Sabtu, 10 Maret 2012

Menjelang Senja di Padepokan Gunung Reksamuka

Menjelang senja di Padepokan Gunung Reksamuka. Hujan masih mengantarkan sisa-sisa keikhlasan yang sebenarnya belum diikhlaskan. Ini bukan tentang cinta dan kenangan. Sudah dua kali pertemuan ini tertunda. Dari yang tadinya jam sebelas, ditunda setengah dua dan sekarang harus menunggu sampai setengah empat. Berdamai dengan orang-orang sibuk. Berdamai dengan waktu.

Waktu masih sempat mengirimkan gerimisnya. Begitu lembut. Awan-awan jadi segan untuk ikut-ikutan menghantui hari dengan gejala mendung yang selalu dikesankan dengan kemurungan dan kesedihan. Di pojokan. Orang dengan telinga yang tersumpal headset masih terus mengangguk-angguk. Entah musik apa yang menyambangi gendang telinganya. Jarinya menari menekan-nekan keyboard. Dari ekspresinya terlihat sangat serius, sedikit mengerutkan dahi tapi masih saja ia mengangguk-angguk karena musik yang mengalir itu.

Ada semacam inkonsistensi waktu dan ruang dalam cerita ini. Biarlah. Biar tak jelas asal bisa dinikmati. Padepokan Gunung Reksamuka memang memiliki ruangan khusus berisi kitab-kitab untuk membantu para cantrik mempelajari berbagai ilmu. Di sinilah orang-orang sibuk mengintai setiap halaman buku. Memindahkannya dalam otak, sekadar membuka-buka saja atau memindahkan setiap katanya dalam laptop.

Menunggu menjadi indah. Tidak hanya untuk hari ini, tapi sejak kapan menunggu menjadi indah? Bukankah orang senang membenci kegiatan menunggu. Kadang membosankan, kadang berujung kekecewaan, dan entah apalagi hal negatif bisa dilekatkan pada sebuah aktifitas menunggu. Saya pun menunggu. Orang yang ditunggu tak akan datang. Orang yang tak ditunggu belum juga datang. Sejak kapan menunggu menjadi indah. Karena ketidakpastianlah menunggu menjadi indah.

Di sini lebih sunyi. Sebagian orang sibuk membaca. Satu diantaranya sambil menyeruput kopi. Berbeda dengan di ruangan tadi. Piring-piring bergemelinting. Sepertinya orang-orang sedang sibuk makan siang. Ruang sesekali berhias tawa. Sejak kapan orang makan sambil tertawa? Beberapa menit kemudian. Gemelinting piring berhenti. Diganti dengan tapak-tapak kaki yang terkesan sibuk dan terburu-buru. Sepertinya sudah kembali beraktifitas. Kesibukan baru setelah makan siang. Derap kaki semakin sering terdengar. Derit pintu membuka dan menutup. Kadang dengan keras, kadang dengan lembut. Kembali ke ruangan penuh kitab ini. Ada bau khas yang merasuki. Bau kitab-kitab lama. Aroma lembut dari kata yang dijelmakan menjadi rangkaian pengetahuan.

Hujan mereda. Sebentar tinggal tetes saja. Di mana pucuk daun akan kembali menggayutkan tubuhnya. Orang-orang menghampiri deretan kitab-kitab dalam rak. Sedikit membuat tak nyaman karena sepertinya mereka sedang mengintip tulisanku. Lalu mengolok-oloknya karena terbaca seperti sesuatu yang hanya keluar dari otak miring penulisnya. Tukang AC membuka jendela. Mengecek peralatan yang menggantung di tembok luar ruangan. Tukang AC pergi. Menutup tirai. Awan kelabu dan semburat putih ungu itu tak telihat lagi. Hanya tirai biru. Menutup jendela langit.

Seorang teman mengajak minum kopi. Kami turun dari lantai tiga. Kantin telah tutup. Teman masih mencari kopi. Saya memilih kembali. Naik lagi ke lantai tiga. Mengambil kitab sekenanya. Membaca halaman sekenanya. Seperti melihat orang-orang sedang berdebat lewat deretan kalimat. Seperti melihat Lyotard, Beck, dan entah siapa lagi sedang duduk mengelilingi meja sampil saling menatap. Saling bertanya tentang apa yang akan mereka bangun setelah menghancurkan. Hidup memang selalu penuh risiko.

Sampai juga pada waktu yang telah ditentukan. Kali ini tidak ada penundaan lagi. Ruangan di depan terdengar ramai. Para Resi sedang saling berbicara. Bukan tentang ilmu dalam padepokan. Satu di antaranya cerita tentang transaksi tanah yang gagal hanya karena seorang perempuan tiba-tiba keluar dari mobil dan mengatakan bahwa tanah itu tak baik dibeli. Apakah ia ahli feng shui yang selalu meperhatikan unsur-unsur alam dalam menetapkan dan membangun rumah tinggal? Entahlah, abaikan saja ini cerita.

Kami bertiga akan menghadap Ibu Resi. Seperti biasa, Ibu Resi tampil dengan gaya khasnya. Kali ini mengenakan batik terusan sampai ke lutut. Berwarna putih dengan motif bunga. Pinggangnya dilingkari pilinan tali berwarna coklat. Serasi. Kakinya tetap merasa nyaman menyentuh lantai begitu saja. Seperti ia juga selalu nyaman untuk tidak menggunakan alas kaki tampaknya.

Ceritanya akan sangat lain dengan kejadian kemarin. Tidak ada yang serius dibicarakan. Hanya beberapa strategi operasional untuk penelitian lapangan. Bagi yang ingin menempuh jalur cepat, seperti salah seorang dari kami, Ibu Resi akan siap membantu. Kita hanya diminta untuk membuat time table yang harus dipenuhi sendiri sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan waktu kita. Sederhana tapi butuh komitmen diri. Kalau saya, santai saja asal sampai pada tempatnya di waktu yang tepat. Tidak ngoyo.

Pembicaraan berlangsung. Padepokan Gunung Reksamuka memang memiliki displin ilmu tertentu. Ketika saya akan menulis dengan sedikit menyimpang, menulis ibarat obyek dhedhemitan bangsa halus begini, maka saya diharuskan untuk tetap membawa disiplin ilmu padepokan dalam setiap narasi. Ah, ini hanya persoalan teknik menulis. Tentu akan bisa sangat dinikmati ketika proses mencari dan menulis kitab menjadi semacam masturbasi, mengelurkan segala yang tertahan. Dalam diri dan ingatan.

Demi lebih memahami tantangan metode dalam penulisan kitab kami, Ibu Resi menyarankan untuk pergi ke padepokan sebelah. Mengenali pola-pola narasi dan teknik penulisannya, tentu dengan tidak meninggalkan displin ilmu di padepokan kami sendiri. Ini mengkhawatirkan kalau saya gagal menjaga narasi. Kitab saya tidak akan diakui sebagai hasil dari endapan ilmu dari padepokan ini. Cukup gawat bukan. Lagi-lagi ini adalah resiko memilih tema halus bangsa dhedhemitan.

Cara menulis dan mengumpulkan kenyataan dengan metode ini memang tidak gampang. Setiap detail bisa di dramatisasi dalam narasi. Butuh waktu. Njlimet. Berada di tengah kepungan data yang entah dari mana bisa ditarik simpulnya untuk menjawab pertanyaan awal yang menjadi dasar dalam penulisan kitab. Teman di sebelah sempat takut bahwa metode ini sedikit meneror dan mengintimidasi. Metode ini membutuhkan ketrampilan untuk bertanya, menggunakan bahasa. Bisa jadi orang akan mencapai titik frustasi ketika ia gagal membuktikan prasangka-prasangka yang kadang dibuat dengan tergesa-gesa. Tapi tidak, ini pasti akan sangat menyenangkan.

Punya saya memang mengkhawatirkan. Entah bagaimana bisa mengekspresikan disiplin ilmu padepokan ini. Mungkin dari metodenya, unit analisisnya dan tentu sepanjang alur ceritanya. Mencari bahan dan menulis kitab menjadi sangat menantang. Cerita saya memang masih mendingan daripada kisah Si Cantrik nyentrik kemarin. Kisah ini masih akan panjang. Silakan dinantikan kelanjutannya bila berkenan.

Senggang Sehabis Isya’, 9 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar