Selasa, 17 September 2013

Mengurai Sumpek

Hari ini sengaja saya mengikuti sebuah kuliah umum bertema politik uang dengan pembicara Edward Aspinall dan Mada Sukmajati. Dua-duanya adalah profesor politik kenamaan, yang disebut pertama berasal dari Australia dan yang satunya lagi dari negara kita tercinta. Niat mengikuti kuliah umum itu sebenarnya sebatas menjadikannya pancingan agar saya sedikit demi sedikit mulai mendekati lagi disiplin ilmu politik yang semakin hari semakin menjauh dari hidup saya.

Ilmuwan politik luar negeri barangkali memang banyak yang senang dengan studi komparatif. Tampaknya mereka itu tak pernah kekurangan biaya riset, bahkan sampai dibuang-buang dan dijadikan bahan proyek kerjasama di sini. Kita bisa bayangkan berapa banyak biaya untuk penelitian yang dilakukan di banyak negara. Aspinall sendiri melakukan risetnya di beberapa negara yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina. Inti dari risetnya adalah mencari modus-modus politik uang dalam pemilu di negara-negara tersebut.

Istilah politik uang ternyata juga dikenal di lain negara. Di awal presentasinya, Aspinall memperlihatkan beberapa spanduk berisi kampanye politik dan pesan-pesan untuk menolak politik uang. Di Penang misalnya, Aspinall memperlihatkan sebuah spanduk bertuliskan, “Tolak Politik Wang.” Kalau di Indonesia ada yang dinamakan“serangan fajar”, istilah serupa ternyata juga ditemukan di Thailand dengan sebuatan “the night of the barking dogs”, atau di Papua Nugini yang dikenal dengan istilah “malam setan”. Istilah-istilah tersebut biasanya mengacu pada kondisi sebelum pemilihan dimana uang mulai disebar kepada pemilih agar mereka memilih kandidat tertentu.

Dalam politik uang, muncul istilah patronase dengan ciri penggunaan sumber-sumber material. Modusnya bisa bermacam-macam mulai dari dibagi secara langsung kepada pemilih, diberikan kepada orang yang berpengaruh, atau disampaikan kepada komunitas tertentu dalam jumlah yang terbatas: misalnya sumbangan semen untuk pembangunan jalan. Istilah lain dalam politik uang yang kerap muncul adalah klientelisme. Istilah ini mengacu pada jaringan yang digunakan untuk pendistribusian materal tersebut. Bentuknya bisa dari patron ke klien atau face to face (hubungan yang saling kenal, ada mekanisme pertukaran, loyalitas, dsb).

Apa yang kemudian diperbandingkan dari banyak negara yang menjadi fokus kajian adalah kapan bentuk-bentuk tertentu dianggap efektif dan kapan politisi akan mengambil strategi lain; bagaimana bentuk-bentuk jaringan yang muncul, dan perbandingan penyebab serta dampak dari politik uang di masing-masing daerah.

Studi literatur banyak menyebutkan bahwa politik uang di Filipina cenderung dimainkan olah klan, di Indonesia lebih banyak karena pengaruh bos lokal dan politik dinasti, di Thailand dimainkan oleh broker sementara di Malaysia muncul karena kebijakan dan mekanisme partai.

Di Indonesia, jaringan yang dipakai biasa disebut dengan “tim sukses”. Ada banyak ragam istilah yang mengacu pada struktur yang mirip, seperti di NTT disebut sebagai “tim keluarga”. Tim Sukses merupakan struktur yang fungsi dasarnya menghubungkan calon dan pemilih lewat beberapa level mulai dari tim inti yang kemudian dibagi secara teritorial (koordinator kecamatan, koordinator desa, koordinator TPS, sampai relawan yang langsung berhubungan dengan pemilih). Struktur ini digambarkan mirip dengan piramida dan hampir bisa ditemukan di banyak daerah di Indonesia yang kemudian disebut Aspinall sebagai “brokerage pyramid”.

Siapakah para tim sukses ini? Mereka adalah orang awam yang memiliki skill tertentu, orang yang memiliki dana seperti kontraktor dengan kepentingan jelas: mendapat proyek setelah si calon menang, dan orang-orang yang memiliki pengaruh di masyarakat. Mereka yang tergabung dalam tim pemenangan calon berfungsi untuk mengetahui preferensi pemilih (yang mendukung, yang abu-abu, yang menolak), serta mengidentifikasi apa yang mereka butuhkan.

Muncul dilema ketika seorang calon terlalu bergantung pada anggota tim. Bagaimana menjaga loyalitas mereka? Orang yang bergabung dalam tim tentu memiliki motivasi yang bermacam-macam. Aspinall memilahnya menjadi tiga. Pertama, aktivist broker yang mendukung calon karena kedekatan ideologi, hubungan keluarga, kesamaan etnis, dimana mereka cenderung setia terhadap calon. Kedua, clientelist broker yang motivasi utamanya adalah materi tetapi berorientasi pada masa depan. Mereka biasanya bergabung ke calon yang memiliki peluang untuk menang. Ketiga, opportunist broker yang bergabung dengan seorang calon dengan kalkulasi jangka pendek. Mereka biasanya bergabung ke calon yang memiliki banyak uang.

Permasalahannya kemudian adalah struktur tim sukses tersebut menjadi sangat rapuh. Dua persoalan yang sering muncul dikategorikan Aspinall dalam predation dan defection. Predation terkait dengan semua perilaku predatory macam korupsi, pencurian, penipuan, intinya adalah mereka yang memakan uang calon untuk kepentingannya sendiri. Sementara defection merupakan sebutan untuk mereka yang bermain di dua kaki, perilaku pengkhianatan, dan sebagainya.

Pada bagian selanjutnya, Aspinall menyampaikan rencana riset kerjasama dengan Polgov untuk melakukan penelitian terkait praktik politik uang di 30 daerah di Indonesia termasuk tingkat 1, tingkat 2 dan 3. Riset ini akan melibatkan 60 orang peneliti dengan metode observasi langsung, pendampingan atau shadowing terhadap anggota tim dan wawancara. Fokus risetnya adalah melihat struktur tim dan strategi pemenangan calon serta penggunaan jaringan, baik formal maupaun informal. Hayo, buat yang mau nulis tesis atau skripsi terkait bisa kontak-kontak Polgov.

Tidak ada yang mengejutkan dari temuan Aspinall. Entah karena politik yang sudah tidak seksi lagi seperti pacar senja yang sekarang sering kehujanan atau karena saya yang sedang suka sinis saja.  

Saya tak memperhatikan moderatornya berbicara. Mari kita lanjutkan, mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Prof. Mada. Saya tak akan berpanjang lebar menuliskannya. Intinya adalah melawan politik uang bisa dilakukan dengan meningkatkan rasionalitas pemilih. Caranya? Polgov saat ini sedang mengembangkan instrumen yang disebut dengan rasiometri. Apakah itu? Semacam pendidikan politik dimana seorang pemilih akan memilih berdasaran informasi yang didapatkannya: mulai dari mengumpulkan informasi, mengolah informasi sampai menentukan keputusan.

Sebenarnya banyak hal yang membuat saya tambah buntu dengan ide-ide seperti ini. Tapi ya apa boleh buat. Saya sangat salut dengan semua pihak yang masih optimis bahwa negara ini bisa diperbaiki. Sip lah pokoknya.

Pertanyaan-pertanyaan diskusi sebenarnya sangat menarik tapi tak banyak yang bisa ditanggapi dalam forum. Teman saya seangkatan yang mirip intel lengkap dengan penyamarannya menggunakan rambut palsu itu ternyata cukup setia mengikuti kuliah sampai sesi pertanyaan tiba. Ia duduk paling belakang, dipojokan, dan tak terlihat. Dia itu benar-benar seperti intel dengan kebiasaan mencurigakan: langsung menghilang setelah kelas usai. Kali ini dia berkomentar bahwa temuanmu itu, wahai Aspinall, hanya sedikit saja yang bisa menggambarkan realitas yang sebenarnya. Ia lalu menyodorkan fakta-fakta yang seolah-olah berasal dari tim sukses itu sendiri.

Satu lagi teman seangkatan saya angkat bicara. Ia bercerita tentang hasil temuan risetnya bahwa duit yang dibagikan saat pemilu bisa demikian beragamnya di setiap daerah, berkisar dari 50 sampai 100 ribu untuk daerah Jawa, bisa sampai 500 ribu per kepala untuk daerah Buton, apa Belitung ya? Haduh, saya kurang menyimak.

Bapak-bapak yang sedang studi S3 di Brawijaya berkomentar juga. Betapa tidak enaknya ketika ia harus mempresentasikan hasil risetnya, yang juga berarti membuka banyak kejelekan negerinya, beberapa hari lagi di Flinders University.

Beberapa hal barangkali luput dari catatan karena obrolan saya dengan teman yang duduk di sebelah soal riset tesisnya. Wow, dia masih baca Hegel sodara-sodara. Luar biasa! Tidak sopannya, dia langsung pergi begitu saja setelah mengatakan pada saya bahwa dia punya koleksi seratus film yang harus ditonton sebelum mati.

Sungguh tulisan ini tidak seperti judulnya. Harusnya diberi judul “Manambah Sumpek”. Hari ini saya seperti ditampar juga. Begitu lho seharusnya anak politik itu, mari bicara patronase, mari bicara politik uang, mari bicara rasiometri, lalu ngapain saya ini muter-muter Rusia mencari bagaimana pabrik cinema mencetak bentuk film-filmnya, melakukan sensor, mengganyang film-film luar, merancang tema-tema tertentu yang harus disetujui negara. Sebenarnya ini juga politik yang mirip dengan apa yang ada di buku Khrisna Sen itu. Ah, ndak ngerti saya. Mari bobok saja.


Kamar Kost, 16 September 2013  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar