Senin, 20 Juni 2011

Semalam Jadi Pasien di Orkhestra Rumah Sakit

TBY, 10 Juni 2011

Tiga orang pasien sedang duduk di pojok ruang tunggu sebuah rumah sakit. Segala gaya dan tingkah laku mereka selalu kompak, sampai tempo batuk dan gaya membuang ludah pun juga sama. Sudah tiga hari mereka menunggu panggilan sebagai pasien untuk segera ditangani dokter. Tiga hari pula penyakit mereka tambah parah saja. Adegan inilah yang mengawali pertunjukan Tetaer Shima dengan judul “Orkhestra Rumah Sakit” karya Puntung CM Punjdadi.

Cerita selanjutnya berbicara seputar sebuah rumah sakit dengan segala ketidakberesannya. Orang-orang kaya memesan kamar VVIP di rumah sakit hanya untuk beristirahat dan menghindar dari persoalan. Dokter dan perawat saling bercinta. Pemilik rumah sakit dan perawat juga saling bercinta. Seorang dokter menjual organ pasien yang sudah mati, katanya demi ilmu pengetahuan, untuk para mahasiswa kedokteran. Dokter mempunya staf ahli anestesi, seorang satpam bertubuh tambun yang selalu membawa ganden untuk memukul kepala pasien biar cepat mati. Orang miskin dioprasi di dapur, dibedah perutnya dengan gergaji dan pisau berukuran besar sekali.

Beberapa menit berselang, ada sebuah adegan yang tak terduga ketika muncul salah satu aktor dari atas panggung menggunakan tali. Katanya dia ini adalah malaikat pencabut nyawa. Seorang malaikat yang bisa disogok agar nyawa bisa diperpanjang demi menikmati dunia. Seorang pemabuk cukup membayar lima ratus ribu saja untuk satu minggu perpanjangan nyawa. Waktu yang cukup panjang baginya untuk bertobat atau untuk lebih bisa menikmati dunia lewat botol-botol alkohol. Ide adegan ini memang menarik dan menggelitik. Hanya saja, kemunculan malaikat dan gayanya yang terlalu aneh sedikit mengganggu komposisi pertunjukan secara keseluruhan.

Segala macam paradoks rumah sakit dihadirkan dalam cerita ini. Miskin dan kaya tentu tak bisa diperlakukan sama. Moralitas manusia diaduk-aduk sedemikian rupa. Adegan pun di tutup dengan kisah ketika si miskin mati, satu orang pun tak ada yang menangisi. Sangat berbeda dengan si kaya, mati dikerubuti sanak saudara yang pura-pura mengeluarkan air mata. Wartawan datang untuk mengambil gambar-gambar topeng kesedihan. Para penangis terlihat konyol ketika mereka bergaya ketika difoto dan kembali menangis ketika lampu kamera berhenti menyala.

Pertunjukan Teater Shima kali ini cukup mampu menampilkan naskah cerita yang segar. Sebuah realitas yang mungkin sangat bisa terjadi di carut marutnya negara kita saat ini. Para penonton bisa dibuat tertawa sekaligus miris. Artistiknya pas dengan suasana yang ingin dibuat dan mampu menerjemahkan naskah dengan baik. Musiknya juga tidak wagu sehingga mampu menjadi penyelaras setiap adegan. Konsep cerita dan unsur-unsurnya sepertinya dirancang dengan matang. Kapasitas keaktoran para pemain juga relatif seragam sehingga tidak ada salah satu aktor yang terlihat menonjol atau terlalu lemah.

Satu hal yang menarik dari teater ini adalah ketika pertunjukan yang ditampilkan mampu menjembatani antar generasi. Pemain senior dan anak-anak SMA menjadi satu dalam kesatuan sebuah panggung dan isi pertunujkan. Model pertunjukan seperti ini dapat menjadi alternatif pembelajaran teater yang cukup menarik. Transfer dan sharing pengalaman bisa dilakukan dalam satu wadah pertunjukan yang sebenarnya. Proses learning by doing seperti inilah yang bisa diadaptasi ketika pengembangkan kapasitas para aktor pemula bisa dilakukan dengan berpentas bersama para seniornya.

Sebagai pasien saya cukup puas dan tidak merasa menyesal membayar tiket masuknya. Sebagai pasien, saya mengaku sakit dan harus dirawat dengan selang-selang infus dan aliran oksigen. Pertunjukan kali ini cukup memberi saya energi. Seperti pasien yang menunggu diperiksa seorang dokter tampan, seperti pasien yang kelaparan menunggu jatah makan yang kadang tak berasa. Pertunjukan-pertunjukan semacam inilah yang membuat saya masih betah tinggal di rumah sakit jiwa bernama Yogyakarta. Saya tak mau sembuh dengan tetap menyeduh kata. Saya mau tetap gila biar bisa disebut manusia.

Salam buat salah satu pemain musik, seorang lelaki yang main gitar itu rambutnya mirip gadis Sunsilk.hehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar