Rabu, 07 Januari 2015

Menonton Film-Film Tentang Penulis Tapi Gak Bisa Segera Menulis

Mengawali tahun, rasanya aku akan menuliskan sesuatu yang lagi-lagi tidak bermanfaat bagi kemashlahatan umat. Ini tentang film-film yang bercerita soal penulis. Ceritanya macam-macam. Sebagian sangat tidak menarik, bahkan, tokoh penulis tidak menjadi inti cerita melainkan sekadar tempelan saja. Bentuknya macam-macam pula. Sebagian berisi biopic yang menggambarkan bahwa beberapa penulis besar tingkat dunia adalah seorang homoseksual.

Aku ingin tahu ceritamu. Sungguh aku ingin pula mengikuti film-film baru yang hangat tayang di bioskop. Aku ingin menonton Senyap. Kau cerita soal lubang hitam Nolan? Film-film Indonesia sekarang tampaknya banyak yang menarik meskipun tak terjangkau olehku, Pendekar Tongkat Emas itu film macam apa? Di kota busuk ini tidak ada bioskop. Orang-orang ramai membicarakan sesuatu yang ingin kutonton tapi tak kesampaian. Ah, sudahlah. Rasanya lelah menggerutu di sini, tambah lelah dengan mendengarkan lagu-lagu yang kucuri dari laptopmu.

Baru saja aku menonon Ruby Sparks (2012). Ceritanya sederhana dan sangat mudah ditebak. Seorang penulis jatuh cinta dengan tokoh rekaannya. Tokoh itu tiba-tiba muncul menjadi gadis yang nyata, yang kehidupannya bisa dikendalikan oleh penulis itu, lengkap dengan perasaan-perasaannya. Kau bisa menebak kelanjutan ceritanya bukan? Awalnya mereka hidup bahagia, lalu tidak lagi, lalu si penulis membebaskan tokohnya itu, menuliskan pengalaman anehnya menjadi sebuah buku dan pada suatu pagi yang indah mereka dipertemukan kembali di sebuah taman. Tidak ada yang menarik dari film ini. Aku tak lagi bisa melihat film dengan baik seperti ketika aku bisa mendengarkan komentarmu.

Kau sudah menonton Capote (2005) bukan? Kau betah menonton film panjang itu. Betapa kau sangat menghargai usaha seorang penulis untuk menghasilkan sebuah karya. Bukan sebuah proses yang mudah dan singkat tentunya. Before Night Falls (2000) bercerita tentang seorang penulis Kuba, Reinaldo Arenas. Sayangnya, film ini tidak begitu baik menceritakan latar belakang kisah yang terjadi ketika Castro memimpin. Barangkali juga otakku yang tak mampu menampung setiap detail adegan dalam film itu.

Tidak banyak yang bisa diambil dari menonton film-film tentang penulis. Kadang kau akan menemukan ide cerita yang menarik atau tips-tips menulis yang berceceran di sana-sini. Seorang penulis novel atau cerita pendek harus memiliki kemampuan untuk menggiring pembaca pada setiap tahapan alur cerita, mungkin bisa menggunakan teka-teki sekaligus menyediakan satu demi satu kunci untuk membuka teka-teka itu. Kau bisa juga menuliskan detail spesifik untuk memperdalam dan membuat pembaca masuk ke dalam ceritamu. Tapi ya begitulah, film-film itu tidak mampu mengenyangkanku. Kau juga akan menemukan beberapa kesamaan nasib dari penulis-penulis itu. Hidup mereka kebanyakan tidak bahagia. Sylvia Plath mati bunuh diri, Sylvia (2003), begitu juga dengan banyak penulis lain. Kalau kau buka hardisku, akan kutunjukkan film-film apa saja yang sudah kutonton. Itupun kalau kita masih bisa bertemu lagi dan bisa saling mencuri. Aku bertemu Rimbaud dalam salah satu film yang kutonton. Katanya, love doesn’t exist

Kau bisa mendapati cerita konyol seperti ini: seorang penulis beserta keluarganya menempati sebuah rumah tua dengan alasan tertentu. Dan kau tahu, rumah itu ternyata berhantu. Seorang gadis kembar sering muncul. Dulunya, semua anggota keluarga penghuni rumah itu mati terbunuh oleh sang ayah. Arwah si ayah itulah yang kemudian merasuki si penulis. Selama sebulan menulis, orang itu ternyata hanya menuliskan kalimat yang sama. Aku tak ingat bunyi kalimat itu. si penulis jadi gila dan membunuh istri dan anaknya sendiri. Kalau tak salah, itu film Martin Scorsese. Adalagi cerita begini: seorang penulis terkenal mengalami kecelakaan ketika badai salju. Ia ditolong oleh penggemar berat novelnya yang terobsesi dengan tokoh utama. Si penggemar ini punya masa lalu yang mengerikan sebagai perawat. Kelakuannya berubah ketika tau akhir cerita bahwa si tokoh utama dibunuh oleh penulisnya. Ia kemudian memaksa si penulis untuk menuliskan kembali cerita yang diinginkan penggemarnya itu. Begitulah.   

Aku sudah menonton film-film Danny Boyle. Aku suka caranya meningkatkan tensi dengan musik-musik latar bertempo cepat. Soal musik latar dalam film, aku menonton sebuah dokumenter tentang sejarah musik dalam cinema. Kau yang mengkopikannya. Kadang kita tak pernah sadar bahwa pada film-film tertentu, seorang penata musik benar-benar memikirkan bagaimana mengawal tokoh lewat musik maupun efek suara sehingga menimbulkan kesan tertentu kepada penontonnya. Tidak hanya montase dan rangkaian adegan, atau cara-cara pengambilan gambar, suara punya peran yang tak kalah penting. Image adalah esensi dari cinema dengan suara yang selalu mengawani dalam menciptakan sense bagi para penontonnya.

Tokoh-tokoh utama memiliki leitmotif yang membuat penonton mengenalinya dan tanpa disadari menggiringnya berpindah dari satu adegan ke adegan lain, dari perhatian ke satu tokoh ke tokoh yang lain. Musik dalam cinema mengalami pergeseran dari masa ke masa, dari orkestra yang mengisi pemutaran film bisu, penggunaan lagu-lagu pop yang populer pada zaman film itu dibuat, hingga perangkat elektronik dengan sejuta tobol-tombolnya. Kita bisa melihat transformasi image dalam film, demikian juga kita akan bisa melihat tranformasi suara. Seorang musisi bisa jadi juga seorang fisikawan. Seni dan teknologi bercumbu mesra di sini. Ada penata-penata musik legendaris yang isian musiknya menjadi arketip. Kau akan menemukan musik yang mirip antara film King Kong yang kemudian muncul kembali di film Inception. Sayang sekali dokumenter ini hanya membahas musik-musik dalam film Hollywood.

David Cronenberg punya versi cerita film menarik soal penulis, Naked Lunch (1991). Yang ini beda dari yang lain. Di film itu, kau akan bertemu makhluk-makhluk menjijijkkan, termasuk mesin ketik yang bisa berubah menjadi serangga berlendir dan bisa berbicara. Dalam The Pillow Book (1996) kau akan bertemu dengan gambar-gambar bertumpuk dan berulang yang sangat menggangu, tapi dengan cerita cukup menarik, tentang seorang perempuan yang terobsesi dengan salah satu seni klasik Cina, kaligrafi yang dituliskan pada tubuh manusia. Pada akhirnya, ia menuliskan karyanya pada tubuh-tubuh laki-laki.

Masih banyak yang ingin kuceritakan. Sayangnya hanya jadi sekilas-sekilas begini. Aku minum kopi Kapal Api di sini. Gak enak sekali. Bolehlah kalau kau mau mengirimkan kopi Kupu-Kupu Cap Bola Dunia. Selamat sore. Kapan kita ke Warung Giras? Sudah adakah stok Aroma Bandung di sana?

7 Januari 2015

1 komentar:

  1. heheh makasih ya mbak
    hehe aku jadi dapet refrensi film ...tentang penulis.
    blognya keren..

    main-main ke blog saya mbak...
    blogku : www.boyhilman.blogspot.com

    BalasHapus