Rabu, 31 Desember 2014

Mendung Akhir Tahun

Kau pernah merindukan seseorang hingga sakit? Aku pernah dan itulah yang saat ini kualami. Pola tidur dan makanku kacau. Penyakit maag tambah parah. Hawa dingin pegunungan kadang tak tertahankan. Apakah kau juga pernah membayangkan bahwa rindu dapat menyebabkan kematian? Sepertinya tidak. Kau punya banyak cara untuk mengalihkan perhatian dengan segala bentuk kesibukanmu. Rasanya aku tidak lagi bisa menulis dengan baik, meskipun tulisanku juga tak pernah baik. Setahun ini terlalu banyak hal berat terjadi. Hari ini gerimis. Aku teringat musik latar piano hujan Eric Satie yang mengiringi aktivitas kamar kita, sesuatu yang mustahil untuk bisa kembali terjadi.

Aku senang mendengar kau telah menyelesaikan tulisanmu. Sedangkan aku terjebak di sini, tidak, aku menjebak diriku sendiri di sini dan mulai sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tentang hal yang sama, yang selalu mereka ulang kembali seolah mereka begitu peduli dengan nasib manusia yang sedang ditanyainya, meskipun sebenarnya mereka sama sekali tak peduli bahwa sekadar pertanyaan bisa menjadi begitu mengganggu. Maka uruslah hidup kalian sendiri. 

Sebentar lagi tahun berganti. Kau pasti ingat beberapa malam pergantian tahun yang pernah kita lewati; tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga, ah. Dan saat ini aku hanya bisa mengetikkan kalimat-kalimat buruk sambil meneteskan air mata. Langit di luar mulai gelap diiringi suara serangga musim hujan yang hanya bisa dinikmati mereka yang sedang patah hati. Jadi, sudah berapa perempuan kau tiduri? Jim Morrison melantunkan puisi:

Whiskey Mystics and Men

Well I'll tell you a story of whiskey and mystics and men. And about the believers and how the whole thing began. First there were women and children obeying the moon. Then daylight brought wisdom and fever and sickness too soon.

You can try to remind me instead of the other you can. You can help to insure that we all insecure our command. If you don't give a listen, I won't try to tell your new hand. This is it, can't you see that we all have our ends in the band?

And if all of the teachers and preachers of wealth were arraigned. We could see quite a future for me in the literal sands.

And if all of the people could claim to inspect such regret. Well, we'd have no forgiveness, forgetfulness, faithful remorse. So, I tell you, I tell you, I tell you we must send away. We must try to find a new answer instead of a way.

Orang-orang di luar ribut membicarakan pesawat jatuh. Angin bertiup lembut.

Sementara kau membaca komik, aku akan menyeduh kopi dan menyiapkan setangkup roti tawar dengan selai susu coklat. Lalu aku akan menyusul membaca novel dan menghabiskan hari begitu saja. Mengenang hal itu, aku semakin tidak peduli dengan dunia dan tenggelam dalam ingatan-ingatan ketika sepenuhnya kita bisa bersama. Kau tahu apa yang bisa menyembuhkanku? Belum ada. Aku masih sekarat di sini dan usaha apapun yang dilakukan orang-orang yang katanya menyayangiku itu, hanya sedikit bisa mengalihkan perhatianku. Selebihnya, aku kembali tenggelam. Ini lebih dalam, sangat lebih dalam dari yang pernah kualami. Sulit sekali ternyata. 

Saat ini aku punya teman kecil. Namanya Ipang, usianya hampir tiga tahun. Dia yang setiap hari menemaniku menonton film dan menungguiku menuliskan ini. Betah sekali ia menonton bahkan ketika dia tidak tahu dialog dan jalan ceritanya. Film-film yang ditontonnya tertanam kuat di kepala lalu keesokan harinya akan menjadi bahan cerita menarik buat teman-teman sebayanya. Tentu saja film yang kutonton bersamanya adalah film-film yang memang layak ditonton anak-anak. Aku juga mengajarinya ekspresi terkejut yang khas kita. Dan dimarahilah aku oleh ibunya karena sudah banyak memberi pengaruh buruk.

Rasanya belum ada waktu untuk mengambil buku-bukumu dan mengembalikannya. Aku tidak tahu bagaimana kita akan mengatur harta gono gini yang tak ternilai harganya itu. Buku-buku itu kita beli atau kita print dengan mengurangi jatah makan, dengan mencari alasan untuk minta tambahan uang pada ibu-ibu kita. Di setiap buku itu, akan ada ingatan bahwa kita pernah membelinya bersama dengan segenap percakapan-percakapan bodoh yang menyertainya. Itulah yang tidak akan pernah bisa kita temukan pada siapapun, ketika kita masing-masing telah bersama orang lain. Tak ada gantinya dan bagimanakah cara kita agar sama-sama bisa saling melepaskan dengan penuh keikhlasan.

Orang-orang di kampung ini sedang suka membeli motor secara kredit. Entah disengaja atau tidak, dalam sehari ada empat orang yang motornya datang. Empat orang itupun masih memiliki hubungan keluarga. Entah dengan apa mereka akan mencicil motor itu tiap bulannya. Mungkin mereka akan pasrah kalau suatu saat tak bisa mengangsur, motor itu akan diambil kembali. Saat motor itu datang, para tetangga akan berkerumun untuk menonton.

Sedikit banyak aku belajar bagaimana orang-orang ini mengatur ekonomi rumah tangga mereka. Begitu ada uang, akan langsung dihabiskan dan saat paceklik, mereka punya keyakinan tinggi bahwa mereka tak akan kelaparan. Salah satu caranya adalah dengan berhutang.

Usaha-usaha mandiri tak begitu berkembang karena manajemen yang hancur-hancuran. Sedikit banyak pula aku tahu tentang manajemen truk pengangkut pasir dan batu. Salah satu ganjalan berkembangnya usaha adalah karena kewajiban sewa yang harus mereka bayar tiap bulan. Mereka menggunakan truk dari jalur leasing dan biaya sewanya tak sebanding dengan penghasilan. Biaya perawatan kendaraan juga cukup mahal, belum lagi ditambah dengan resiko kecelakaan yang tak bisa diprediksi, masih harus berpikir pula kalau sewaktu waktu harus setor kepada polisi karena sebagian besar sopir truk ini tak memiliki izin mengemudi. Fiuh.

Kau masih ingat bagaimana kita mengarang asal mula suatu kata? Konyol sekali bukan. Aku merindukanmu. Lewat lagu-lagu yang kausarankan untuk kudengar. Aku mendengarmu. Aku mendengar sesak napasmu di malam dan pagi hari. Aku mendengar keluh kesahmu. Aku mendengar kau yang tak bisa menerima alasan-alasan yang kubuat-buat karena tak sanggup pula kuceritakan  hal yang sebenarnya. Aku mendengar klak klik mouse dan keletak keletik jarimu dia atas keyboard. Aku mendengarmu menyeruput kopi menggunaan gelas kita. Aku mendengar semuanya. Suara-suara tentangmu begitu berisik. Maka biar kusudahi saja tulisan ini. Selamat malam.

30 Desember 2014

1 komentar:

  1. Ratna... kenal awakmu dari SD, dan sekilas baca tulisanmu (keren, bener keren) (somehow aku merasa melihat dari sudut pandang yang sama denganmu) hihihihi, rumit ya hidup itu, tapi indah bukan jadi banyak cerita, karena ada orang yah yang lempeng2 aja.... jadi apa kabarmu? ngobrol yuk ;)

    BalasHapus