Rabu, 10 Desember 2008

dari kata ke sastra

Dari Kata ke Sastra


Terkadang, kita memang tidak merasa bahwa kata-kata bisa terangkaikan dengan begitu indahnya. Seperti itulah ketika sastra bisa menjadi tali pengikat bagi kata-kata untuk membentuk keindahan makna. Kata bisa menjadi rangkaian makna sehingga apa yang kita tuliskan, apa yang kita ucapkan, apa yang kita bentuk dari rangkaian kata tersebut menjadikannya lebih enak dibaca. Dalam hal ini sastra menjadi salah satu jembatan untuk memperindah dan menjadikan rangkaian kata tersebut menjadi seni. Baik itu sebagai manifestasi imajinasi atau sebagai refleksi realitas yang terjadi.

Sastra merupakan salah satu bentuk seni bagaimana mengolah kata, merangkaikan makna. Namun terkadang sastra menjadi sesuatu yang eksklusif yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang terbiasa bergelut dengan lingkungan sastra. Banyak di antara kita yang cenderung tak tertarik, tak mau mencoba memahami keindahan yang coba disuguhkan oleh sastra. Menu tulisan sastra bisa dikategorikan sebagai makanan berat. Orang harus berpikir keras untuk menguak makna di balik konotasi yang banyak digunakan dalam rangkaian katanya. Dari sini, orang jadi tak berminat ketika harus berfikir dua kali saat membaca suatu karya sastra. Banyak juga dari kita yang tak sempat menikmati keindahan kata. Lebih banyak meluangkan waktu untuk sekedar menonton televisi daripada membaca karya sastra. Padahal, dunia sastra adalah sebuah dunia yang ketika kita memasukinya, maka kita akan terpesona dan enggan untuk kembali karena kedalaman bahasanya.

Tulisan atau karya sastra bisa juga dikatakan sebagai media yang paling efektif untuk melakukan pengenalan diri. Para pengarang biasanya mengambil nukilan kisah pribadi atau pengalaman hidupnya untuk dituangkan dalam tulisan. Biasanya watak tokoh-tokoh dalam tulisannya juga berasal dari bangunan sifat yang dimiliki penulis itu sendiri selain juga mengadopsi perwatakan hasil rekaan imajinasi. Seorang penulis cenderung akan lebih mengenal dirinya sendiri. Proses penceritaan dalam menulis karya sastra telah mengalami pengendapan dalam pikiran dan hati penulis terlebih dahulu. Dari situlah kemudian penulis banyak melakukan proses kreatif, berfikir dan mencari ke dalam dirinya sendiri. Proses pengendapan inilah yang kemudian menjadi sarana bagi penulis, baik secara sadar maupun tak sadar—mereka-reka kaitan antara kisah yang akan dituliskan dengan keadaan diri pribadi penulis. Terkadang juga dalam tulisan itu, kita bisa menjumpai seakan-akan penulislah yang menjadi tokohnya. Dimana ia bisa menceritakan dengan detail sebuah peristiwa seperti ketika ia mengalaminya sendiri. Tokoh Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta misalnya. Sedikit banyak pasti mendapat pengaruh dari pengalaman hidup penulis yang memang pernah tinggal di Kairo. Bisa jadi timbul persepsi pembaca bahwa tokoh tersebut adalah penulis itu sendiri.

Dari sini, proses pengendapan beberapa peristiwa yang di alami penulis yang kemudian dituangkan dalam tulisan akan sangat membantu penulis dalam memahami kisah-kisah yang telah dilaluinya. Ketika penulis dengan rutin merekamkan pengalaman hidupnya dalam tulisan, maka akan kelihatan perubahan ketika ia membaca kembali tulisannya. Misalnya saja puisi yang dituliskannya ketika SMA, pasti akan berbeda dengan puisi yang ditulis ketika ia sudah berkeluarga. Rekaman tulisan tersebut akan memperlihatkan bagaimana sifat-sifat penulis dan tahapan proses kreatif yang telah dilaluinya.

Oleh karena itu, karya sastra di sini bisa dinilai sangat subyektif. Tergantung bagaimana penulis mengekspresikan tulisannya. Penggunaan bahasa, idiom atau makna yang ingin disampaikan adalah sepenuhnya hak penulis. Sastra menjadi semacam ekspresi dari curahan hati penulis. Merupakan bagian dari kegelisahan, inspirasi dan keinginan hati penulis sehingga kebebasan dalam menuangkannya mutlak menjadi hak penulis terlepas dari batasan norma dan nilai yang menjadi semacam batasan kultural bagi karya sastra.

