Jumat, 23 November 2012

Semalam Menonton “Je vais bien, ne t'en fais pas (I'm Fine, Don't Worry)”


Sebuah keluarga pasti menyimpan suatu rahasia, kadang butuh kebohongan untuk membuatnya tetap menjadi rahasia dan kebohongan ini dapat terus dibenarkan dengan dalih melindungi orang yang kita cintai. Seperti cerita dalam film yang kental dengan nuansa drama ini, kehidupan keluarga dengan sepasang anak kembar (laki-laki dan perempuan) digambarkan dalam sepanjang adegan yang mungkin bagi sebagian orang mampu menggugah emosi.

Je vais bien, net t'en fais pas (I'm Fine, Don't Worry) di rilis di Perancis pada tahun 2006. Film ini disutradarai oleh Philippe Lioret berdasarkan novel karya Oliver Adam yang diterbitkan pada tahun 2000 dengan judul sama. Dibintangi oleh Melanie Laurent yang berperan sebagai Lili dan didukung oleh peran lain yang bermain natural, film drama keluarga ini setidaknya cukup menghibur meski sedikit membosankan di bagian tengah. 

Memotret kehidupan rata-rata keluarga kelas menengah Perancis, adegan pertama film ini diawali dengan cerita ketika Lili (sang adik perempuan) yang baru saja pulang liburan, dikejutkan oleh menghilangnya Loic (sang kakak laki-laki) setelah bertengkar dengan ayah mereka. Loic adalah seorang musisi yang menyukai panjat tebing dimana setiap apa yang dilakukan tak pernah dihargai oleh sang ayah.

Begitu kuatnya hubungan dengan saudara kembarnya, Lili menderita depresi ketika tak satu pun kabar datang dari Loic. Lili menolak makan dan dirawat di sebuah rumah sakit. Saya tak hendak bicara soal diskursus psikiatri yang dengan yakin bisa mengobati Lili dengan mengisolasinya, menyita semua barang-barangnya dan mengancam baru akan dikembalikan setelah Lili bersedia menelan makanan. Kondisi Lili justru semakin memburuk.

Sebuah kartu pos dengan tulisan tangan Loic akhirnya tiba dan Lili berangsur-angsur sembuh. Sepanjang film, penonton seperti digiring untuk berharap menyaksikan pertemuan dramatis antara kakak beradik kembar yang telah lama terpisah. Tetapi tidak, penonton dikejutkan dengan fakta bahwa kartu pos yang datang secara berkala itu ternyata bukan dari Loic melainkan ditulis sendiri oleh ayahnya.

Loic meninggal karena kecelakaan dalam latihan panjat tebing. Orang tua  Lili tak ingin melihat anak perempuannya terlalu sedih dengan menciptakan skenario cerita bohong tentang kartu pos. Sang ayah mengirimkan kartu-kartu itu dari kota-kota berbeda di sekitar mereka tinggal. Di kartu pos itu, sang ayah menuliskan kata-kata yang mengolok-olok dirinya sendiri sebagaimana Loic yang membencinya.   

Film ini dibumbui pula dengan kisah persabatan antara Lili, Lea dan kekasih Lea bernama Thomas. Mereka berkenalan ketika menjadi kasir di supermarket lokal. Lea sendiri adalah perempuan berkulit hitam yang mendapat beasiswa dan sedang menyelesaikan program doktornya di Perancis. Ketika di tanya Lili di sebuah kafe tentang kertas dan buku yang terbuka di meja, Lea menjawab bahwa semua itu adalah hal yang membosankan, tentang politik dan kekuasan di Mozambique. Ya, politik memang membosankan.

Lea pada akhirnya berpisah dengan Thomas. Lili dan Thomas kemudian saling jatuh cinta. Lili berlibur di Saint Aubin bersama Thomas. Setelah bercinta dalam tenda yang diterbangkan badai dan hujan, Lili berteduh di sebuah kafe dan mengenali sosok pria dengan mantel hijau pudar. Ia bukan Loic melainkan ayahnya yang terlihat sedang memasukkan kartu pos dari kota itu. Kebohongan sang ayah terbongkar. Ibunya telah mengetahui semua kebenaran. Ia menangis ketika Lili memberitahunya tentang kartu pos itu. Dan kita semua tahu sang ibu menangis karena apa.

Thomas mengetahui bahwa Loic telah meninggal. Ia melihat batu nisan Loic saat mengunjungi makam neneknya. Pada sebuah minggu yang cerah, Thomas mengunjungi keluarga Lili, tepat di hari ulang tahun ayahnya. Sebelumnya, Lili telah menemukan gitar Loic di bagasi mobil ayahnya saat akan meletakkan hadiah ulang tahun. Sebuah pertemuan, pembicaraan yang kaku antara Thomas, Lili dan keluarganya berlangsung sesaat. Ada semacam ketakutan bahwa semua akan terbongkar dan masing-masing menahan diri untuk tak mengatakan apapun. Mereka pun kemudian keluar untuk makan siang di sebuah restoran.

Akhir film ini dibiarkan mengambang. Penonton dibiarkan membuat akhir dari cerita ini. Dalam percakapan terakhir, Thomas mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin dikatakan kepada Lili, bukan tentang kematian Loic melainkan sebuah ungkapan cinta. Apa yang akan dilakukan kepada orang yang kita cintai? Mengatakan kebenaran yang menyakitkan atau terus berbohong untuk melindungi perasaannya. Barangkali juga, mereka telah sama-sama tahu dan memilih untuk tidak membicarakannya lagi. Kadang kata-kata memang tak selamanya bisa mengungkap sesuatu yang sedang berkecamuk dalam batin. Bagi orang terdekat, memahami dengan diam mungkin lebih baik daripada mencecar dengan ribuan pertanyaan.

Film ini cukup baik melukiskan persoalan kehidupan keluarga, sebuah keluarga yang tampak biasa dan baik-baik saja tetapi sedang tidak baik-baik saja. Seperti sebagian besar keluarga lain, anak-anak yang memberontak, seorang ayah yang memaksakan kehendak, pertengkaran-pertengkaran, dan setiap keluarga pasti melalui masalah demi masalah sementara hidup tetap akan berjalan digelantungi sekian banyak persoalan.

“Life was full of sound and fury, and in the end, signified nothing,” kata  Shakespeare. Saya lupa dapat kutipan ini dari mana, sepertinya juga dari film. Kalau tak salah ingat filmnya Woody Allen, You Will Meet a Tall Dark Stranger yang terkesan sinis dengan cerita para tokoh penuh masalah dan tak bahagia. Tentang seorang penulis yang tak laku lagi setelah novel pertamanya, seorang istri yang bekerja di galery lukisan dan tertarik pada bosnya, seorang ibu yang sangat mempercayai peramal, seorang ayah yang menikah lagi dengan perempuan sexy dan menguras isi kantongnya. Sedikit berbeda dengan drama komedi Woody Allen, film ini memang terasa lambat, gloomy, tapi tetap menyimpan bagian yang bisa membuat penonton tersenyum.

Saya menonton film ini di LIP. Seharian hujan begini mendatangkan kemurungan tersendiri bagi jiwa-jiwa kosong. Tak sekadar film, kadang tokoh-tokoh menyedihkan itu membuat saya yakin, banyak orang bernasib lebih buruk. Film ini tak lain masih berkutat pada cinta, sebuah ikatan pada saudara, keluarga, kekasih sampai kematian. Ah, tapi film ini membuat saya merasa semakin murung.

Orang-orang senang mengatakan sedang baik-baik saja padahal semua permukaan hanya paradoks bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Tak membicarakannya bisa menjadi pilihan, bercerita kepada orang lain juga bisa menjadi pilihan. Kejujuran yang menyakitkan atau kebohongan yang akan lebih menyakitkan. Meski begitu, Lili tak memilih bunuh diri dan tetap melanjutkan hidup dengan tak perlu membicarakan ketidakhadiran sang kakak tercinta. 

Di akhir diskusi yang tak membahas apapun kecuali mengarang-ngarang akhir cerita, segelas teh hangat dan kue disediakan untuk dicicipi. Gerimis tinggal tipis. Teman sebelah di belahan nusantara yang lain itu barangkali sedang tak baik-baik saja. Maka biar saya pinjam dua bait puisi berjudul Pemberian Tahu dari Chairil Anwar ini.

Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing. Kupilih kau dari yang banyak, tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring. Aku pernah ingin benar padamu. Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali.

Kita berpeluk ciuman tidak jemu, Rasa tak sanggup kau kulepaskan. Jangan satukan hidupmu dengan hidupku. Aku memang tidak bisa lama bersama. Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!”

Ah, tulisan ini rusak karena paragraf-paragraf terakhirnya. Biarlah. Seburuk-buruknya bentuk dan isi tulisan ini adalah untuk melegakan diri saya sendiri setelah menari di bawah hujan seharian.

Kamar Kost, 22 November 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar