Minggu, 29 April 2012

Solilokui Setengah Jadi: Sebuah Catatan dari Teman Sebelah

Kawan saya yang ikut berproses dalam “Solilokui Manusia 900 C” bercerita bahwa produksi Tetaer ESKA UIN Sunan Kalijaga ini sedikit berbeda. Masing-masing anggota diminta untuk mengungkapkan kegelisahannya, tentang apapun. Mereka menggali kecemasan-kecemasan di panggung kehidupan dan membawanya dalam pementasan. Beragam tema ditemukan mulai dari persoalan agama, politik, gaya hidup, pendidikan, marginalisasi perempuan, dan banalitas media. Dan sebelum banyak menyampaikan catatan dari teman sebelah, saya ingin bilang bahwa sebuah pementasan teater hanya menjadi tempat singgah bagi sebuah proses, bukan akhir.

Malam minggu, apalagi yang bisa saya lakukan selain mencari ruang-ruang segar di antara manuskrip politik yang sepertinya begitu riuh tapi sebenarnya telah dimainkan dengan sangat rapi. Teater paling menarik telah kita saksikan kemarin. Yang penuh interupsi itu, yang seperti banyolan itu, yang dibela-belain banyak orang untuk ditonton sampai larut malam itu. Betapa mencemaskan negeri ini. Bagaimana lagi, orang seperti saya hanya bisa berutak-atik sendiri, tanpa bisa berbuat sesuatu, apalagi ikut demontrasi dan bakar-bakaran begitu.

Kali ini saya mengajak seorang teman. Teman yang duduk di sebelah dan karenanya disebut sebagai teman sebelah. Catatan ini sekadar rekaman komentar atas pertunjukan yang kami saksikan, dengan kapasitas kami sebagai penikmat, sebagai awam yang ikut-ikutan ngoceh soal sesuatu yang kami tidak sepenuhnya tahu. Paling enak memang menjadi tukang komentar. Menilai sesuatu dengan cara dan pikiran sendiri. Karenanya, jangan dianggap terlalu serius ketika kami pun tak terlalu serius menjadi pengamat dan pencatat.

Proses produksi sebuah teater bagaimanapun hasilnya tetap pantas untuk diapresiasi. Sebelumnya, kami akan bertepuk tangan untuk pertunjukan malam ini. Meski sejujurnya, kami kesulitan memahami beberapa hal. Kami menikmati hasil, tanpa pegang naskah dan hanya sedikit bocoran soal proses. Leaflet dan sinopsis yang dibagikan memang sedikit membantu tapi juga turut menyumbang kebingungan. Sepertinya tema soal kritik modernitas ingin diangkat dalam pertunjukan kali ini, tapi kesannya seperti tak jadi. Kata teman sebelah, garapannya masih kasar. Katanya lagi, naskah cerita kurang bisa menghaluskan pesan yang ingin disampaikan. Dari naskah yang tak matang ini pula, gambaran setiap karakter tokoh menjadi kabur, siapa memerankan apa. Karena saya sendiri penikmat yang bodoh, suka mengembarakan pikiran terlalu jauh ketika menangkap obyek, beberapa karakter jadi terasa mengambang, tak bisa tertangkap pikiran.

Pesan yang sedikit berat ini sayangnya juga hanya dihabiskan dalam waktu satu jam. Menurut saya dan teman sebelah, memang sangat singkat untuk sebuah pertunjukan. Bayangkan ketika semua digarap dengan halus dan perlahan, tentu kami akan lebih bisa menikmati. Bukankah perlahan itu adalah kecepatan yang baru? Setidaknya begitulah kira-kira kata tukang kritik modernitas. Karena terkesan tergesa-gea, blocking panggung dan perpindahan adegan jadi sedikit kacau. Di awal, saya juga sedikit kecewa karena terlalu lama menyaksikan para pemainnya bermonolog menggunakan topeng. Tentu ada masksudnya, tapi saya jadi tidak bisa menikmati dengan utuh eksplorasi ketokohan melalui ekspresi.

Salah satu bagian paragaf dalam sinopsis yang dibagikan menyebutkan, “Inilah manusia modern, makhluk yang tiba-tiba menjadi mesin bagi pabrik-pabrik yang mengidap penyakit psikopat. Maka lahirlah ke dunia bocah-bocah nakal bernama sinetron, mall, pabrik, ekonomi pasar bebas, Sekolah Bertaraf Internasional.... Sementara alam, duh, ia tidak lagi melankolik.” Saya tidak akan terlalu banyak bicara soal modernitas, teman sebelah mungkin lebih tahu. Kalaupun teater ini tidak ingin bicara soal modernitas, tapi lebih ke kritik atas gaya hidup, teman sebelah mungkin juga lebih tahu.

Sebagian orang menyalahkan kapitalisme. Komodifikasi agama lewat para penjual ayat tuhan di televisi, sinetron-sinteron kocak negeri ini, anak-anak sekolah yang dijerat setumpuk hafalan teori tanpa dimengerti, perempuan-perempuan yang merasa dirinya dimarginalisasi, politisi, seorang pelukis yang berdialog dengan Mak nya di selembar kanvas, entah apalagi. Saya tetap tidak terlalu mengerti. Modernitas katanya memang membawa sesuatu yang mematikan kesadaran, menumpulkan akal, mensihir, dan pada ujungnya tak pernah ada pembebasan, membelenggu.

Dari sedikit penggalan cerita yang nyangkut di kepala, kami sepakat untuk kecewa karena setting panggungnya tidak tergarap dengan baik. Kata teman sebelah lagi, penanda-penanda penting modernitas akan lebih jelas bila dieksplisitkan dalam tata panggung. Sebut seperti jam besar sebagai tanda bahwa waktu telah direduksi menjadi ruas-ruas sama besar yang terukur, televisi atau bahkan kerangkeng besi sebagai simbol keterkungkungan masyarakat modern, terjebak pada janji mempesona, tapi bisa membuat tercekik tiba-tiba.

Teman sebelah berkomentar juga soal tata musik. Saya juga sempat berharap ada bunyi-bunyi alat musik tradisional seperti saluang dengan dinamika, permainan tempo dan warna yang bisa lebih beragam. Kalaupun tidak begitu, ada semacam suara-suara mulut yang bisa menimbulkan efek lebih hidup. Sayang sekali produksi teater ini justru memilih menggunakan sound elektronik. Apakah pilihan penggunaan efek musik disesuaikan dengan tema? Saya juga tidak tahu. Ah, lagu dan tarian di awal yang terkesan wagu itu juga mengganggu. Coba ada eksplorasi gerak lebih, yang justru menabrak musik pengiring tapi bisa meninggalkan kesan indah sekaligus menyampaikan pesan.

Proses dari setiap produksi teater memang tak diragukan lagi pantas diacungi jempol. Sekali lagi sayang, naskah dengan kedalaman demikian tidak diterjemahkan dengan produksi citraan yang tepat sehingga seperti halnya efek modernitas, saya kehilangan ‘aura’ dari pertunjukan teater kali ini. Kegelisahan dan keterkungkungan. Apakah bunuh diri menjadi jalan keluar seperti yang dilakukan salah satu tokoh di akhir pertunjukan? Rasanya tidak harus se-ekstrim itu. Sederhana, kita hanya perlu memulihkan pengalaman menjadi sesuatu yang utuh, menghasilkan degup dan debar. Sederhana, hanya seperti membaca puisi Jok Pin di pinggir pantai saja.

1 April 2012

Senin, 26 Maret 2012

Paijem Ngupaya Upa*

Di rumah petak sempit pinggir Kali Code, Paijem sedang gelisah. Siang begitu terik. Sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris memanggilnya untuk wawancara kerja. Gaji yang dijanjikan hanya standar UMR Kota Jogya. Banyak hal merubung pikirannya. Paijem hanya ingin cepat mendapat kerja. Apa saja. Ketika dipikir lagi, transport yang diperlukan setiap hari tak sebanding dengan gaji. Sudah sampai tempat wawancara, Paijem ragu dan akhirnya memutuskan untuk kembali. Panggilan-panggilan tes lain memang sudah menunggu. Semoga saja kali ini ada satu saja yang nyanthol hingga Paijem tak merepotkan orang tuanya lagi.

Dulu Paijem pernah training kerja di Jakarta. Tak betah dan pulang. Sampai saat ini Paijem terus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Ia tak pernah absen melihat lowongan kerja di koran lokal. Untuk saat ini, Paijem memang hanya ingin bekerja di Jogja. Sering juga Paijem ke warnet untuk mencari-cari berbagai lowongan yang bertebaran di dunia maya. Berkali-kali Paijem ikut tes, sampai hafal di luar kepala tipe-tipe soal psikotes yang pernah dikerjakannya. Sayangnya, selama ini ia selalu gagal dalam tahap wawancara terakhir. Yang mengharukan, Paijem sahabat lama saya itu, pernah menggambar saya di salah satu ujian psikotesnya, meski sebenarnya itu cuma kecelakaan.

Kali ini saya tidak akan pakai metafor dan alegori yang sebenarnya telah jelas juga merujuk pada apa. Saya mau terus terang saja. Siapa menyangka. Paijem adalah salah satu lulusan terbaik Padepokan Gunung Reksamuka dengan selesainya kitab terakhir berjudul, Politik Identitas Muslim Tionghoa di Yogyakarta: Studi Tentang Dinamika Pembentukan Muslim Tionghoa sebagai Identitas Etnik Baru. Dari judulnya saja sudah keren sekali bukan? Siapa menyangka. Tekanan hidup dan kebutuhan membuatnya lari dari ajaran perguruan yang ia tekuni. Setiap kali melihat lowongan, ia hanya mencari perusahaan mana yang menerima manajer atau pegawai dari semua Padepokan.

Tahukah kalian bahwa indeks prestasi tinggi tak menjamin Paijem mudah dan cepat dalam mendapatkan pekerjaan. Saking putus asanya, ia pernah malamar sebagai pramuniaga. Pewawancara selalu berhenti bertanya ketika membolak-balik berkas lamaran. Matanya selalu tertuju pada transkrip nilai dengan sederetan angka A. Ada beberapa pekerjaan yang memang tidak membutuhkan orang pintar. Kadang mereka hanya butuh orang yang manut saja dan tak banyak protes kalau di suruh-suruh. Inferioritas menghinggapi Paijem karena ia memang menyadari bahwa ilmunya tak mudah untuk dijual dibandingkan ilmu-ilmu padepokan lain. Tahu begini, Paijem berjanji dalam hati kalau punya anak nanti, ia akan membekalinya dengan ketrampilan praktis saja. Sekarang yang seperti itu tampaknya lebih laku.

Tahukah kalian berapa banyak lulusan Padepokan Gunung Reksamuka yang bekerja sesuai dengan bidangnya. Kecuali yang jadi pegawai negeri, peneliti, jurnalis, tak banyak lagi yang bisa menggunakan ilmunya di dunia persilatan yang semakin kejam. Setahu saya, beberapa yang seangkatan dengan Paijem—beberapa menjadi pegawai bank, marketing asuransi, manajer perusahaan suku cadang kendaraan bermotor, staf administrasi di padepokan lain, nyambi kerja di padepokan swasta di daerahnya, mengajar anak-anak pra sekolah, beberapa merelakan diri untuk tidak bekerja atau sekadarnya membantu pekerjaan suami.

Masih ada beberapa lagi selain tersebut di atas. Paijah—teman satu genk dengan Paijem sekarang bekerja menjaga stand sebagai marketing yang menawarkan kapling-kapling perumahan di sebuah mall di Jogja. Tentu dengan gaji yang sebenarnya jauh dari layak untuk ukuran lulusan padepokan terkenal macam Padepokan Gunung Reksamuka. Padahal, kitab terakhir Paijah dulu juga keren. Ia menelusuri genealogi kekuasaan Mbah Maridjan dari lereng Gunung Merapi. Tak menyangka juga. Direktur perumahan itu memiliki gelar dan sudah dipastikan kalau ia adalah lulusan Padepokan Gunung Reksamuka juga.

Tidak aneh juga kalau beberapa diantaranya memilih untuk berbisnis. Barang dagangannya pun bukan sembarangan. Satu diantaranya bisnis reptil seperti ular, kadal dan iguana. Ternyata ini cukup menjanjikan. Satu lagi jualan kucing persia keturuanan asli karena mewarisi bisnis mantan pacarnya. Sepertinya trajektori lulusan Padepokan Gunung Reksamuka harus segera dilakukan. Memang patut diakui kalau lulusan padepokan ini sangat kurang dalam bidang ketrampilan. Dulu, kita memang sudah diajari cara berjejaring, berstrategi dan komunikasi politik, tapi semua seperti angin berhembus. Hanya mampir dan hilang begitu saja dengan cepatnya. Beberapa teman seangkatan Paijem masih saja belum lulus dengan berbagai alasan. Satu di antaranya justru sudah mendapat surat teguran karena belum menyelesaikan semua jurus yang seharusnya diambil untuk dipelajari.

Sore ini, kami berkumpul di stand tempat Paijah bekerja. Ada satu teman bernama Paiman yang sedang berjuang untuk menyelesaikan penulisan kitab terakhirnya. Paijem dimintai tolong atau sederhananya menjadi konsultan. Ketika mulai dipaparkan tentang kemungkinan jurus-jurus yang bisa digunakan, Paijem merasa ia begitu asing dengan semua hal itu. Mungkin karena memang tak pernah dipakai lagi, karena memang tak berguna sama sekali. Karena saya yang kebetulan sedang segar, akhirnya turun tangan. Tampaknya tema relasi kuasa memang pas dihajar dengan jurus itu. Dan saya pun menggambar sebuah segitiga sakti. Paiman cuma mengangguk-angguk. Entah tidak atau sudah mengerti. Sebentar lagi katanya ia akan langsung mencari kitab yang membeberkan rahasia jurus segitiga sakti.

Paijah menambah sesal kenapa ia dulu masuk ke Padepokan Gunung Reksamuka. Sedangkan teman dekatnya dari Padepokan Budaya sudah sampai ke Jerman untuk meneliti kaum Vegetarian. Sedang teman Paijem sudah ada yang pernah diundang PBB entah dalam rangka apa. Ah, rasanya jauh sekali. Sedang kata Paijah lagi, banyak sekali urusan yang menjadi spesialisasi padepokan justru diomongkan oleh para ahli dari padepokan lain di berbagai media cetak dan televisi. Sebatas keluh.

Teman Paiman, yang belum lulus juga malah sedang ingin mencari jasa pembuatan skripsi dengan biaya yang cukup mahal ternyata. Kenapa tidak, saya lalu menawarkan diri meski masih dalam tahap gurauan. Hehehe... Murid lulusan Padepokan Gunung Reksamuka memang beberapa bisa membusungkan dada. Namun, sebagian besar lainnya masih harus merunduk-runduk, mengejar-ngejar apapun yang harus mereka kejar untuk hidup.

Tragis dan dilematis. Kembali kepada Paijem. Belakangan ini Paijem memang sering uring-uringan. Pacarnya tak segetol seperti bagaimana Paijem mencari kerja. Pacarnya sering tak bisa mengontrol waktu tidur. Hal kecil begini ikut menjadi penyulut kemarahan-kemarahan yang kadang membuncah, bahkan pernah sampai kebas. Ibarat mendayung perahu berdua. Paijem sekuat tenaga mendorong perahu itu melaju. Sementara pacarnya hanya seenaknya saja mendayung sehingga perahu tak lagi laju tapi hanya berputar-putar tak tentu. Perumpaan ini dibuat Paijem untuk menyadarkan kekasih hatinya itu. Namanya kebiasaan memang sulit untuk diubah, bukan berarti tak bisa.

Cerita Paijem teramat panjang jika harus digambarkan bagaimana ia mengetuk satu pintu ke pintu lain. Kadang bersitegang dengan Mamak dan Bapak. Kadang harus mencari strategi untuk memperbaiki penampilan di hadapan pewawancara. Tubuhnya mungil dan kulitnya memang eksotis—untuk tidak mengatakannya hitam. Paijem sedang berusaha mencari bedak yang sesuai agar kulit eksotisnya tidak tertutup warna pupur yang biasanya akan membedakan dengan warna leher dan bagian tubuhnya yang lain. Paijem senang mengkalkulasi detail, berbagai kemungkinan dan selalu membentur tembok kalau berurusan soal uang, bahkan hanya sekadar untuk parkir. Dua ribu rupiah sudah sangat berharga. Bisa buat beli bensin meski tak sampai seliter.

Kemana Paijem akan melangkahkan kaki berikutnya? Nasib tak pernah pasti. Kemarin ia sempat bingung apakah harus meninggalkan Jogja untuk menjadi aktivis sebuah LSM di pedalaman. Ada lagi sebuah lembaga riset yang membutuhkan asisten peneliti full time. Paijem gamang. Ia hanya bisa mengingat pengalaman yang sedikit traumatis ketika harus bertemu para resinya dulu yang juga aktif di lembaga riset itu. Kemana Paijem akan melangkahkan kaki? Akankah ia akan bertahan dengan kekasih hatinya? Nantikan episode selanjutnya.

Terakhir, penulis berpesan, “Jem, aku telah mengatakan rahasia kecil kepadamu, mohon untuk tetap menutup mulut dan tak menceritakannya kepada siapa-siapa. Semoga kau juga tak tersinggung dengan ceritamu yang kujadikan tema utama kali ini.”

*Dalam Bahasa Indonesia bisa disamakan artinya dengan upaya Paijem mencari sesuap nasi. Sebenarnya ingin menuliskan cerita ini dalam Bahasa Jawa, lebih menyentuh dan dramatis. Akhirnya tidak juga saya tulis dalam Bahasa Jawa demi tidak terlalu membatasi segmen pembaca.

Kamar Kost Menjelang Dini Hari, 16 Maret 2012

Ode Kelahiran Ratna Dwipa

Konon kabarnya pada hari yang tak bernama. Berawal dari kosong, sunyi dan hampa. Ruh manusia ditiupkan. Melesat dan melayang-layang sementara di alam awang-uwung. Konon katanya ruh-ruh itu akan dijatuhkan dari pohon sesuai dengan putaran waktu kelahiran. Maka jatuhlah sesosok ruh ke atas pohon Linde. Pohon itu membuat ruh yang jatuh darinya menjadi peragu, hidup apa adanya, selalu berkorban, setia tapi juga sangat pencemburu.

Di belahan dunia lain, seperti di kota-kota seputar Lembah Werra, Pegunungan Meissner, Hesse, orang-orang senang berkumpul di bawah pohon Linde, berpesta atau melaksanakan sidang pengadilan pada zaman dulu karena pohon ini dianggap memberi kebijaksanaan. Sampai saat ini pun mereka masih percaya bahwa pohon ini menjadi tempat bersemayam Freyja, dewi cinta, kecantikan dan kesuburan bangsa Jerman Kuno.

Pohon dengan batang rapuh dan daun yang mengembang ini mempengaruhi karakter ruh yang jatuh dari atasnya. Seperti apakah ruh ini mewujud setelah jatuh dari pohon Linde. Di kampung kecil itu, pertemuan langit dan bumi melahirkan matahari. Sang Hyang Iswara yang bertempat di Timur melambaikan tangannya. Mengucap selamat atas kelahiran seorang bayi perempuan. Konon cerita Ibu, kelahiran anak pertamanya itu diiringi dengan harum bunga melati. Semerbak entah datang darimana. Barangkali dari bokor kencana para bidadari yang sengaja menaburkannya dari Jonggring Saloka.

Ibu memberiku nama Ratna Puspita dan bapak menambahkan dua suku kata di belakangnya, Dwipa Nugrahhani. Ratna Puspita Dwipa Nugrahhani. Ratna adalah kembang, puspita adalah permata, dwipa berarti pulau tanah kelahiran, dan nugrahhani adalah anugrah. Berat benar nama ini sampai aku harus menjadi sedemikian cantik ibarat kembang dan permata, menjadi berkah dan anugrah bagi sesama. Tanah Jawa, tanah kelahiran harus kusangga di kedua telapak tangan.

Dari perguliran hari, ekawara hingga dasawara, sifat-sifat si jabang bayi membentuk dan dibentuk. Di bawah bintang prahu pegat, kehidupannya akan berselimut duka dan kesedihan. Tak ada yang percaya. Siapa yang bisa menebak kehidupan dan masa depan.

Pada 11 Maret 1988, tak lama setelah kelahiranku, Soeharto kembali dilantik MPR menjadi presiden hasil pemilu 1987. Tanggal yang sama di tahun 1966, surat perintah yang dikenal dengan sebutan Supersemar itu ditandatangani. Dimulailah rezim baru. Semar tersenyum di kejauhan. Ia hanya mesem ketika namanya digunakan sebagai simbol sakti untuk menumpas sisa-sisa demokrasi terpimpin Soekarno. Kesaktian Supersemar pula yang menjadi awal dari pembantaian mengerikan sepanjang sejarah negeri ini. Betapa sakti pula surat itu hingga ia bisa raib menghilang tak ditemukan wujudnya kembali.

Tak ada yang istimewa. Bapak dan Ibuku pegawai negeri yang akan terus memilih Soeharto setiap lima tahun sekali. Seharusnya aku cukup mendapat asupan gizi. Tapi, nenek selalu malu membawaku ke Posyandu karena berat badanku sering berada di garis merah Kartu Menuju Sehat. Nenek selalu risau dengan omongan orang tentang anak guru yang beratnya kurang. Nenek, tembangnya masih tersimpan dalam ingatan mengiringi waktu-waktu tidur siang di ayunan kain yang dipasang di palangan tiang. Menunggu Ibu pulang.

Menjadi apakah si jabang bayi yang lahir dua puluh empat tahun lalu itu? Masa kecilku penuh khayali. Aku sempat melihat alien yang tiba-tiba muncul dari tumpukan sampah di pawuhan timur rumah. Terang saja tak ada yang percaya. Orang-orang hanya menganggap itu adalah kadal yang kudramatisir menjadi mengerikan ketika ia menjulur-julurkan lidahnya. Tapi aku yakin benar-benar melihatnya.

Wujudnya itu mirip sekali dengan yang muncul di sebuah film televisi. Lihat saja nanti. Mereka akan melihat bahwa suatu saat akan banyak muncul alien dari dalam tumpukan sampah. Mereka tidak tahu kalau alien telah datang dan membangun kerajaannya sejak lama di bumi ini. Sempat pula aku tiba-tiba lari ketakukan tanpa alasan karena merasa melihat sosok-sosok aneh di sekitarku. Mereka seperti mengikuti. Lalu menghilang sendiri setelah aku mulai bersekolah di taman kanak-kanak.

Berikutnya, aku lebih senang bermain pasaran, merajang daun-daun, bunga, pelepah pisang, dan bicara sendiri sebagai penjual sekaligus pembeli. Bapak memperkenalkanku pada puisi. Sejak itu aku membacakan puisi karangan Bapak kemana-mana, di sekolah, dia acara-acara tujuh belasan, tingkat kecamatan hingga kabupaten. Sejak itu kami suka keluyuran ke hutan-hutan jati, melatih vokal di antara ricik air sungai, berbicara pada daun dan semakin mengembarakan imajinasi hingga bertemu para bidadari yang dulu menebarkan melati pada saat kelahiranku.

Begitulah sepenggal kisah. Cerita ini bisa sampai ribuan halaman kalau diteruskan. Tak jelas juga mana yang nyata mana khayalan belaka. Nanti saja kalau sudah sukses tak jadikan otobiografi. Kalau sekarang dibuat tentu tidak laku dan hanya buang-buang waktu. Ehehehehe....

Di pintu almari, masih bergelantungan tiket-tiket pertunjukkan teater. Tumpukan buku seperti tugu peyot yang hampir rubuh tanpa penyangga. Dinding kamar masih berwana pink. Keramaian ornamen bunga dan bintang-bintang yang menyala dalam gelap hanya menjadi penegas bahwa penghuninya ingin berlari dari sepi. Menyadari keberadaanku di sini, sibuk melihat bayangan diri dalam cermin. Krisis eksistensial kadang memang menjadi hantu paling menakutkan. Percayakah kau bahwa kesepian itu bisa membunuh?

Nah, untuk merayakan ulang tahunku kali ini, aku mengundang segenap pasukan cecak, balatentara semut, peleton coro, komandan kelelawar, dan kalau berkenan juga irama ngiung nyamuk sebagai pelengkap musiknya. Aku mengundang semua untuk pesta kecil-kecilan di kamarku. Kita akan rayakan pesta ala kerajaan lengkap dengan topeng dan tarian. Khusus untuk pasukan cecak, terimalah permintaan maafku. Secara tak sengaja aku telah menjepit beberapa kawan kalian di antara pintu. Teman kalian masih menempel di sana, mengering begitu saja tak bisa lepas. Mohon dengan sangat untuk tak mengutukku dengan rapal kutukan cecak yang terkenal manjur menyihir orang menjadi bangsa kalian.

Rindu ketemu orang-orang aneh itu. Tahun lalu, aku dapat sepasang keris mungil. Sekarang mereka masih cekikikan bercanda dalam sebuah kotak kayu sambil menertawaiku. Apa kabar mereka dengan mimpi-mimpi yang mungkin semakin mengerikan. Selendangku tak juga dicuri, mimpi Nawangwulan belum juga menemukan Jaka Tarubnya. Igauanku akan semakin tak jelas bila diteruskan.

Malam masih menguarkan eksotismenya. Bau dingin sehabis hujan bercampur dengan aroma bawang nasi goreng depan kostan. Kata-kata seperti biasa selalu mengikat jemari dan aku harus menghentikannya di sini. Sebelum tetes. Sebelum buncah. Sebelum tiga pasang sepatu yang bersandar di dinding itu menjelma waktu. Berkuasa kembali memutar ingatan. Bagaimanapun, kita akan tetap berpesta. Aku akan tetap berulang tahun hari ini dan kuucapkan selamat kepada diriku sendiri.

*Terimakasih untuk teman-teman tercinta atas video yang mengharukan itu...

Sepenggal Waktu Menjelang 11 Maret 2012

Sabtu, 10 Maret 2012

Menjelang Senja di Padepokan Gunung Reksamuka

Menjelang senja di Padepokan Gunung Reksamuka. Hujan masih mengantarkan sisa-sisa keikhlasan yang sebenarnya belum diikhlaskan. Ini bukan tentang cinta dan kenangan. Sudah dua kali pertemuan ini tertunda. Dari yang tadinya jam sebelas, ditunda setengah dua dan sekarang harus menunggu sampai setengah empat. Berdamai dengan orang-orang sibuk. Berdamai dengan waktu.

Waktu masih sempat mengirimkan gerimisnya. Begitu lembut. Awan-awan jadi segan untuk ikut-ikutan menghantui hari dengan gejala mendung yang selalu dikesankan dengan kemurungan dan kesedihan. Di pojokan. Orang dengan telinga yang tersumpal headset masih terus mengangguk-angguk. Entah musik apa yang menyambangi gendang telinganya. Jarinya menari menekan-nekan keyboard. Dari ekspresinya terlihat sangat serius, sedikit mengerutkan dahi tapi masih saja ia mengangguk-angguk karena musik yang mengalir itu.

Ada semacam inkonsistensi waktu dan ruang dalam cerita ini. Biarlah. Biar tak jelas asal bisa dinikmati. Padepokan Gunung Reksamuka memang memiliki ruangan khusus berisi kitab-kitab untuk membantu para cantrik mempelajari berbagai ilmu. Di sinilah orang-orang sibuk mengintai setiap halaman buku. Memindahkannya dalam otak, sekadar membuka-buka saja atau memindahkan setiap katanya dalam laptop.

Menunggu menjadi indah. Tidak hanya untuk hari ini, tapi sejak kapan menunggu menjadi indah? Bukankah orang senang membenci kegiatan menunggu. Kadang membosankan, kadang berujung kekecewaan, dan entah apalagi hal negatif bisa dilekatkan pada sebuah aktifitas menunggu. Saya pun menunggu. Orang yang ditunggu tak akan datang. Orang yang tak ditunggu belum juga datang. Sejak kapan menunggu menjadi indah. Karena ketidakpastianlah menunggu menjadi indah.

Di sini lebih sunyi. Sebagian orang sibuk membaca. Satu diantaranya sambil menyeruput kopi. Berbeda dengan di ruangan tadi. Piring-piring bergemelinting. Sepertinya orang-orang sedang sibuk makan siang. Ruang sesekali berhias tawa. Sejak kapan orang makan sambil tertawa? Beberapa menit kemudian. Gemelinting piring berhenti. Diganti dengan tapak-tapak kaki yang terkesan sibuk dan terburu-buru. Sepertinya sudah kembali beraktifitas. Kesibukan baru setelah makan siang. Derap kaki semakin sering terdengar. Derit pintu membuka dan menutup. Kadang dengan keras, kadang dengan lembut. Kembali ke ruangan penuh kitab ini. Ada bau khas yang merasuki. Bau kitab-kitab lama. Aroma lembut dari kata yang dijelmakan menjadi rangkaian pengetahuan.

Hujan mereda. Sebentar tinggal tetes saja. Di mana pucuk daun akan kembali menggayutkan tubuhnya. Orang-orang menghampiri deretan kitab-kitab dalam rak. Sedikit membuat tak nyaman karena sepertinya mereka sedang mengintip tulisanku. Lalu mengolok-oloknya karena terbaca seperti sesuatu yang hanya keluar dari otak miring penulisnya. Tukang AC membuka jendela. Mengecek peralatan yang menggantung di tembok luar ruangan. Tukang AC pergi. Menutup tirai. Awan kelabu dan semburat putih ungu itu tak telihat lagi. Hanya tirai biru. Menutup jendela langit.

Seorang teman mengajak minum kopi. Kami turun dari lantai tiga. Kantin telah tutup. Teman masih mencari kopi. Saya memilih kembali. Naik lagi ke lantai tiga. Mengambil kitab sekenanya. Membaca halaman sekenanya. Seperti melihat orang-orang sedang berdebat lewat deretan kalimat. Seperti melihat Lyotard, Beck, dan entah siapa lagi sedang duduk mengelilingi meja sampil saling menatap. Saling bertanya tentang apa yang akan mereka bangun setelah menghancurkan. Hidup memang selalu penuh risiko.

Sampai juga pada waktu yang telah ditentukan. Kali ini tidak ada penundaan lagi. Ruangan di depan terdengar ramai. Para Resi sedang saling berbicara. Bukan tentang ilmu dalam padepokan. Satu di antaranya cerita tentang transaksi tanah yang gagal hanya karena seorang perempuan tiba-tiba keluar dari mobil dan mengatakan bahwa tanah itu tak baik dibeli. Apakah ia ahli feng shui yang selalu meperhatikan unsur-unsur alam dalam menetapkan dan membangun rumah tinggal? Entahlah, abaikan saja ini cerita.

Kami bertiga akan menghadap Ibu Resi. Seperti biasa, Ibu Resi tampil dengan gaya khasnya. Kali ini mengenakan batik terusan sampai ke lutut. Berwarna putih dengan motif bunga. Pinggangnya dilingkari pilinan tali berwarna coklat. Serasi. Kakinya tetap merasa nyaman menyentuh lantai begitu saja. Seperti ia juga selalu nyaman untuk tidak menggunakan alas kaki tampaknya.

Ceritanya akan sangat lain dengan kejadian kemarin. Tidak ada yang serius dibicarakan. Hanya beberapa strategi operasional untuk penelitian lapangan. Bagi yang ingin menempuh jalur cepat, seperti salah seorang dari kami, Ibu Resi akan siap membantu. Kita hanya diminta untuk membuat time table yang harus dipenuhi sendiri sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan waktu kita. Sederhana tapi butuh komitmen diri. Kalau saya, santai saja asal sampai pada tempatnya di waktu yang tepat. Tidak ngoyo.

Pembicaraan berlangsung. Padepokan Gunung Reksamuka memang memiliki displin ilmu tertentu. Ketika saya akan menulis dengan sedikit menyimpang, menulis ibarat obyek dhedhemitan bangsa halus begini, maka saya diharuskan untuk tetap membawa disiplin ilmu padepokan dalam setiap narasi. Ah, ini hanya persoalan teknik menulis. Tentu akan bisa sangat dinikmati ketika proses mencari dan menulis kitab menjadi semacam masturbasi, mengelurkan segala yang tertahan. Dalam diri dan ingatan.

Demi lebih memahami tantangan metode dalam penulisan kitab kami, Ibu Resi menyarankan untuk pergi ke padepokan sebelah. Mengenali pola-pola narasi dan teknik penulisannya, tentu dengan tidak meninggalkan displin ilmu di padepokan kami sendiri. Ini mengkhawatirkan kalau saya gagal menjaga narasi. Kitab saya tidak akan diakui sebagai hasil dari endapan ilmu dari padepokan ini. Cukup gawat bukan. Lagi-lagi ini adalah resiko memilih tema halus bangsa dhedhemitan.

Cara menulis dan mengumpulkan kenyataan dengan metode ini memang tidak gampang. Setiap detail bisa di dramatisasi dalam narasi. Butuh waktu. Njlimet. Berada di tengah kepungan data yang entah dari mana bisa ditarik simpulnya untuk menjawab pertanyaan awal yang menjadi dasar dalam penulisan kitab. Teman di sebelah sempat takut bahwa metode ini sedikit meneror dan mengintimidasi. Metode ini membutuhkan ketrampilan untuk bertanya, menggunakan bahasa. Bisa jadi orang akan mencapai titik frustasi ketika ia gagal membuktikan prasangka-prasangka yang kadang dibuat dengan tergesa-gesa. Tapi tidak, ini pasti akan sangat menyenangkan.

Punya saya memang mengkhawatirkan. Entah bagaimana bisa mengekspresikan disiplin ilmu padepokan ini. Mungkin dari metodenya, unit analisisnya dan tentu sepanjang alur ceritanya. Mencari bahan dan menulis kitab menjadi sangat menantang. Cerita saya memang masih mendingan daripada kisah Si Cantrik nyentrik kemarin. Kisah ini masih akan panjang. Silakan dinantikan kelanjutannya bila berkenan.

Senggang Sehabis Isya’, 9 Maret 2012

Gerundelan Tentang Kitab Masurian #1

Tersebutlah sebuah padepokan di Gunung Reksamuka. Berbagai ilmu diajarkan di Padepokan tersebut di tangan para resi pilihan. Seluruh cantrik terbaik perwakilan kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara berkumpul di padepokan ini untuk mendulang ilmu. Para resi adalah mereka yang telah banyak mencecap ilmu dari negara manca. Beberapa adalah mereka yang telah kenyang makan pengalaman di berbagai lembaga tinggi kerajaan.

Setelah pulang dari manca, para resi berusaha untuk membangun Nusantara dengan mengembangkan ilmu pengetahuan baru. Reproduksi pengetahuan baru mendesak menjadi agenda penting agar kejayaan Nusantara sebagai pusat peradaban dunia tidak akan tenggelam. Resi-resi pilihan itu mengembangkan sebuah skema pembelajaran agar para cantrik bisa ikut andil dalam perubahan sosial di Nusantara. Sayangnya, tidak semua resi mampu mengikuti percepatan kelahiran pengetahuan baru tersebut. Beberapa diantaranya masih setia dengan cara pandang lama yang justru menghambat kemajuan para cantrik.

Di akhir masa belajar, para cantrik diwajibkan untuk memproduksi pengetahuan baru. Mereka diharuskan untuk bisa merangkai endapan pengetahuan yang telah didapat dengan melihat berbagai kenyataan yang terjadi disekitar dan menjadi minat mereka. Seorang resi akan membimbing beberapa cantrik sampai pengetahuan baru itu bisa lahir dari buah pikiran secara sistematis, logis, dan sesuai dengan ukuran-ukuran pengetahuan yang bisa diterima.

Para cantrik mulai menentukan minat mereka. Beberapa masih berminat pada pengetahuan-pengetahuan konvensional. Meskipun begitu, para resi akan mengarahkan minat tersebut dalam cara pandang baru yang mendukung reproduksi pengetahuan di Nusantara. Cerita menariknya, ada salah satu cantrik nyentrik. Ia tertarik untuk keluar dari cara pandang aliran ilmu murni yang berkembang di padepokan tersebut. Ia ingin mendefinisikan hal yang sama, dengan kenyataan berbeda dan membuktikan bahwa ternyata sesuatu itu ada dan bisa sangat bepengaruh meskipun kadang tak kasat mata.

Di padepokan itu, terdapat resi senior yang kurang mampu mengikuti perubahan. Ia mengaku keturunan raja ketujuh dari Kerajaan Temaram. Ia masih setia mengikuti mahzab dalam Kitab Masurian yang mengajarkan ilmu-ilmu kuno. Ilmu yang seharusnya hanya bisa dilacak sebagai sejarah tanpa bisa lagi menjelaskan dan mengimbangi dasyat dan cepatnya perubahan. Kitab Masurian menjadi mahzab yang membuat resi senior ini tidak mempercayai adanya kenyataan yang tak bisa dijangkau dengan pikiran dan pengetahuannya.

Sayangnya, cantrik nyentrik ini dibimbing oleh resi penganut ajaran dari Kitab Masurian tersebut. Resi ini tidak terlalu paham dengan apa yang akan ditulis oleh si cantrik nyentrik. Resi ini bukannya membimbing tapi dengan keterbatasan pengetahuannya, ia justru tak bisa mengikuti logika tentang apa yang terjadi dalam sebuah dunia lain yang melampaui realitas. Kalaupun si cantrik ini telah menggunakan pengetahuan terkini yang diadopsi dari negara manca, maka resi dengan mahzab Masurian akan membawanya kembali untuk menggunakan kitab-kitab lama nan usang beserta contoh-contoh dalam kepalanya. Tapi mau bagaimana lagi, si cantrik nyentrik hanya bisa berusaha untuk membangun komunikasi yang lebih baik dengan resi berpaham Masurian tersebut dan membuatnya mengerti.

Kisah si cantrik ini tak jauh beda dengan beberapa cantrik lain di bawah bimbingan resi Masurian. Betapa mahzab Masurian bisa membuat orang tak percaya bahwa di salah satu pulau Nusantara ini terdapat seratus tujuh belas pulau-pulau kecil yang mengelilinginya, bahkan hanya dua pulau yang tak berpenghuni. Resi berpaham Masurian ini juga tak percaya bahwa saat ini ada kerajaan lain yang tumbuh di Nusantara setelah Kerajaan Temaram. Kerajaan ini dikuasai oleh elit-elit yang mengendalikan pemerintahan di sana. Cantrik yang menuliskannya justru harus mengubah hasil penggalian dataya sesuai dengan pemikiran resi berpaham Masurian.

Sedikit susah kalau dasarnya adalah tidak percaya bahwa kenyataan itu benar-benar ada. Kalau soal logika berpikir, mungkin bisa saling dikomunikasikan. Seharusnya resi-resi lain yang telah belajar dari manca itu mengadakan semacam upgrading agar pengetahuan antar resi bisa setara. Mungkin para resi telah memiliki spesialisasi dalam ilmu tertentu, tapi bukan berarti tidak hirau dengan perkembangan ilmu lain. Jangan sampai para resi justru mengejar para cantriknya, bukan mengiringi jalannya. Jangan sampai cantrik yang ingin menggunakan pengetahuan terkini justru didorong untuk kembali menggunakan pengetahuan usang yang tak lagi bisa menjelaskan kenyataan. Kasihan si cantrik nyentrik ketika ia ingin membawa dirinya ke tempat yang lebih tinggi, tapi justru di tarik untuk tenggelam kembali.

Beginilah yang terjadi di Padepokan Reksamuka. Harus ada skema khusus untuk menghadapi para resi Masurian ini. Kitab Masurian saat ini sudah tak relevan menjadi pegangan. Bukan karena ia tak penting, melainkan pengetahuan di dalamnya tak bisa lagi menjangkau cepatnya putaran roda. Kitab Masurian memang menjadi legenda pada zamannya, namun tidak saat ini. Isinya harus kembali didefiniskan ulang. Ajaran Masurian tak harus dihilangkan tapi bagaimana ia bisa direlevansikan dengan lebih reflektif dan fleksibel tanpa harus memaksakannya untuk digunakan.


Pada sebuah siang yang senggang, 8 Maret 2012

Kamis, 08 Maret 2012

Tiada Mati Melawan Raksasa

Teater musikal berjudul “Melawan Raksasa” malam ini cukup menyenangkan. Saya tidak sendiri. Di sebelah saya ini duduk Mbak Vi yang imajinasinya tak berhenti merujuk para Oppa. Pertunjukan berdurasi sekitar satu jam ini bercerita tentang sebuah negeri yang selalu diselimuti kebahagian. Semua rakyatnya berbahagia, selalu tersenyum dan tertawa. Cerita yang mengingatkan saya pada dongeng Oscar Wilde berjudul “The Happy Price” itu. Kebahagiaan tak berlangsung selamanya. Tiba-tiba kerajaan yang tak pernah merasakan ancaman itu diserang gempa. Beberapa bangunan hancur dan ditengarai bahwa gempa itu terjadi akibat ulah raksasa yang senang melakukan senam pagi.

Raja kemudian mengirim menteri luar negeri untuk melakukan diplomasi didampingi perwira militer. Mereka mencoba bernegosiasi agar kerajaan bisa merasakan damai tanpa kehadiran raksasa. Kedatangan mereka disambut oleh asisten raksasa yang bisa berbahasa manusia. Raksasa yang diwakili asistennya itu minta bayi cerdas setiap bulan sebagai tumbal sehingga ia tidak akan mengganggu kerajaan itu lagi. Diplomasi gagal dan kerajaan menyatakan perang. Sebelum ditemukan cara yang tepat melawan raksasa, kerajaan sudah diserang gempa lagi hingga menewaskan Sang Raja karena kejatuhan reruntuhan bangunan istana. Seantero kerajaan bersedih.

Datanglah Paman Cuap. Tokoh seperti Paman Cuap memang kerap hadir dalam dongeng. Bisa dikatakan perannya cukup sentral sebagai penasihat Raja, meskipun tak dijelaskan posisi strukturalnya. Paman Cuap menemukan cara untuk melawan raksasa, tidak dengan otot tapi dengan akal. Ia mengerahkan anak-anak cerdas dan bijak dari negeri itu untuk adu teka-teki melawan raksasa. Kecerdikan Paman Cuap bisa mengungkap bahwa bayi yang diinginkan raksasa itu sebenarnya akan dijadikan nutrisi otak untuk mengatasi penyakit bodoh yang telah dideritanya.

Anak-anak akhirnya bisa mengalahkan asisten raksasa dengan teka-teki aneh yang tidak usah saya ceritakan di sini. Raksasa dan asistennya akhirnya pergi dari kerajaan. Mereka memang bodoh. Padahal kalau mereka tetap tinggal, tidak ada juga yang bisa melawan. Tapi dongeng tidak bodoh. Cerita ini tentu mengandung pesan penting bagi anak-anak bahwa otot bisa dilawan dengan akal. Dongeng yang sekaligus ingin mengatakan bahwa akal akan selalu memang dan didudukkan lebih tinggi dari otot sebagai referen tubuh. Sepertinya saya terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Tentu saja cerita ini tidak dimaksudkan demikian. Dongeng memang tidak sederhana. Saya sendiri sering kesusahan membuat cerita anak-anak karena ketika dibaca lagi jadi terkesan terlalu rumit untuk dipahami anak-anak.

Di balik cerita ini, saya ingin membuka sedikit mitos tentang raksasa. Mungkin banyak yang sudah pernah mendengar cerita ihwal raksasa. Ibu saya sendiri sering mendongeng tentang Lelepah dengan lagu ciptaannya sendiri, “lelepah..lelepah..pakananmu iwak entah..dicacah ning etan omah..”. Lelepah adalah seorang raksasa yang suka memakan ikan mentah dan memburu anak-anak nakal yang tidak mau tidur siang. Apa yang salah dengan raksasa? Makhluk yang selalu digambarkan sedemikian mengerikan, bertubuh besar, bertaring, suaranya keras menggelegar. Siapakah sebenarnya raksasa yang selalu hadir dalam dongeng sebelum tidur kita?

Dalam serat Dewa Ruci kita bisa melihat bagaimana Bima melawan naga raksasa atas perintah Durna untuk mencari sarang angin di tengah samudra. Siapakah Dewa Ruci dan siapakah Sang Raksasa. Banyak yang menginterpretasikan bahwa cerita ini ingin menggambarkan bagimana perang bisa berlangsung dalam diri manusia. Dewa Ruci digambarkan sebagai subyek dan Raksasa adalah abyek. Tatanan simbolik ini menggambarkan batas-batas antara “aku” dan “bukan aku”. Saya lupa ini teori siapa. Manusia menghadirkan sosok raksasa untuk melengkapi penggambaran tentang demarkasi selain subyek yang terasa tak ingin disentuh, bahkan menjijikkan.

Raksasa menjadi ancaman, tidak hanya bagi kerajaan yang selalu bahagia, tetapi juga bagi diri. Raksasa adalah sesuatu yang ingin ditolak dan disingkirkan oleh subyek dalam proses becoming-nya. Dalam tubuh raksasa, manusia melihat keruntuhan makna akan dirinya. Raksasa menjadi semacam hantu bagi nalar bahkan bisa berubah wujud menjadi kematian. Raksasa adalah salah satu gambaran dalam mewujudkan hasrat narsistik yang akan terfleksikan dalam citraan cermin. Raksasalah yang harus dipagari, dibentengi agar tidak merusak ke-diri-an yang telah dibangun. Ah, saya ini bicara apa. Kenapa jadi sampai kemana-mana begini.

Setiap kita punya raksasa. Saya sendiri tidak pernah bisa membunuhnya. Ia tetap lantang berdiri dalam diri. Kadang menjadi raja kadang bisa menjadi asisten yang bisa saya perintah kemana-mana. Ia memang tak selalu harus dibunuh. Rasanya cukup menyenangkan membiarkannya menjadi ancaman. Malam ini saya sudah diajari bahasa raksasa dalam teater musikal tadi. Kalau ada raksasa yang membutuhkan asisten, saya bersedia bekerja part time.

Kamar kost menjelang tengah malam
dimana para raksasa sedang meraung kesunyian,
26 Februari 2012

Menyuarakan Jerit Para Dhemit

Hahaha...rasanya ini tawa yang cukup untuk mengawali tulisan tak jelas ini. Ternyata sudah lama saya tak menulis catatan. Sudah lama membusuk dan mampat seperti selokan di tengah waktu-waktu senggang. Sudah lama juga saya tak menikmati suasana malam minggu di luar kamar persegi yang terasa semakin menyempit. Malam ini sedikit lain. Para kostmates bersepakat untuk sekadar melepas penat. Maka sampailah kami di Alun-Alun Kidul. Mungkin sudah tidak asing bagi para pasangan menikmati malam di sini. Sekadar berjalan berdua, bersepeda bersama dengan kilau lampu-lampu palsu, bergandengan tangan, saling melingkarkan tangan di pinggang, berciuman di kegelapan, atau hanya duduk-duduk saja menikmati wedang ronde.

Entah mengapa bagi mereka semua itu terasa romantis, sementara kami sibuk mencela, menganggap apa yang mereka lakukan itu bodoh dan tak masuk akal, hingga ikut memperagakan bagaimana mainan berwarna kebiruan itu bisa berputar-putar sejenak di udara dan mendarat beberapa saat kemudian di rerumputan basah. Dan pasangan itu kemudian tertawa bersama. Seperti melihat cinta mereka berputar di angkasa tapi tak sadar kalau akan jatuh juga. Semoga dunia masih setia dengan hukum gravitasinya hingga yang sedang melayang itu bisa kembali pada tempatnya. Apa romantisnya berada di tengah kebisingan dan jalanan memutar yang macet itu. Apa romantisnya menutup mata dan berjalan menuju beringin kembar, mengikuti mitos agar apa yang diinginkan bisa kejadian.

Bagi kami tempat ini hanya akal-akalan para lelaki yang tak punya modal. Cukup bayar parkir tiga ribu dan mungkin makan di sekitar yang pas sekali untuk dompet mahasiswa di akhir bulan. Romantisme diciptakan agar sang perempuan tidak lagi mengajak ke resto dan butik-butik mahal, nonton film, atau menunggu midnight sale dibuka dengan harga yang tetap saja mahal. Sinisme ini mungkin hanya penyangkalan berlebih yang sama artinya dengan penegasan. Kota ini memang banyak sekali menyediakan pilihan. Jangan tanya lagi orang-orang macam apa yang kami temui di sini. Sepertinya semua ada.

Ruang bising dan ruang sunyi semakin kabur. Segala macam bunyi berbaur. Orang-orang bercakap, suara musik beraneka rupa. Dari dangdut, pop, hingga gendhing Jawa, dari Justin Bieber hingga Ayu Ting Ting. Suara-suara berpusing dari konduktor-konduktor tak kelihatan sampai menyentuh membran timpani. Suara-suara terus melanjutkan perjalanannya hingga masuk ke lobus temporalis. Segala bunyi berdentuman, menerobos tanpa bisa dipilah mana yang disuka dan tidak.

Terlepas dari kebisingan itu, saya pun mencari celah sunyi. Ternyata memang masih bisa ditemukan. Sunyi bergelantungan di sulur-sulur pohon beringin. Meringis bergelayutan dengan rupa-rupa tanpa bentuk. Banyak yang tak menyadari bahwa ada yang lebih sinis memperhatikan orang-orang dan kebisingan. Ruang publik adalah ruang bising dimana setiap selera bisa dipertemukan. Batas menghilang. Makhluk dan alam.

Tiba-tiba seperti ada yang menjerit perlahan. Sangat pelan tenggelam di antara bingar. Apakah saya sedang menginjak sesuatu? Sejak kapan rumput bisa menjerit ketika terinjak? Di bawah tidak ada yang bisa saya lihat kecuali tanah gelap dan pucuk rumput yang seperti semut menggigiti kaki. Mungkin suara dari dalam kepala sendiri yang mengajak segera lari. Pertunjukan teater yang saya tonton kemarin atau kebisingan semacam ini hanya bisa membuat saya tersenyum sinis selama kurang dari satu jam untuk kemudian kembali terbaring di tebing sunyi.

Kembali ke persoalan tadi. Ada yang saya ingin katakan dari celah sunyi di antara kebisingan yang saya temukan. Di sini saya mau bicara soal toleransi. Sudah banyak orang yang peduli dengan habitat harimau atau orang hutan yang semakin tergusur. Tapi tentu tidak banyak yang peduli dengan habitat dhemit yang juga semakin tergusur. Berapa banyak pohon tersisa di kota ini. Kemana larinya para dhemit setelah Merapi muntah. Tempat wingit memang sudah tak banyak lagi. Para dhemit hanya bisa menghuni rumah-rumah tua, patung-patung, benda-benda di museum, sebagian berumah di candi-candi, beberapa pohon besar dan beberapa membangun kerajaannya di Taman Sari. Tapi tenang saja. Jangan dipercaya omongan orang nglantur macam saya. Tentu ini cuma khayalan dan bohong belaka.

Kalau saja ada sosiologi perdhemitan, psikoanalisis perdhemitan atau politik perdhemitan, sebenarnya merekalah yang sudah sangat merasa terancam. Raja dhemit semakin kehilangan kedaulatan teritorialnya. Raja dhemit sudah semakin kebingungan ketika dhemit-dhemit kecil mulai mbalelo dan berbuat seenaknya sendiri. Para dhemit mulai usil dan menggelitik-gelitik kuduk manusia sampai susah sekali manusia merasakan ketenangan sejati. Mereka itu sebenarnya tidak jahat, tapi bagaimana lagi kalau memang sudah tak banyak tempat untuk ditinggali. Kau pikir hanya manusia saja yang bisa berdesakan berebut lahan? Meskipun dunia mereka berbeda, tetap saja ulah manusia dengan segala hingar bingarnya itu mengganggu keamanan mereka. Toh mereka juga makhluk Tuhan yang berhak menghuni bumi ini.

Sudah berapa banyak dhemit mengalami ketidakadilan. Banyak manusia tersesat, memuja keris, besi dan tombak, dhemit juga yang disalahkan. Banyak anak sekolah kesurupan, dhemit pula kena getahnya. Dhemit tak pernah bisa membela dirinya ketika dipersalahkan. Manusia selalu tak mau berkaca. Mereka tak bisa melihat yang samar. Tertutup dan sebagian tersesat dalam kegelapan. Kapan-kapan biar saya undang Butalocaya dalam serat Dharmagandul untuk memberikan kuliah umum pada para manusia tentang dunia perdhemitan. Meskipun kata-katanya tidak bisa dipercaya juga, setidaknya manusia bisa tahu apa yang sekarang dirasakan para dhemit.

Semakin malam semakin nglantur saja ini tulisan. Biarkan saya kembali pada ruang sunyi. Di mana langit kota tak pernah lagi memanggil bintang untuk mencairkan bising dan bingar. Di emperan toko-toko yang telah tutup itu, para banci sedang membagi hasil jerih payah sehari. Bedak dan gincu masih tebal menyelimuti wajah. Gelandangan mulai merajut selimut dari lembaran-lembaran kardus dan koran. Hingar masih menyambar-nyambar kota. Entah hingga selarut apa. Para dhemit tetap menatap-natap sinis. Mengintip dengan tatapan paling nanar dari mata yang tak jelas bentuknya. Dari balik pohon beringin, pohon preh, patung dan monumen pinggir jalan. Saya sendiri, entah harus mengatakan apa kepada para dhemit itu. Kata teori itu, ini adalah ruang publik. Ruang yang setara bagi semua, tapi ternyata tidak bagi dhemit.


Kamar Kost, 26 Februari 2012: Setelah Lewat Tengah Malam

Selasa, 21 Februari 2012

Ketika Kelas Bawah Membingkai Ulang Kebijakan

Sebuah Pengantar

Beberapa pekan terakhir ini, wacana tentang kebijakan pembatasan BBM bersubsidi santer terdengar berseliweran di berbagai media massa baik cetak maupun elektronik. Dari wacana tersebut, banyak opini muncul terkait setuju dan tidak terhadap kebijakan tersebut. Beberapa kalangan cenderung khawatir terhadap ketidaksiapan pemerintah dan prediksi bahwa kebijakan tersebut tidak akan berhasil.

Permintaan untuk membuat rekomendasi sebuah kebijakan memang bukan suatu hal yang mudah. Sebagai masyarakat kelas menengah bawah, saya cenderung setuju dengan kebijakan tersebut dengan beberapa prasayarat yang memang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh pemerintah. Tulisan ini akan mencoba membuat sebuah desain implementasi untuk kebijakan tersebut agar pelaksanaannya lebih optimal. Tulisan ini juga tidak akan mengabaikan pendapat-pendapat kritis dari berbagai aktor sebagai bahan pertimbangan dalam proses implementasi kebijakan.

Konteks tarik manarik antara polis vs market based policy menjadi salah satu latar belakang yang juga akan dielaborasi dalam tulisan ini. Setiap kebijakan selalu diambil dengan rasionalitas tertentu dan mengandung resiko, atau bahkan konflik yang harus dikelola bersama. Proses kebijakan dalam hal ini diposisikan sebagai ruang atau arena di mana masyarakat seperti saya dapat terlibat untuk ikut merumuskan apa yang bisa saya dapatkan dari kebijakan tersebut dan bagaimana cara saya mendapatkannya.

Pembatasan BMM dalam Discourse

Sebagai masyarakat menengah ke bawah informasi yang saya dapatkan, terutama dari media massa merupakan salah satu sumber utama yang dapat diakses dengan mudah. Banyak infomasi yang diterima harus kembali dipilah berdasarkan aktor dan perspektif mereka masing-masing. Dengan demikian saya sebagai orang yang seakan diuntungkan dengan kebijakan tersebut bisa melihat lebih jernih berbagai persoalan yang diprediksi akan muncul dalam tahap implementasi. Sebagai aktor yang rasional, saya setuju dengan kebijakan tersebut karena memang perencaaan awalnya seakan memihak dan menguntungkan masyarakat menengah ke bawah. Meskipun demikian, ketika melihat dalam konteks yang lebih luas, kebijakan ini memang harus ditinjau ulang. Saya tidak akan merekomendasikan kebijakan baru tetapi mencoba untuk menwarkan desain implementasi yang mungkin bisa meminimalisasi persoalan.

Dalam pasar, informasi yang ada diasumsikan akurat, lengkap, dan tersedia secara gratis bagi setiap orang. Sebaliknya, dalam polis informasi adalah interpretif, tidak-lengkap, dan digunakan/dikomunikasikan secara strategis. Kita tidak pernah bisa mengetahui seluruh cara yang mungkin dilakukan untuk mencapai suatu tujuan atau seluruh dampak yang mungkin muncul dari suatu tindakan, terutama karena setiap tindakan pasti menimbulkan dampak-sampingan, berbagai konsekuensi yang tidak terantisipasi, dan dampak yang muncul setelah rentang waktu yang panjang. Demikian halnya dengan informasi tentang kebijakan pembatasan BBM yang cenderung bersifat polis. Rasionalitas saya dibatasi dengan berbagai wacana yang berkembang dan dikemukakan oleh berbagai pihak tersebut.

Membedah tarik menarik antara polis dan market tidak bisa dilepaskan dari pendefenisian tentang kepentingan. Dalam model pasar, individu-individu bertindak hanya untuk memaksimalkan kepentingan (self-interest) mereka masing-masing sedangkan model polis harus mengasumsikan adanya ‘kehendak kolektif’ (collective will) dan usaha kolektif (collective effort). Dalam polis, ada satu ‘kepentingan-publik’ (public-interest yaitu tujuan-tujuan yang menjadi konsensus. Publik seperti apakah yang dimaksud dalam konsep ini, sementara masyarakat secara sosial-ekonomi telah terbagi dalam kelas-kelas tertentu. Pertarungan banyak orang atas kepentingan publik adalah demi memperebutkan kekuasaan untuk mendefinisikan apa itu kepentingan publik. Kepentingan-publik hanyalah sebuah kotak kosong dalam polis dan orang-orang menghabiskan banyak energi untuk mengisi kotak kosong tersebut. Bagi polis, kepentingan-publik menempati posisi seperti kepentingan-pribadi bagi pasar.

Dalam wacana kebijakan pembatasan BBM, model polis dan market saling tarik menarik dan muncul pada setiap tahapan kebijakan. Banyak pihak yang menentang karena mengamsumsikan bahwa kebijakan tersebut justru akan merugikan golongan tertentu dan menguntungkan golongan lain. Masing-masing aktor berusaha untuk mendefiniskan kepentingan publik yang mana yang bisa dicapai melalui kebijakan tersebut. Pemerintah misalnya, berasumsi bahwa pilihan untuk kebijakan tersebut merupakan opsi terbaik dan pro kalangan menengah ke bawah.

Pemerintah berpendapat bahwa persediaan energi tak terbarukan, khususnya minyak bumi di Indonesia sudah tidak banyak. Sedangkan mengimpor minyak mentah memerlukan biaya yang tinggi, dibandingkan dengan gas yang lebih murah dan mudah. perkirakan anggaran yang bisa dihemat dari pembatasan BBM subsidi mencapai Rp 230 triliun. Dana yang bisa dihemat antara lain akan digunakan untuk membangun jalan, rel kereta api dan berbagai fasilitas umum lainnya.

Mulai tanggal 1 April 2012, pengaturan BBM bersubsidi akan dilaksanakan dan pelaksanaan pertama kebijakan ini akan berlaku untuk daerah Jawa dan Bali. Pembatasan BBM bersubsidi yang dimulai dari premium per 1 April 2012 sesuai amanat UU No 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012. UU tersebut menjelaskan tentang bentuk pengendalian anggaran subsidi BBM yang akan dilakukan melalui pengalokasian lebih tepat sasaran dan kebijakan pengendalian konsumsi. Pengalokasian BBM bersubsidi secara tepat sasaran dilakukan melalui pembatasan konsumsi premium untuk kendaraan roda empat milik pribadi di Jawa-Bali sejak 1 April 2012.

Pemerintah membentuk Tim Pengkajian Pengaturan BBM dari perwakilan beberapa akademisi. Tim ini kemudian menghasilkan tiga opsi pengaturan BBM bersubsidi yakni pertama, menaikkan harga premiun sebesar Rp 500 sehingga menjadi Rp 5000 per liter. Kedua, mewajibkan kendaraan pribadi roda empat untuk beralih dari premium ke pertamax. Ketiga, penjatahan konsumsi premium dengan sistem kendali penjatahan. Beberapa pihak menilai solusi yang ditawarkan oleh tim ini sangat parsial karena mengabaikan masalah substansial yang di hadapi manajemen sumber daya energi nasional. Namun, dari berbagai opsi tersebut, pilihan pemerintah untuk membatasi BBM tersebut dinilai realistis untuk mengurasngi defisit anggaran di tengah harga minyak dunia yang bergejolak akibat krisis di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Kebijakan pemerintah dalam alokasi penggunaan bahan bakar minyak tersebut memang ramah terhadap kelas menengah yang membawa sepeda motor dan pengguna kendaraan umum. Dalam skala sosial-ekonomi, penggerak ekonomi adalah mereka-mereka yang memakai sepeda motor dan yang bermobilitas memakai angkutan umum. Sedangkan kelompok yang memakai mobil pribadi diasumsikan sebagai kelompok menegah ke atas, yaitu para pemilik perusahan, pemimpin perusahan atau yang memiliki strata yang lebih tinggi.

Beberapa pihak yang menentang kebijakan tersebut berpendapat bahwa pembatasan BBM akan berimbas pada kenaikan inflasi , menimbulkan gejolak harga barang-barang, membebani rakyat ketika harga minyak dunia naik dan berimbas kenaikan dua kali lipat dari sekarang, menimbulkan distorsi ekonomi , memiskinkan kaum menengah di Indonesia, hanya menjadi opsi politik, dan sebagainya. Rasionalitas dalam ekonomi memang hanya menjelaskan kenapa kebijakan tersebut dipilih sedangkan proses pengambilan keputusan itu sendiri merupakan salah satu proses politik. Dalam ranah inilah polis-market saling tarik menarik untuk bersama-sama memaksimalkan pencapaian tujuan.

Dari berbagai wacana dan pro-kontra terkait kebijakan pembatasan BBM, sebagai bagian dari kelas menengah ke bawah, kebijakan tersebut dapat dikatakan polis centric. Kepentingan publik dan kepentingan pribadi tampak berusaha untuk dinegosiasikan dalam kebijakan tersebut. Meskipun demikian, pendefinisian kepentingan publik dan perumusan masalah bersama masih tetap ambigu, bersifat terbuka dan sangat interpretatif. Hal ini pula yang mendasari keraguan publik terhadap implementasi kebijakan tersebut.

Redesain Implementasi: Mengubah Framing Pemerintah

Pemerintah berencana untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut dengan berbagai cara. Beberapa diantaranya adalah sepeda motor dan kendaraan umum tetap mendapat BBM subsidi, sedangkan kendaraan plat hitam tidak akan mendapatkan subsidi lagi. Arah pengaturan adalah kendaraan mobil pribadi diberikan alternatif memakai gas, selain pertamax. Pengisian premium kendaraan roda dua akan dilakukan terpisah di SPBU sehingga tidak memungkinkan mobil ikut mengisi premium. Kendaraan umum akan dibatasi pemakaian premiumnya dengan menggunakan alat kendali untuk mencegah ke pengguna yang tidak berhak. Pemerintah juga akan memperbaiki moda transportasi umum agar pemilik kendaraan pribadi mau berpindah menggunakan angkutan umum.

Pada tahap selanjutnya, pemerintah akan menyediakan bahan bakar gas yang lebih murah sebagai alternatifnya. Pada 2012, pemerintah menargetkan terdapat 19 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di Jakarta dan 110 unit di Jawa. Pemerintah merencanakan pembagian 44.000 alat konversi (converter kit) gas secara gratis bagi kendaraan umum di Jawa. Alat konversi baik gas alam terkompresi (CNG) maupun gas cair (LGV) akan disediakan PT. Dirgantara Indonesia dengan harga 12-15 juta per unitnya. Pemerintah selanjutnya berencana menaikkan harga CNG menjadi Rp 4.100 per liter setara premium (LSP) dan LGV Rp 5.600 per LSP atau terdapat subsidi Rp1.000 dari harga keekonomian LGV Rp 6.600.

Proses forecasting dalam kebijakan publik menempati posisi krusial. Dari proses ini akan diketahui seperti apa kondisi sosial, ekonomi dan politik di masa depan sehingga dapat dilakukan intervensi terhadap kebijakan tersebut . Dari wacana yang berkembang, banyak prediksi negatif terkait dengan implementasi kebijakan tersebut. Beberapa prediksi dan resiko yang muncul dari kebijakan tersebut adalah naiknya jumlah kendaraan bermotor . Selain itu, banyak pihak meragukan bahwa kebijakan tersebut. Pemerintah tidak memiliki perangkat pengawasan dan antisipasi yang detail terhadap resiko kebijakan seperti penyelewengan yang sulit diatasi, kesiapan infrastruktur, perangkat, dan alat kendali seperti radio frequency identification (RFID) masih belum jelas. Angkutan massal sebagai alternatif juga masih kacau, dan sebagainya.

Dari sisi isi, desain implementasi pemerintah tersebut masih banyak menuai persoalan. Pemerintah tidak melihat secara detail kesulitan yang akan muncul dalam praktik kebijakan tersebut. Salah stau hal yang paling bermasalah dalam kebijakan tersebut adalah indikator kelas menengah dan kelas atas yang diukur dengan kepemilikan kendaraan bermotor. Dalam paraktiknya, tentu akan sangat susah melakukan pengawasan dan kategorisasi bahwa kebijakan tersebut benar-benar akan tepat sasaran yaitu kelompok masyarakat kelas menengah bawah.

Proses kebijakan terkait dengan BBM dari dulu memang sangat bersifat top-down. Hal ini terkait dengan substansi kebijakan yang memang tidak bisa dibicarakan dengan semua pihak. Kita bisa melihat bahwa dalam proses ini pemerintah hanya melibatkan para teknokrat, kaum intelektual, akademisi dan para ahli untuk mendesain sebuah kebijakan. Masyarakat sasaran seperti saya justru tak pernah dilibatkan. Pemerintah seharusnya mampu berperan sebagai katalisator yang lebih banyak menjadi ‘pendengar’, bukan ‘pembicara’. Dalam konteks demikian, pemerintah akan lebih banyak mendengar wacana-wacana pinggiran yang diungkapkan melalui bahasa rakyat. Wacana yang berkembang pun banyak didominasi oleh pemerintah dan kalangan intelektual sendiri.

Sebagai masyarakat kelas bawah, memang sangat sulit untuk menjadi reformer dan mampu mendesakkan kebijakan yang diinginkan. Namun dengan pola ini, pemerintah bisa mendengar suara tetangga saya yang memiliki mobil tua yang hanya digunakan untuk mengangkut hasil pertanian ke pasar. Kalau pun ia tetap harus membeli pertamax, hal ini tentu akan sangat memberatkannya mengingat jarak tempuh antara rumah dan pasar di pusat kota cukup jauh. Bayangkan apabila setiap hari ia harus menghabiskan sekitar Rp 100 ribu hanya untuk mencukupi kebutuhan transportasi.

Pemerintah juga tidak bisa mengabaikan konteks. Di tengah melonjaknya harga minyak dunia, hitung-hitungan cost and benefit logic menjadi penting agar hasil penghematan tidak lebih kecil dari social cost yang dibebankan kepada masyarakat. Konteks tersebut juga terkait dengan kebijakan yang bias perkotaan. Pemerintah membayangkan pengguna mobil pribadi hanya para pengusaha Jakarta yang ke mana-mana membawa sopir pribadinya. Mengkonsumsi BBM non-subsidi mungkin bukan menjadi masalah besar untuk mereka. Padahal, Jawa-Bali sebagai target kebijakan tidak hanya terdiri dari daerah perkotaan saja. Mobil sebagai alat produksi dan penghasilan seperti tetangga saya tadi tidak ikut terpikirkan dalam skema kebijakan pemerintah.

Kebijakan pembatasan BBM seperti bentuk resep dengan teknik dan mesin pentahapan tertentu. Konteks saya sebagai masyarakat kelas bawah yang tidak bisa digeneralisasi dengan sederhana menuntut adanya empati dari pemerintah untuk masuk dalam wilayah interpretasi dan asumsi kami dan menuliskan resep ulang bagaimana konteks kebijakan dapat distrukturkan kembali sekaligus menjadi perhatian untuk ikut menstruksturkan asumsi kebijakan dari pemerintah.

Selain itu, niat baik pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat bawah seharusnya dilengkapi dengan instrumen yang tepat untuk mewujudkannya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membingkai ulang kebijakan yang dinilai problematik pada tahap implementasinya. Persoalan tentang pemilik mobil yang diasumsikan sebagai orang kaya harus dikaji kembali dengan menentukan indikator yang lebih tepat untuk menentukan kelompok sasaran yang ingin dijangkau. Kesetaraan yang digagas pemerintah lebih pada keseteraan dalam kesempatan, bukan kesetaraan outcomes. Tujuan yang harus dipenuhi tidak lagi mempersoalkan klarifikasi filosofis tentang pembelaan kelas menengah ke bawah tetapi bagaimana mendefinisikan cara yang paling praktis agar kebijakan tersebut dapat diimplementasikan.

Konteks waktu harus diperhatikan agar kebijakan ini tidak terkesan tergesa-gesa diimplementasikan. Banyak tugas yang harus disiapkan terlebih dahulu sebelum kebijakan tersebut dilaksanakan. Hal yang paling penting adalah kesiapan infrastruktur, model pengawasan di SPBU, perbaikan jalan dan moda transportasi umum, dan sebagainya. Kalaupun pada tahap selanjutnya pemerintah akan mengkonversi BBM ke gas, kebijakan sebelumnya tentang konversi minyak ke elpiji 3 kg dapat menjadi policy learning yang baik agar motor kami, masyarakat kelas menengah ke bawah tidak ikut meledak. Pemerintah perlu memikirkan skema-skema kebijakan dalam skala yang lebih kecil sebagai intermediasi tujuan kebijakan yang sangat besar dan luas tersebut.

Dengan me-reframe kebijakan menjadi benar-benar sesuai dengan konteks masyarakat bawah, pemerintah dapat menentukan bahwa masyarakat bawah benar-benar mendapatkan keuntungan dari kebijakan tersebut dengan sekian skema implementasi yang telah disiapkan. Pada intinya, setiap kebijakan selalu berada dalam ruang discorse yang tidak pernah selesai. Pada tataran inilah pemerintah diharapkan mampu menciptakan order di tengah discourse, mendamaikan ambiguitas kebijakan dengan skema yang lebih detail melihat resiko.

Referensi:
Andayani, Ftria. Pembatasan BBM Kerek Inflasi 0,8%.http://republika.co.id:8080/koran/0/151527/Pembatasan_BBM_Kerek_Inflasi_0_8_Persen.
Michael Moran, Dkk (ed). 2006. The Oxford Handbook of Public Policy. New York: Oxford University Press.

Purwo, dkk. (ed). 2004. Menembus Ortodoksi Kebijakan Publik. Yogyakarta: Fisipol UGM.
Purwo Santoso. 2010. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: PolGov.
Putra, Fadhilah. 2003. Paradigma Kritis dalam Studi Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Subarsono, Drs. Ag., M.Si., MA. 2010. Analisis Kebijakan Publik: Konsep, Teori dan Aplikasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suwanan, Ahmad Fawaiq. Mengurai Karut Marut Kebijakan BBM. http://www.transparansi.or.id/artikel/mengurai-karut-marut-kebijakan-bbm/
Tapiheru, Joash. Pasar dan Polis. Terjemahan dari Stone, Deborah(1997), “Policy Paradox: the Art of Political Decision Making,” W&W Norton & Company, New York; pertama kali dipublikasikan 1988 dengan judul “Policy Paradox and Political Reason,”: Chapter I “The Market and the Polis”.

Timothy, Imanuel Nicolas. Pembatasan BBM Subsidi Menyiksa Rakyat. http://www.tribunnews.com/2012/01/07/pembatasan-bbm-subsidi-menyiksa-rakyat
-------.BBM Subsidi Dibatasi, Jumlah Pengguna Motor Meningkat. http://www.analisadaily.com/news/read/2012/01/07/29533/bbm_subsidi_dibatasi_jumlah_pengguna_motor_meningkat/
-------. Menaikkan Harga BBM Dinilai Opsi Terbaik. http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4f0874045ccf8/menaikkan-harga-bbm-dinilai-opsi-terbaik

--------. Pemerintah Siapkan Pembatasan BBM Secara Matang. http://www.analisadaily.com/news/read/2012/01/10/29839/pemerintah_siapkan_pembatasan_bbm_secara_matang/, Selasa 10 Januari 2012.
--------.Sosialisasi Pembatasan BBM Mulai Pekan Depan di http://www.analisadaily.com/news/read/2012/01/07/29409/sosialisasi_pembatasan_bbm_mulai_pekan_depan/

Liminalitas Perlawanan Subkultur: Ketika Punk ‘Digunduli’

Retasan Benang Wacana tentang Punk

Di tengah perang wacana tentang kasus penangkapan punk di Aceh banyak sekali ditemukan simpul-simpul diskursus dengan kuasa yang bermain di dalamnya. Kasus ini memicu respon publik yang luar biasa, bahkan sampai ke mancanegara. Media di tengah ruang-ruang global yang tak lagi jelas batasannya seperti menyaruk-nyarukkan banyak wacana, yang saling berseberangan, yang saling beroposisi, menggelar panggung di mana semua orang bisa menonton drama dan bebas memaknai dengan caranya sendiri-sendiri. Wacana menggiring orang dan oleh karenya membawa serta kuasa di dalamnya yang secara sadar maupun tidak akan mebuat kita menyetujui, menolak, berpikir kritis atau merespon dengan rasionalitas tertentu terhadap berbagai informasi tersebut.

Kasus penangkapan anak punk di Aceh oleh Polisi yang bermula dari acara pertunjukan musik ini simpang siur dimaknai sebagai penggaran HAM, tindakan rasional polisi untuk mengamankan mereka yang dianggap menimbulkan keresahan, di hadapkan dengan ortodoksi syari’at Islam yang diterapkan di Aceh, sampai pada analisis tentang pencitraan, berbagai muatan politis dan sekian banyak opini lain di media. Aksi ini mengundang solidaritas sesama punk baik nasional maupun internasional. Terlepas dari perang wacana di atas, tulisan ini tidak ingin terjebak pada persetujuan atau penolakan terhadap opini dari banyak pihak tersebut.

Berangkat dari titik pijak kasus tersebut, tulisan ini ingin mencoba melihat bagaimana perjalanan politik subkultur sebagai bentuk perlawanan terhadap kultur dominan terus mengalami transformasi dari masa ke masa. Subkultur saat ini tidak hanya dihadapkan pada kuasa kultur dominan yang tak henti-henti mencoba untuk ‘menggunduli’ mereka dengan normalitas-nomalitas yang telah digariskan oleh masyarakat modern. Tidak hanya berhadapan dengan kultur dominan, subkultur dalam dirinya sendiri juga menderita patahan, pecahan dan fragmentasi. Pemaknaan tentang punk itu sendiri kemungkinan telah bergeser dari apa yang dipahami oleh para punkers generasi pertama. Kajian-kajian subkultur tidak banyak melihat bagaimana kultur tertentu yang diusung dimaknai sangat secara bergama oleh para penganutnya secara luas.

Dengan penjelasan tersebut, tulisan ini akan ditarik untuk melihat bekerjanya kekuasaan dalam mendisiplinkan masyarakat modern dan menghukumi mereka yang dianggap nyleneh dan keluar dari batas-batas masyarakat umum. Terminologi ‘budaya tinggi’ selalu memaksa subkultur-subkultur minor untut tunduk terhadapnya. Punk di Aceh sebagai bagian dari pecahan budaya subkultur seperti tak kuasa melawan dominasi budaya masyarakat yang dikenal dengan ajaran Islam kental dan menggunakan struktur terlegitimasi seperti kepolisian untuk menertibkan mereka.

Punk: Resistensi dan Kontra Budaya

Punk sering dibaca sebagai tampilan tampak muka dengan segala simbol dan atribut khas mereka. ketika dibaca dari generasi pertama kemunculannya, Punk selalu dihadapkan pada relasi serba salah dengan berbagai konvensi budaya manapun, baik tradisi, norma maupun pasar. Dari peta makna yang mereka representasikan, punk menjadi bentuk subkultur dengan bentuk simbolik dan berusaha menegosiasikan posisinya dalam peta struktural yang dominatif dan tidak setara.

Subkultur tak banyak dilihat melalui ragam kelanjutannya. Suatu saat Punk pernah dimaknai secara otentik dan berhasil mengusik budaya dominan dengan ciri gerakannya yang khas. Pada masa selanjutnya, punk kembali terserap oleh budaya dominan seperti pasar dan kapitalisme. Proses ini tidak bisa dibayangkan secara sederhana ketika melihat persinggungannya dengan dunia dan kebudayaan lain.

Pertengahan akhir dekade 1970-an. Punk lahir di Inggris dan Amerika Serikat yang berawal dari beerapa kelompok anak muda dan kelas menengah pekerja yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah. Mereka melakukan berbagai macam aktivisme seni dan budaya. Kelompok punk ini mengekspresikan perlawanan mereka dari fashion dan musik. Punk menyajikan eksperimen-eksperiman dengan penampilan dan musik mereka yang berbeda dengan industri budaya arus utama (jakartabeat.net).

Desain pakaian dan atribut penampilan mereka menciptakan shock culture terhadap budaya borjuasi Inggris yang penuh dengan orang-orang berdasi, bergaya hidup mewah, bergaul dengan sesama mereka dan sebagainya. Anak-anak punk mulai berhamburan hidup di jalan dan membuat kaum borjuis ini langsung mencemooh mereka yang dinilai aneh, urakan atau bahkan menjijikkan.

Catatan Hebdige (1979) tentang Punk banyak menjadi rujukan dalam berbagai penelitian tentang budaya subkultur ini. Pasca Perang Dunia II anak muda kulit putih mulai mengembangkan subkultur mereka sendiri sebagai bentuk reisistensi simbolik. Mereka melakukan perjuangan dengan menciptakan budaya tanding sebagai ruang kebudayaan yang otonom. Meskipun demikian, Hebdige sendiri mencatat bahwa ”tidak semua punk memahami perbedaan antara pengalaman dan pemahaman ketika mengenakan gaya tersebut” atau pemahaman atau gaya tersebut hanya dipahami oleh gelombang pertama anak-anak muda yang punya kesadaran diri dan bersekolah di sekolah seni, sementara tetap tidak dapat diakses oleh mereka yang menjadi punk setelah subkultur ini dimunculkan ke publik” (Hebdige, 1979:22).

Di Indonesia, Subkultur ini kemudian berkembang dan dicangkokkan untuk melawan berbagai konstruksi nilai normatif baik di rumah, sekolah maupun lingkungan sosial, menantang bentuk-bentuk pendisiplinan dan penyeragaman. Gaya ini memberi sedikit ruang gerak bagi anak muda untuk ”melawan” bayangan kekuasaan yang diwakili oleh kemapanan, masih dalam batas-batasnya yang apolitis. Punk kemudian mengalami titik balik yang kurang lebih sama dengan aktivisme mahasiswa, lingkungan dan feminis pada masa akhir Orde Baru, tentu saja dengan gaya jalanannya yang khas (Lihat, “Kalaupun Punk Mati”, kunci.or.id).

Punk kemudian juga tak bisa dilepaskan dengan dimensi politik ketika mereka mulai mengikuti demo-demo anti pemerintah seiring masuknya wacana dan ideologi anarkisme melalui zine-zine luar negeri yang tersebar dengan pola aktual maupun virtual. Di ranah yang lebih luas, upaya serupa juga ditempuh orang pada masa itu untuk mengakses, memproduksi dan mendistribusikan informasinya dengan cara-cara memotong jalur pengawasan kekuasaan.

Pasca Orde Baru, perlawanan punk pun meluas dengan gerakan-gerakan yang lebih spesifik. Beberapa punk kini memilih tampil dengan mengenakan ikon-ikon lokal seperti Marsinah, Moenir atau Pramoedya Ananta Toer, sebagai simbol anti penindasan. Beberapa yang lain menajamkan gerakannya pada isu-isu yang juga sama gentingnya, seperti lingkungan, anti diskriminasi, anti homophobia, dan sebagainya. Yang lain memilih untuk menanggalkan atributnya yang tidak permanen (selain tattoo), dengan alasan tuntutan pekerjaan, menikah atau berbagai alasan praktis lainnya. Namun secara ideologis, tidak jarang pula mereka mengaku tetap “berjiwa punk” meskipun sudah tidak mengenakan atributnya. Bahkan tidak sedikit mereka yang kemudian beralih subkultur: menjadi anak emo, metal dan kadang ada yang kembali lagi menjadi anak punk. Semua ini adalah spektrum penyikapan di kehidupan sehari-hari yang seringkali diluputkan dari deskripsi esensialis dan non-kontradiktif atas subkultur punk (ibid, kunci.or.id).

Empat prinsip dasar yang dipakai Punkers sebagai acuan hidup adalah Kemandirian, Persamaan, Antikemapanan dan Antipenindasan, serta Solidaritas. Prinsip ini menjadi fundamen bagi sebuah gerakan punk. Tak jarang Punkers membuat diri mereka bertahan dengan memproduksi CD, Zine yang bahkan banyak dibagi gratis, diproduksi dengan iuran bersama atau membuat merchandise berupa produk atribut yang biasa mereka pakai. Mereka menjual produk-produk untuk bertahan hidup hingga berkembang menjadi distro-distro. Semboyan mereka ‘Do It Your Self’ yang diangkat komunitas mereka untuk hidup secara mandiri dengan cara khas mereka sebenarnya patut diacungi jempol.
Sebagai sebuah budaya yang dicangkok, wajah punk sebagai subkultur menemukan perjalannya sendiri di ranah lokal dengan konteks dan persinggungan budaya-budaya di sekitarnya. Penjelasan selanjutnya akan melihat bagaimana komunitas punk di Aceh harus berhadapan dengan budaya dan masyarakat yang mungkin berbeda konteks dengan apa yang dialami komunitas punk di daerah-daerah lain, meskipun mereka mungkin juga mendapat represi yang sama.

Menggunduli yang ‘Tidak Normal’

Kasus yang cukup kontroversial ini diawali dari penangkapan sekitar 60 anak Punk setelah menggelar konser pada Sabtu, 10 Desember 2011. Polisi kemudian melakukan pembinaan dengan cara menggunduli dan memandikan mereka di sebuah kolam. Aksi politi tersebut menuai protes dari para aktivis yang memandangnya sebagai tindakan pelanggaran HAM. Aksi ini juga direspon dengan munculnya berbagai protes sebagai bentuk solidaritas sesama punk, baik di level nasional bahkan sampai internasional.

Komunitas punk di Rusia bahkan sampai mendatangi kantor kedutaan besar RI di Moskow dan mencoret-coret temboknya dengan tulisan ‘Punk is not crime’ dan ‘Religion = Fasicm’. Padahal, para punkers dari Rusia ini tidak begitu memahami punk seperti apakah yang sedang mereka bela itu. Sayangnya, tulisan ini tidak cukup mampu menggali genealogi punk di Aceh sejak awal kemunculannya sampai pada saat ini sehingga tidak cukup pula menjelaskan konstruksi seperti apa yang mendasari mereka menjadi seorang punk.

Reaksi lain dari komunitas punk kemudian banyak mucul di media massa. Padahal, generasi pertama punk sangat menolak menggunakan media massa yang dianggap sebagai bagian kapital. Mereka memilih menggunakan jalur-jalur penyebaran informasi alternatif dan tidak terbiasa melakukan protes lewat media. Hal ini juga menunjukkan pergeseran bentuk perlawanan pun yang mulai diserap kembali oleh budaya pasar, meskipun hanya terkait dengan konteks yang sedang dibicarakan.

Pihak kepolisian Aceh mengatakan bahwa punk yang ditangkap adalah tukang palak, pemakai narkoba dan meresahkan masyarakat. Tindakan polisi hanya sebagai antisipasi sebelum masyarakat mengambil tindakan. Selama ini sudah banyak laporan masuk terkait dengan keluhan masyarakat terhadap keberadaan komunitas punk yang dinilai mengganggu ketertiban. Pembinaan selama sepuluh hari tersebut bertujuan untuk mengubah gaya hidup dan penampilan anak punk yang dinilai bertentangan dengan norma dan mengganggu penerapan syariat Islam di Kota Banda Aceh.

“Di Aceh tidak boleh ada komunitas anak Punk, apalagi masyarakat kota Banda Aceh berkomitmen menjalankan hukum syari’at Islam dalam kehidupannya sehari-hari.” Illiza Sa`aduddin Djamal, Wakil Wali Kota Banda Aceh. Wacana ini didukung oleh komunitas Islam di Aceh Barat seperti Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (ISNU). Mereka melihat bahwa perilaku dan pakaian yang dicontohkan komunitas punk itu tidak tepat diperlihatkan di Provinsi Aceh di mana daerah tersebut diberikan otonomi khusus untuk menerapkan syari’at Islam secara kaffah (menyeluruh). Penangkapan punk oleh aparat juga sangat didukung untuk mencegah masuknya aliran non-muslim ke daerah Aceh.

Dengan adanya pemberitaan di media, kasus ini seolah-olah digiring untuk mempertentangkan antara nilai-nilai yang dianut punk dengan Islam. Kenyataannya, kalau kita berselancar di dunia maya, akan mudah ditemukan ragam komunitas punk yang menjadikan Islam sebagai basis nilai yang mereka anut. Sebut saja salah satu situs yaitu ‘undergroundtauhid.com’. salah satu tulisan dalam situs ini mencoba untuk menjernihkan persoalan bahwa Islam pun bisa berdamai dengan punk. Menjadi punk adalah sebuah pilihan hidup dan setiap punkers harus siap dengan segala resikonya. Ada banyak opini juga yang beredar bahwa syari’at Islam hanya menjadi alat politis bagi kelompok dominan untuk menekan kelompok-kelompok minor yang tidak mengikuti sistem.

Di sisi lain, Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf justru meminta agar komunitas tersebut bisa hidup dengan normal. Meski mereka hidup di taman-taman, masjid, mereka harus tetap bersih sehingga masyarakat bisa simpati. Anak-anak tersebut tidak memiliki pekerjaan, tidak mau sekolah dan pulang ke rumah sehingga dianggap melanggar standar asosial. Dari pernyataan tersebut, terlihat bahwa masyarakat secara sadar maupun tidak telah mengkonstruksi klasifikasikan sosial antara yang sakral dan yang profan. Ketika yang sakral diandaikan sebagai ortodoksi Islam dengan perangkat nilainya, maka punk akan dianggap sebagai kelompok-kelompok manusia ‘tidak normal’ yang keluar dari dan tidak tunduk terhadap nilai-nilai yang telah disakralkan sebuah masyarakat.

Tindakan simbolik dari polisi dalam menghukum dan hukuman yang dihaluskan dengan kata pembinaan ini sebenarnya berguna untuk menyadarkan kembali masyarakat pada tuntutan moral yang telah dikonstruksikan oleh budaya yang lebih dominan, entah itu pasar, entah itu agama. Bentuk hukuman tersebut seperti dalam istilah Foucaut disebut sebagai normalisasi yang mencoba untuk menginternalisasikan rezim disiplin dalam subyek individu seseorang. Masyarakat dengan konstruksi agama maupun negara membentuk episteme-nya ketika apa yang mendasari pikiran masyarakat tentang punk telah tertanam dalam struktur kognitif paling fundamental masyarakat sehingga cara mereka memandang punk memang sulit untuk diubah.

Sebagai subyek yang aktif, para punk yang ditangkap pun memiliki pemaknaan yang berbeda terhadap tindakan polisi yang dikenakan pada tubuh mereka. beberapa dintaranya berterima kasih karena telah dibina, diajari kembali membaca Al Quran, tetapi masih ingin kembali menjadi punk. Yang lain mengaku sangat mencintai dunianya dan mempertanyakan apakah mereka akan diizinkan kembali ke Aceh untuk menikmati alam setelah sebelumnya disebut melanggar norma? Berbeda dengan pendapat tersebut, salah stau punkers mengaku sangat ingin sekolah dan pulang ke rumah setelah mendapat pembinaan. Ia mengaku banyak hal yang selama ini telah ditinggalkan seperti melaksanakan sholat lima waktu, makan teratur, menjaga kebersihan, dan sebagainya.

Anak-anak punk di Aceh sebagian besar memang belum sedemikian jauh menginternalisasi punk sebagai sebuah ideologi, meskipun tentu tidak semua karena menyangkut pengalaman subyektif seseorang. Anak-anak ini hanya menyukai kebebasan yang ditawarkan ketika sebelumnya mereka merasa terkungkung dengan aturan dan norma. Seperti kata Walter Benjamin, mereka layaknya manusia yang mengembara yang tidak memiliki jati dirinya secara total. Mereka selalu diikat oleh kondisi yang melayang-layang dalam kerumuan dari satu tempat ke tempat lainnya. Mereka masih dengan mudahnya teracuni oleh apa saja sehingga jati dirinya yang autentik menjadi terpendam dan pada akhirnya lenyap. Para punkers tersebut juga tidak menunjukkan perlawanan berarti ketika digunduli meskipun rambut dianggap sebagai salah satu ekspresi identitas penting bagi anak punk.

Masyarakat bergerak antara order dan disorder sampai pada fase liminal yaitu keadaan transisi di antara tapal batas tertentu. Punk sejenak memasuki fase liminalnya seperti dalam istilah Homi K. Bhabha ketika mulai kehilangan arah berhadapan budaya yang lebih besar dan dominan. Apakah fase ini mampu terlampau ketika penormalan, hukuman demi hukuman mampu mengguncang, menimbulkan disorientasi, dan perubahan arah. Kita juga tak pernah tahu apakah fase liminal akan berujung pada penemuan arah baru dimana makna-makna baru bisa diciptakan, mengatasi kekeringan akibat obyektifitas dalam masyarakat yang cenderung kaku dan mekanis.

Sebagai subkultur, punk tidak bisa menghindari pecahan dan keberlanjutan pemaknaan yang terus berubah dari waktu ke waktu. Sebagai subkultur punk dipaksa untuk terus bernegosiasi dengan budaya-budaya dominan dalam posisi yang tidak lagi saling berhadapan. Subkultur bisa terserap, bisa pula menyerap bentuk-bentuk budaya dengan strategi-strategi perlawanan yang tak mungkin sama. Punk semakin banyak mendapat tantagan untuk menempuh aksi. Sebagai subkultur dan bagian dari identitas, punk bisa menjadi sekadar tampilan, diinternalisasikan sebagai ideologi, diadaptasi dalam bentuk-bentuk tertentu, diterjemahkan secara beragam, bahkan harus berdamai atau tetap bermusuhan dengan kepentingan sosial, ekonomi, dan sebagainya. Meskipun punk kemungkinan tidak dapat berekspresi di permukaan, ruh dan jiwa-jiwa punk tentu akan tetap mengembara dan suatu saat bisa kembali bermunculan di mana-mana.

Referensi:
Hebdige, Dick. Subculture: The Meaning of Style. London: Methuen, 1979.

Saefullah Hikmawan. Punk vs. Syari’at Islam? Tentu Tidak! http://www.jakartabeat.net/humaniora/kanal-humaniora/analisis/item/1376-punk-vs-syari%E2%80%99at-islam?-tentu-tidak.html

Sembiring, Eidi Krina. Tertibkan Anak Punk, Gubernur Aceh Tak Peduli Jadi Sorotan Dunia, Selasa, 20 Desember 2011 , 15:44:00 WIB http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2011/12/20/49579/Tertibkan-Anak-Punk,-Gubernur-Aceh-Tak-Peduli-Jadi-Sorotan-Dunia-

Simanjuntak, Laurencius. Kasus Anak Punk, Gubernur Aceh: Tak Mungkin Mereka Tidur di Jalan Terus. DetikNews Selasa, 20/12/2011 14:17 WIB. http://www.detiknews.com/read/2011/12/20/141759/1795556/10/kasus-anak-punk-gubernur-aceh-tak-mungkin-mereka-tidur-di-jalan-terus

Sugiharto, I Bambang. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1996

Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto (editor). Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius, 2005

------------, ISNU: Kasus Anak Punk Jangan Dipelintir
Minggu, 18 Desember 2011 02:00 WIB http://metrotvnews.com/read/news/2011/12/18/75742/ISNU-Kasus-Anak-Punk-jangan-Dipelintir

---------------, Jadi Anak Punk Jangan Cengeng Dan Lebay! http://www.undergroundtauhid.com/jadi-anak-punk-jangan-cengeng-dan-lebay/

------------, Kalaupun Punk Mati..., http://kunci.or.id/review/kalaupun-punk-mati/

Senin, 02 Januari 2012

Mimpi Mereka yang Lahir Dari Rahim sunyi

TBY, 28 Desember 2011. Penghujung tahun selalu menyimpan kejutan. Bukan kebetulan kalau malam ini langkah kaki seperti dibawa untuk terpaku pada pertunjukan mereka. Niatnya awalnya adalah untuk mengenalkan seorang teman dengan dunia seni, biar otaknya itu bisa sedikit terisi dengan hal lain dan tidak terlalu banyak kesurupan ‘Super Junior’. Tetap saja ternyata. Imajinasi teman saya ketika berada di mana pun susah untuk dilepaskan dari semua bentuk hegemoni yang telah menguasai sebagian otaknya. Pikirannya tetap saja terpaku pada para Oppa di seberang laut sana. Saya tentu tidak akan cerita banyak soal teman saya ini. Tulisan ini akan lebih fokus melihat para tuna rungu yang tergabung dalam Deaf Art Community. Malam ini untuk kesekian kali—meskipun baru pertama kali saya menyaksikan—mereka merepresentasikan diri mereka melalui seni.

Seni tidak selalu dilihat indah dan sakral. Seni itu universal. Siapa saja bisa memaknainya dengan berbagai cara, termasuk bagaimana para tuna rungu ini berkesenian lewat cara mereka. Seni yang menurut saya lebih dasyat karena dilakukan oleh anak-anak ‘sempurna’ seperti mereka. Seni mereka rileks tapi menyentuh. Seni mereka biasa tapi luar biasa. Entahlah, kata-kata memang tak pernah puas bisa mengungkapkan sesuatu. Mereka telah mengajak saya berbalik menggunakan bahasa yang lebih purba daripada kata. Bahasa tubuh. Bahasa inilah yang mereka gunakan untuk merobek batas. Batas komunikasi antara deaf people dan hearing people.

Seorang laki-laki yang duduk di belakang saya kebetulan sedang bercerita tentang para tunarungu ini kepada teman di sebelahnya. Dan saya pun baik-baik pasang telinga. Laki-laki ini bercerita bagaimana ia pertama kali bergabung dengan Deaf Art Community. Ia banyak bicara tentang bagaimana anak-anak tuna rungu ini sejak kecil dipaksa untuk mengikuti gerak bibir kita, dipaksa mendengar dari ruang-ruang sunyi mereka. Sementara seberapa banyakkah dari kita yang bersedia mendengarkan mereka? Kita hanya bisa mengumpat, ‘budheg!’ ketika bertemu mereka di jalan, ketika teriakan atau klakson motor kita tak membuat mereka bergeming.

Karena mereka hanya hidup di dunia sunyi. Sementara orang-orang macam kita ini nyaman hidup dalam kebisingan. Dunia suara. Pada akhirnya, justru merekalah yang kemudian membiasakan diri dengan umpatan kita. Mereka membiasakan diri mendengar, bukan mendengar tapi membaca umpatan agar tak lagi sakit hati dan merasa tersinggung. Siapa yang membalik dunia jadi macam begini? Dan, ternyata saya salah menyebut. Tentu saya tak berhak menyebut ‘kita’ di sini. Mungkin lebih pas kalau saya menyindir diri saya sendiri.

Cerita awal Pak Broto, pendiri dan pendamping Deaf Art Community sedikit menyentak. Ternyata saya tak cukup punya kesadaran terhadap dunia lain di sekitar saya. Hal remeh tapi ternyata laten mengendap dalam diri bahwa tak mudah lagi untuk membiasakan diri berpijak pada bumi yang sama, berbagi matahari yang sama dengan mereka. Bumi telah dipenuhi sekat dan kotak. Sudah tak perlu dipertanyakan lagi wacana dominan yang mana yang mendiskriminasikan mereka. Bahkan, dalam dunia mereka paling kecil yaitu keluarga mereka sendiri. Jangan tanya lagi ketidakadilan apa yang mereka terima. Siapa yang tuli siapa yang mendengar. Siapa yang sempurna siapa yang kurang. Siapa yang normal siapa yang bukan. Sepele, apresiasi terhadap pertunjukan biasanya dilakukan dengan tepuk tangan. Tapi mereka tak bisa mendengar riuh tepukan. Saya hanya diminta untuk mengangkat tangan dan melambai sebagai tanda apresiasi. Itu pun tak mudah.

Pertunjukan mereka kali ini sekaligus menandai tujuh tahun berdirinya Deaf Art Community. Sebuah komunitas dimana kolektifitas bisa lebih menguatkan. Laki-laki di belakang saya kembali terdengar bercerita betapa mereka bisa sangat riuh ramai ketika bertemu teman-teman lain sesama tuna rungu. Sementara di dunia lain, mereka lebih sering mengunci mulut. Berdiam dalam kesunyian. Bahkan, di kelurga pun mereka tak bisa dengan bebas mencurahkan perasaan karena keterbatasan cara komunikasi. Seandainya kata bisa lebih dari sekadar lisan dan bisa dipahami semua orang tanpa terkecuali. Bayangkan, berapa orang yang bisa menggunakan bahasa isyarat dan hanya diantara mereka itulah para tuna rungu bisa saling bercakap.

“Aku Ingin Menjadi Kupu-Kupu” sebuah judul yang lahir dari pernyataan sederhana. “...Ulat itu seperti orang tuli, Pak. Orang jijik melihat kami (kaum tuli). Aku mau berfikir seperti kepompong dan suatu saat nanti akan berubah menjadi kupu-kupu yang semua orang akan senang dan tersenyum melihat kami..”, kata Arief Wicaksono (sutradara pertunjukan) kepada Broto Wijayanto. Cerita inilah yang kemudian diangkat dalam pertunjukan yang berdurasi sekitar satu jam.

Pertunjukan diawali dengan visualisasi puisi. Benar-benar tak biasa melihat puisi yang divisualisasikan dengan bahasa isyarat. Saya menyaksikannya malam itu. Laki-laki di belakang saya sedikit bisa menerjemahkan bahasa isyarat yang mereka tampilkan. Potongan-potongan puisi ini tampak sangat biasa. Tapi menjadi tak biasa ketika menyaksikan usaha mereka mendeklamasikannya di hadapan saya. Tekanan dan nada tidak lagi mengalir lewat suara. Puisi ini ditampilkan untuk dirasakan lewat gerakan, ekspresi dan hentakan kaki. “apa salah kami lahir di dunia/kami adalah anak-anak adam dan hawa/kami juga lahir dari buah cinta yang sama/sempurna adalah kata-kata yang menyakitkan/seperti menusuk dada kami/....../....../”

Puisi selesai dan sindiran Pak Broto seperti menyengat. Saya sendiri kurang bisa menikmati bahasa isyarat mereka. Sampai saya tak bisa masuk ke dunia dan jiwa puisi mereka. Pak Broto kemudian berkata, “gak usah terpaksa tepuk tangan begitu. Memahami mereka saja kita tidak bisa sementara seumur hidup mereka harus memahami kita.”

Inilah mimpi mereka. bisa pentas di gedung pertunjukan terbesar di Yogyakarta. Benar-benar bukan mimpi yang sederhana. Semua gerakan hip hop yang mengagumkan itu mereka ciptakan sendiri. Tampilan selanjutnya diiringi dengan musik beatbox. Musik inilah yang paling memungkinkan untuk bisa mengantarkan getaran sampai mampu mereka rasakan. Musik dialirkan masuk ke dalam jiwa dan tubuh mereka. Musik dalam tubuh mereka, detak jantung yang disesuaikan degan musik di luar. Itulah yang menggerakkan otot-otot dan mengantarkan impuls-impuls ke syaraf untuk membuat sinergi gerakan yang tidak mudah bagi tuna rungu.

Laki-laki di belakang saya kembali bercerita tentang kesulitannya mengajarkan tempo pada teman-teman tuna rungu. Salah satu dari mereka yang sudah menyelami musik meski lewat dunia sunyinya kemudian menjelaskan. Kami tak bisa diajari musik dengan mengenalkan tempo seperti orang normal. Kami hanya bisa merasakan getaran. Getaran yang bisa kami raba dan rasakan. Getaran yang menyusup ke dalam ruh dan mengaliri aliran darah kami. Satu musik yang kami kenal hanya debar jantung kami sendiri. Diri kami adalah musik itu sendiri. Ada musik dalam dunia sunyi.

Demikianlah. Saya telah cukup banyak menyaksikan pertunjukan dari panggung ke panggung. Dengan melihat mereka, sepertinya saya akan sedikit membalik ukuran penilaian yang biasa saya gunakan untuk melihat baik tidaknya sebuah pertunjukkan. Untuk mereka, pertunjukan terbaik bagi saya bukan lagi apa yang mereka pentaskan di atas panggung. Pertunjukkan mereka adalah belakang panggung yang penuh perjuangan. Itulah yang membuat mereka menjadi ‘superman’. Manusia-manusia penuh mimpi meski lahir dan tinggal dalam dunia sunyi. “i’m here represent my self like a superman.” Penggalan lagu hip hop tersebut mengiringi mereka ketika punggung anak-anak ini telah ditumbuhi sayap-sayap indah. Para tuli telah menjadi. Kupu-kupu paling indah di bumi.

Pertunjukan selesai dan saya diharuskan untuk menulis di atas selembar kertas. Apa mimpi saya sendiri setelah melihat pertunjukan tadi. Kertas-kertas itu akan dipajang pada pementasan berikutnya. Sudah jadi apa mereka dan sudah jadi apa mimpi saya pada saat itu. Pada akhirnya, saya tak berani menuliskan apa-apa. Saya malu dengan mereka, manusia-manusia ‘sempurna’ yang lahir dari rahim sunyi itu.


Kamar Kost, 29 Desember 2011

Rabu, 28 Desember 2011

Manusia, Buku, dan Kereta

Jagad gedhe tampaknya memang mulai kacau. Musim dan cuaca sedang tak ingin berdamai. Manusia-manusia mulai merasa penat, lelah, jenuh, rusuh dan segala keluh menumpahi dunia hingga semakin lusuh. Demikian halnya dengan Cempluk. Jagad cilik-nya ikut merasakan sakit. Sudah dua hari ini demam menguasai tubuhnya. Kepalanya tak berhenti berdenyar-denyar seperti ingin meletupkan sesuatu. Maka, tak ada obat yang bisa menyembuhkannya selain rahim Si Mbok. Rahim Si Mbok memang tempat paling nyaman untuk kembali menyerap saripati kasih. Maka, kereta senja itu mengantarkan Cempluk kembali pulang. Cempluk selalu merasa tak sendiri dalam kereta, meski ia hanya satu-satunya penumpang. Kereta selalu memberinya kesan. Cempluk dan kereta sama-sama meraung dan menderu bersamaan selama perjalanan.

Cempluk duduk di gerbong paling depan. Dua kursi dekat pintu. Ia tak ingin merasa sendiri ketika duduk di empat bangku berhadapan sedang tiga orang lainnya saling mengenal dan bercerita sepanjang perjalanan. Cempluk pun mulai mengamati. Kereta semakin penuh manusia di akhir pekan yang lebih panjang dari biasanya. Satu per satu orang naik dengan menenteng lelah sekaligus keinginan untuk segera sampai tujuan. Seperti melihat banyak sekali dunia hanya dalam satu gerbong kereta. Dan kali ini Cempluk memutuskan untuk menceritakan orang-orang dengan buku yang mereka baca dalam kereta. Hanya gerbong itu saja karena pengamatan Cempluk tak akan menjangkau gerbong lain yang mungkin lebih penuh sesak dan cerita.

Gambar pertama yang ditangkap Cempluk adalah dua gadis remaja dengan komik jepang di tangan mereka. Judul-judulnya khas seperti ‘Falling from Heaven’, ‘Lover’s Piano’, ‘Hanna’s Card’, setidaknya itu yang bisa dilihat Cempluk. Dalam tas dua gadis itu sepertinya masih banyak menyimpan judul-judul sejenis. Menariknya, dua gadis ini adalah bagian dari keluarga muda. Dua orang tua dan tiga adiknya duduk di bangku berlainan. Dua gadis ini sama-sama menggunakan jilbab lebar. Begitu juga dengan ibunya. Jilbab yang dikenakannya lebih lebar lagi. Bapaknya berjanggut panjang. Tiga adik laki-lakinya bercelana dengan panjang tak sampai mata kaki. Setidaknya pakaian mereka masih berwarna-warni bukan yang serba hitam dan bercadar itu.

Lalu Cempluk pun mulai bermimpi. Dongeng apa sajakah yang dikisahkan sang ibu setiap malam? Cerita macam apakah yang selau diulang-ulang? Apakah mereka hanya mendengar kisah para nabi? Berapa jam kah waktu yang harus dan wajib dihabiskan untuk menghapal ayat-ayat suci? Apakah mereka bisa mendengar dongeng lain seperti Oedipus? Pernahkah mereka mendengar kutukan yang menimpa Sisyphus? Ah, Cempluk hanya bisa menebak-nebak tanpa mengerti apakah rumput harus berwarna hijau kalau ibu dan ayah mereka bilang begitu. Entah seberapa jauh anak-anak itu bisa bebas memilih menentukan warna rumputnya sendiri. Cerita macam apa yang akan selalu mereka ingat dan bawa hingga dewasa. Cempluk hanya bisa bertanya-tanya. Dan apalah arti cerita dalam komik-komik Jepang itu untuk mereka?

Di stasiun berikutnya, kereta berhenti dan seorang perempuan dengan berat badan hampir 200 kg naik. Perempuan itu dengan mudah menutup pemandangan tentang dua gadis pembaca komik itu dengan bersandar pada palang besi yang kebetulan berada di depan Cempluk. Perempuan itu membawa sebuah novel populer. Cempluk tak bisa melihat judulnya. Yang tampak kemudian adalah pandangan aneh dari orang-orang di sekitar. Seorang remaja di samping Cempluk bereaksi dengan langsung memandang teman di sebelahnya. Tak perlu bicara pun semua orang tahu apa makna mata dua teman yang saling berpandangan tadi dengan obyek si perempuan gendut. Yang lain sekilas tampak acuh, sekilas tampak memandang aneh, beberapa memandang sinis dan beberapa orang merasa kasihan saat perempuan itu kesulitan untuk duduk lesehan karena kursi telah penuh.

Perempuan gendut ini memang nyentrik. Dengan percaya diri ia memakai jeans biru tua dengan dua lipatan di bagian bawahnya. Kaos oblong berlengan pendek dan lebar warna senada. Aksesoris yang dikenakannya memang lengkap. Dari bawah, sepatu hak tinggi sekitar sepuluh centi berwarna ungu menyala. Jarinya dihiasi cincin kuning emas berantai hingga bisa melingkari jari tengah, manis dan kelingkingnya. Mirip punya Syahrini dengan batu hitam besar berkilau di tengah. Perempuan itu seperti tak peduli dengan mata-mata yang diam-diam memperhatikannya. Tetap saja matanya tertuju pada barisan kata dalam bukunya. Kata adalah salah satu tempatnya sembunyi, barangkali. Dengan begitu, ia tak perlu lagi berurusan dengan mata-mata orang. Cempluk sempat mengintip bawaanya yang penuh dengan pernak-pernik natal. Perempuan gendut ini bukan ingin mencari sensasi. Ia hanya ingin tampil dengan nyaman dan percaya diri. Entah dunia macam apakah yang kemudian menjadikannya obyek pandangan mata-mata manusia yang tak dikenalnya dan tak ingin pula dikenalnya.

Pandangan Cempluk beralih. Bocah itu sudah naik dari stasiun pertama. Tapi Cempluk baru bisa melihat judul buku di tangannya itu. sebuah buku bersampul merah dan putih dengan judul yang kalau tidak salah intip adalah ‘Pemikiran Karl Marx’. Bocah itu lebih mirip dengan anak es em a atau kalau tidak, ia adalah seorang mahasiswa semester pertama. Mungkin saja bocah ini sedang jatuh cinta pada pelajaran filsafat pertama yang diberikan kakak tingkatnya. Atau baru saja memasuki pintu kemana saja yang dikeluarkan dari kantung ajaib Doraemon dan mulai menyesatkan diri pada ide-ide yang disampaikan lebih mirip seperti propaganda. Menjadi menarik ketika mengkontraskan penampilan bocah itu dengan buku yang dibacanya. Gayanya lebih mirip dengan anak-anak gaul yang muncul di acara musik tiap pagi. Kacamatanya dibingkai lensanya berwarna hitam dengan tangkai berwana merah menyala yang mengait di dua telinganya. Memang tak ada yang salah dengan bocah itu. Anak gaul zaman sekarang memang harus tetap baca Marx.

Manusia memang tak pernah bisa menebak dengan pasti apa yang ada di pikiran orang lain. hanya bisa menebak. Itu saja. Satu lagi seorang penumpang kereta dengan buku di tangannya. Tampaknya ia sedang membaca novel lanjutan dari ‘5 CM’ yang fenomenal itu. Cempluk tak bisa dengan mudah membaca pemuda itu karena jaraknya terlalu jauh untuk bisa mengamatinya dengan detail. Kereta lama berhenti. Sangat lama berhenti. Laki-laki di bangku depan menoleh ke belakang. Cempluk menyesal kenapa ia tadi tidak duduk di dekat laki-laki itu yang ternyata bertampang lumayan. Ia mulai berimajinasi tentang episode pertama dalam drama Korea. Selalu saja ada cerita tentang pertemuan tidak terduga. Kereta masih berhenti. Menunggu kereta lain yang lebih ekslusif melintas terlebih dahulu.

Cempluk mengalihkan pandangan pada seorang ibu dengan sindrom parkinson dan anak laki-lakinya yang sepertinya juga berkebutuhan khusus atau istilah kerennya children with special need. Tangan sang ibu selalu bergetar tanpa bisa dikendalikan. Mereka beberapa saat lalu terlihat berdiri tanpa seorang pun yang mau menyerahkan tempat duduknya. Sementara si anak laki-laki itu sepintas akan terlihat jahat ketika selalu berteriak pada ibunya ketika berkata- kata. Cempluk tak terlalu jelas mendengar mereka bicara. Tetapi, ada seorang perempuan di sebelah anak laki-laki itu yang selalu mengajaknya bicara sehingga sang ibu tak dibentak-bentak lagi. Dunia macam apalagi ini?

Perempuan berjilbab di sebelah Cempluk mulai mengeluarkan buku. Ternyata buku motivasi berjudul ‘Kekuatan Berpikir Positif’. Entah sejak kapan buku-buku motivasi mulai laris di pasaran. Di buru manusia-manusia yang merasa lemah dengan tekanan hidup dan macam persoalan. Entah sejak kapan mereka begitu percaya dan menyandarkan diri mereka pada buku yang ditulis orang lain. Mereka tiba-tiba saja percaya bahwa buku-buku itu seperti bisa menyelesaikan persoalan, membangkitkan semangat, mendorong mereka untuk melanjutkan hidup. Entah bagaimana mereka percaya bahwa buku motivasi itu seakan-akan ditulis hanya untuk diri mereka sendiri. Padahal, buku itu dicetak ribuan eksemplar dan ditujukan untuk banyak orang dengan persoalan hidup yang sangat berbeda. Cempluk lagi-lagi tak mengerti.

Fragmen cerita dalam kereta itu dibungkus dengan soundtrack lagu dari anak-anak te ka di belakang Cempluk. mereka tetap menyanyikan lagu permainan yang sama. Lagu yang sama meskipun ribuah lagu pop telah diproduksi di negeri ini. Lagu anak-anak yang dinyanyikan tetap sama dengan apa yang Cempluk lagukan sewaktu kecil. Dengan saling bertepuk tangan dengan teman di sebelahnya,


Donal bebek mau kemana? Mau ke pasar
Membeli apa? Membeli baju
Warnanya apa? Warnanya putih
Putih-putih melati..........Alibaba
Merah-merah delima.........Pinokio
Siapa yang baik hati.......Cinderella
Pasti di sayang mama

Predikat gadis baik hati itu tetap dipegang Cinderella. Hanya tokoh itulah yang baik hati sementara tak ada yang lain. Padahal tidak juga karena Cinderella telah berciuman dengan pangeran yang bukan muhrimnya sebelum menikah. Cinderella sering mengeksploitasi para tikus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia juga oportunis karena menerima jasa seorang peri untuk menolak kehidupannya yang tertindas dan menderita. Ah, selalu akan ada peri baik hati. Cerita seperti inilah yang akan membuat anak-anak ini berpikir bahwa peri baik hati akan datang, bukan bagaimana mengubah diri mereka sendiri menjadi Cinderella tanpa bantuan peri.

Cerita Cempluk semakin tak jelas saja. Meloncat-loncat hingga ia sendiri tak tahu kemana arah kisah ini. Kereta masih berhenti di sebuah stasiun entah. Di luar begitu gelap. Hanya ada titik-titik cahaya di tengah hamparan sawah. Cempluk masih setia bersama kereta. Membawa kembara pikirannya menuju dongeng-dongeng yang malam itu berkenan menceritakan kisahnya sendiri.

Jogja-Ngawi, Desember 2011