Rabu, 17 Desember 2008

Perbandingan Dua Metode Penelitian Kualitatif:

Perbandingan Dua Metode Penelitian Kualitatif:

Studi Kasus dan Etnografi

Metode penelitian kualitatif memiliki banyak sekali varian. Dua diantara adalah studi kasus dan etnografi. Meskipun kedua metode ini memiliki sedikit kemiripan, keduanya tetap memiliki kekhasan tersendiri. Tulisan ini bermaksud untuk mencoba menguaraikan persamaan dan perbedaan antara metode penelitian studi kasus dan etnografi. Berbagai kemiripan dalam metode penelitian kualitatif tarkadang menimbulkan kesulitan dalam operasional penelitian. Perbandingan antara kedua metode ini diharapkan mampu memberi penjelasan sederhana agar dapat ditemukan perbedaan paling mendasar dari kedua metide tersebut. Perbandingan antara kedua metode ini akan dibatasi pada uraian tentang; bagaimana kedua metode ini memahami realitas, substansi metode, kelebihan dan kekurangan, serta prosedur risetnya.

Memahami realitas

Realitas dapat dipahami dengan mencontohkan suatu peristiwa. Contoh ini bercerita tentang kerumuanan orang yang menyerang polisi karena salah memahami upaya pertolongan. Pada suatu siang, beberapa petugas keamanan menemukan seseorang yang sekarat di tengah jalan. Badannya berlumuran darah dan terdapat sebilah pisau yang menancap di perutnya. Secara spontan, petugas kemanan yang pada saat tidak mengenakan seragam berusaha untuk mencabut pisau tersebut. Ia juga berusaha memberikan pertolongan pertama seperti pemberian nafas buatan dan berusaha untuk menghentikan aliran darah di perutnya.

Ketika petugas tersebut sedang memegang pisau, sekumpulan pemuda setempat melihat kejadian itu. dengan spontan pula mereka menyerang petugas kemanan yang telah berusaha menyelamatkan jiwa orang itu. beberapa petugas keamanan lain datang untuk membantu kawannya dan menghadang sekumpulan pemuda tadi sampai ambulan datang. Petugas kemanan tersebut telah berusaha untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, namun para pemuda tadi tetap tidak percaya. Usaha keras para petugas kamanan juga sia-sia karena orang tersebut akhirnya meniggal dunia.

Dari contoh kasus di atas, metode etnografi digunakan untuk melihat orang menggunakan kebudayaannya. Kedua kelompok anggota masyarakat melihat realitas yang sama, namun menginterpretasikannya dengan berbeda. Kelompok pemuda menggunakan kebudayaan mereka untuk menginterpretasikan bahwa petugas kemanan telah melakukan tindakan yang jahat. Sedangkan petugas kemanan menginterpretasikan tindakan mereka sebagai upaya penyelamatan. Etnografi menjadi metode untuk menggali pemaknaan terhadap suatu realitas. Etnografer tidak hanya berhenti pada mengamati tingkah laku, tetapi lebih dari itu dia juga menyelidiki makna dari tingkah laku itu.

Seorang etnografer berada dalam penjara obyektifitas. Obyektifitas tersebut dicapai dari proses intersubyektifitas. Etnografer mendapatkan data dengan menggunakan informan-informan, sedangkan informan tersebut memandang realitas dalam subyektifitasnya sendiri. etnografi menjadi metode untuk mendokumentasikan masyarakat yang mendefinisikan dirinya sendiri. metode ini membiarkan data untuk berbicara sendiri, mengekang peneliti supaya tidak subyektif. Seorang etnografer hanya menjadi semacam spon yang hanya berfungsi sebagai penyerap.

Seorang etnografer berusaha untuk melihat obyek sebagai obyek, meskipun obyek tersebut dapat dilihat secara lebih dalam—tidak hanya realitas yang tampak dipermukaan. Dalam memahami realitas, peneliti bisa meleburkan dirinya menjadi subyek. Ia mempelajari interpretasi-interpretasi yang timbul dari obyek-obyek penelitiannya, dalam kasus ini adalah sekelompok pemuda dan petugas kemanan. Peneliti berusaha untuk sedekat mungkin dengan obyek dalam mencari kebenaran, namun ia tetap berada di luar obyek tersebut.

Pemahaman tentang realitas dari contoh kasus di atas sekaligus telah menembus berbagai pandangan etnografi tradisional. Stigma yang melekat pada etnografi biasanya dipahami sebagai suatu metode untuk melihat kebudayaan atau cara hidup dari suku-suku bangsa yang eksotik. Padahal, realitas sebagai obyek etnografi tidak hanya sebatas pada suku-suku bangsa tertentu tetapi lebih membatasi kebudayaan sebagai pengetahuan yang dimiliki bersama. Sehingga realitas sebagai kajian etnografi lebih luas cakupannya, melihat kebudayaan orang lain di luar kita. Misalnya, kehidupan hedonis para remaja zaman sekarang. Hal ini cukup bisa dijadikan sebagai realitas obyek studi etnografi.

Sama halnya dengan metode penelitian etnografi, studi kasus memahami realitas sebagai suatu yang obyektif. Suatu realitas dipandang dari berbagai sisi untuk lebih dapat mencapai kebenaran. Studi kasus sering dikatakan sebagai turunan dari positivisme sehingga peneliti dituntut untuk tidak campur tangan terhadap realitas yang akan diteliti. Di sisi lain, studi kasus berusaha untuk melampaui positivisme dengan melihat realitas-realitas yang tidak dapat dikuantifikasi dengan angka. Sama halnya dengan etnografi, realitas dalam metode studi kasus dikaji secara lebih dalam dan tidak hanya apa yang tampak dipermukaan.

Kedua metode tersebut memiliki perbedaan dalam menentukan obyek yang akan dikaji. Etnografi dalam contoh kasus di atas berusaha untuk memahami realitas dari sisi tindakan-tindakan para aktornya, perkataan mereka dan artefak yang digunakan. kesemuanya hadir dalam pengaruh kebudayaan yang membentuknya. Namun studi kasus melihat realitas di atas berdasarkan keseluruhan peristiwa yang dikaji secara lengkap dan detail. Studi kasus berusaha untuk mengungkap sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Kebenaran dari realitas dilihat tidak hanya dari satu titik pandangan, tetapi dari berbagai sisi. Metode ini menggambarkan realitas dengan sebenar-benarnya secara utuh.

Substansi Metode

Secara umun, etnografi merupakan suatu metode yang menyajikan studi diskriptif tentang masyarakat dan kebudayaannya. Metode ini sangat kental diwarnai cara berpikir studi anthropologi. Etnografi juga bisa dimaknai sebagai produk hasil kerja anthropolog, yaitu sebagai sebuah tulisan.

Inti dari etnografi adalah upaya untuk memperhatikan makna-makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami. Beberapa makna tersebut terekspresikan secara langsung dalam bahasa; dan di antara makna yang diterima, banyak yang disampikan hanya secara tidak langsung melalui kata-kata dan perbuatan. Sekalipun demikian, di dalam setiap masyarakat, orang tetap menggunakan sistem makna yang kompleks ini untuk mengatur tingkah laku mereka, untuk memahami diri mereka sendiri dan orang lain, serta untuk memahami dunia tempat mereka hidup. Sistem makna ini merupakan kebudayaan mereka: dan etnografi selalu mengimplikasikan teori kebudayaan.[1]

Seorang etnografer tidak hanya melihat berbagai artefak dan obyek alam, tetapi lebih dari itu, dia juga menyelidiki makna yang diberikan oleh orang-orang terhadap obyek itu. konsep kebudayaan ini (sebagai suatu sistem simbol yang mempunyai makna) banyak memiliki persamaan dengan pandangan interaksionalisme simbolik, suatu teori yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam kaitannya dengan makna.[2]

Dalam melakukan kerja lapangan, etnografer membuat kesimpulan budaya berdasarkan pada tiga sumber: (1) dari yang dikatakan orang. (2) dari cara orang bertindak; dan (3) dari berbagai artefak yang digunakan orang. Mulanya, masing-masing kesimpulan budaya hanya merupakan suatu hipotesis mengenai hal yang diketahui orang. Hipotesis ini harus diuji secara berulang-ulang sampai etnografer itu merasa relatif pasti bahwa orang-orang itu sama-sama memiliki sistem makna budaya yang khusus.[3]

Etnografi selalu menggunakan apa yang dikatakan orang dalam upaya untuk mendeskripsikan kebudayaan orang tersebut. Kebudayaan yang implisit maupun ekplisit, terungkap melalui perkataan, baik dalam komentar sederhana maupun dalam wawancara panjang. Kerena bahasa merupakan alat utama untuk mneyebarkan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, kebanyakan kebudayaan dituliskan dalam bentuk linguistik. Penelitian ini biasanya dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan melalui metode pengamatan partisipatif. Etnografi tidak mendefinisikan variabel-variabel sebelum penelitian. Pertanyaan penelitian semakin lama akan semakin jelas saat penelitian berlangsung.

Substansi penelitian etnografi memiliki sedikit perbedaan dengan metode penelitian studi kasus. Definisi umum dari Studi Kasus sebagai sebuah model metode penelitian kualitatif dituliskan oleh Robert K. Yin. Dalam hal ini, Yin mengatakan bahwa Studi Kasus adalah suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata bilamana batas–batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas dan dimana multisumber bukti dimanfaatkan.[4]

Dari definisi tersebut bahwa pada dasarnya Studi Kasus merupakan sebuah bentuk penyelidikan persoalan tertentu secara empiris yang mana seorang peneliti diutamakan untuk dapat terjun langsung untuk mendekati objek yang hendak ditelitinya. Cara untuk mencapai objek penelitian dapat dilakukan secara langsung, yakni dilakukan dengan observasi maupun wawancara, dan secara tidak langsung dengan menelusuri sejumlah literatur yang sekiranya dapat mendukung untuk memecahkan persoalan yang hendak dikaji. Guna mendukung validitas hasil penelitian yang dicapai, akan lebih baik apabila proses mencapai objek penelitian dilakukan secara langsung yakni dengan melakukan observasi maupun wawancara mengingat bahwa sifat kebenaran dari sebuah penelitian dengan logika induktif tidak dapat digeneralisasikan secara cepat seperti yang terdapat dalam penelitian dengan menggunakan logika deduktif dimana data yang diperoleh sebagian besar cenderung berbasiskan kepada angka yang dapat digeneraliasikan secara luas.[5]

Sebagaimana etnografi, kemunculan Studi Kasus berusaha untuk lepas dari positivisme meskipun metode ini berangkat dari pemikiran positivis. Kemunculan studi kasus juga tidak terlepas dari persoalan bahwa untuk sejumlah permasalahan penelitian tidak serta merta dapat diselesaikan apabila hanya menggunakan konsep–konsep statistik. Sejumlah kasus tertentu seperti penelitian mengenai perilaku seseorang tidak dapat diukur apabila hanya menggunakan instrumen statistik. Logika positivisme yang mempengaruhi metode ini menganggap bahwa peristiwa yang terjadi di lapangam adalah naratif sehingga studi kasus lebih cenderung bersifat naratif. Metode ini tidak memperbolehkan adanya interpretasi lebih lanjut dari subyektifitas peneliti.

Masing-masing metode tersebut juga tidak terlalu mementingnya pertanyaan dan proporsisi awal. Permasalahan akan ditemukan secara menggelindhing dalam proses penelitian.

Sebagai langkah awal, ada beberapa hal yang harus digarisbawahi bagi seorang peneliti yang hendak melakukan penelitian dengan menggunakan Studi Kasus bahwa pertanyaan penelitian tidak dapat ditentukan dengan bebas seperti yang terdapat dalam model–model penelitian yang lainnya. Karena sifatnya yang berusaha untuk mengungkapkan makna terdalam dari fenomena kasus tertentu yang hendak dikaji, maka akan lebih tepat apabila pertanyaan penelitian yang digunakan adalah “ Mengapa dan Bagaimana “.[6]

Perbedaan metode penelitian studi kasus dengan metode survey, eksperimen dan historis terletak pada: (1) tipe pertanyaan yang diajukan ( bagaimana, mengapa); (2) luas kontrol yang dimiliki peneliti atas peristiwa perilaku yang akan diteliti. (tidak membutuhkan kontrol atas peristiwa); (3) fokusnya terhadap peristiwa kontemporer sebagai kebalikan dari peristiwa historis (fokus terhadap peristiwa kontemporer)

Studi kasus sebagai sebuah metode banyak menimbulkan prasangka tradisional antara lain; peneliti studi kasus tidak rapi dan mengizinkan bukti yang samar-samar atau pandangan bias mempengaruhi arah temuan-temuan dan konklusinya, studi kasus terlalu sedikit memberikan landasan bagi generalisasi ilmiah, penyelenggaraannya memakan waktu lama serta menghasilkan dokumen yang sangat banyak, sehingga melelahkan untuk dibaca.

Prosedur dan Analisis Riset

Secara umum, teknis penelitian etnografi dilakukan dengan wawancara dan observasi langsung. Lebih detailnya etnografi sebagian besar dilakukan dengan teknik-teknik di bawah ini:

  1. dilakukan secara langsung oleh peneliti untuk mengamati kehidupan sehari-hari, hal ini termasuk observasi partisipatif.
  2. pembicaraan dengan level yang berbeda, baik secara formal mapun informal—mulai dari percakapan kecil sampai wawancara yang panjang.
  3. menggunakan metode genealogis. Metode ini merupakan suatu prosedur dimana seorang etnografer berusaha untuk menemukan dan merekam hubungan kekeluargaan, pohon keluarga atau perkawinan dengan penggunaan digram dan simbol-simbol.
  4. penelitian yang mendetail dengan menggunakan informan kunci kehidupan masyarakat pada suatu wilayah tertentu.
  5. wawancara dilakukan dengan sangat mendalam.
  6. penemuan tentang kepercayaan dan persepsi lokal.
  7. penelitian dilakukan dengan menfokuskan pada suatu permasalahan.
  8. penlitian dilakukan secara berkelanjutan dalam waktu yang lama pada suatu daerah tertentu.
  9. merupakan penelitian yang melibatkan kerja tim.
  10. dapat juga dilakukan dengan metode studi kasus.[7] Studi kasus dapat digunakan pada penelitian etnografi. Misalnya, berkaitan dengan sejarah kelahiran sistem Subak di Bali. Selain terkait dengan kebudayaan masyarakat lokal, permasalahan ini sangat kompleks dan dapat dilihat dari berbagai sisi.

Tahapan penelitian dalam etnografi terdiri dari alur penelitian maju dan bertahap.[8]

  • Menentukan informan.
  • Melakukan wawancara terhadap informan.
  • Membuat catatan etnografis.
  • Mengajukan pertanyaan deskriptif. Pertanyaan-pertanyaan ini dimaksudkan untuk membangun proses hubungan seperti bagaimana menimbulkan simpati, penjajagan, kerja sama dan akhirnya dapat mulai untuk berpartisipasi secara langsung dengan obyek kajian. Proses ini juga bertujuan untuk mengumpulkan sampel dari percakapan informan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan deskriptif. Pertanyaan deskriptif bersifat umum, memberikan contoh-contoh, berusaha menggali pengalaman informan, penggunaan bahasa-bahasa asli dalam pertanyaan untuk meminimalisir pengaruh kemampuan informan untuk menerjemahkannya.
  • Melakukan analisis wawancara etnografis. Analisis ini bertujuan untuk memahami bagaimana makna tercipta dengan simbol-simbol budaya. Analisis juga digunakan untuk mencari suatu domain pendahuluan yang dapat mengantarkan peneliti pada permasalahan tertentu. domain merupakan suatu kategori kebudayaan yang diidentifikasikan oleh anggota masyarakat tertentu. domain menjadi unit analisis pertama dan terpenting dalam penelitian etnografis. Mengidentifikasi domain dan menganalisisnya merupakan bagian tersulit. Hal ini terjadi karena informan tidak berbicara dalam domain atau menyusun kata dalam kategori-kategori yang didasarkan pada hubungan pencakupan tertentu.
  • Membuat analisis domain, dapat dilakukan dengan melihat hubungan semantik dan hubungan universal.
  • Mengajukan pertanyaan struktural. Pertanyaan ini disesuaikan dengan informan, dihubungkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain dan terus diulang-ulang secara baik.
  • Membuat analisis taksonomik. Mengarahkan perhatian pada struktur internal domain. Memilih fokus sementara, taksonomi penduduk asli.
  • Mengajukan pertanyaan kontras.
  • Membuat analisis komponen. Analisis komponan merupakan pencarian sistemik berbagai atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya.
  • Menemukan tema-tema budaya
  • Menulis suatu etnografi. Tahap ini termasuk pada proses penerjemahan. Penerjemahan meliputi keseluruhan proses penemuan makna suatu kebudayaan dan menyampaikan makna-makna ini kepada orang-orang dalam kebudayaan lain. Proses penerjemahan ini sangat rawan terhadap adanya struktur makna yang diciptakan peneliti itu sendiri dan bukan berdasarkan struktur makna obyek penelitian. Salah satu penyebab dari ketidaktepatan penerjemahan budaya terletak pada kegagalan etnografer untuk memahami dan menggunakan beberapa tahapan dalam menulis yang berbeda. Selama penulisan deskripsi etnografis apapun, etnografer harus menggunakan berbagi tahapan prosedur penulisan yang ketat dan menggunakan secara sadar untuk meningkatkan kekuatan komunikatif hasil terjemahan.

Tahapan Penelitian dan Analisis Studi Kasus[9]

  • Melakukan desain penelitian studi kasus yang terdisi dari studi kasus tunggal dan multikasus. Masing-masing memiliki varian yaitu holistik dan terjalin.

Peneliti studi kasus harus memaksimalkan empat aspek kualitas desainnya, yaitu; validitas konstruk (menetapkan ukuran operasional yang benar untuk konsep-konsep yang akan diteliti); validitas internal (hanya untuk studi kasus eksplanatoris dan kausal, dan tidak untuk peneelitian deskriptif dan eksploratoris): menetapkan hubungan kausal, di mana kondisi-kondisi tertentu diperlihatkan guna mengarahkan kondisi-kondisi lain, sebagaimana dibedakan dari hubungan semu; validitas eksternal (menetapkan ranah di mana temuan suatu penelitian dapat divisualisasikan); reliabilitas (menunjukkan bahwa pelaksanaan suatu penelitian – seperti prosedur pengumpulan data – dapat diinterpretasikan, dengan hasil yang sama).

Desain Studi kasus memiliki komponen-komponen antara lain: pertanyaan-pertanyaan penelitian (apa dan bagaimana); proposisinya, jika ada (mengarahkan perhatian peneliti kepada sesuatu yang harus diselidiki); unit-unit analisisnya (berkaitan dengan masalah penentuan apa yang dimaksud dengan “kasus” dalam penelitian yang bersangkutan—problema yang mengganggu peneliti di awal studi kasusnya); logika yang mengaitkan data dengan proposisi tersebut (tahap-tahap analisi data. Misal dengn penjodohan pola: mengaitkan beberapa informasi kasus yang sama dengan beberapa proposisi teoritis); kriteria untuk menginterpretasi temuan

  • Persiapan pengumpulan data.
  • Mempersiapkan protokol studi kasus. Protokol studi kasus merupakan taktik umum dalam meningkatkan reliabilitas penelitian studi kasus dan dimaksudkan untuk membimbing peneliti dalam menyelenggarakan studi kasus. Protokol ini berisi tinjauan umum proyek studi kasus, prosedur-prosedur lapangan, pertanyaan-pertanyaan studi kasus, dan petunjuk untuk laporan studi kasus.
  • Pelaksanaan Pengumpulan data.

Sumber Data . Penelitian studi kasus dapat menggunakan sumber data berupa:

§ dokumen

§ rekaman arsip

§ wawancara

§ observasi langsung

§ observasi partisipan

§ perangkat-perangkat fisik

  • Masing-masing sumber data memiliki kelebihan dan kekuatan masing-masing yang disesuaikan dengan obyek penelitian. Penggunaannya sangat ditentukan oleh kemampuan peneliti untuk menggunakannya secara tepat dengan prosedur penggunaan yang telah ditentukan

Tiga Prinsip dalam pengumpulan data

  • Menggunakan berbagai sumber bukti – yaitu bukti dari dua atau lebih sumber, tetapi menyatu dengan serangkaian fakta atau temuan yang sama.
  • Membuat data dasar – yaitu kumpulan formal bukti yang berlainan dari laporan akhir studi kasus yang bersangkutan.
  • Membuat rangkaian dari bukti-bukti yang telah dikumpulkan – yaitu keterkaitan yang eksplisit antara pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, data yang terkumpul, dan konklusi-konklusi yang ditarik.

  • Analisis Data Studi Kasus

Analisis data terdiri atas pengujian, pengkategorian, pentabulasian, ataupun pengkombinasian kembali bukti-bukti untuk menunjukkan proposi awal suatu penelitian. Setiap penelitian hendaknya dimulai dengan strategi analisis yang umum, yang mengandung prioritas tentang apa yang akan dianalisis dan mengapa.

- Strategi Umum

  1. Mendasarkan pada proposisi teoritis
  2. Mengembangkan deskripsi kasus

- Strategi Khusus

Bentuk-bentuk analisis khusus yang dominan:

  1. Penjodohan pola. Membandingkan pola yang didasarkan empirisitas dengan pola yang diprediksi.
  2. Pembuatan penjelasan. Membuat eksplanasi tentang kasus yang bersangkutan.
  3. Analisis deret waktu

Bentuk-bentuk analisis kurang dominan / sekunder

  1. Menganalisis unit-unit terjalin
  2. Membuat observasi berulang
  3. Mengerjakan survei kasus: analisis sekunder lintas kasus

Menulis Laporan Studi Kasus

- Audiens-audiens studi kaus

  1. lingkup calon audiens
  2. berkomunikasi melalui studi kasus
  3. mengorientasikan laporan studi kasus pada kebutuhan audiens

- Jenis-jenis laporan studi kasus

  1. laporan tertulis
  2. jenis-jenis laporan tertulis
    1. studi kasus tunggal klasik
    2. multikasus dari kasus tunggal klasik/ multi narasi
    3. studi kasus tanpa narasi tetapi dengan format tanya jawab
    4. studi multikasus analisis lintaskasus

- Struktur laporan studi kasus

  1. analitis linear
  2. komparatif
  3. kronologis
  4. pembangunan teori
  5. ketegangan
  6. tak beraturan

- Prosedur pengerjaan laporan studi kasus

  1. Kapan dan bagaimana memulai penulisan
  2. Identifikasi kasus nyata atau tersamar
  3. Tinjauan ulang naskah studi kasus: suatu prosedur validasi

- Hal-hal penting dalam pembuatan laporan studi kasus

  1. signifikan
  2. lengkap
  3. mempertimbangkan perspektif alternatif
  4. menampilkan bukti/data yang memadai
  5. ditulis dengan cara yang menarik

Kelebihan dan Kekurangan

Studi kasus mempunyai keunggulan yaitu kemampuan metodenya untuk mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi dari suatu obyek penelitian. Studi kasus tidak hanya bisa digunakan untuk membuktikan teori tapi metode ini juga bisa digunakan untuk membangun teori baru.

Metode etnografi memiliki kelebihan antara lain dalam mengungkap dengan sangat dalam suatu bentuk kebudayaan dengan bangunan makna di dalamnya. Etnografi sangat berperan dalam memahami kehidupan manusia melalui kebudayaannya.

Etnografi dan studi kasus memiliki kekurangan yaitu kedua metode tersebut seringkali diragukan hasil penelitiannya. Persoalan seperti validitas, reliabilitas, dan penarikan generalisasi secara umum layaknya penelitian kuantitatif menjadi isu utama yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan.

Terkait dengan validitas, yang menjadi pertanyaan mendasar dari studi kasus maupun etnografi sebagai sebuah metode penelitian adalah obyek studinya. Hal ini terkait dengan apakah representatif atau tidak obyek studi yang digunakan. Studi kasus yang menggunakan obyek studi secara tunggal seringkali dinilai tidak representatif sehingga banyak diragukan keabsahan hasil penelitiannya.[10] Sebuah studi yang baik dengan menggunakan metode tertentu haruslah dapat direplikasi atau dapat dilakukan kembali oleh peneliti yang lain dengan cara yang sama. Metode studi kasus kembali menimbulkan pertanyaan apakah dapat digunakan oleh peneliti lain dalam mengungkap suatu kasus yang serupa dengan memakai metode tersebut. [11]

Kedua metode tersebut juga bermasalah terkait dengan obyektifitas hasil penelitian. Prosedur riset yang mengharuskan peneliti untuk terjun langsung mapun melakukan wawancara tentu saja tidak bisa melepaskan unsrus subyektifitas peneliti begitu saja. meskipun demikian, prosedur dan analisis yang sangat ketat pada kedua metode ini bisa mengurangi unsur subyektifitas tersebut. Penelitian denga kedua metode tersebut juga memerlukan waktu yang lama dan memakan biaya yang tidak sedikit.

Kesulitan seorang etnografer dengan metode yang dipakainya adalah bagaimana menjaga jarak antara subyek dan obyek penelitian. Seorang etnografer yang terlalu jauh dengan obyek akan menimbulkan stereotyping sedangkan ketika etnografer terlalu dekat dengan obyek maka cenderung akan menimbulkan gloryfikasi. Penulis bisa terlalu menganggap baik semua obyek penelitiannya.[12] Selain itu, permasalahan dalam etnografi terletak pada bagaimana menentukan informan yang tepat. Timbul adanya rasa ketidak percayaan terhadap informan karena belum tentu ia menceritakan hal yang sebenarnya.

Penggunaan kedua metode yaitu etnogrfai dan studi kasus membutuhkan kehati-hatian peneliti dalam mengumpulkan sumber bukti. Pentingnya penggunaan multi sumber bukti akan dapat mengurangi bias sehingga hasil pnelitian dapat mencapai validitas dan reliabilitas yang diharapkan.

Dari uraian perbandingan antara metode penelitian studi kasus dan etnografi, tampak bahwa keduanya banyak memiliki persamaan. Dalam penggunaan kedua metode tersebut, dalam kenyataan tarkadang terjadi peeleburan. Keduanya memang tidak memiliki batasan yang sangat jelas. Misalnya, metode studi kasus dapat digunakan sebagai salah satu cara dalam penelitian etnografi. Kebudayaan manusia tidak hanya terbatasa pada pola perilaku atau tindakan, perkataan dan sistem kebudayaan yang dibangun. Kebudayaan juga terdiri dari serangkian peristiwa yang saling jalin-menjalin secara utuh. Sehingga, kemungkinan penggunaan metode studi kasus dalam penelitian etnografi tetap ada.



[1] Dikutip utuh dari Spradley, James P, Metode Etnografi, Tiara Wacana, Yogyakarta: 2006, hal 5.

[2] Ibid. hal 7.

[3] Ibid. hal 11.

[4] Yin, Robert K. 1996. Studi Kasus: Desain & Metode. Jakarta: Hal 18.

[5] Disarikan dari makalah kelompok Metode penelitian kualitatif yang disusun oleh Rachman, Susilo, Ratna, Bagus Wibisono, Bagus Purbananda dan Zaid Makruf.

[6] Yin, Robert K. 1996. Op Cit: Hal 01.

[7] Download dari http://en.wikipedia.org/wiki/ethnography.

[8] Untuk lebih detainya, lihat Spradley, Op.Cit. hal 61-306.

[9] Yin, Robert K. 1996. Op Cit

[10] Baedhowi dalam Agus Salim. 006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial; Penelusuran Paradigma. Yogyakarta: Hal 124-125

[11] ibid.hal 118.

[12] Kris Budiman (anthropolog) dalam catatan dialog; Menulis Novel Ethnografi bersama Putu Fajar Arcana. Tanggal 10 Mei 2008 di Kedai Kopi-Kopi, Jalan Kartini No. 14A, Sagan, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar