi cita-citaku untuk bangsa Indonesia akan ditanamkan sampai seribu tahun lagi.....” Tepukan tangan orang-orang langsung membahana setelah Pak Zawawi menirukan gaya Soekarno dalam pidatonya.

Ketika Tia di atas berbicara tentang elan, tak jauh beda Pak Zawawi mengungkapkan tentang apa yang disebutnya vitalitas yang dimiliki oleh Chairil. Chairil memiliki daya hidup yang luar biasa. Hidup tak boleh disia-siakan. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan jasad dan karya. Tapi Chairil mengatakan, “Sekali berarti, sudah itu mati.”

“Sekali berarti, sudah itu mati. Kalau cuma jadi koruptor tak usah lahir sekalian, mendingan ikut kencing ayahnya. Jangan percuma hadir di dunia, hidup harus bermakna dan bernilai. Hidup dengan tingkah laku yang bisa menyenangkan orang lain. Semangat inilah yang menjadikan Chairil bisa bangkit dan menjadi penafsir zamannya,” kata Pak Zawawi.

Kalau kata orang jawa, ngerti sak durunge winarah. Chairil pun sebenarnya telah menuliskan sesuatu sebelum itu terjadi. Puisi “Aku” dibuat tiga tahun sebelum kejadian yang sebenarnya. Entah ini apakah bisa disebut inspirasi karena selain Chairil tidak ada yang pernah mengatakan demikian. “Seandainya, semua yang sedang tidur di taman makam pahlawam itu dulunya seperti Chairil,” kelakar Pak Zawawi kembali. Penyair satu ini sepertinya jago mbanyol juga.

Chairil bisa disebut sosialis kalau menyangkut bangsanya. Di sisi lain, ada juga puisi-puisi kamar yang ditulis dengan sangat lembut seperti “Cintaku Jauh di Pulau.” Puisi Chairil adalah lukisan kepadatan jiwa, seperti halnya yang terlihat dalam sajak “Senja di Pelabuhan Kecil.” Mirip juga dengan puisi Sapardi yang berjudul “Dalam Diriku.” Hal ini sesuai dengan teorinya Iqbal bahwa merdu suling bukan dari gesekan udara dan bilah bambu, melainkan dari getar hati peniupnya, demikian juga dengan puisi-puisi Chairil. Ia punya getaran batin sampai tahap meleburnya hamba tuhan dengan keindahan. Getaran ini bisa dirasakan dari puisi “Doa”, diumur 23 tahun Chairil telah bisa menciptakan puisi dengan kepadatan jiwa seperti ini.

Mbak Eva menambahkan cerita ketika ia bertemu dengan Sri Ayati. Ternyata gadis yang pernah ditaksir Chairil itu tak pernah tahu bahwa Chairil pernah menyukainya sampai terciptalah sajak indah berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil”.

Yang Mau Tahu Lebih Soal Chairil

Sesi diskusi pun dibuka. Namun, tak ada satu pun tangan diangkat untuk bertanya. Pak Zawawi kemudian membacakan salah satu pidato Chairil. Sebuah pidato tapi sangat puitis, karena saat ini banyak yang disebut puisi tapi tidak puitis, katanya. Sebuah pidato yang memuat persayaratan-persyaratan berat bagi seseorang ketika ia ingin menjadi penyair. Bagaimana seorang penyair bisa menjadi penafsir dunia dan membuat dunia-dunia baru, dunia puisi dan dunia penyair itu sendiri.

Pak Untung Basuki bertanya tentang latar belakang diciptakannya puisi “Aku” dan “Cerita Buat Dinta Maela”. Pak Zawawi menjawab bahwa ia lebih suka membaca puisi Chairil sebagai teks, meskipun tentu saja ada cerita di balik tercipatanya sebuah puisi. Memang banyak cerita di baliknya, yang tak enak juga ada. Namun, sajak “Aku” menjadi tidak sederhana, ia tidak hanya lahir dari pribadi seorang Chairil, tetapi pribadi orang Indonesia pada saat itu. Pengalaman pribadi yang menyakitkan berbaur dengan rasa sakit bangsa yang sedang dijajah dan ingin merdeka. Maka, jadilah puisi penuh semangat yang akan tetap abadi lebih dari seribu tahun lagi.

Seorang perempuan mengungkapkan rasa khawatirnya terhadap kehidupan sastra dan budaya Indonesia. Akankah Chairil bisa seribu tahun lagi? Ketika Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin sedang sekarat, ketika kebudayaan Indonesia banyak diakui oleh negara lain, ketika anak-anak lebih memilih belajar bahasa Inggris dan Mandarin daripada bahasa ibunya sendiri, akankah Chairil bisa hidup seribu tahun lagi?

Pak Zawawi menjawab pesimistis ini dengan sangat optimis. Ketika orang Indonesia sudah melupakan Chairil, maka jangan khawatir. Di belahan dunia lain masih akan ada yang tetap mengenangnya sebagai penyair besar. Karya-karya Chairil saat ini tersimpan rapi di salah satu perpustakaan besar di Amerika. Malaysia pun adalah pengagum Chairil.

Harapannya, Pusat Dokumentasi Sastra itu dijadikan musium saja, seperti musiumnya Basuki Abdullah. Dengan adanya musium sastra HB jassin, maka Chairil akan tetap bisa hidup dan dikenang selamanya. “Kalau masalah PDS, saya yang seharusnya khawatir karena karya saya juga ikut disimpan di sana, hehehe. Maka optimis sajalah. Memang dibutuhkan kerjasama, pemahaman bersama, bagaimana menghidupkan budaya Indonesia. Jangan sinis duluan lah..,” kata Pak Zawawi dengan logat khas Maduranya.

Seorang lagi bertanya tentang polemik sastra Chairil dan STA. Menurut Pak Zawawi, Chairil memang lebih vitalistik. Ia mampu menggetarkan dunia dengan sajak-sajaknya. Tak akan cukup waktu untuk membahas polemik kebudayaan di sini, di bukukan saja sudah setebal itu. Chairil adalah pewaris kebudayaan dunia, tapi tidak kehilangan budaya Indonesia-Melayunya. Chairil juga memiliki visi kebudayaan yang lebih jelas. Sedangkan STA, yang terkenal mungkin hanya majalah Pujangga Baru dan novel “Layar Terkembang”. “Orang boleh tua karena usia, tapi ia bisa tetap muda karena menjadi penyair dengan puisi-puisi yang selalu baru,” kata Pak Zawawi.

Tia ganti menjelaskan bahwa puisi Chairil mungkin memang bersifat personal, tapi dia bertaut dengan zamannya. Chairil adalah pencerap zaman yang sangat laik. Apabila ingin melihat orientasi budaya Chairil, maka tidak bisa dilepaskan dari konteks—orang sezamannya sebelum atau sesudah kemerdekaan. Orang-orang itu berada dalam kultur hibrid. Indonesia sendiri sedang dalam proses menjadi. Kebudayaan pribumi mengalami percampuran dengan kebudayaan Belanda. STA ketika melihat pilihan antara tradisi dan modernitas, ia memilih modernitas, tapi sepertinya hal ini belum dilakukan pada karya-karyanya.

Sedangkan Chairil, ia memang tidak punya cukup waktu untuk melakukan banyak hal, tetapi sudah dilakukan dalam karyanya. Chairil memiliki visi modernitas yang dipengaruhi oleh kebudayaan Eropa, lebih sempit lagi adalah Eropa Barat, lebih sempit lagi adalah Belanda. Namun, Chairil juga sangat memahami budaya Ambon. Ia adalah generasi manusia perbatasan. Sama halnya dengan Sitor Situmorang dan Ajip Rosidi yang juga bimbang dengan dunia itu.

Pertanyaannya kemudian adalah, sekarang kita mau kemana? Sudah banyak yang terjadi dan
mengakibatkan pergeseran peta budaya dan sastra. Seperti hadirnya pusat-pusat baru kebudayaan, dan Chairil mencoba untuk masuk dalam pusat-pusat itu.

Hal yang lebih penting lagi adalah sunbangan Chairil terhadap bahasa Indonesia. Tia mencontohkan bagaimana Chairil dan STA sama-sama membuat sajak tentang senja. Hasilnya ternyata sangat berbeda. STA lebih pada lukisan yang indah-indah, romantik, seperti hanya ada dalam mimpi. Sedangkan Chairil, melihat alam dalam sajaknya secara realis dan itu baru pertama kali. Bahasa Indonesia tanpa Chairil mungkin akan berjalan ke arah lain. Ketika penyair banyak bicara tentang takdir dan nasib, Chairil berkata bahwa nasib adalah kesunyian masing-masing dan ini baru pertama kali juga dituliskan. Pak Zawawi menambahkan bahwa Chairil menggunakan bahasa dengan sebebas-bebasnya. Ia tidak menulis kata yang telah dituliskan oleh penyair sebelumnya.

Solilokui

Sebelum acara ditutup, saya sudah pulang duluan. Sudah senang hanya melihat para penyair yang saya kenal meski mereka tak mengenal saya. Ada penyair yang menuliskan pesan sangat panjang di inbok facebook saya itu, ada cerpenis yang dulu pernah mengajak saya ngobrol karena melihat saya yang terus menulis selama acara berlangsung, tentu dia sudah lupa. Ada yang sering saya lihat membaca puisi itu, ada juga yang mungkin sudah menuliskan komentarnya di blog, itu juga kalau saya tak salah lihat. Wajah-wajah yang memang seperti sangat dekat.

Pulang. Saya jadi ingin menziarahi kubur puisi-puisi saya sendiri. Ah, tentu hanya kebanyakan sajak kamar yang sentimentil saja. Puisi-puisi yang hanya terkubur di buku catatan. Saya tahu mereka ingin dibaca orang. Tapi bagaimana lagi, harus kemana puisi ini saya bawa berlari? Sementara kaki penyairnya enggan menjejak jalan kepenyairannya sendiri. Penyairnya hanyalah orang yang gamang. Gamang berjalan. Gamang merambahi dunia baru. Gamang hanya berada dalam dunia yang diciptakannya sendiri dalam puisi-puisi. Gamang dan tak juga ada yang diputuskan.

Seperti laba-laba yang tak mengerti cara merajut jaringnya sendiri
Lapar tak bisa menjerat puisi.


Kamar Gelap, 29 April 2011

Selasa, 26 April 2011

Beberapa Sajak Lama Ratna Dwipa

Bait Henti

Pada sebuah masa
Ketika angin berhenti
Sehingga sepi
Dalam semesta
Tetap adanya
Maka dia
Akan segera bangkit
Menjemputku
Menemui langit
Di atas langit
Pada henti

2004

Rindu Cahaya

Ada yang rindu cahaya datang
Pertemuan perih mulai mengerang
Bersama angin ia begitu tenang
Bersama tenang ia begitu resah
Bersama resah ia begitu pasrah
Cahaya yang dirindukan
Akan benar-benar datang
Menjemputnya pulang

2004

Mencintai Tanah

aku akan mulai beramah tamah dengan tanah
mengenalkan tapak kakiku pada permukaannya yang basah
aku akan mulai mengakrabi tanah
hingga saat aku berada di dalam tanah
kita telah saling mengenal
tubuhku tak akan dingin karena selimut tanah
saling menghangatkan berada dalam tanah
biar membusuk sudah
aku tetap mencintai tanah
dan tak pernah usai kesepian ini
saling bicara tentang mati

2004

Pada Sebuah Mimpi

Aku bermimpi hidup di atas kelopak melati
Setiap hari hanya akan harum yang tercium
Hingga lupa
Busuk sepatu mereka
Saat ditanggalkan begitu saja
Di setiap teras, di setiap beranda

Lupa sudah anyir darah
Mereka yang hanya bisa makan
Di atas derita
Menjadi lupa segala
Duniku selebar kelopak melati
Dunia hanya tercium wangi melati

2004


Balada Anak Tanpa Nama

Hidup memang susah
Saat makan harus mengais sampah
Hidup semakin sulit
Saat tubuh dan jiwa kian terhimpit
Hidup itu kejam saat kegelisahan
tak pernah enggan mengunci malam

malam itu, seorang anak mati dibunuh preman
mati karena lari dari ibunya sendiri
ibu yang mencari, marah dan mencintai

temannya hanya terdiam melihat si anak tak bernyawa
tak seorang pun segera menolong
tak seorang pun jadi peduli
dibiarkannya tiga hari si anak tanpa kubur
hanya karena tanpa nama
warga tak menerima mayatnya di pekuburan kampung mereka

sang teman terpaksa menggali
dengan tangan sendiri
gubuk itu sepert padam
tampak dikejauhan
rumah jadi pekuburan

2004

Di Pemukaan Kolam

Kau melihat permukaan kolam
Langit di sana
Ikan-ikan seperti terbang
Bersama lumut, paku dan ganggang
Kita tak sedang melihat kebenaran, bukan?
Hanya pantulan
Hanya biasan

2004

Pesan

Hidup membutuhkan hidup yang lain
Entah dari sudut waktu bagian mana
Entah tak bisa mendatangkannya
Tak bisa juga merebutnya

Perempuan buta itu datang lagi
Kembali membawa pesan tanpa alamat
Kepada para penyair kurang kerjaan
Perempuan itu bertanya
Untuk apa mereka memegang pena
Kalau tak benar-benar bisa melihat dunia
Sajaknya hanya ngarang saja
Entah dapat kata darimana
Bukan dari dunia ini mestinya

2004

Tiang-Tiang Langit

Seperti butiran pasir di tengah gurun
Kepala-kepala manusia
sedang mencari badan mereka
Untuk menyangga langit
Hingga tak bisa runtuh
Menimpa dunia
Sudah terlanjut penuh derita

2004

Doa Sebelum Tidur

Tuhan
Bebaskan aku
Dari belenggu
Terus terang
Aku sedang
Sangat membenci
Kewarasanku

2004

Senja Selamanya

Jika saja
Aku bisa
Menarik kembali
Matahari
Tentu dunia
Akan menjadi senja
Selamanya

Inilah
Sebuah detik
Tanpa nama
Ketika langit
Setelah hujan
Menjadi seperti
Bunga kaca piring
Seperti pecah
Berkeping-keping

2004

Sampai Padamu

Batu-batu terbelah
Diantara seribu perdu
Sebatang rumput bicara
Lelah berkisah
Tentang lelah

Telah kuturunkan matahari
Senja dilangit
Untukmu
Melubangi awan
Mencari pintu
Hanya untuk
Sampai padamu

2004

Pesan Tak Sampai

Barangkali
Pesan ini
Hanya seperti
Belukar terbakar
Hanya bagaikan
Kunang-kunang
Kehilangan
Kerdip lilin
Di bahunya sendiri
Terbang
Di sepanjang gurun
Gemetar
Dalam badai pasir
Dan hujan

2004

Kamis, 21 April 2011

Sajak dari Hari Terbaik Spongebob (The Best Day Ever)

1
Ketika esok kekasihku akan melangkah melewati lengkung janur
Aku berpupur pura-pura gembira dengan tetap menangkap ubur-ubur
Ketika sepasang pengantin yang melangkah di bawah janur itu tersambar guntur
Aku akan dengan senang hati menangkap ubur-ubur

2
Ketika tuhan hanya menjadi baju berwarna kabur
Aku akan tetap mengayunkan jaring, menangkap ubur-ubur
Ketika orang tak lagi mendengar khotbah dan lebih percaya pada tukang cukur
Aku tetap masih asyik menangkap ubur-ubur

3
Ketika Mbok Darmi tak bisa lagi sembuhkan manusia sekarat dengan beras kencur
Aku akan tetap mengejar sekawanan ubur-ubur
Ketika Kang Tardjo tak punya uang, dicerai istri, bunuh diri nyemplung sumur
Aku masih bermain bersama Patrick menangkap ubur-ubur

4
Ketika Pak Tani kehilangan tanah gembur, bumi gersang tak lagi subur
Aku akan mengiringi arus bawah laut, menangkap ubur-ubur
Ketika ladang, hutan dan sawah digantikan gedung-gedung, menjelma kubur
Aku akan membuat jengkel Squidworld sambil menangkap ubur-ubur

5
Ketika para pekerja demi uang rela tak pulang karena lembur
Aku masih dengan senang hati menangkap ubur-ubur
Ketika balerina kehidupan menjadi kaku tak lagi lentur
Aku tetap menjadi gelombang menyatu samudra dengan menangkap ubur-ubur

6
Ketika bisa kata-kata para ular penguasa tak lagi terbendung menyembur
Aku masih di dasar laut menangkap ubur-ubur
Ketika politik hanya mengorbankan rakyat menjadi pion-pion catur
Aku akan mengajak Tuan Crab menangkap ubur-ubur

7
Ketika bom meledak dimana-mana, dunia hancur lebur seperti bubur
Aku masih berlarian diantara karang menangkap ubur-ubur
Ketika banyak orang hilang, kabarnya dicuci otak sampai luntur
Aku tetap mengajak Shandy yang jado berkelahi itu menangkap ubur-ubur

8
Ketika penari melakonkan kesedihan Drupadi dengan melepaskan sampur
Aku tidak akan peduli,melenggang di tengah-tengah ganggang
Menangkap ubur-ubur

Kukidungkan tembang pangkur
Sampai tersungkur
Tubuh kaku membujur
Kehilangan alur
Aku nglindur
Ketemu Spongbob lalu kabur
Diajak nangkap ubur-ubur


19 April 2011
Pada suatu senja, ketika sedang menggila bersama
Ratna & Eka

Serat Sabda Pralon

Sabda jenengku cilik. Amarga dadi tukang pipa, mula wong-wong dadi ngarani aku Sabda Pralon. Senajan jenengku mirip abdine Raja Majapahit kae, nanging aku blas ra ana gandheng cenenge karo Sabdo Palon lan Naya Genggong. Aku mung Sabda Pralon. Wong cilik sing urip kaya ublik. Mobat-mabit yen kena angin ing pacobaning urip.

Aku mung karan Sabdo Pralon. Omahku cedhak kuburan sisih kulon. Jare Si Mbok, aku mung anak kwalon. Omah mung gedhek, ra kuat mbangun nganggo beton. Wetonku Slasa Kliwon, urip bebrayan kok mung kebak padudon. Bojoku kakehan percaya gugon tuhon. Saben ndina neng pasar tuku empon-empon. Ra ngerti dikapakne jare ben langsing ora kelemon. Wong wis tuwa ora tau ndeleng raine ing kaca ngilon. Wis pating njengkerut isih rumangsa kaya artis sinetron.

Jenengku pancen Sabda Pralon. Tua-tua kok yo isih disenengi banci salon. Ra ana sing ngerti yen aku sikatan mung ing pasaran Pon. Ababku mambu, bojoku nesu. Beras ra nate nyukupi dienggo mangan sesasi. Anane mung sak maron. Yen kepengin mangan kudu gelem paron. Anakku wadon siji jenengen Cemplon. Rung tamat es em a wis wani kelon. Anakku meteng, ndonyaku tambah peteng. Kepeksa tak dadekne manten karo wong lanang liya senajan ora seneng. Si Cemplon saiki dadi cah angon. Karo maratuane di tukokne wedhus sajodho. Anake lan wedhus kabeh diangon, dipakani godhong wangon.

Sabda Pralon pancen dudu sapa-sapa. Nanging uripku isih kepengin bisa miguna. Iline banyu sing tansah tak jaga. Senajan mung dadi tukang pipa. Aku isih bisa ngucap syukur marang Gusti Kang Maha Kuasa. Sabda Pralon jenengku. Aja dienyek aja diguyu. Suk bakal kawiyak sapa sejatine aku. Ning saiki isih kudu laku sengsara, kebak coba, kanggo nebus karma.

Mula rungakna iki sabdaku. Sabdane Sabda Pralon. Sabda kanggo para manungsa sing kelangan gocekan. Ilang ing ndonya kebak angkara murka. Para manungsa enggal golekana. Ing endi bisa kepanggih tapake kuntul mabur lan galihe kangkung.

Aja padha kleru. Aku dudu Sabda Palon. Sing bakal teka nalika Gunung Merapi njebluk kanthi lahar mili ngidul mengulon. Aku dudu Sabda Palon kang bakal nyebarake agama budi ing tanah Jawa. Kang bakal ngowahi tatanan nuju jaman kalasuba. Aku uga dudu Zarathustra sing miyak wadi kemunafikane manungsa. Aku mung Sabda Pralon, tukang pipa kang omahe cedhak kuburan sisih kulon.

Mula enggal rungokno sabdaku. Yen kowe kabeh isih pengin slamet lan nemu kabegjan urip. Iki dudu Sabda Pralon sing omong. Kabeh para manungsa, enggal metua saka senthong. Mlakua tumuju ing karang bolong. Sakdawaning dalan sumebar kembange telon. Bakal ana bom mbledos sak enggon-enggon. Sakwetara tutupen panca driya kanggo ngrasakne tanda. Iki dudu Sabda Pralon sing omong. Hey, para manungsa enggal landhepana rasa. Yen isih kepengin manggih mulya.

Wong mlarat pancen kerep edan. Kaya aku Sabda Pralon. Ngoceh ra karuan juntrunge. Aku ora waton omong nanging omanganku tansah nganggo waton. Omongane Sabda Pralon sing lagi klebon Sabdo Palon. Ora ngerti apa kang wis tak kandhaake. Wong-wong banjur ngarani aku edan. Senajan urung nganti uda neng pinggir dalan, ra kathokan, diuber jaran. Ora ana kang ngerti sejatine apa kang kedadean marang awakku. Sabda Pralon lebur karo Sabda Palon. Ana sing lagi nggoleki raga kanggo maujud ing alam ndonya. Sapa sejatine Sabda Palon. Sapa sejatine Sabda Pralon.

17 April 2011
Karipta Dening Ratna, Eka lan David

Jumat, 15 April 2011

Gendhinging Bocah Gendheng

wayah wengi greneng-greneng
ana sing ngiket tresna linambaran rasa seneng
budheku bakal mantu
anak wadon siji sing diantu-antu
mbak eviet sing moblong-moblong pindha bendara raden ayu
nanging jik kalah ayu nek dibandingake aku

ah, aku kok durung nemu
apa pancen kesuwen anggone nyaru
ing negara Matsya sak suwining telung windu
nakula ngabekti marang raja Wirata rina klawan wengi
direwangi dadi dharmagranti
ngurusi jaran minangka laku anggenepi kersaning Gusti

ngimpi dilamar satria pandawa kang bagus rupa
jare nakula jebul ketemune menak jingga
kencana wungu banjur mblenjani janji
mung kakang damarwulan sing tak goleki

ngimpiku saknyat pindah panggonan
kacarita nawang wulan ora kepengin bali ing khayangan
nuli wis dicepakake slendhang lan ageman
Jaka Tarub nyedhak karo lelingseman

Nawang wulan banjur kandha,
enggal dipundhut wae, kakang
rasah nganggo sayembara, aku sedya dari manungsa
nglabuhi tresna, urip rekasa
sarana laku ing jroning dharma

halah, padune wis kepengin rabi
sembarang crita dicampur dadi siji
halah, padune wis kepengin dadi manten
sembarang crita njur kalebur ing alam impen

dene saiki aku mung bisa narima ra kakehan nggrahita
tansah percaya suk satriaku mesti bakal teka
satria sing saiki nembe nedheng tapa brata
nggoleki ilmu kang sejati amrih goro-goroning ndoya bisa dileremi
Gusti Pangeran kang luwih mangerteni,
perkaraning urip, rejeki, jodho lan pati
Mugi Gusti paring tentreming ati, ngudi urip mukti pakarti

ana cecak ra nduwe weteng
jare widodari kok jebul sikile rangen
ana cecak kleleken klentheng
mugi tansah remen sedaya ingkang midangetaken

13 April 2011

Wewaler Pasukan Uler

Pasukan uler wis padha teka
Asale saka probolingga
Numpak jaran, sepur, mlayu, mibur tekan Ngayogyakarta
Nganti sumebar sakindhenging nuswantara
Nyerang manungsa kanthi nggawa senjata

Iki wus teka wadyabalane uler
Senjatane wulu kang marai gatel
Apa meneh yen kena wong sing turune ngiler
Uga sing males nyambut gawe isane mung thenger-thenger
Nggateli kabeh sapa wae sing padha urip keblinger

Tumekane pasukan uler
Mratandani alam ndonya wis awit owah
Tatanan ekosistem lan rante panganan wis padha bubrah
Eh, sing jarene wakil rakyat malah arep mbangun gedung mewah
Piye yen pada sidang wae ning tengah sawah
Tinimbang sidang mung dinggo nonton barang sing ra nggenah

Zaman mbiyen Gusti ngirimake manuk ababil kanggo nyerang raja abrohah
Saiki bisa wae ngirimake uler kanggo ngelingake wong kang serakah
Serakah marang alam lan ndonya kan dirusak goro-goro duwit
Moral budi kari dadi barang cilik kang ndelik kecepit

Uler wulu digoreng ing nduwur wajan
Sugih protein nalika wong cilik ra kuat mangan iwak amarga larang
Uler wulu ngemu wewaler, ngandhut pepiling
Manungsa iku kudu siap perang tandhing
Perang klawan nepsune dhewe kang kudu bisa dipithing
Dadi manungsa kudu tansah golek geni dedamaran
Aja mung ngumbar mburu senenging kadonyan


15 April 2011

Rabu, 13 April 2011

Thole Durung Wani Bali

Si Mbok ngudang Thole
Suk dadi apa kowe?
Si Mbok mbombong Thole
Suk dadi sarjana ya, Le
Migunani tumrap bangsa lan agamane

Wektu wus keplayu
Thole milih uripe dhewe
Dadi seniman lan pujangga
Urip ing kampuse, jroning gudang sumpek
Sing penting bisa kanggo micek

Thole nggarap proyek seni apa wae
Saka artistik teater, gawe puisi, cerpen,
Ora keri nglumpukake gombalan ukara kanggo para wanodya
Sing penting oleh duwit kanggo mangan
Ora ketang sedina mung pisan

Nganti purnama kang wis ora kaetung iki,
Thole durung wani bali
Nawang eyup edhume Si Mbok kang kaya ratri ing wanci wengi
Thole pancen durung wani bali
Sakdurunge bisa dadi anak lanang kang digegadhang
Thole isih bakal setya dadi seniman lan pujangga
Senajan urip sengsara, nanging bisa kanggo olah rasa
Dadia urip cinandra andha
kanggo oncat mring dhuwur budine manungsa

13 April 2011

Sawiyah Saktampah

Ing sawijing ndina
Kancaku ngudharake crita
Critane tanggane dhewe
Omahe kelepan lendhut, pinggir kali kae

Jenenge Lik Sawiyah
Nadyan jeneng katon cilik, wonge gedhe sak gajah
Lik Sawiyah ora bisa maneh ndhodhok
Keganjelan pupu gedhene sak tenggok

Kringete Lik Sawiyah mambu banget
Kaya telek pitik anget
Lenga wangi sak gendul ora bisa nyandhak
Bojone dhewe njur males nyedhak

Nasibe Lik Sawiyah
Sak ben ndina mung kipas-kipas klemah-klemah
Nganggo daster amoh amba saktampah
Ungkak ungkik angel olehe arep obah

Mula aja mung weteng sing digawe seneng
Mangan turu enggal sudanen
Jaman cen wis edan ra karuan
Sigra golekana kang bakal digawa sowan Pangeran


Iki crita mung reka-reka
Kajaba sempalan kang ora
Critane Lik Sawiyah kelemon awak
Yen ora pengen maca aja njur diguwak


12 April 2011