Kamis, 07 November 2013

Sepintas Lalu Soal Festival Teater Yogyakarta 2013

Konon katanya, Festival Teater Yogyakarta 2013 yang diselenggarakan tanggal 16-18 Oktober kemarin berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu panitia mengajukan tema dan siapa saja boleh mengajukan proposal untuk kemudian diseleksi menjadi peserta, tahun ini panitia memanggil kembali sutradara-sutradara terbaik dari festival sebelumnya. Dari sini, para juri dan pengamat akan melihat apakah pilihan mereka di tahun-tahun sebelumnya memang tepat. Tidak akan ada pemenang dalam festival kali ini. Para juri dan pengamat akan memberikan catatan tertulis sebagai bentuk apresiasi terhadap seluruh peserta yang tampil.

Konsep ini memang terkesan tertutup karena tidak memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh kelompok teater untuk memanggungkan karya mereka. Penggunaan konsep seperti ini tentu sudah dipertimbangkan dengan matang dan mungkin tetap ada baiknya, ketika kita bisa melihat proses kreatif dan perkembangan penyutradaraan dari mereka-mereka yang diberi kesempatan untuk menampilkan karyanya.

Saya di sini hanya menjadi penonton yang kebetulan punya banyak waktu luang sehingga bisa menonton semua kelompok yang tampil. Kalau saja saat ini orang seperti Asrul Sani itu masih hidup. Barangkali ia bisa melengkapi kertas kerja yang ditulisnya pada tahun 1973 soal pemikiran dan saran-saran pengembangan seni pertunjukan kontemporer atau modern. Rasanya sulit kita temui orang seperti Asrul di masa ini. Sedangkan saya cuma bisa menuliskan omong kosong macam sampah begini.

Pada saat itu, Asrul meringkas bentuk-bentuk teater yang muncul di Indonesia mulai dari teater yang lahir dari kehidupan masyarakat desa sehari-hari, entah yang bersifat adat maupun agama sampai yang disebutnya sebagai teater modern. Bentuk terakhir itulah yang dulu dikatakannya masih mencari bentuk dan isi. Barangkali sampai sekarang pun teater modern kita masih juga mencari bentuk dan isi. Lalu seperti apakah bentuk dan isi dari teater-teater peserta festival tahun ini?

Di bandingkan dengan tahun lalu, sebagai penonton awam, saya bisa melihat beberapa capaian meskipun saya tidak bisa membandingkan secara utuh bagaimana perkembangan dan capaian dari masing-masing sutradara. Hal ini tentu karena saya bukan orang yang mengamati hasil karya mereka dari waktu ke waktu melainkan hanya cuilan-cuian kecil yang kebetulan melintas di benak saya ketika menulis catatan ini.

Perihal Naskah dan Pementasan
Saya cukup senang ketika seluruh peserta festival teater kali ini tidak ada yang mengadaptasi naskah dari luar secara utuh. Bukannya saya anti sama naskah-naskah yang berbau Eropa atau Amerika melainkan kondisi ini menggambarkan usaha mencari idiom-idiom baru dalam seni pertunjukan yang dekat dengan masyakatnya sendiri. Saya cukup jenuh melihat banyaknya adaptasi naskah-naskah asing yang justru gagal dibawakan karena kesenjangan konteks dan latar cerita. Tentu saja ini tidak menafikan keberhasilan-keberhasilan yang sudah ada, meskipun tidak dapat saya sebutkan karena keterbatasan pengalaman menonton saya.

Hampir seluruh peserta menggunakan langgam Bahasa Jawa dalam pertunjukan mereka. Dekor yang dipakai sebagian masih berbau naturalis dengan usaha menghadirkan kondisi yang kita lihat sehari-hari di atas panggung. Cerita yang dibangun memang cukup beragam, dari yang paling realis, eksperimentasi menghadirkan cerita berlapis di atas panggung dengan men-Jawa-kan naskah Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer, juga usaha untuk membaurkan dua cerita yang berasal dari adaptasi cerpen Gabriel Garcia Marquez dengan kehidupan petani garam di pesisir Pulau Jawa.

Saya akan memulai dari Kapai-Kapai (Atawa Gayuh) yang disutradarai oleh Ibed Surgana Yuga. Naskah Kapai-Kapai sendiri bagi saya cukup menarik dengan lapis-lapis ceritanya. Kalanari Theater Movement menampilkannya di panggung terbuka dan mengadapatasinya dalam Bahasa
Jawa. Karakter Emak diganti dengan Dhalang, tokoh yang membikin skenario untuk mempermainkan nasib Abu, wong cilik yang malang. Dalam skenario asli, perpindahan babak ditandai dengan penutupan layar. Namun, pertunjukan ini mampu mengalirkan perpindahan babak tanpa layar, bahkan dengan pemain utama yang terus-menerus berada dalam jangkauan mata penonton, tanpa mengurangi kadar penyampain pesan bagaimana cerita yang berlapis tersebut dapat sampai dengan baik.

Pertunjukan panggung terbuka memang membawa masalah teknis tersendiri. Beberapa kali dialog tokoh tidak terdengar jelas dan keruwetan panggung yang hanya diterangi cahaya-cahaya kecil dari obor membuat penonton seringkali kehilangan beberapa detail kecil pertunjukan. Pencahayaan dibantu dengan kru yang membawa senter besar di beberapa sudut panggung. Saya cukup terkesan dengan teknik ini. Bahkan, untuk menambah kesan dramatis, seorang kru mengucurkan air lewat selang dari bagian atas panggung untuk mengguyur tubuh Abu beserta istrinya yang kebingungan mencari “kaca tipu daya” (sebuah benda yang dalam naskah bisa dibeli di toko Nabi Sulaiman dan mampu mewujudkan semua impian Abu). Jujur saja saya baru pertama kali menyaksikan hujan buatan dalam teater.

Terlalu muluk kalau dikatakan pencarian dan eksperimentasi seperti ini akan berujung pada mitos total teater dimana usaha untuk menyempurnakan kejanggalan-kejanggalan panggung demi menghadirkan efek hujan misalnya, hanya bisa dilakukan oleh film. Namun, bangunan yang tampak di panggung, maupun yang tak kelihatan, tata musik dari gamelan, dan peradeganan memang bisa sedemikian mengalir dan sangat membantu membangun suasana sepanjang pertunjukan.

Saya tak akan banyak membahas soal naskah dimana Arifin C. Noer manghadirkan nasib Abu, mempertunjukkan mimpinya menjadi seorang pangeran, tipu daya dan persekongkolan. Ah, kalian harus membaca naskah itu. Yang pasti, Dhalang dalam cerita masih otoriter. Dia yang mengarang tipu daya dan akhirnya membunuh Abu sekaligus mimpi-mimpinya. Butuh ruang khusus untuk membedah naskah-naskah Arifin C. Noer, apalagi sebelumnya saya sempat menyaksikan Madekur dan Tarkeni dipentaskan. Kalau saya boleh berlebihan, membaca naskah-naskah Arifin C. Noer itu serasa menemukan permata dalam sajian makan malam di tanggal tua, yang murah dan itu-itu saja.

Berikutnya, Citra Pratiwi adalah sutradara terbaik pada festival teater tahun lalu. Citra punya ide-ide cemerlang namun terasa selalu ada yang janggal dalam pengeksekusian panggungnya. Teaternya tahun lalu sudah pernah saya bahas dalam tulisan sebelumnya. Dan kali ini, Citra tampil dengan adaptasi cerpen Gabriel Garcia Marquez yang justru menjadi aneh ketika dikontekskan dengan latar petani garam di pesisir Pulau Jawa dan Bali. Kejanggalan utama terletak pada dekor yang memasang kincir angin besar di sisi belakang panggung. Barangkali di Indonesia juga ada yang seperti itu, tetapi ketika melihatnya pertama kali, pikiran saya langsung diarahkan ke negeri-negeri Eropa sana. Sedangkan di hadapan kincir besar itu, pemain-pemain dengan memakai kostum pakaian petani sehari-hari, properti seperti caping dan sebagainya berusaha menggiring penonton bahwa peristiwa itu terjadi di Indonesia. Bentuk dekor apapun sebenarnya sah dalam teater, namun kesatuan citraan dalam satu panggung bagi saya tetap penting.

Dua kontras dari latar dan suasana yang ingin diciptakan masih diperparah dengan gerak dan gestur yang tidak bisa sampai dengan mudah kepada penonton. Kalau penonton tidak membaca cerpen yang dimaksud, juga dengan bantuan sinopsis cerita, orang tidak akan tahu bahwa gerakan yang dilakukan pemain adalah gerakan mengusir kepiting di musim hujan yang merajalela. Seorang perempuan berselendang merah itu juga tidak jelas siapa. Barangkali memang saya saja yang bodoh dan tidak jeli.

Citra menyisipkan nuansa pesisir yang ditandai dengan permainan judi para petani sehabis panen dan ratapan seorang pemain perempuan sambil menyanyikan lagu dangdut. Sayang sekali, musik dangdut yang digunakan masih sangat Melayu, bukan dangdut pantura. Dialek Bahasa Jawa yang digunakan sepertinya juga bukan pesisiran. Selebihnya, musik yang mengisi pertunjukan sebenarnya cukup membantu mengangkat suasana. Kemampuan aktor dalam menampilkan teater tubuh cukup mumpuni juga. Tetapi gerak-gerak itu ingin menampilkan apa? Apakah demi menguatkan apa yang disebut dalam sinopsis sebagai sisi realis fantasi dari cerpen yang diadaptasi?

Menerjemahkan ide dalam panggung memang bukan perkara mudah. Perkara yang tak hanya berada di tangan sutradara melainkan juga melibatkan tata panggung, musik dan aktor-aktornya. Dengan demikian, ide yang baik saja jelas tidak cukup untuk bisa membuat pertunjukan yang baik. Baik di sini pun menurut selera saya, sebuah pertunjukan yang dapat memuaskan saya sebagai penontonnya.

Satu kasus menarik hadir dalam lakon Ora Isa Mati: Isih Akeh Wong Jujur Nang Ngisor Wit Jambu Air. Jarang-jarang saya bisa menyaksikan dua lakon yang sama sebanyak dua kali. Pertama kali saya menyaksikan naskah ini dipentaskan di Balai Budaya Samirana. Konsep yang disuguhkan cukup menarik. Mempertunjukkan teater di tengah kampung menjadi suatu cara untuk mendekatkan seni ke masyarakat. Sayang sekali pada saat itu penonton teaternya lumayan sepi. Barangkali karena bersamaan dengan acara pengajian yang digelar di masjid tak jauh dari tempat pertunjukan. Dua kali pertunjukan itu saya saksikan dan dua kali pula saya masih tertawa-tawa karena dialog dan adegan-adegan aktor yang dibawakan dalam Bahasa Jawa.


Lakon ini cukup komikal, demikian juga dekor yang dibuat lebih sebagai penanda. Pertunjukan kedua dari lakon ini memang terasa lebih matang, baik dari sisi pengolahan adegan (khususnya di akhir) dan penataan musiknya. Pertunjukan pertama yang diadakan di tengah kampung terasa lebih santai. Penonton dari Teater Teman-Temanmu kemungkinan juga dalah teman-teman sendiri. Ketika tampil di gedung yang cukup representatif, jumlah penonton memadati kursi, pertunjukanpun terasa lebih serius meski ia tak kehilangan banyolan yang didukung oleh karikatural para pemainnya. Para aktor seperti menerima energi dari banyaknya penonton yang datang, membantu memaksimalkan pemeranan mereka di atas panggung.

Berbeda halnya dengan lakon Watara dari Teater Slenk, Ora Isa Mati memiliki kedinamisan dialog dan karakter tokoh yang mampu membangun suasana, konflik, hingga penyampaian pesan-pesannya. Sementara itu, Watara tampil dengan sangat datar, sebagaimana hanya selingan di kala senggang. Dekor disajikan dengan memasang dua rumah di atas panggung, yang satu mengesankan terbuat dari tembok, dan satunya terbuat dari anyaman bambu. Pilihan kontras ini mengesankan bahwa kemungkinan cerita akan berisi konflik sosial karena kesenjangan ekonomi. Tapi ternyata tidak. Cerita mengalir dengan sangat datar. Konflik disajikan di akhir, tak terduga dan terkesan dipaksakan. Nyanyian dan tarian memang menyampaikan kehidupan masyarakat petani dengan gerakan-gerakan ketika mereka menanam dan memelihara padi. Fungsinya tidak dilekatkan pada cerita melainkan sebagai selingan yang memisahkan antar babak cerita. Bentuk seperti itu mengingatkan saya pada uraian tentang model-model teater lama. Meskipun karena kemasannya, lakon Watara kemudian bisa disebut sebagai teater baru.

Demikian halnya dengan cerita Nggoleki Jimate Basiyo dari Kandangjaran Teater. Pertunjukannya dibuka dengan tembang lalu mulailah monolog berlama-lama dari seorang tua yang memegangi keris. Sebelumnya saya tidak membaca sinopsis cerita dan baru sadar di bagian akhir bahwa para pemainnya adalah keluarga Basiyo. Bagi mereka yang tidak mengenal Basiyo, teater ini kehilangkan ikatan dengan penontonnya. Pertama karena dialog yang berlama-lama dan kedua karena guyonan yang tidak bisa membuat saya tertawa. Kisah tentang tokoh Basiyo sebagai legenda pertunjukan di Jogja memang menarik. Namun, cerita dan guyonan sepertinya hanya berlaku bagi penonton yang mengerti konteks cerita.

Penonton Teater dan Sawerannya
Keberadaan festival teater seperti ini tampaknya mampu membuka kemungkinan perluasan publik teater. Pertunjukan teater kampus misalnya, kadang hanya mampu menarik penonton yang terdiri dari teman-teman sendiri. Di sini, saya bisa melihat bahwa penonton yang hadir tidak hanya mereka yang setiap harinya bergelut dan akrab dengan teater. Para mahasiswa yang baru datang ke Jogja, yang kemungkinan tak tahu apa-apa tentang teater bisa datang dan ikut menyaksikan pertunjukan. Siapa saja boleh masuk ke gedung pertunjukan. Bagi yang bersandal jepit juga dipersilakan. Kita tak pernah punya budaya untuk mempermasalahkan siapa yang boleh menonton teater sebagaimana yang di Barat sana, hanya mereka yang berjas dan bergaun rapi yang diperbolehkan masuk ke gedung opera.

Festival teater ini kebetulan bersamaan dengan festival film yang digelar di gedung yang bersebelahan. Acara ini masih bersamaan pula dengan konser-konser musik dan sekian banyak peristiwa seni lainnya. Publik akhirnya terpecah untuk menghadiri acara sesuai ketertarikan masing-masing. Meskipun begitu, pengunjung festival teater tak pernah sepi. Kualitas teater tentu tak ditentukan oleh banyaknya penonton. Namun, teater bisa ada karena ada yang menontonnya. Satu orang penonton pun tetap bisa disebut sebagai penonton.

Sebab inilah mengapa teater tetap bisa bertahan. Sejelek-jeleknya sebuah pertunjukan, ia akan tetap punya penontonnya sendiri. Teman saya pernah bercerita. Kebetulan ia adalah mantan aktor teater. Katanya kemudian, teater tak bisa memenuhi idealismenya dalam berkesenian, sepertinya hanya berputar di situ-situ saja. Juga bahwa menjadi pemain teater itu tak bisa menghasilkan uang. Tapi toh, teater tak mati juga. Para seniman teater tentu saja tak bisa menggantungkan hidup dari pertunjukan. Lain soal dengan pentas teater tradisional dimana para pemainnya hanya hidup dari hasil penjualan tiket. Seniman teater, khususnya di Jogja mungin memang tak kehabisan akal untuk dapat sekian proyek, sekian hibah seni, dan sekian-sekian lainnya. Mereka bisa juga mengarang naskah sinetron atau bahkan aktor teater seringkali bisa menjadi artis film. Rasanya hal ini sudah biasa dalam dunia perteateran.

Asalkan masih ada kelompok teater yang pentas, mereka tak akan kekurangan penonton. Entah mereka yang hanya menonton atau yang punya banyak waktu luang untuk sekadar menuliskan celaan dan pujian. Dua kelompok teater yang pentas menyisipkan adegan minta saweran ke penonton. Sekadar buat ongkos jalan, hal ini tentu sah untuk dilakukan karena semua pertunjukan teater dibuka gratis. Saya tidak tahu juga apakah panitia ikut menyediakan ongkos produksi bagi para peserta.

Sampai di sini, saya kehilangan arah untuk melanjutkan tulisan. Seperti halnya pertunjukan-pertunjukan teater kita yang juga tidak tahu mau kemana. Kadang ke sini, kadang ke sana. Kita sama sekali tidak punya arah yang jelas soal yang satu itu. Tapi ya sudahlah. Akhirnya saya tetap bisa bahagia hanya dengan menjadi penonton dan memulis omong kosong seperti ini. Setidaknya bisa membuat lega ketika satu dari sekian banyak hal yang nyumpel bisa keluar dari kepala.

Oktober-November 2013


Rabu, 25 September 2013

Catatan Singkat Menonton Street Ballad: A Jakarta Story

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menonton Street Ballad: A Jakarta Story di IFI Yogyakarta bersama seorang kawan. Pada awalnya, saya menonton film ini karena rasa penasaran yang lebih bersifat emosional, bahwa subjek utama dalam film adalah tetangga saya sendiri yang sama-sama berasal dari Ngawi. Film dokumenter bagi saya memiliki tantangan tersendiri untuk tidak membuat bosan penontonnya sehingga saya pun berharap bahwa dokumenter kali ini mampu disajikan dengan tidak membosankan. Dari segi ini, Street Ballad berhasil mengangkat sosok Titi Juwariyah sebagai seseorang pengamen jalanan di Jakarta. Dengan tampilan adegan-adegan yang dibangun naik turun, penonton seringkali ikut tertawa atau larut dalam kesedihan ketika Titi mencurahkan isi hatinya.

Film ini memang diperuntukkan bagi tayangan dokumenter televisi Amerika. Benar saja, adegan pertama ketika Titi menceritakan kehidupannya dengan nada yang terdengar dibuat-buat langsung menggiring saya pada kesan tayangan dokumenter televisi kita yang dikemas sangat dramatis dan penuh air mata. Untungnya, tidak keseluruhan film dituturkan dengan cara yang sama. Penonton masih bisa menikmati variasi tuturan baik dari cerita Titi, orang-orang dekatnya, maupun gambar-gambar dalam film yang berbicara dengan sendirinya.

Sepanjang film berdurasi hampir satu jam tersebut, tampak usaha Daniel Ziv untuk melekatkan subjek dengan kota lengkap dengan segala bentuk permasalahan yang dihadapi seorang Titi. Narasi seperti ini sebenarnya lazim kita temui, bahwasannya persoalan orang-orang pinggiran tersebut masih begitu menarik di mata orang asing. Selama lima tahun kamera mengikuti kehidupan Titi, cerita yang terbangun sebenarnya tidak menawarkan hal baru. Penonton bisa saja kagum dengan sosok Titi, bisa juga bersimpati dengan nasibnya, lalu setelahnya?

Dokumenter ini memuat rekaman momen-momen dalam hidup Titi yang terjadi selama lima tahun sang sutradara mengikuti dan merekam subjeknya. Dalam rentang waktu tersebut, keberadaan kamera seharusnya sudah tidak lagi dirasakan subjek. Namun sebagai penonton, ada kesan-kesan janggal di beberapa adegan ketika kehadiran kamera terasa masih berjarak dan tidak mampu melebur seperti sewaktu Titi mengunjungi keluarga dan anaknya di desa. Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi karena intensitas kamera dengan kota tentu lebih banyak daripada ketika Titi pulang ke kampungnya. Tetapi saya tetap terganggu dengan beberapa adegan seperti ketika Titi membawa kedua orang tua dan anaknya ke sebuah pematang sawah, lalu menyanyikan lagu Wuyung dengan gitar, bapaknya mengelus kepala Titi sementara ibunya menangis sesenggukan mengingat masa kecil Titi. Betapa dramatis!

Kita bisa membayangkan berapa banyak gambar diambil dan berapa banyak sudah dibuang demi mendapatkan momen-momen menarik dalam kehidupan Titi selama rentang waktu pembuatan film. Isian musik dalam film yang cukup banyak dan sebagian berasal dari lagu-lagu ciptaan Titi sebenarnya telah ikut menghidupkan susana, menjadikan beberapa bagian terkesan seperti fiksi drama. Meskipun sebuah dokumenter pasti akan memuat kadar fiksinya sendiri, harapan saya sebagai penonton tetap tertuju bahwa realitas yang hadir adalah realitas yang terkesan wajar, yaitu segala keseharian Titi yang kemungkinan juga berisi rutinitas paling membosankan. 

Kisah Titi mengingatkan saya pada Keluarga Joad dalam novel The Grapes of Wrath karya John Steinbeck. Ketika desa tak mampu lagi menawarkan apapun untuk mengubah hidup sesorang, kota menjadi salah satu harapan, meskipun kehidupan di kota bisa jadi lebih berat. Desa menjadi masa lalu dan kota adalah masa kini dan masa depan. Titi memilih kehidupan keras di kota, lengkap dengan persoalan si suami yang tak bekerja tapi juga tak merelakan Titi hidup di jalanan hingga malam. Setiap hari, Titi naik turun metro mini dan bus kota setelah memandikan anak dan memberinya sarapan. Persolan ekonomi dihadapi karena si suami tidak memiliki penghasilan tetap sementara keluarganya di kampung juga masih membutuhkan kiriman uang. Di kota, ia tinggal di rumah mertuanya yang mewajibkannya mengekan jilbab. Titi dengan bandelnya mengenakannya dari rumah lalu dilepaskannya sebelum mengamen. Karakter Titi tampak kuat dalam adegan ini. Demikian juga ketika ia bicara soal pendidikan atau keharusannya untuk hidup mandiri meskipun menderita.

Gambaran bahwa pendidikan masih menjadi tempat gantungan nasib seseorang tampak muncul di film ini. Bagi Titi, hal yang bisa mengubah nasibnya adalah selembar ijazah. Untuk itulah ia belajar mati-matian demi lulus ujian kejar paket C. Setidaknya ketika ia tidak banyak bisa mengirim uang ke kampung, membawa selembar ijazah adalah kebanggaan tersendiri. Film ini menggambarkan bagaimana Titi berusaha keras untuk belajar, berjuang mengubah nasibnya. Ia membaca buku di bus kota, belajar bersama teman di kamar kontakannya sampai pada akhirnya ia lulus dan berpidato di hari penerimaan ijazah.  

Pertanyaan salah satu penonton di akhir film seakan membuka ruang di balik gambar dan adegan. Jadi apakah Titi sekarang? Kita banyak mendengar kisah pengamen yang tiba-tiba jadi terkenal karena ajang pencaian bakat, ditemukan seorang produser, ditelan industri hiburan lalu tak berapa lama kemudian sudah menghilang. Apa yang didapatkan subjek dalam film ini selama lima tahun hidupnya tak lepas dari kamera? Sang sutradara kemudian bercerita bahwa Titi beberapa kali juga mendapatkan bagian ketika produksi filmnya mendapatkan dana. Meskipun demikian, uang yang didapatkan selalu tak bisa bertahan lama. Entah karena kebutuhan mendesak atau dipinjamkan kepada saudara atau tetangga yang lebih membutuhkan.

Persoalan tentang identitas muncul juga di sesi tanya jawab. Para pengamen, anak jalanan adalah mereka yang selalu mencari identitasnya di tengah hiruk pikuk perkotaan. Karakter Titi dalam usaha mencari identitasnya, salah satunya agar ia menjadi seseorang yang berijazah memang cukup kuat hadir. Hal serupa juga terlihat dari bagaimana ia mengungkapkan pendapat-pendapatnya di beberapa adegan.

Tapi bagi saya yang menarik adalah Daniel sendiri, orang asing yang membuat film pertamanya dengan mengangkat kisah Titi. Apakah karena Daniel orang asing, yang tentu juga menarik bagi Titi sehingga ia mau menerima tawaran sebagai bintang film atas hidupnya sendiri? Selain persoalan dana, yang katanya selalu tekor itu, Daniel menjawab pertanyaan bahwa selama ia membuat film, tak ada kisah-kisah seram seperti diganggu preman. Apakah ini juga karena Daniel orang asing? Jakarta di sepanjang film tampak selalu aman. Kota dan orang-orangnya tampak bersahabat dengan beberapa gambar bernuansa kekuningan. Seseorang yang bertanya seolah tak percaya mengingat Jakarta yang sepengetahuannya begitu menyeramkan.

Film dokumenter akan selalu memuat transisi bahwa yang kita lihat sehari-hari akan tetap menjadi konstruksi. Kita bisa mendapati semacam jenjang dari kehidupan sehari-hari dengan keseharian Titi dalam film. Kamera menangkap keseharian, mengikuti subjek, berlari, menangkap momen-momen, lalu masuk proses editing dan sampai ke penonton yang akan membanding-bandingkan kehidupan dalam film dan kehidupan sebagaimana adanya. Sebagai penonton, saya pun sebenarnya mengharapkan eksperimentasi lebih dari sebuah film dokumenter, terlepas dari film tersebut adalah film pertama yang dibuat oleh sang sutradara. 

Film ini hadir pula dengan versi panjang yang mengangkat kehidupan dua pengamen lain yang akan segera tayang di bioskop. Jarang-jarang rasanya ada film dokumenter yang bisa masuk bioskop. Gambaran karakter Titi adalah gambaran masyarakat yang umum dijumpai di negeri ini. Kalaupun film ini dianggap mampu keluar dari karakter subjek dan berbicara lebih luas tentang masyarakat kita, maka gambaran itulah yang akan disaksikan sekian banyak orang yang entah akan ditangkap sebagai sekadar simpati, menginspirasi, sedikit gelap atau menangkap semburat optimisme dari orang-orang yang susah hidupnya tapi bisa tetap bahagia dengan bernyayi sepanjang hari.


Kamar Kost, 24 September 2013


Selasa, 17 September 2013

Mengurai Sumpek

Hari ini sengaja saya mengikuti sebuah kuliah umum bertema politik uang dengan pembicara Edward Aspinall dan Mada Sukmajati. Dua-duanya adalah profesor politik kenamaan, yang disebut pertama berasal dari Australia dan yang satunya lagi dari negara kita tercinta. Niat mengikuti kuliah umum itu sebenarnya sebatas menjadikannya pancingan agar saya sedikit demi sedikit mulai mendekati lagi disiplin ilmu politik yang semakin hari semakin menjauh dari hidup saya.

Ilmuwan politik luar negeri barangkali memang banyak yang senang dengan studi komparatif. Tampaknya mereka itu tak pernah kekurangan biaya riset, bahkan sampai dibuang-buang dan dijadikan bahan proyek kerjasama di sini. Kita bisa bayangkan berapa banyak biaya untuk penelitian yang dilakukan di banyak negara. Aspinall sendiri melakukan risetnya di beberapa negara yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina. Inti dari risetnya adalah mencari modus-modus politik uang dalam pemilu di negara-negara tersebut.

Istilah politik uang ternyata juga dikenal di lain negara. Di awal presentasinya, Aspinall memperlihatkan beberapa spanduk berisi kampanye politik dan pesan-pesan untuk menolak politik uang. Di Penang misalnya, Aspinall memperlihatkan sebuah spanduk bertuliskan, “Tolak Politik Wang.” Kalau di Indonesia ada yang dinamakan“serangan fajar”, istilah serupa ternyata juga ditemukan di Thailand dengan sebuatan “the night of the barking dogs”, atau di Papua Nugini yang dikenal dengan istilah “malam setan”. Istilah-istilah tersebut biasanya mengacu pada kondisi sebelum pemilihan dimana uang mulai disebar kepada pemilih agar mereka memilih kandidat tertentu.

Dalam politik uang, muncul istilah patronase dengan ciri penggunaan sumber-sumber material. Modusnya bisa bermacam-macam mulai dari dibagi secara langsung kepada pemilih, diberikan kepada orang yang berpengaruh, atau disampaikan kepada komunitas tertentu dalam jumlah yang terbatas: misalnya sumbangan semen untuk pembangunan jalan. Istilah lain dalam politik uang yang kerap muncul adalah klientelisme. Istilah ini mengacu pada jaringan yang digunakan untuk pendistribusian materal tersebut. Bentuknya bisa dari patron ke klien atau face to face (hubungan yang saling kenal, ada mekanisme pertukaran, loyalitas, dsb).

Apa yang kemudian diperbandingkan dari banyak negara yang menjadi fokus kajian adalah kapan bentuk-bentuk tertentu dianggap efektif dan kapan politisi akan mengambil strategi lain; bagaimana bentuk-bentuk jaringan yang muncul, dan perbandingan penyebab serta dampak dari politik uang di masing-masing daerah.

Studi literatur banyak menyebutkan bahwa politik uang di Filipina cenderung dimainkan olah klan, di Indonesia lebih banyak karena pengaruh bos lokal dan politik dinasti, di Thailand dimainkan oleh broker sementara di Malaysia muncul karena kebijakan dan mekanisme partai.

Di Indonesia, jaringan yang dipakai biasa disebut dengan “tim sukses”. Ada banyak ragam istilah yang mengacu pada struktur yang mirip, seperti di NTT disebut sebagai “tim keluarga”. Tim Sukses merupakan struktur yang fungsi dasarnya menghubungkan calon dan pemilih lewat beberapa level mulai dari tim inti yang kemudian dibagi secara teritorial (koordinator kecamatan, koordinator desa, koordinator TPS, sampai relawan yang langsung berhubungan dengan pemilih). Struktur ini digambarkan mirip dengan piramida dan hampir bisa ditemukan di banyak daerah di Indonesia yang kemudian disebut Aspinall sebagai “brokerage pyramid”.

Siapakah para tim sukses ini? Mereka adalah orang awam yang memiliki skill tertentu, orang yang memiliki dana seperti kontraktor dengan kepentingan jelas: mendapat proyek setelah si calon menang, dan orang-orang yang memiliki pengaruh di masyarakat. Mereka yang tergabung dalam tim pemenangan calon berfungsi untuk mengetahui preferensi pemilih (yang mendukung, yang abu-abu, yang menolak), serta mengidentifikasi apa yang mereka butuhkan.

Muncul dilema ketika seorang calon terlalu bergantung pada anggota tim. Bagaimana menjaga loyalitas mereka? Orang yang bergabung dalam tim tentu memiliki motivasi yang bermacam-macam. Aspinall memilahnya menjadi tiga. Pertama, aktivist broker yang mendukung calon karena kedekatan ideologi, hubungan keluarga, kesamaan etnis, dimana mereka cenderung setia terhadap calon. Kedua, clientelist broker yang motivasi utamanya adalah materi tetapi berorientasi pada masa depan. Mereka biasanya bergabung ke calon yang memiliki peluang untuk menang. Ketiga, opportunist broker yang bergabung dengan seorang calon dengan kalkulasi jangka pendek. Mereka biasanya bergabung ke calon yang memiliki banyak uang.

Permasalahannya kemudian adalah struktur tim sukses tersebut menjadi sangat rapuh. Dua persoalan yang sering muncul dikategorikan Aspinall dalam predation dan defection. Predation terkait dengan semua perilaku predatory macam korupsi, pencurian, penipuan, intinya adalah mereka yang memakan uang calon untuk kepentingannya sendiri. Sementara defection merupakan sebutan untuk mereka yang bermain di dua kaki, perilaku pengkhianatan, dan sebagainya.

Pada bagian selanjutnya, Aspinall menyampaikan rencana riset kerjasama dengan Polgov untuk melakukan penelitian terkait praktik politik uang di 30 daerah di Indonesia termasuk tingkat 1, tingkat 2 dan 3. Riset ini akan melibatkan 60 orang peneliti dengan metode observasi langsung, pendampingan atau shadowing terhadap anggota tim dan wawancara. Fokus risetnya adalah melihat struktur tim dan strategi pemenangan calon serta penggunaan jaringan, baik formal maupaun informal. Hayo, buat yang mau nulis tesis atau skripsi terkait bisa kontak-kontak Polgov.

Tidak ada yang mengejutkan dari temuan Aspinall. Entah karena politik yang sudah tidak seksi lagi seperti pacar senja yang sekarang sering kehujanan atau karena saya yang sedang suka sinis saja.  

Saya tak memperhatikan moderatornya berbicara. Mari kita lanjutkan, mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Prof. Mada. Saya tak akan berpanjang lebar menuliskannya. Intinya adalah melawan politik uang bisa dilakukan dengan meningkatkan rasionalitas pemilih. Caranya? Polgov saat ini sedang mengembangkan instrumen yang disebut dengan rasiometri. Apakah itu? Semacam pendidikan politik dimana seorang pemilih akan memilih berdasaran informasi yang didapatkannya: mulai dari mengumpulkan informasi, mengolah informasi sampai menentukan keputusan.

Sebenarnya banyak hal yang membuat saya tambah buntu dengan ide-ide seperti ini. Tapi ya apa boleh buat. Saya sangat salut dengan semua pihak yang masih optimis bahwa negara ini bisa diperbaiki. Sip lah pokoknya.

Pertanyaan-pertanyaan diskusi sebenarnya sangat menarik tapi tak banyak yang bisa ditanggapi dalam forum. Teman saya seangkatan yang mirip intel lengkap dengan penyamarannya menggunakan rambut palsu itu ternyata cukup setia mengikuti kuliah sampai sesi pertanyaan tiba. Ia duduk paling belakang, dipojokan, dan tak terlihat. Dia itu benar-benar seperti intel dengan kebiasaan mencurigakan: langsung menghilang setelah kelas usai. Kali ini dia berkomentar bahwa temuanmu itu, wahai Aspinall, hanya sedikit saja yang bisa menggambarkan realitas yang sebenarnya. Ia lalu menyodorkan fakta-fakta yang seolah-olah berasal dari tim sukses itu sendiri.

Satu lagi teman seangkatan saya angkat bicara. Ia bercerita tentang hasil temuan risetnya bahwa duit yang dibagikan saat pemilu bisa demikian beragamnya di setiap daerah, berkisar dari 50 sampai 100 ribu untuk daerah Jawa, bisa sampai 500 ribu per kepala untuk daerah Buton, apa Belitung ya? Haduh, saya kurang menyimak.

Bapak-bapak yang sedang studi S3 di Brawijaya berkomentar juga. Betapa tidak enaknya ketika ia harus mempresentasikan hasil risetnya, yang juga berarti membuka banyak kejelekan negerinya, beberapa hari lagi di Flinders University.

Beberapa hal barangkali luput dari catatan karena obrolan saya dengan teman yang duduk di sebelah soal riset tesisnya. Wow, dia masih baca Hegel sodara-sodara. Luar biasa! Tidak sopannya, dia langsung pergi begitu saja setelah mengatakan pada saya bahwa dia punya koleksi seratus film yang harus ditonton sebelum mati.

Sungguh tulisan ini tidak seperti judulnya. Harusnya diberi judul “Manambah Sumpek”. Hari ini saya seperti ditampar juga. Begitu lho seharusnya anak politik itu, mari bicara patronase, mari bicara politik uang, mari bicara rasiometri, lalu ngapain saya ini muter-muter Rusia mencari bagaimana pabrik cinema mencetak bentuk film-filmnya, melakukan sensor, mengganyang film-film luar, merancang tema-tema tertentu yang harus disetujui negara. Sebenarnya ini juga politik yang mirip dengan apa yang ada di buku Khrisna Sen itu. Ah, ndak ngerti saya. Mari bobok saja.


Kamar Kost, 16 September 2013  

Jumat, 13 September 2013

Sekadarnya Cerita

Suatu kali aku terbangun dengan pipi yang berubah menjadi insang. Karena merasa sesak dan kesulitan bernafas, aku berlari menuju kamar mandi, mencelupkan wajahku ke dalam air dan baru merasa lega kembali. Sejak saat itu aku harus hidup di air. Aku berusaha bertahan di darat dengan sebuah toples berisi air di kepalaku. Kalau kau pernah melihat Spongebob berkunjung ke rumah Shandy si tupai, begitulah aku menirunya untuk bertahan hidup di darat sementara. 

Aku tak bisa berhenti menangis dan tak tahu apa yang harus kulakukan. Dengan terpaksa aku tinggal di sebuah kolam ikan di belakang kostan yang ditinggalkan pemiliknya. Kolam itu kotor, penuh lumpur dan sedikit berbau busuk. Aku terus saja menangis karena ingin sekali mengabarkan keadaanku kepadamu. Sehari saja tak ada kabar dariku, rupanya kau sudah mencariku. Memang sedikit aneh karena biasanya kita sering tak saling memberi kabar dan seolah-olah tak ada yang terjadi.

Kau benar-benar datang mencariku. Aku mendengar suara motor Shogun birumu berhenti di samping kost yang kebetulan dekat dengan kolam tempatku hidup sekarang. Tiba-tiba saja kau menengok ke arah kolam dan melihatku. Kau begitu kaget dan mulai mendekat. Aku hanya bisa sedikit saja memperlihatkan wajahku ke permukaan. Ah, rasanya kita sama-sama ingin berciuman tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau mencondongkon tubuh dan kepalamu ke arah kolam tapi kita tetap tak bisa berciuman.

Lama kita berusaha agar bibir-bibir bisa saling bersentuhan tapi segala upaya sepertinya tak akan berhasil. Putus asa dengan usahamu, kau lalu menyuruhku segera mengenakan toples dan memboncengku dengan Shogun birumu, motor legendaris yang barangkali pernah memuat sekian banyak bokong perempuan sebelum aku datang. Jarak antara kostku dan kontrakanmu memang tak begitu jauh. Kau menurunkanku di sebuah kolam lain, bersama ikan-ikan yang dipelihara orang untuk usaha restoran dengan tempat-tempat makan mengambang di permukaannya. Air di sini memang lebih bersih tapi itu tetap saja tak bisa membuatku nyaman. Seorang kawan mendadak datang membawa seperangkat peralatan musik. Kebetulan kawan yang kita kenal itu memang sedang masyur dengan bandnya. Dia menyanyikan sebuah lagu untuk kita. “Duduk. Berdua. Di pinggir kolam. Ikan-ikan Berenang di kaki kita....” Lalu kau hanya bisa mencium toples di kepalaku setelah lagu itu selesai dinyanyikan.

Aku terbangun dan geragapan. Rupanya itu hanya mimpi setelah sebelumnya kita pernah mengkhayalkan hal serupa terjadi. Setelah bercinta, imajinasi kita seringkali melayang kemana-mana, dalam cerita-cerita komik, atau hanya khayalan-khalayan dari antah berantah.

Seperti biasa, sepagi kau berjuang mengeluarkan dahak dan melawan sesak. Setelahnya seharian kita terus saja tidak melakukan apa-apa kecuali membaca novel atau tenggelam dalam film-film. Kau banyak berkometar tentang Wong Kar Wai setelah menonton As Tears Go By, Days of Being Wild dan In The Mood for Love. Kau selalu melihat film-film itu dengan detail. Kau mengagumi bokong Maggie Cheung, menemukan properti seperti lampu dan kipas angin yang selalu hadir dari film ke film, juga menganalisa warna kertas dinding dan segala bentuk penataan ruang lainnya yang benar-benar dipikirkan oleh art director maupun sutradara. Kau bilang juga bahwa semua tulisan tentang film tidak akan sebanding dengan segala yang ada dalam film itu. Ya, itu benar, Bahkan Bazin sendiri mengakui bahwa menulis film itu sebenarnya hal yang sangat sulit. Apalagi tulisanku yang cuma bisa bikin hoaks orang yang membacanya.

Kita sempat saling diam ketika aku tak merasa perlu untuk mengurusmu saat sakit seperti itu. Kadang aku merasa sangat tidak ingin membahagianmu. Kepastian akan akhir dari kitalah yang membuatku seperti itu. Tapi ketika saling diam, sebentar saja, sudah membuatku demikian tak enak hati. Si Mbok malah menanyakanmu dalam teleponnya dan akupun bergegas menemuimu. Paginya, kau meninggalkanku dengan sisa sakitmu. Aku mengantarmu ke stasiun menuju Surabaya demi sebuah kesenangan mengerjai Maba. Aku tak rela kau pergi, tapi siapakah aku yang bisa tidak mengizinkanmu berangkat? Sudahlah.

Setidaknya hari ini pipiku tidak dikutuk berubah menjadi insang. Entah kenapa aku semakin keterlaluan bahkan kadang tidak mempu mengontrol diri. Semakin banyak perkataan bodoh, kelakuan gila, aku ingin menemui Si Mbok dan mencium kakinya. Tak mengapa jika mukaku sekalian di sepak, siapa tahu aku bisa melihat surga di sana.  


Kamar Kost, Jumat 13 September 2013

Rabu, 04 September 2013

Cerita Sekadarnya

Kau datang pada kemarau dengan udara begitu dingin di pagi hari. Aku menjemputmu. Begitu saja kita kembali bertemu. Wajahmu kusut dan mengkilap berlumur asap bus kota. Ingin sekali rasanya aku tak mengenalmu lagi. Tapi segalanya kembali berjalan seperti biasa. Aku membantumu membersihkan kamar sementara kau menyeduh dua gelas kopi robusta Bali. Ada lagu dari gitar tanpa senar ketiga. Sebentar cium, masih bau asap bus kota. Seteguk peluk, sedikit menyisa aroma perempuan sepanjang perjalanan. Setelah kasur dijemur, menuntaskan pekerjaan tangan.

Kau membawakanku buku-buku. Novel-novel Duras, Proust, dan kumpulan cerpen Akutagawa. Aku sedang malas membacanya. Di sebelah kamarmu, seorang kekasih yang baik membuat kristik, menjalin benang bersilang-silang membentuk beruang lucu demi sebuah kado ulang tahun gadisnya. Ide untuk membahagiakan orang lain memang luar biasa, katamu. Tentu saja kau tak perlu melakukannya untukku. Aku cukup bahagia ketika kau berkenan mengunduh film-film apa saja yang kuinginkan.

Aku selalu ingin memperlakukanmu sebagai orang asing. Maka jangan heran kalau aku menonton Hiroshima, mon amour dengan reaksi seperti itu, meringkuk tanpa ekspresi di depan laptop. Alain Resnais selalu memukau dengan montase-montase cerdasnya. Sejak Night and Fog (1955) dan Last Year at Marienbad (1961), Resnais terlihat kerap mengeksplorasi waktu, fantasi dan ingatan, mengolah masa lalu dan masa depan. Namun dalam Hiroshima, mon amour, emosi yang solid menjadi semacam dasar yang kuat untuk membuatku terpaku atas gambar dan dialog dalam film itu sampai-sampai aku tak bisa menjelaskannya kepadamu. Film itu seperti menguasai, memakanku mentah-mentah dan pada akhirnya membuat seolah-olah aku telah mengerti sesuatu. Padahal, ketika gambar-gambar yang lekat itu menghilang, aku kembali merasa tak mengerti apapun. Bagimu barangkali itu hanya film membosankan tentang cinta-cintaan yang menye-menye. Entahlah.

Aku memang ingin kita saling merasa asing. Karenanya aku selalu menceritakan sesuatu dengan sepotong-sepotong. Kau tak akan mengerti apapun demikian juga denganku. Mencurahkan perasaan seolah-olah hanya akan membuatku semakin dekat.Bertahun-tahun kemudian, ketika aku telah melupakanmu, semua cerita dan tulisan tentangmu hanya akan menjadi simbol kisah untuk ditertawakan dan dilupakan. Karena selain kematian, satu hal yang pasti adalah bahwa kita akan berakhir.

Betapapun menyedihkannya kelak, saat ini kita masih bisa menertawakannya. Pada sebuah perbincangan sebelum makan malam, ketika kau memintaku mengambilkan nasi untuk piringmu, aku bercerita tentang tokoh utama novel Michelle. Begitulah, kita tidak akan menikah karena tak rela anak kita kelak bernasib nggrantes seperti tokoh utama novel itu. Bukankah ayah dan ibunya menikah beda agama? Hindu dan Islam pula.

Maka jalan satu-satunya untuk mengakhiri hubungan kita adalah dengan aku memakai legging bunga-bunga. Hahaha. Di jalanan, kita sering melihat mbak-mbak dengan legging bunga-bunga lalu kau bilang kita akan putus kalau aku memakainya. Ah, hanya dengan begitu kita masih bisa tertawa-tawa di lampu-lampu merah, pada setiap pemberhentian dan jeda. Di atas segala ekspektasi orang bahwa kita akan berakhir karena beda agama, atau karena tak direstui orang tua, dan ternyata pada akhirnya hanya karena aku memakai legging bunga-bunga.

Menonton film terbaru Wong Kar Way selalu mampu menciptakan efek khusus. Kita pun menamainya “Wkwkwkwkwkwkw...Effect” yang merupakan kependekan dari nama sutradara itu. The Grandmaster adalah versi lain atas dua film yang pernah dibuat tentang kisah kepahlawaan guru silat pertama China yang mengajar aliran Wing Chun. Dua film pertama berating 8,1 dan 7,5 di IMDb sedangkan film Wong Kar Way hanya mendapakan 6,6 saja. Peduli setan dengan rating. Kita tetap bisa menikmatinya dan menemukan sekian banyak adegan film lain dalam The Grandmaster: ada ciuman gaya Spiderman, gaya bertarung The Matrix dan Kungfu Hustle, stasiun kereta Harry Potter, dan sekian banyak film lain. Telapak tanganku pun jadi demikian terlatih menangkis seranganmu setelah menonton film itu. Betapa menyenangkan kebodohan-kebodohan kita.

Aku masih mendengarkan soundtrack film Magnolia. Aimee Mann sedang melantunkan lagu tentang angka satu yang paling kesepian. Kau datang menjemputku untuk bermalam minggu. Bercelana pendek dan belum mandi sementara aku begitu cantik dan wangi. Kau harus menunggui sebuah film selesai diunduh sebelum buru-buru menjemputku yang sudah kelaparan. Aku sendiri tak habis pikir kenapa aku mau dengan orang sepertimu. Kita makan dengan menu paling sederhana di akhir bulan. Kau sumpek karena tak juga tergerak untuk mengerjakan tanggungan proposal. Sama halnya sepertiku. Terus saja kau bicara tentang kesumpekanmu. Aku diam mendengarkan meskipun dalam hati bergemuruh entah karena apa. Tapi pada akhirnya kita tetap bersama menonton pertunjukan di tempat yang cukup jauh dari kota ini.

Mereka melakukan pertunjukan musik cangkem. Eksplorasi dilakukan dengan menyanyikan lagu-lagu dolanan yang sederhana dengan nada-nada dan perubahan bentuk lagu yang unik. Pertunjukan paruh pertama masih bisa dinikmati meskipun kita datang terlambat. Penonton penuh bahkan sampai tumpah. Pada paruh kedua, para penampil mulai aneh-aneh. Aku sendiri masih bisa menikmati suluk dan mantra kalacakara yang didengungkan pelan tapi dalam tempo cepat. Pertunjukan semakin terasa aneh ketika para perempuan berlagak berada di sebuah pesta dan mulai memainkan air dengan tenggorokan mereka. Tambah aneh lagi ketika dua orang saling beradu tanda dengan desah dan bahasa mata sambil memukul-mukul meja.

Aku mengagumi ide pertunjukan malam itu meski eksekusinya tak seperti yang diharapkan. Barangkali memang aku yang terlalu tinggi mengharapkan sesuatu yang mengejutkan bisa muncul. Kau yang orang Bali ikut ngamuk ketika ada gerakan tangan khas tari Bali seolah-olah diperlakukan semena-mena. Dalam hal-hal tertentu kau memang sedikit berlebihan. Kalau menurutku, meskipun mereka menggerakkan tangan seperti itu, tidak semata-mata menempatkannya dalam konteks tarian yang khusus. Mungkin bisa dibilang hanya semacam meminjam gerakan untuk digunakan sesuai dengan pesan yang ingin mereka sampaikan. Aku sendiri tak banyak mengerti tentang seni pertunjukan, juga orang-orang musikologi yang dengan rendah hati masih bersedia mengeksplorasi suara-suara dari mulut mereka sendiri. Selalu ada batas yang membuatku bertanya-tanya apakah hanya sampai di sana? Padahal seharusnya tentu bisa lebih dari sekadar itu.

Menemui kawan yang juga sama-sama kesepian menjadi salah satu rutinitas kita setelah makan malam. Sejak kedatanganmu, sudah dua kali kita menyambangi kostnya, minta kopi dan camilan. Senang rasanya punya teman seorang musisi masyur. Kita mendengarkan lagunya yang seram-seram penuh cinta. Selalu teman kita yang satu itu punya bahan bercanda yang membuat kita bisa tertawa. Setelah guyonan rasisnya, ia bercerita bagaimana ia mengalami dementia setelah menonton film-film tahun 50-an dan 60-an dariku. Dipertengahan film, ia kehilangan dirinya, siapa namanya, darimana ia berasal, dan teman sebelah kamarnya kemudian membantunya kembali mengenal kata-kata. Dia belajar bahwa benda-benda itu disebut pintu, gelas, meja.    

Sudah siang lagi di kontrakanmu. Semalam tanpa mimpi aku terlelap. Sampai dikostan, hardisk berisi film tak bisa dibuka. Maka demikianlah curhat kali ini harus diakhiri. Aku tak bisa berpikir lagi.


Kamar Kost, 4 September 2013

Jumat, 23 Agustus 2013

Tulisan Tidak Jelas tentang Sesuatu yang Tidak Jelas

Sekian hari membusuk di Ngawi, saya merasa punya hutang untuk menulis. Suatu hari Momosuke* menelepon saya dan mengungkapkan kegelisahaannya tentang ekspresi budaya kelas pekerja di Indonesia pasca Orba. Adakah? Sekian banyak pertanyaan ia lontarkan dan saya pun gagap menjawabnya. Sebenarnya saya tak hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bagi saya, terlalu banyak hal yang harus diurai. Produk budaya dengan kriteria seperti apakah yang bisa mengekpresikan kelas pekerja?

Pasca Orba, sepertinya kita kesulitan mencari sosok seperti Pram dalam sastra atau semacam Iwan Fals dalam musik. Kesulitan untuk menemukan memang bukan berarti tidak ada. Bisa saja karena kita yang tidak banyak tahu. Mungkin saat ini kita hanya bisa menemukan beberapa karya bernuansa kelas ketika sosok besar sudah sangat sulit bisa disebut merepresentasikan kelas pekerja yang tentu juga dilihat lewat karyanya. Sebut saja beberapa band indie yang sudah disebutkan Momosuke dalam tulisannya** itu. Melancholic Bitch misalnya, apakah Joni dan Susi itu kelas pekerja? Seandainya bisa dijawab ‘iya’, tentu banyak pertanyaan lain yang mengikuti. Pesan seperti apakah yang disampaikan lagu-lagu semacam itu?

Ketika bicara tawaran band-band indie lewat lagu dan musik mereka, mungkin bisa dikaitkan dengan musik alternatif untuk memenuhi kebutuhan kuping-kuping yang merasa sakit mendengar Wali atau Armada di televisi. Musik alternatif dengan demikian juga tidak bisa serta merta disebut ekspresi budaya kelas pekerja. Persoalan lain muncul dalam perbincangan kami. Kalaupun ada produk-produk budaya kelas yang muncul, seringkali berjarak dengan kuping yang bisa dijangkaunya. Efek Rumah Kaca itu didengar siapa? Jangan-jangan sebagian besar hanya anak kuliahan yang merasa tidak keren kalau tidak mendengar band indie, atau sekelompok hipster yang sudah bangga ketika bisa menikmati produk diluar mainstream budaya tetapi tidak sadar bahwa mereka juga sudah menjadi mainstream pada satu titik. Semakin banyak ditemukan ambiguitas di sini. Mungkin masih perlu juga diklarifikasi kembali mana lagu perlawanan (melawan apa atau siapa), mana yang mengandung anasir kelas, hal hal tersebut bisa diidentifikasi lewat apanya, dan sebagainya. 

Dalam percakapan kami, muncul lagu Pak Bos yang dicover oleh Qupit Nosstress. Liriknya kira-kira berisi keluhan seorang pekerja yang minta bosnya untuk menaikkan gaji. Sambatan soal dia yang sering ngutang di warung, kas bon di kantor, memang terasa sangat khas kelas pekerja. Apakah lagu semacam itukah yang kemudian disebut sebagai ekspresi kelas pekerja? Lagu itu berbahasa Bali dengan gaya lirik tanpa basa basi. Soal bahasa ini pula yang memancing kegelisahan lain. Kebusukan saya di kota kecil macam Ngawi membuat saya ingin mencari—meski hanya asal tulis dan serampangan—siapa tahu bisa ketemu produk budaya yang mengekspresikan kelas pekerja seperti yang dipertanyakan Si Momosuke.

Ketemu Apa di Ngawi?
Kota saya sangat sepi. Penduduk kampung saya sudah mulai menutup pintu sejak jam delapan malam. Sebagian besar dari mereka adalah petani, beberapa punya tanah dan sebagian besar lain hanya buruh. Orang kaya di kota lebih banyak di dominasi oleh pejabat, pegawai negeri, mungkin beberapa pedagang. Di kampung saya itu, sebagian petani yang bisa membangun rumah adalah mereka yang punya anak jadi TKI. Tulisan ini benar-benar cuma ngawur, banyak sekali asumsi yang mungkin tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Tapi saya benar-benar ingin menemukan sesuatu dari kampung halaman yang sunyi.

Mengumpat dan Mengkritik Lewat Musik
Kalau lagu Pak Bos berisi keluhan, maka lagu yang saya temukan mungkin bernada sama namun ditambah pisuhan atau umpatan yang tak banyak bisa kita jumpai dalam lagu-lagu berbahasa Jawa. “Hush, gak pareng misuh. Dosa!,” kata Si Mbok. Mengumpat itu dianggap dosa. Pisuhan adalah kata-kata terlarang demikian juga misuh yang merupakan tindakan tidak terpuji dalam interaksi dengan konteks budaya Jawa. Pisuhan orang Ngawi yang mataram sudah tentu akan berbeda dengan ekspresi pisuhan orang-orang daerah tapal kuda, meskipun sama-sama terletak Jawa Timur. Dan misuh pun ternyata tidak gampang karena di dalamnya terdapat intonasi tertentu yang membuat sebuah kata bisa menjadi semacam pelepasan ketika diucapkan.

Zaman Orba, orang akan dicap tidak sopan, tidak santun karena misuh. Maka tidak berlebihan kalau saya sedikit girang menemukan lagu semacam ini bisa muncul di Ngawi. Saya pertama kali mendengarnya dari siaran radio lokal yang diputar Si Mbok sambil menyetrika baju di kamar depan. Ketika mendengarnya pun Si Mbok berkomentar, “lagu cap opo kuwi. Kok isine misuh.”

Lagu berjudul Kudu Misuh itu dilantunkan oleh Dhalang Poer. Orang ini mulai dikenal ketika mencipta dan menyanyikan Langit Mendhung Kutho Ngawi. Berbeda dengan lagu-lagu campursari yang biasanya bicara tentang asmara, Dhalang Poer mengungkapkan penderitaan nasib wong cilik yang dikutuk selalu menemui jalan buntu dalam hidupnya. Lagu itu mengumpati nasib, diri sendiri, mengumpat keadaan, aparat. Gaya liriknya bercerita, mengisahkan seseorang dengan hidupnya.

Coba to gagasen lelakonku iki
Ora ono senenge susah sing tak temoni
Ngolah ngalih gaweyan kabeh ra nate ngunduh
Dino dino isine mung kudu misuh….embuh

Cobo nggarap sawah tinggalane wong tuwaku
Gumunku saben tandur rego rabukke dhuwur
Bareng tibo panen rego gabahe medhun
Kabeh modal utangan ora biso kesahur…ajur

Sawah tak dol murah aku nyicil angkudes
Lagi nyopir seminggu rego bensine ngenthes
Tarip tak undakke penumpang nggrundel ae
Kerep telat oli, rusak ring sak metale…oh kere

Montor ngangkrak neng bengkel ra biso ogel ogel
Rasane uripku mung kari thengel thengel
Nyepi nang kuburan golek tembusan togel
Nomer ngeblong terus aku tambah dhedhel dhuwel…oh gathel

Kabeh dalan wis buntu aku nekat mbandhar dhadhu
Durung ono sing udhu keamanan wis njaluk sangu
Ana oknum tentara ana oknum polisi
Bukaan wingi wingi wis kerep tak amplopi
Bareng prei ra nyangoni aku diseret nyang bui
Diganjar telung sasi….
Misuh sak jrone ati…..jancuk

Kira-kira lagu itu bercerita tentang orang yang tak pernah sukses dengan pekerjaannya. Jadi petani, rugi karena harga pupuk tinggi dan harga gabah rendah saat panen. Sawahnya dijual demi membeli mobil angkutan desa namun kembali merugi karena harga bensin naik, tak ada biaya untuk perbaikan dan akhirnya rusak. Ketika semua jalan telah buntu, si aku mencoba keberuntungannya lewat togel, tak pernah tembus juga. Menjadi bandar dadu pun dilakoni dan akhirnya diseret aparat ke bui karena tak bisa kasih setoran.

Ternyata Dhalang Poer cukup produktif mencipta lagu. Ketika mencari lagu Kudu Misuh lewat youtube, muncul pula lagu-lagu lain bernada sama. Satu lagu lagi berjudul Karnawi, menceritakan kisah bocah pengamen dan penjual koran. Ibunya buruh, bapaknya tukang becak. Sudah enam bulan tak bayar SPP, Karnawi sering dihukum gurunya di depan kelas. Lagu lain berjudul Buron bercerita tentang anak desa yang harus pergi ke kota karena tak ada pekerjaan dan biaya sekolah. Di kota, ia pun jadi pengangguran, ikut teman dan akhirnya menjadi gali. Akhir kisahnya tragis. “Ning terminal maca Koran karo turon/ Aku kaget potretku disilang buron/ Diuber buser aku ndelik ning nglangon/ Bubar kelon, kecekel mergo keturon//.

Tiga lagu tersebut menceritakan kisah orang-orang bernasib malang. Lagu-lagu Dhalang Poer ditulis menggunakan bahasa Jawa ngoko, tingkatan bahasa yang paling rendah dalam struktur bahasa Jawa. Zaman dulu pernah ada sebuah gerakan untuk menghapuskan krama inggil atas nama kesetaraan sebelum bahasa Indonesia digunakan secara meluas di Jawa. Ngoko mengandung muatan yang sesuai bagi ekpresi-ekpresi wong cilik. Dalam lagu-lagu dia atas, bahasa yang dipakai sangat mudah dimengerti bahkan oleh orang seperti saya yang tak pandai berbahasa Jawa.

Lagu-lagu lain banyak berisi kritik seperti cerita tentang aparat yang sengaja membakar pasar dan kritik-kritik terhadap para anggota dewan yang terhormat. Dalam lagu Sidangmu dudu Sidangku, Dhalang Poer menyebut wakil rakyat dengan sapaan kowe dalam bahasa ngoko, bukan panjenengan dalam krama meski sama-sama berarti kamu. 

Opo lali jaman pemilu
Kowe janji arep mikir aku
Nanging  bareng wis oleh bangku, rakyat njerit kowe ora krungu
He, opo bisu…lho malah turu….lho malah nesu…huszz saru

(Sing perlu dipikir, lengo pye amrih mudun, listrik pye amprih murah, pendidikan murah…ora kok gaji diundakke, rapat dewe di dog dewe…eh…konkonane sopo?...angel, angel…)

Musik campursari terdiri dari irama-irama sederhana yang gampang masuk telinga siapa saja. Nada memungkinan intonasi pisuhan menjadi lunak, bisa dibilang masih halus, berbeda ketika saya mendengar Momosuke yang lama di Surabaya itu misuh. Wow, mahir dan mantap sekali kedengarannya. Penggunakan ngoko dalam lagu Dhalang Poer terasa sangat berbeda ketika saya menemukan karya sastra berbahasa Jawa dari seorang penulis kelahiran Ngawi? Budaya kelas seperti apa yang tampak?

Ekspresi Wong Cilik dalam Sastra
Ngawi punya orang besar seperti Umar Kayam. Phd dari Cornell jeh. Siapa yang tak kenal novel Para Priyayi dan Jalan Menikung. Buku-buku itu saya baca ketika masih SMA dimana pada waktu itu saya belum begitu mengenal terminologi kelas meski sekarang juga hanya sekadar tahu. Saya pun hanya bisa menikmati membaca novel itu tanpa mengapresiasinya lebih jauh. Tidak banyak yang bisa saya ingat dari jalan cerita novel Pak Kayam. Saya justru mengingat wajahnya karena peran beliau sebagai Soekarno dalam film G30 S/PKI yang hampir setiap tahun saya tonton sejak SD. Bapak saya yang memberi tahu kalau bintang film itu berasal dari Ngawi.

Pak Kayam mungkin hanya menghabiskan sedikit waktu di kota kelahirannya. Namun dari Para Priyayi orang bisa mengira bahwa Wanagalih yang digambarkan terletak di tempat dimana Bengawan Solo dan Kali Madiun bertemu kemungkinan adalah Ngawi. Bagi saya yang mulai mengingat-ingat lagi, novel Pak Kayam lebih terasa seperti kritik priyayi untuk priyayi dan terkesan sangat ‘jawa sekali’. Saya ingat tokoh anak penjual tempe yang kemudian diangkat anak oleh juragannya. Bisa saja hal itu dibaca sebagai perjuangan kelas, barangkali. Si anak pungut miskin akhirnya sukses dan bisa hidup di luar negeri. Pak Kayam tidak banyak menyajikan konflik melainkan kontradiksi akibat perbedaan status sosial. Wong cilik dalam novel ini bisa berkelakukan labih priyayi daripada priyayi yang sebenarnya. Kepriyayian tidak hanya bisa didapat lewat keturunan melainkan dari akumulasi pengalaman dan perjuangan si tokoh tersebut.

Lalu, apa yang kita temukan di Ngawi paska Orde Baru? Dekade 2000-an—kalau dilihat dari terbitan karyanya—Ngawi akan menautkan saya pada nama Herlinatiens sebagai penulis yang lahir di kota itu. Saya tak begitu mengakrabi karya perempuan yang menulis Garis Tepi Seorang Lesbian yang katanya best seller. Demikian juga dengan karya-karyanya yang lain. Sepertinya ia  besar di Yogyakarta dan tentu saja ia tak menulis tentang Ngawi. Tahun 2005, terbit bukunya berjudul Malam untuk Soe Hok Gie, berkisah tentang seorang perempuan fiksi yang sangat digandrungi Gie, Soekarno, bahkan juga menarik hati Letkol Untung. Saya tak bisa banyak berkomentar soal pembauran antara fakta dan fiksi dalam novel ini. Ia juga menulis novel berjudul Koella, Bersamamu dan Terluka di tahun 2006. Novel itu bercerita tentang seorang gadis yang di PKI-kan karena ayahnya dituduh PKI juga. Penderitaan batin si tokoh utama muncul karena cintanya pada seorang taruna. Untuk penulis maupun karyanya, kali ini saya sangat ragu menyebutnya sebagai ekspresi dan produk budaya kelas pekerja.

Orang-orang Ngawi mungkin lebih cenderung romantis daripada progresif. Watak kota dan sosiologis masyarakatnya tidak bisa mendukung banyak untuk perubahan di kota kecil itu. Sejak saya lahir sampai sudah seperempat abad usia, demonstrasi yang terjadi di Ngawi bisa dihitung dengan jari. Orang-orangnya seakan adem ayem tata titi tentrem kertaraharja gemah ripah loh jinawi meski nasib mereka tetap begitu-begitu saja.

Kemudian saya menemukan kumpulan cerpen Daniel Tito di rak buku rumah yang berantakan, masih tersampul plastik. Mungkin Bapak yang membelinya. Kumpulan cerpen itu berbahasa Jawa dan pernah dimuat dalam majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Dua majalah itu menjadi bacaannya para priyayi Ngawi. Entah kenapa kalau bersinggungan dengan Bahasa Jawa, saya lebih nyaman menggunakan istilah wong cilik daripada kelas pekerja.

Beberapa cerpen Daniel Tito yang bercerita tentang kehidupan wong cilik dinarasikan secara realis. Dalam cerpen BMW 318i sosok priyayi digambarkan sebagai juragan dan wong cilik bekerja menjadi sopirnya. Si Sopir mau pulang kampung dan juragan yang baik hati meminjaminya mobil paling mewah yang ia punyai. Bukan merasa senang, si sopir merasa sangat kuatir terhadap barang pinjaman itu. Sampai kampungnya yang terleak di tengah hutan jati, dengan jalan yang hanya bisa dilalui satu arah kendaraan beroda empat, ia malah tak bisa tidur, memagari mobil pinjaman juragan agar tak diganggu anak-anak kecil, sampai menungguinya di malam hari. Alam pikiran si sopir menjelaskan sesuatu. Bahwa wong cilik selamanya harus tunduk, menerima perintah, dan menjaga kepercayaan si juragan yang baik hati.

Dalam Bahasa Jawa, dengan segala tingkatan dan anak pinaknya, saya yang membaca cerita itu akan lebih mudah mengenali ungkapan-ungkapan yang digunakan wong cilik terhadap ndaranya. Mungkin sekarang memang jarang bisa dijumpai, tapi relasi-relasi macam itu saya yakin masih ada. Wong cilik menggunakan krama inggil, si ndara bicara dengan ngoko. Sastra Jawa masih ada dan tingakatan bahasa di dalamnya menjadi semacam hantu bergentayangan tetapi terlihat nyata sampai sekarang.

Cerita pendek yang memakai bahasa Jawa memberi kesan adanya jarak dengan penggunaan bahasa Jawa sehari-hari. Ketika membacanya, saya sendiri merasa pusing karena asing dengan kosa kata yang dipakai meski maknanya bisa diraba. Sama halnya dengan lagu dan cerita pendek, saya pernah menyaksikan pertunjukan teater di kota kecil ini, naskahnya juga ditulis menggunakan bahasa Jawa ngoko.

Petani di Atas Panggung
Satu-satunya kelompok teater yang saya tahu dan masih hidup di Ngawi adalah teater Magnit. Memang baru dua kali saya menonton pertunjukan mereka. Sungguh! Saya sangat menghargai usaha mereka menampilkan cerita. Dalam pertunjukan Geger Wong Ngoyak Wewe, digambarkan sebuah keluarga petani yang kehilangan anaknya. Latar pangung dibuat realis dengan tokoh-tokoh yang juga realis. Pemainnya anak-anak SMA yang tentu baru belajar teater sehingga bisa dimaklumi apabila sisi keaktoran masih sangat kurang.

Pertunjukan kedua yang saya saksikan berkisah tentang mitos terjadinya Sendhang Tawun di kota Ngawi. Daerah yang kekeringan dan usaha para petani untuk mencari sumber air baru menggambarkan betapa susahnya kehidupan mereka. Saya menandai ekspresi yang selalu muncul dalam dua naskah yang ditulis oleh teater Magnit sendiri. Mereka selalu menggunakan adegan kolosal dengan banyak pemain di atas panggung. Adegan tertentu diiringi dengan suara sorak yang diteriakkan bersama-sama dan berulang-ulang. Kebersamaan warga kampung untuk mencari warganya yang hilang, atau kerja petani yang diiringi sebuah lagu sederhana dan diteriakkan bersama.

Kebetulan ungkapan seperti itu saya temukan juga dalam salah satu film Akira Kurosawa berjudul Seven Samurai. Adegan menanam pagi dilakukan oleh para perempuan dengan koreografi mengikuti irama musik dan dendang para lelaki. Para perempuan itu berdiri berjajar, membungkuk dan mundur kebelakang secara bersamaan sambil membenamkan tunas-tunas padi dalam tanah berair.

Dari sekian banyak temuan di atas, wong cilik mengekspresikan hidupnya dengan berbagai cara dan media. Lewat musik, sastra, teater, berisi keluhan, umpatan, relasinya dengan priyayi, bahkan ekspresi-ekpresi subtil para petani berupa sorak sorai dengan semangat kolektifitas mereka. Kali ini saya hanya mencatat temuan-temuan kecil yang kemudian dikomentari sekenanya. Bisa saja kalau ini dikembangkan menjadi tulisan serius dengan perspektif yang jelas. Tapi dasar saya penulis pemalas, jadi ya begini saja. Saya sendiri ragu apakah yang saya tuliskan ini sesuai dengan yang dibayangkan Momosuke. Apakah ekspresi-ekspresi budaya kelas tersebut akan berhenti hanya ketika karya telah sampai ke publik? Selanjutnya apa? Mari kita tanya Momosuke.


* Momosuke (bukan nama sebenarnya) adalah seorang teman kuliah seangkatan yang suka baca komik, suka juga dengan segala hal berbau abang-abangan. 
**Saya sempat mamaksa Momosuke untuk menuliskan isi kepalanya lalu dia mengirimkan dua halaman yang—mohon maaf karena tak bisa saya sertakan di sini.


Kamar Kost, 22 Agustus 2013

Jumat, 26 Juli 2013

Apapunlah

Seseorang terdengar sedang mencacah-cacah sayur di dapur. Entah sedang menumbuk apa hingga malam menjadi begitu berisik dibuatnya. Senyap dengan berat hati harus lenyap sesaat. Tetes-tetes air terdengar beraturan mengalir dari kran kamar mandi. Seorang lagi sebentar-sebentar terkikik menyaksikan drama korea yang sudah ditontonnya hampir dua hari tanpa berhenti kecuali untuk makan, sebentar tidur, berak dan mandi. Semalaman masih melanjutkan keributan. Sampai adzan subuh, mata tetap menyala. Seorang lagi meringkuk dengan badan kaku dan pegal-pegal. Betapa tidak melalukan apapun bisa sedemikian melelahkannya. 

Setidaknya, menulis begini bisa membuang kebuntuan yang semakin lama semakin mengental. Orang jadi tak bisa beripikir. Sambil tertawa sejenak lalu sedikit mendesah, saya akan berkata bahwa ini tidak tentang kangen yang berlarut-larut. Rasanya saya tak pernah berubah untuk urusan-urusan cengeng dan melankolis. Maaf saja kalau sumpek macam begini hanya bisa dikurangi dengan membuangnya, maaf saja kalau memang sengaja saya sebar untuk bisa dibaca. Tulisan-tulisan gombal yang akan menghapus kotoran dengan kotoran yang lain.

Perempuan itu masih terjebak di dalam cerita Lukisan Neraka karya Akutagawa. Api menjilati tubuhnya dengan gambaran sempurna tentang kengerian dan hal buruk yang tak bisa dibayangkan. Sementara, kisah cinta Hemingway dan Gellhorn yang difilmkan Philip Kaufman entah mengapa tak begitu menarik. Editing yang mengubah-ngubah warna untuk memberi ilusi tentang kejadian di masa lalu terasa mengganggu. Gabungan antara gambar film dan potongan-potongan dokumenter perang saudara di Spanyol itu seperti memaksakan tokoh cerita untuk masuk ke dalamnya.

Kisah cinta orang-orang besar memang seringkali tak berjalan mulus. Padahal kisah mereka bisa dibilang fantastis. Penulis besar dan wartawan perang. Bercinta di tengah bom yang menghujani hotel tempat mereka menginap di Spanyol, tinggal di sebuah rumah besar di Kuba,  bertemu Zhou Enlai di China, hahaha. Tetap saja si perempuan akhirnya minta cerai dari Hemingway yang kelewat egois. Lagi-lagi Hemingway adalah salah satu penulis yang mati bunuh diri dengan menembakkan senapan di kepalanya.    

Setidaknya Hemingway and Gellhorn adalah salah satu film yang saya tonton sampai selesai dalam durasinya yang sekitar dua setengah jam itu. Sebelumnya, beberapa kali memutar film tak pernah ada yang selesai ditonton. Saya merindukan gambar yang aneh-aneh dan cerita yang tidak biasa, tapi bukan film bergenre Sci-Fi. Kira-kira film apa ya? Atau auteur siapakah yang menurut kalian punya keunikan, selain yang kira-kira sudah pernah saya tulis sebelumnya.

Katanya hari ini hari puisi? Hari lahir Chairil. Di beranda facebook, terlihat ada penyair yang bilang kalau itu cuma halusinasi dan omong kosong. Ada juga yang bilang kalau hari ini saatnya puisi melepaskan dirinya sendiri, diksi lepas dari makna yang diinginkan penyairnya. Ada juga yang menghadiahi puisi dengan sepasang sepatu dan hp terbaru, biar sekali-kali puisi bisa berlari kepadanya, menghubunginya, memberikan dirinya buat si penyair, syukur-syukur bisa mejeng di koran minggu. Lama sekali saya tak menulis puisi. Kata-kata mampat saja di kepala. Beberapa kali saya coba menuliskannya lagi lalu berakhir pada ctrl + a + del, atau menyobek halaman kertas yang berisi sebaris, dua baris kata.

Tidak ada yang bisa diajak bicara. Orang-orang sedang sibuk berbelanja atau menyiapkan beragam makanan untuk berbuka. Siang ini mendung. Zizek sama Chomsky itu sedang mendebatkan apa sih?  Bebeb lagi apa? Bosan sekali di sini.

Beberapa waktu lalu saya menemukan kumpulan ceita fiksi Misbach Yusa Biran yang judulnya Oh, Film. Pasti telat saya baca yang beginian. Cerita-cerita itu wow banget ya. Setiap cerita sebagian besar menceritakan nasib tokoh yang miris. Dunia film tahun 50-an digambarkan lewat orang-orang di dalamnya, seorang bintang film baru, wartawan film, tukang bikin cerita film, seniman-seniman Senen, dan segala hal-hal kecil yang bagi generasi sesudahnya tak pernah bisa dibayangkan tanpa cerita-cerita seperti ini.

Masih banyak sebenarnya. Saya pengen nulis soal film lagi meski sebenarnya sama sekali gak ngerti. Apa ya...hmmm....


Kamar Kost, 26 Juli 2013


Senin, 08 Juli 2013

Abwesenheit


Sebut saja saya hipster kalau menonton Melbi berulang-ulang dan tak pernah bosan bisa membuat sebutan itu melekat. Konser malam itu entah kenapa bisa membuat saya tidak bisa tidur sebagaimana ketika pertama kali menyaksikan aksi panggung mereka. Belum ada lagu baru dan hanya sedikit perubahan aransemen. Barangkali memang tidak ada yang istimewa. Gaya menyanyi Ugo di atas panggung juga masih begitu-begitu saja, tampil dengan kaos dan celana hitam, kacamata besar bundar dengan bingkai merah, dan jam tangan berwarna sama melingkar di tangan kirinya.  


Inilah catatan kesan saya atas penampilan mereka di FKY dua hari lalu. Sebelum tampil, Ugo sempat meminta maaf karena Yosi terlambat datang dan akan menyusul. Tempat bagi Yosi dibiarkan kosong dengan gitar yang disandarkan di dekatnya. Lebih dari separuh pertunjukan, Yosi tak juga muncul lalu Ugo pun nyeletuk tentang performance in the absence. Kalau tidak salah konsep itu muncul sekitar tahun 60-an dan 70-an di dunia seni pertunjukan, mencoba mengkritik konsep klasik teater dan opera yang masih fokus pada kehadiran aktor dan peran, figur, tubuh, kesetiaan pada teks. Sejak tahun 80-an, orang mulai mempertanyakan subjek dan identitas yang diterjemahkan menjadi bentuk-bentuk koreografi berisi patahan, perubahan bentuk, penghilangan tubuh, dan sejenisnya.

Ketidakhadiran pun ternyata membutuhkan ruang. Dari sepintas kalimat Ugo itulah saya mulai melihat konser musik malam itu sebagai sebuah pertunjukan yang utuh. Peran Ugo tidak dapat saya hindari selalu menyita perhatian. Posisi vokalis di atas panggung memang menguntungkan untuk mendapat perhatian. Dari Ugo saya mendapat remah-remah moving pleasure. Sebenarnya ini tidak penting untuk dibahas, tapi diam-diam saya selalu memperhatikan cara dia mengangkat kaleng bir, menenggaknya, menghisap sam soe dan membiarkan asapnya membangun efek ketika mengalir dari sela jari yang menggenggam mikropon.

Departemental Dities and Other Verses dan Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco menjadi semacam penghangat awal. Dua lagu itu berakhir seperti mengambang dan tak bilang-bilang. Lalu mulai naik pada nomor-nomor selanjutnya; Bulan Madu, On Genalogy of Melancholia, 7 Hari Menuju Semesta dan selanjutnya. Pada jeda pergantian setiap lagu, saya menemukan ruang kosong bagi imajinasi. Ugo memainkan perannya dengan baik, sebagai aktor yang bertahan hidup di atas panggung, sebagai penampil lirik, juga sebagai suguhan drama bagi penonton. Gerakan-gerakan Ugo adalah pelengkap cerita dengan caranya, ketika musik meninggi, asap-asap berhembus dari pojok-pojok panggung bersama lampu yang berkilat-kilat berganti warna.

Sebelum dibawakan, lagu Tentang Cinta selalu diberitakan Ugo sebagai lagu tersulit yang pernah dimainkan Melbi. Demikian juga bagaimana ia mengisi pengantar untuk lagu-lagu lain dengan pesan berbeda. Di depan mereka ada penonton dan secara sederhana, kalimat-kalimat pendek itulah yang menghubungkan musisi dengan penontonnya. Saya tidak tahu banyak soal musik, tapi jelas tugas seorang vokalis tidak hanya menyanyi di atas panggung. Ia setidaknya bisa mengarahkan persepsi, bagaimana orang bisa menikmati keseluruhan pertunjukan musik, menikmati urat-urat di leher sang penyanyi yang menegang ketika meneriakkan bait-baik lirik.

Peran Ugo barangkali memang berbeda dengan konduktor yang memiliki kuasa penuh atas sebuah konser. Seorang konduktor bisa membuat semua musisi patuh, selain pada deretan not, juga pada gerakan tangannya, membuat penonton menahan nafas dan tidak bicara selama pertunjukan. Tampaknya tidak ada yang bisa berkuasa penuh dari sebuah pertunjukan musik. Semua mengalir.

Ugo menarik diri sedikit ke belakang. Ruang panggung di depan dibiarkan kosong. Tempat yang disediakan untuk Yosi semakin terlihat menonjol meskipun barangkali penonton tidak akan memperhatikannya dan lebih memusatkan perhatian ke bagian belakang.  Ruang kosong selama Yosi belum tampak akhirnya menjadi tempat dimana penonton bisa merasa terganggu karena ketidaklengkapan sebuah pertunjukan tapi sekaligus sejenak bisa menjadi tempat singgah  dari nguing-nguing suara perangkat elektronik Yennu atau dentuman drum yang menggebu.

Bagi saya, ketidakhadiran Yosi di awal tetap membuat semacam kesan menunggu yang mau tidak mau membangun imajinasi tentang apa saja yang dilakukannya ketika tidak sedang memegang gitar di atas panggung. Tiba-tiba seperti ada kamera yang menyorot ketika Yosi menutup pintu rumah, berjalan dengan tergesa sampai akhirnya bisa menyusul membawakan dua lagu terakhir sebelum pertunjukan selesai.

Ketidakhadiran Yosi di awal adalah bagian dari keseluruhan element pertunjukan, suara-suara dari lampu sorot, asap, teks, musik, dan ruang kosong di atas panggung yang juga bisa bersuara dengan merdunya. Ketika seorang aktor tidak tampak di atas panggung, ia bertanggung jawab atas proses kehadiran dan penghadiran kembali. Ketika tak ada yang terlihat, penontonlah yang akan menemukannya sendiri. Mungkin hanya sedikit saja yang sadar, menggapai kosong dengan dramatik ruang dan wakunya, yang semakin banyak saja diekplorasi dalam pertunjukan-pertunjukan modern saat ini.

Kali ini tidak seperti menunggu Godot yang tak pernah muncul. Yosi akhirnya datang dengan kaos kecoklatan bertuliskan kutipan dari salah satu tokoh film tahun 60-an yang kurang lebih berbunyi:  Darwin is wrong. Man is still an ape. Barangkali juga bukan tokoh film itu rujukannya.

Dalam pengembaraannya menuju semesta, Joni dan Susi ketemu Pacar Senja yang sedang bulan madu sendirian di atas menara. Mereka bercakap sebentar lalu meneruskan perjalanan masing-masing.

Ah, saya terlalu berlebihan menuliskan hal-hal semacam ini.


***

Pulang lewat jam malam memaksa saya untuk meminjam kamarmu. Di sebelah, sepasang kekasih mengunci mimpi dalam gelap. Di kamar itu, tak bisa memejam menunggu pagi. Kau tak ada di sini. Baru dua hari saja, kamarmu telah dihuni debu, jaring laba-laba dan barangkali juga makhluk bermata hijau itu. Dari sebagian karpet biru maupun petak ubin yang pernah menyentuhmu, rak-rak berisi buku dengan judul yang selalu ada kata Indonesianya, ingatan-ingatan menemukan rantainya. Berpikir tentang detail bisa menggelembungkan, membunuh waktu sampai  hampir enam jam lamanya. Pagi menepi juga setelah semalam ia berlayar entah kemana.


Kamar Kost, 7 Juli 2013