Tentu saja, semua orang bebas untuk menulis suatu karya sastra. Ketika kebebasan tersebut mulai diimplementasikan dengan munculnya keberagaman karya sastra nampaknya diperlukan suatu mekanisme yang dapat mengukur nilai estetika. Meskipun dalam hal ini sangat bersifat subyektif. Keberagaman bentuk penceritaan dan penggunaan bahasa-bahasa yang bebas penggunaannya menuntut pula proses timbal balik dari publik yang menerima pluralitas karya tersebut. Mungkin juga melalui mekanisme kritik terhadap karya sastra yang muncul, nilai dan capaian estetika sebagai standar sebuah karya karya bisa tetap terjaga.

Selain sebagai media pengenalan diri bagi penulisnya, sastra juga memiliki banyak fungsi. Salah satu fungsinya adalah sosialisasi nilai. Orang akan cenderung terpengaruh dengan bahan bacaannya. Di sinilah sastra seharusnya bisa menjalankan perannya sebagai salah satu instrumen untuk mensosialisasikan nilai. Namun perkembangan yang terjadi sekarang ini, sastra justru kurang memberikan manfaat dalam melestarikan nilai-nilai sosial masyarakat. Ketika sastra mulai keluar dari eksklusifisme dan mulai bersifat populis, maka cerita –cerita yang kemudian muncul hanyalah cerita ringan. Bersifat sangat personal dan temporal. Sastra tak lagi menjadi makanan yang berat bagi masyarakat tetapi sudah mulai banyak dikonsumsi melalui karya-karya sastra ringan, baik itu berupa cerpen ataupun novel.

Dalam perkembangannya, karya sastra, khususnya dalam bentuk cerpen atau novel menjadi begitu plural. Banyak keberagaman yang muncul. Mulai dari yang berat-berat penuh makna sampai karya sastra yang bisa diandaikan sebagai makanan ringan, teman minum kopi sore hari. Karya sastra ini biasanya hanya berkisah tentang cerita kehidupan sehari-hari. Bisa di baca sambil lalu dan sekali baca langsung bisa dipahami maknanya. Munculnya keberagaman tema dan substansi dalam cerpen tersebut merupakan salah satu penyebab adanya sastra yang mulai merasionalkan dirinya sendiri. Mulai masuk ke dalam segala segment dan kelas sosial. Sayangnya, keberagaman bentuk dan substansi cerita yang muncul tidak diimbangi dengan capaian estetika tertentu.

Sastra kemudian menghadapi dilema bahwa cerita-cerita, khusunya cerita remaja kurang bisa mengakomodasi nilai-nilai yang seharusnya menjadi misi utama bersastra. Cerita yang disuguhkan banyak berasal dari kehidupan remaja yang bergaya hedonis semacam sinetron di televisi. Banyak juga novel remaja yang bercerita tentang kehidupan remaja perkotaan dengan gaya hidup sedemikian rupa. Tanpa bermaksud menegasikan novel yang memang memiliki kepekaan sosial yang tinggi, jenis novel remaja yang semacam itulah yang justru banyak digemari. Secara personal, mungkin cerita yang dihadirkan sangat dekat dengan kehidupan remaja zaman sekarang, tetapi secara substansial, novel seperti ini nampaknya telah melupakan pesan dan melupakan betapa besar pengaruhnya terhadap pembaca.

Perkembangan pasar nampaknya juga berpengaruh kuat dalam menjamurnya karya fiksi remaja. Masalah lainnya terletak pada penerbit yang sangat tergantung pada pasar dan konsumen. Logika pasar yang tak mau rugi bisa jadi mengalahkan misi kebudayaan atau nilai yang haris selalu dikawal oleh penerbit terhadap buku-buku sastra yang akan dijual ke masyarakat. Banyaknya karya fiksi yang tidak syar’i sekarang ini berakar juga pada bebrapa penerbit yang hanya berorientasi profit. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebenarnya sudah banyak penerbit yang mempunyai misi kuat dalam dakwah dan konsistensi untuk membangun kembali moral dalam masyarakat. Hanya saja, semuanya masih berada di tangan pembaca. Bagaimana mengubah kebiasaan membaca fiksi remaja hedonis ke fiksi remaja islami.

Fungsi lain yang seharusnya bisa dimaksimalkan dalam pembuatan karya sastra adalah sebagai rekaman historisitas terhadap suatu peristiwa. Masyarakat membutuhkan bacaan yang segar, namun harus tetap berbobot dengan pesan dan nilai yang jelas. Sastra bisa mengambil peran dalam hal ini sebagai perekam sejarah. Karya seorang penulis, meskipun tidak bisa dilepaskan dari subyektifitas, tetapi akan cenderung lebih netral apabila dibandingkan dengan versi sejarah yang bisa jadi sangat bermuatan politis.

Melalui makna yang dirangkai dalam kata dan bahasa, secara tidak langsung sebuah karya sastra yang bersifat historis akan mengungkap kebenaran atau realitas lain yang tak ditemukan dalam buku-buku sejarah formal. Hal ini juga memberi peluang bagi sastra untuk menjadi media pembelajaran bagi masyarakat. Kebosanan membaca kronologis sejarah dengan deretan tahun-tahun atau nama-nama tokoh bisa direduksi dengan kehadiran bahasa sastra dan sajian cerita yang lebih menarik. Kita mungkin juga telah bosan dengan buku-buku sejarah dan politik yang menampilkan sejarah sebagai instrumen bagi adanya legitimasi kekuasaan. Namun sastra akan bicara lain. Sastra cenderung berani melakukan resistensi terhadap politisasi sejarah yang selama ini terjadi. Meskipun tidak menutup juga adanya politisasi sastra.

Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma misalnya. Cerpen ini sangat menyumbang dalam mengungkap fenomena kekuasaan yang nota bene menjadi tema yang berat. Dengan gaya bahsa satire dan ironi, cerpen ini mampu mengungkapkan sebuah kisah dalam bentu sindiran pedas namun tidak juga menciptakan kengerian ketika dibaca. Cerpen ini menyindir peradilan dan sistem hukum di Indonesia yang dulu banyak menghilangkan para saksi mata. Tapi analogi yang digunakan tepat ketika seorang saksi mata mengalami mimpi dicongkel matanya oleh lima orang yang berseragam ninja. Melalui idiom mimpi, penulis bisa menyampaikan pesannya. Inilah kekutan bahsa sastra yang memang jarang kita sadari keberadaannya. Novel-novel seperti Tetraloginya Pramudya Anantatoer, Mantra Pejinak Ular karya Kuntowijoyo atau Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari juga menjadi beberapa contoh rekaman historis yang disajikan dengan racikan bumbu yang bebeda. Karya sastra semacam itulah yang mengulas berbagai persoalan sosial yang terkubur dalam pahatan bangunan-bangunan kuasa pada saat itu.

Keindahan kata dalam sastra, capaian estetik, segaligus pemenuhan kebutuhan akan nilai dan pesan yang terkandung dalam sastra sepenuhnya berada dalam pundak penulis. Hal ini sangat tergantung bagaimana komitmen penulis terhadap karya yang dibuatnya. Sekjauh mana ia bisa menulis untuk orang lain. Tidak sekedar menulis untuk dirinya sendiri. Sejauhmana pula penulis bisa menyelipkan pesan-pesan moral kepada pembacanya dan tak terasa menggurui. Tugas berat seorang penulis berada di sini.

Sayangnya, tak banyak pula penulis yang berkomitmen dalam hal ini. menulis tak akan bermanfaat ketika orientasi kita hanya berasal dari segi ekonomi atau egoisme pribadi. Karya sastra juga tak bisa bermanfaat banyak ketika karya itu tidak bisa memberi sumbangan konkret dalam membangun masyarakat dan melakukan perubahan. Beban berat tak hanya berada di pundak penulis saja, tetapi juga berada di tangan masyarakat. Apalah artinya sebuah karya ketika tak ada yang membaca. Diperlukan juga peran aktif masyarakat untuk memfasilitasi dan mencoba menikmati keindahan kata lewat sastra.

Saya pernah mendengar semacam ungkapan. “Bayang-bayang sepanjang bahan. Panjang tulisan sepanjang bahan.” Tulisan ini hanya sekedar siluet pemikiran yang bersebaran dan tak sistematis. Tak bisa pula mencakup kompleksitas permasalahan sastra. Karena keterbatasan bahan dalam pikiran untuk tulisan ini maka daripada hanya sekedar mengada-ada, maka tulisan ini saya cukupkan sampai di sini saja.

\^o^/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar